"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 32. Skenario ideal
Malam harinya, Ameera melangkah masuk ke dalam rumah dengan tubuh yang lelah, namun pikirannya jauh lebih bising. Begitu suara pintu depan terbuka, Imam yang ternyata sudah menunggu di ruang tengah sejak sore langsung berdiri. Wajah pria paruh baya itu tampak tegang, cemas, sekaligus memancarkan antusiasme yang begitu sarat akan kekhawatiran yang coba ia tahan.
"Meer..." panggil Imam, langkah kakinya bergegas mendekati Ameera sebelum putrinya itu sempat melepas sepatu. "Bagaimana? Bagaimana keadaan Tante Bibah? Apa dia sudah sadar? Sakit apa kata dokter, Meer? Apa kondisinya sudah membaik?"
Rentetan pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Imam. Matanya menatap Ameera dengan sorot yang begitu lurus, mencari jawaban, mencari kepastian bahwa wanita dari masa lalunya itu baik-baik saja.
Ameera terpaku di dekat pintu. Ia memandangi wajah ayahnya, gurat kecemasan yang mendalam, napas yang agak memburu, dan binar ketakutan yang tidak bisa disembunyikan. Dalam puluhan tahun hidup bersama ayahnya, Ameera jarang sekali melihat Imam secemas ini untuk urusan orang lain.
Melihat reaksi spontan dan antusiasme yang sarat akan rasa peduli itu, hati Ameera mencelos. Keyakinannya yang tadi sore sempat goyah, kini justru mengkristal kuat. Benar kata hatinya, benar kata VT yang ia tonton bersama Rayhan tadi. Menjauhkan mereka, bersembunyi dari kenyataan, atau pura-pura tidak terjadi apa-apa... betul-betul tidak akan pernah menyelesaikan masalah.
"Tante Bibah sudah baikan, Pa. Sudah sadar," jawab Ameera dengan suara lembut, mencoba menenangkan debar di dada ayahnya. "Kata dokter vertigo parah dan dehidrasi akut. Beliau stres berat, Pa. Terlalu banyak pikiran."
Imam menghembuskan napas panjang, bahunya yang tegang perlahan merosot. Ia membuang muka sekilas, menggumamkan kalimat hamdalah dengan lirih, seolah separuh beban di pundaknya baru saja diangkat. "Alhamdulillah... Alhamdulillah kalau sudah sadar."
Ameera melangkah mendekat, lalu menyentuh lengan ayahnya. Ia menatap Imam dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh ketegasan seorang wanita dewasa.
"Pa... melihat Papa secemas ini, Amera jadi semakin yakin," lirih Ameera.
Imam menoleh, mengernyitkan dahi. "Yakin soal apa, Meer?"
"Yakin kalau rencana kita untuk saling menghindar dan membatalkan paviliun kembar itu salah besar. Itu tidak menyelesaikan apapun, Pa," ujar Ameera, suaranya mulai bergetar.
"Tadi di rumah sakit, Meera bicara panjang dengan Rayhan di koridor. Kami berpikir... sanggupkah Meera dan Rayhan hidup bahagia, membangun rumah tangga, punya anak, sementara Meera tahu di rumah ini Papa selalu kesepian? Dan Rayhan tahu di sana Ibunya menua dalam sepi dan trauma? Sanggupkah kami egois menikmati masa muda kami, sementara orang tua kami dibiarkan meratapi masa lalu yang bahkan bukan mereka yang inginkan?"
Ameera menggelengkan kepalanya dengan kuat, air matanya perlahan luruh.
"Nggak, Pa. Meera nggak sanggup. Rayhan juga nggak sanggup."
Imam tertegun, lidahnya mendadak kelu mendengar kedewasaan cara berpikir putrinya. "Meer, tapi kalau Papa dan Tante Bibah terus bertemu, kalian yang akan terbebani..."
"Justru kalau Papa dan Tante Bibah terus bersembunyi, kami yang tersiksa seumur hidup karena merasa bersalah, Pa!" sela Ameera, menggenggam erat kedua tangan ayahnya.
"Meera dan Rayhan sudah sepakat. Kami tetap akan menikah. Tapi kami tidak akan membiarkan Papa dan Tante Bibah selamanya canggung atau terasing. Papa dan Tante Bibah harus diberi waktu untuk duduk bersama secara terhormat. Saling memaafkan, berdamai dengan keadaan masa lalu."
Ameera menatap lekat mata ayahnya, memberikan senyuman paling tulus di sela tangisnya.
"Orang tua juga butuh teman bercerita di masa tua, Pa. Bukan cuma anak-anaknya saja yang berhak bahagia punya pasangan. Papa dan Tante Bibah sudah sekian tahun sendirian, berkorban demi Meera dan Rayhan. Sekarang, giliran kami yang menjadi jembatan. Biarkan masa lalu itu terkubur, dan mari kita buka lembaran baru sebagai keluarga besar. Biarkan waktu yang mengikis rasa canggung itu, Pa. Demi Allah, Meera cuma ingin melihat Papa bahagia di sisa usia Papa."
Imam mematung, dadanya bergemuruh hebat. Sepasang matanya menatap Ameera dengan tatapan yang sulit diartikan. Bisakah ia dan Habibah menjadi seperti apa yang diharapkan oleh Rayhan dan Ameera? Menjadi dua orang tua yang duduk tenang, tersenyum ramah, dan menganggap masa lalu tak lebih dari sekadar dongeng usang?
Mendengar ucapan Ameera, bukannya Imam merasa lega, tetapi rasanya justru seperti ada belati yang menusuk langsung ke hulu jantungnya. Sangat perih, hingga ia harus menahan napas sejenak.
‘Mengubur masa lalu... berdamai dengan keadaan... menghilangkan rasa canggung…’
Imam membatin dalam kepedihan yang teramat sangat. Apakah anak-anak muda ini mengira melupakan rasa sakit dan cinta selama tiga puluh tahun bisa semudah membalik telapak tangan? Mereka tidak tahu. Mereka tidak paham bahwa selama tiga puluh tahun ini, dalam kondisi tidak bertemu dan tidak mendengar kabar sekalipun, cinta Imam kepada Habibah tetap ada. Tetap utuh, tersimpan rapat di sudut hati yang paling gelap.
Dan kini, mereka diminta bertemu, duduk bersama, tetapi hanya sebatas "berdamai" dan menjadi keluarga besar karena anak-anak mereka menikah? Itu bukan menyembuhkan luka, melainkan memaksa Imam untuk menguliti lukanya sendiri setiap hari sembari berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.
Namun, melihat binar harapan dan air mata di pipi putrinya, Imam memilih untuk diam. Ia tidak sanggup meruntuhkan harapan mulia Ameera. Imam hanya menarik napas panjang yang terasa sangat sesak, lalu mengusap lembut kepala Ameera tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan malam itu membungkus penolakan batin Imam yang teramat sepi.
*
*
Keesokan sorenya, setelah memastikan kondisi ayahnya tenang di rumah, Ameera kembali menemui Safia di sebuah di sebuah cafe. Dengan wajah yang tampak lebih cerah, Ameera menceritakan keputusannya dan Rayhan di rumah sakit, lengkap dengan rencana mereka untuk menjadi jembatan perdamaian bagi Imam dan Habibah.
Namun, respons Safia lagi-lagi tidak sesuai dengan ekspresi penuh harap milik Ameera. Safia meletakkan cangkir kopinya, menatap Ameera dengan tatapan lurus, lalu menghela napas panjang.
"Nggak bisa semudah itu, Meer," ujar Safia, nadanya terdengar sangat berat.
Ameera mengernyitkan dahi, senyumnya perlahan pudar. "Kenapa, Saf? Bukankah ini jalan paling adil? Kami tetap nikah, dan orang tua kami nggak perlu kesepian lagi karena mereka bisa berdamai dan berteman di masa tua?"
Safia memajukan tubuhnya, melipat kedua tangannya di atas meja. "Meer, kamu dan Rayhan itu sedang memikirkan skenario ideal yang ada di kepala kalian, tapi kalian buta dengan realitas emosi orang tua kalian. Kamu bilang mereka harus duduk bersama, saling memaafkan, lalu berteman?"
Safia menggelengkan kepala dengan dahi berkerut.
"Meer, tiga puluh tahun mereka berpisah bukan karena mereka berhenti saling mencintai. Mereka dipisah paksa oleh takdir yang kejam. Kamu sendiri yang bilang, Papamu masih menyimpan nama Tante Bibah, dan Tante Bibah sampai ketakutan setengah mati saat melihat Papamu lagi. Itu artinya apa? Artinya perasaan itu masih ada, Meer! Masih sangat besar!"
Ameera tertegun, lidahnya mendadak kelu.
"Sekarang coba kamu pikir pakai logika dewasa," lanjut Safia, suaranya menuntut perhatian penuh Ameera. "Bagaimana bisa kamu menyuruh dua orang yang masih saling mencintai untuk bertemu, berteman, dan berpura-pura canggungnya hilang, sementara di depan mata mereka, anak-anak mereka sendiri sedang menikmati ikatan cinta yang dulu pernah direnggut dari mereka? Itu namanya menyiksa mereka secara perlahan, Meer!"
Safia menyentuh punggung tangan Ameera yang mulai mendingin.
"Berdamai dengan masa lalu itu butuh waktu seumur hidup untuk sebagian orang. Kalau kamu paksa mereka berdamai dalam waktu dekat cuma demi kelancaran pernikahan kalian, yang ada Papamu dan Tante Bibah akan semakin menderita karena harus terus-terusan memakai topeng di depan kalian. Kamu siap melihat Papamu tersenyum di depanmu, tapi hancur dan menangis di kamarnya setiap kali pulang dari rumah kalian?”
****
terimakasih kak Riiena untuk ceritanya 💪👍
stres berat sampai masuk RS
Dari awal baca karya kak Rii, aq byk nemuin yg nama nya cerita cinta beda usia, seperti sdh jd ciri khas nya karya kak rii, tp utk novel yg satu ini benar² berbeda, jd ada kesan yg mendalam bgt pas baca dari bab awal.
Ternyata keluar dari zona nyaman, dan mencoba utk keluar dari ciri khas, Ga ada salahnya, terbukti d karya ini kak Rii aq anggap Sangat Berhasil. semangat kak Rii, terus berkarya dan terus berkarir.....karya mu selalu aq dukung dan aq ikuti.