NovelToon NovelToon
Setelah Cerai, Suami dan Anakku Memohon Aku Kembali

Setelah Cerai, Suami dan Anakku Memohon Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Anak Yang Berpenyakit / Penyesalan Keluarga
Popularitas:16.4k
Nilai: 5
Nama Author: Safira

Nadia Prameswari, ibu tunggal driver ojek, terpaksa menikah lagi dengan mantan suaminya Rafi Santoso demi biaya transplantasi sumsum tulang putrinya Aira yang menderita leukemia. Kembali ke rumah keluarga Santoso, ia harus menghadapi Selin yang menggantikan posisinya, dan anak laki-lakinya Raka yang sudah membencinya. Rafi yang dingin terus menghinanya, tapi Nadia hanya punya satu tujuan: menyelamatkan nyawa Aira dengan cara apa pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20 - Pintu yang Mulai Terbuka

Nadia mengirim lima lamaran malam itu.

Semuanya ke bidang yang dulu pernah membuat matanya hidup.

Studio parfum lokal di Kemang. Brand body mist yang sedang naik di TikTok. Perusahaan home fragrance kecil di BSD. Butik parfum niche di Plaza Indonesia. Satu lagi ke alamat email lama milik seniornya, Laras Kirana, yang dulu dua tingkat di atasnya saat kuliah.

Subjek emailnya sederhana.

Lamaran posisi perfumer atau fragrance assistant.

Setelah menekan kirim, Nadia menatap layar ponsel lama.

Ia tidak langsung merasa lega.

Malah takut.

Takut ditolak.

Takut diterima.

Takut tidak bisa membagi waktu antara Aira dan pekerjaan.

Takut Rafi tahu lalu menjadikannya bahan pertengkaran baru.

Aira tidur di sampingnya. Malam itu Nadia meminta izin perawat untuk berbaring sebentar di ranjang kecil pendamping pasien. Tubuhnya hampir menyerah setelah dua hari nyaris tanpa tidur.

Pukul dua dini hari, email balasan pertama masuk.

Dari Laras Kirana.

[Nadia? Ini benar kamu? Aku sudah lama mencari kontakmu. Besok kalau sempat, datang ke studioku. Aku sedang butuh orang untuk proyek parfum baru. Kita bicara dulu, tidak harus langsung kerja penuh waktu.]

Nadia membaca email itu berkali-kali.

Laras.

Nama itu membawa ingatan lama.

Ruang praktikum kampus yang penuh botol kecil. Tangan Nadia yang berbau melati, nilam, dan cendana. Dosen yang pernah berkata hidung Nadia sangat peka. Laras yang dulu meminjamkan catatan dan berkata, "Kamu harus serius di dunia parfum. Jangan hilang begitu saja."

Lalu Nadia menikah dengan Rafi.

Dan perlahan, ia memang hilang.

Ia membalas email dengan tangan sedikit gemetar.

[Kak Laras, ini Nadia. Terima kasih. Saya bisa datang besok siang setelah dokter visit anak saya.]

Balasan datang cepat.

[Datang saja. Bawa anak kalau perlu. Studioku aman.]

Nadia menatap kalimat terakhir.

Studioku aman.

Aneh sekali, kata aman bisa membuat seseorang ingin menangis.

Keesokan paginya, Aira bangun dengan kondisi lebih baik. Demamnya turun. Dokter Damar mengizinkan Nadia pergi beberapa jam asal ponsel aktif dan perawat tetap mengabari.

"Ibu ada urusan penting?"

Nadia ragu, lalu menjawab jujur. "Saya mau melamar kerja."

Dokter Damar tampak terkejut, kemudian mengangguk pelan.

"Bagus."

Nadia hampir tertawa. "Bagus?"

"Bagus kalau Ibu punya jalan yang tidak sepenuhnya bergantung pada Pak Rafi."

Nadia menatapnya.

Dokter Damar menutup map. "Maaf kalau saya lancang."

"Tidak. Dokter benar."

Aira mendengar percakapan itu.

"Mama mau kerja?"

"Mama mau ketemu teman lama."

"Kerja biar dapat uang?"

"Iya."

Aira tampak berpikir. "Kalau Mama kerja, Aira ikut?"

"Hari ini Aira di sini dulu. Ada perawat, ada dokter."

"Mama balik?"

"Pasti."

Aira mengulurkan kelingking.

"Janji?"

Nadia mengaitkan kelingkingnya.

"Janji."

Ia berangkat pukul sebelas.

Tidak meminta mobil rumah.

Tidak meminta izin Rafi.

Ia memesan ojek online dari halaman rumah sakit, memakai kemeja putih sederhana dan celana hitam yang sudah disetrika seadanya. Di tasnya ada portofolio kecil: beberapa catatan formula lama, foto produk tugas akhir, dan satu botol kecil parfum yang ia buat bertahun-tahun lalu.

Namanya Hujan Pertama.

Wangi melati basah, teh putih, dan sedikit kayu.

Dulu ia membuatnya saat baru menikah dengan Rafi, ketika masih percaya hujan berarti rumah, bukan kesepian.

Studio Laras berada di bangunan kecil dua lantai di Kemang. Dari luar, tampilannya sederhana. Pintu kaca, papan nama kayu, pot tanaman, dan aroma lembut yang langsung terasa begitu Nadia masuk.

Bukan aroma mahal yang menusuk.

Wangi bersih. Hangat. Hidup.

"Nadia!"

Laras keluar dari ruang dalam. Perempuan itu masih seperti dulu: rambut pendek sebahu, kemeja longgar, wajah tegas tapi matanya hangat.

Begitu melihat Nadia, ia berhenti.

"Ya Allah," bisiknya. "Kamu kurus sekali."

Nadia tersenyum kaku. "Halo, Kak."

Laras mendekat, lalu memeluknya.

Pelukan itu membuat Nadia kaku beberapa detik.

Ia tidak terbiasa dipeluk tanpa alasan tersembunyi.

Laras melepas pelukan dan menatap wajahnya. "Aku dengar sedikit soal kamu dari berita lama, tapi setelah itu kamu seperti hilang."

"Memang hilang."

Laras tidak memaksa bertanya.

"Anakmu?"

"Di rumah sakit."

Wajah Laras langsung serius. "Sakit apa?"

"Leukemia."

Laras menarik napas. "Nadia..."

"Aku butuh kerja."

Kalimat itu keluar lebih cepat dari yang Nadia rencanakan.

Laras menatapnya, lalu mengangguk. "Baik. Kita bicara kerja."

Mereka duduk di meja kecil dekat jendela. Laras melihat portofolio Nadia, membuka catatan formula lama, dan mencium sampel Hujan Pertama.

Matanya berubah.

"Kamu masih punya hidung itu."

Nadia hampir lupa bagaimana rasanya dipuji karena kemampuan, bukan karena patuh, cantik, atau pantas berdiri di samping pria tertentu.

"Ini sudah lama."

"Justru bagus. Formulanya mentah, tapi emosinya ada."

Nadia menunduk. "Aku sudah bertahun-tahun tidak bekerja."

"Bisa belajar lagi."

"Jadwalku kacau. Anak saya sering harus ke rumah sakit."

"Kita mulai dari proyek lepas. Kamu bantu konsep aroma dan modifikasi formula. Tidak harus setiap hari di studio."

Nadia menatap Laras. "Kakak serius?"

"Aku tidak sedang beramal, Nad. Aku butuh orang yang bisa mencium cerita dalam aroma. Kamu bisa."

Untuk pertama kalinya setelah lama sekali, Nadia merasa dadanya terbuka sedikit.

Pintu studio berbunyi ketika seseorang masuk.

Nadia menoleh.

Arkan Adiwangsa berdiri di depan pintu.

Hari ini ia memakai kemeja abu gelap, tanpa jas. Tetap rapi. Tetap tenang. Kehadirannya membuat ruangan kecil itu terasa mendadak lebih diam.

Laras berdiri cepat. "Pak Arkan."

Nadia ikut berdiri, terkejut.

Arkan melihatnya. Tidak terlalu lama, tidak terlalu singkat.

"Bu Nadia."

Laras menatap mereka bergantian. "Kalian saling kenal?"

"Pernah bertemu," jawab Arkan.

Nadia menambahkan, "Pak Arkan pernah membantu saya."

"Dua kali," kata Arkan.

Nadia tidak tahu harus menjawab apa.

Laras tersenyum tipis, tapi cukup bijak untuk tidak bertanya lebih jauh.

"Pak Arkan adalah klien proyek yang tadi aku maksud. Grup Adiwangsa mau membuat lini home fragrance untuk hotel butik mereka."

Nadia menatap Laras, lalu Arkan.

Arkan berkata, "Saya tidak tahu Bu Nadia yang akan direkomendasikan Laras."

Nadia percaya.

Entah kenapa.

Mungkin karena pria itu tidak tampak seperti orang yang perlu berbohong untuk terlihat baik.

Laras berkata, "Kalau kalian keberatan..."

"Saya tidak keberatan," kata Arkan.

Nadia ragu sejenak, lalu berkata, "Saya juga tidak."

Pertemuan dilanjutkan.

Arkan menjelaskan kebutuhan proyek dengan kalimat singkat. Hotel butik di Ubud dan Jakarta. Aroma yang tidak pasaran. Hangat, tapi tidak berat. Indonesia, tapi bukan tempelan turis.

Nadia mendengarkan.

Pelan-pelan, bagian dalam dirinya yang lama mati mulai bergerak.

"Kalau untuk Jakarta," katanya tanpa sadar, "jangan terlalu banyak bunga putih. Nanti terasa seperti lobby rumah sakit. Bisa pakai teh putih, kulit jeruk, sedikit cendana. Untuk Ubud, jangan hanya frangipani. Terlalu mudah. Pakai kenanga tipis, daun basah, dan tanah setelah hujan."

Ruangan diam.

Laras tersenyum lebar.

Arkan menatap Nadia dengan perhatian yang tenang.

"Itu menarik."

Nadia baru sadar ia bicara terlalu banyak.

"Maaf."

"Kenapa minta maaf?"

Pertanyaan itu sederhana.

Lagi-lagi Nadia tidak punya jawaban.

Karena di rumah Rafi, pendapatnya sering disebut bantahan.

Karena di depan Bu Ratna, suaranya disebut kurang ajar.

Karena di dekat Selin, kalimatnya selalu dianggap menyakiti.

"Refleks," kata Nadia akhirnya.

Arkan tidak mengejarnya.

Pertemuan selesai satu jam kemudian. Laras memberi Nadia kontrak proyek lepas untuk dibaca. Nilainya tidak besar bagi orang seperti Rafi, tapi bagi Nadia, angka itu cukup untuk membuat napasnya sedikit lebih panjang.

Di luar studio, Arkan berjalan bersamanya sampai pintu.

"Anak Anda bagaimana?"

"Lebih stabil hari ini."

"Bagus."

"Terima kasih untuk semalam."

"Anda sudah mengatakannya."

"Tetap perlu saya katakan lagi."

Arkan mengangguk. "Kalau begitu saya terima."

Nadia hampir tersenyum.

Ponselnya berbunyi.

Rafi.

Ia menatap layar.

Arkan melihat, tapi tidak bertanya.

Nadia menjawab.

"Kamu di mana?" suara Rafi tajam.

"Di luar."

"Rumah sakit bilang kamu pergi. Kamu tidak minta izin."

"Aku bukan pasien."

"Nadia."

"Aku melamar kerja."

Jeda panjang.

Lalu Rafi tertawa dingin.

"Kerja? Kamu pikir siapa yang akan menerima kamu dengan keadaan seperti itu?"

Nadia menggenggam kontrak di tangannya.

Di depan studio, Laras berbicara dengan staf. Arkan berdiri beberapa langkah darinya, tidak ikut campur, tapi kehadirannya seperti dinding yang diam.

Nadia menjawab pelan, "Ada."

"Apa?"

"Ada yang menerima."

Rafi terdiam.

"Kita bicara di rumah."

"Aku ke rumah sakit dulu."

"Aku bilang kita bicara di rumah."

Nadia menatap kontrak lagi.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sepenuhnya terpojok.

"Nanti," katanya.

Lalu ia memutus telepon.

Tangannya gemetar setelah itu, tapi bukan hanya karena takut.

Ada sesuatu yang lain.

Kecil.

Rapuh.

Mungkin pintu.

Mungkin udara.

Mungkin dirinya yang mulai ingat bahwa ia pernah punya nama sebelum menjadi istri Rafi dan ibu dari anak-anak yang terluka.

Arkan berkata dari samping, "Anda butuh kendaraan ke rumah sakit?"

Nadia menatapnya.

Kali ini, ia tidak langsung menolak.

"Kalau tidak merepotkan."

"Tidak."

Nadia mengangguk.

Di dalam tasnya, kontrak kerja lepas itu terasa ringan.

Tapi untuk Nadia, beratnya seperti kunci pertama menuju jalan keluar.

1
Srijanni
mana lanjutan ny
Titien Prawiro
Gk paham Rafi jadi Bapak gk tegas, plin plan, kalah dengan air mata.
Titien Prawiro
Kenapa Rafi melakukan seperti itu terhadap istrinya, beda dgn si jalangaku benci sama Rafi.
Prajnya Paramita
bagus banget cerita ini.
Wike Susilawatu
lanjut Thor aku baru baca
Srijanni
setelah cerai suami dan anak minta
Meity Londok
lanjutan nya?
Srijanni
kapan terusan ny
Srijanni
kapan lanjutan ny udh ga sabar
Srijanni
sy suka cerita ny menarik lanjut
Eni Satria
terlalu lemah nadia suami biadap ank durhaka mls baca buat emosi
Irawati Soetojo
Cerita ya bagus banget, breres mili sedih suami n Ayah tidak peka ke istri n anak sakit
Daulat Pasaribu
cepat bangkit nadia...smoga aja kamu dan aira cepat merasakan bahagia.biarkan aja si rafi dan arka menyesal
Daulat Pasaribu
rafi rafi setelah aira meninggal baru menyesal...aku sih harapnya aira dan nadia tetap hidup bahagia tanpa si rafi dana si raka
Daulat Pasaribu
rafi rafi setelah aira meninggal baru menyesal...aku sih harapnya aira dan nadia tetap hidup bahagia tanpa si rafi dana si raka
Daulat Pasaribu
penasaran penyeban keluarga nadia bisa tercerai berai itu karena apa
Daulat Pasaribu
aku nangis bacanya,sedih kali novelnya
Daulat Pasaribu
apa alasannya thor kok bisa si aira di telantarkan bahkan di abaikan oleh papanya si rafi
Daulat Pasaribu
penyebab mereka cerai kenapa ya thor?
Daulat Pasaribu
tapi kok bisa si rafi membuarkan anaknya hidup sakit sakit tan.padahal walaupun cerai bukannya itu tanggung jawabnya rafi sbagai ayah kandung aira thor
Dini Suharsono: /Scowl/0
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!