*Novel dengan Alur Sat Set dan Bab Pendek.*
Junee tidak pernah menyangka akan bertemu lagi dengan Ben Pratama.
Anak culun yang dulu ia tolak di SMA, sekarang jadi CEO muda yang dingin dan sukses. Ketika panti asuhan tempat Junee mengabdi terancam digusur, satu-satunya jalan keluar adalah menerima tawaran Ben: Menjadi istri kontraknya selama satu tahun. Tidak ada cinta. Hanya kesepakatan.
Begitu pikir Junee. Tapi tinggal serumah dengan Ben ternyata tidak sesederhana itu. Setiap tatapannya penuh teka-teki. Setiap sikapnya seperti menyimpan amarah yang belum selesai.
Junee mulai bertanya: Apakah Ben benar-benar membencinya? Atau selama ini, ia salah paham tentang alasan penolakan itu? Satu tahun. Satu kontrak. Satu kesempatan untuk memperbaiki masa lalu. Pertanyaannya… apakah hati mereka masih bisa diperbaiki?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Ben Yang Baru.
3 Bulan Setelah Sidang
Kasus Lisa dan Vania sudah selesai.
Lisa meminta maaf di hadapan publik 7 hari, dan membuat saham Glowish Skin anjlok 12%.
Sementara itu, Vania dipenjara selama 8 bulan karena membocorkan dokumen dan pencemaran nama baik.
Nama Junee pun kini telah bersih.
Tetapi yang berubah bukan hanya nama Junee. Sang suami juga ikut berubah.
Ruang Rapat Ben Holding, Lantai 45.
Dulu, kalau Ben masuk ke dalam ruang rapat, semua orang akan terdiam. Situasi menjadi sangat tegang.
Namun sekarang, sebelum meeting di mulai, Ben menyapa lebih dulu.
“Pagi semua. Apa kalian sudah minum kopi pagi ini?”
Kalimat sederhana yang mampu membuat para bawahannya terkejut. Tetapi, mereka senang, karena suasananya menjadi lebih santai.
Tetapi Ben masih tegas. Kalau ada yang laporan salah, pria itu tetap marah.
Namun marahnya bukan untuk merendahkan. Melainkan marah untuk mengajarkan yang benar.
“Revisi bagian ini. Saya mau jam 3 sore sudah selesai.
Kalau ada kendala, chat saya langsung. Tidak perlu menunggu besok.”
Kalimat itu belum pernah keluar dari mulut Ben sebelumnya. Ia hanya mengatakan “Ulangi. Sekarang.”
Mbak Rina yang sudah 5 tahun bekerja dengan Ben, melihat betul perubahan pada pria itu.
“Semuanya karena Bu Junee. Cinta bisa merubah keangkuhan dan keras kepala pak Ben.”
---
Yayasan Harapan Kasih, Cabang Bekasi.
Yayasan Harapan Kasih memiliki cabang baru di daerah Bekasi. Ada 20
anak. 5 orang pengurus sekaligus pengajar. Dan 3 donatur tetap.
Hadir pula anak - anak dari panti asuhan Harapan Kasih Pusat. Bersama Bu Patricia, Bu Sania dan kakek Darman.
Junee memiliki jasa yang sangat besar dalam hidup mereka. Dan Panti Asuhan Harapan Kasih, Bekasi adalah murni gagasan wanita itu.
Tentu semua orang menyambut dengan suka cita.
Junee berdiri di depan panggung kecil. Hari ini adalah peresmian cabang Bekasi.
Wanita itu tidak memakai baju mewah. Hanya kemeja putih, dan celana panjang jeans. Rambutnya pun diikat rapi.
“Terima kasih untuk semua yang sudah percaya sama saya. Yayasan ini milik kita semua. Siapapun.
Kalau kalian lapar, datanglah. Kalau kalian ingin tinggal, tinggallah disini.
Pintu gerbang yayasan akan selalu terbuka untuk semua orang.”
Tepuk tangan pun pecah.
Anak-anak pun teriak. “Hidup Kak Junee!”
Di barisan paling belakang, Ben berdiri dengan setelan formal. Menatap penuh bangga kepada sang istri.
Dulu Ben berpikir jika cinta itu lemah.
Namun kekarang ia tau, cinta itu yang membuat dirinya kuat.
Setelah selesai berpidato, Junee berlari ke arah Ben. Pria itu pun menyambutnya dengan pelukan hangat.
“Kamu kenapa bisa ada disini? Bukannya ada meeting sama investor Singapura?” Tanya Junee dengan dahi berkerut halus.
Ben tersenyum.
“Aku minta mbak Rina yang datang. Meeting bisa diganti lain hari. Peresmian yayasan hanya sekali.”
Junee kembali memeluk pria itu.
“Jangan sering - sering membatalkan meeting hanya karena aku. Pikirkan juga nasib karyawan kamu di Ben Holding, jika klien sampai membatalkan kerja sama dengan kita.” Ucap wanita itu.
Ben mengusap punggung sang istri. “Aku hanya ingin menjadi yang terbaik untuk kamu, Junee.“
“Dan kamu juga harus belajar menjadi yang terbaik untuk para bawahan kamu.” Imbuh Junee.
Ben menganggukkan kepalanya.
Dika tiba - tiba datang mendekati mereka.
“Kak Juee, Om Ben. Ayo kita berfoto bersama.” Ucap bocah itu.
Ben dan Junee tersenyum dan mengangguk dengan kompak.
“Ayo.”
Ben dan Junee pun bergabung bersama anak - anak yang lain. Dan mereka pun mengabadikan momen indah bersama.
Acara kemudian di lanjutkan dengan makan bersama.
“Aku senang jika kamu bahagia, Junee.” Bisik Ben pada sang istri.
“Dan kamu yang selalu membuat aku bahagia, Ben.” Balas wanita itu.
---
Keesokan harinya di Kantor Ben Holding.
Suasana tegang menyelimuti ruang rapat di lantai 45 gedung itu.
Rapat internal darurat.
Direktur keuangan baru saja melapor, jika ada masalah di proyek Surabaya. Salah satu investor ingin mengundurkan diri. Sehingga menyebabkan terjadi kerugian besar.
Para bawahan Ben yang lain sedang ketakutan. Pria itu biasanya akan marah, bahkan melempar laporan di atas meja.
“Hubungi investor. Jelaskan situasinya. Beri mereka pilihan, refund 100% atau diskon 15% kalau mau menunggu.
Kalau mereka tetap ngotot, lepas saja. Kita tidak akan kekurangan klien.” Jawab Ben dengan tenang. Tetapi tegas.
Ruangan meeting menjadi semakin senyap.
Bukan karena takut. Namun karena terkejut. Mereka pun saling beradu tatap.
“Saya tidak mau tim kita lembur sampe jam 11 malam lagi.
Kalau pekerjaan tidak selesai, berarti sistemnya yang salah. Bukan orangnya.
Mulai bulan depan, semua divisi menggunakan sistem kerja 5 hari. Sabtu libur.” Imbuh Ben.
Direktur keuangan hampir saja jatuh dari kursinya karena terkejut.
“Pak… anda serius? Bukannya, motto bapak, ‘waktu adalah uang’.” Tanya pria berusia 40 tahunan itu.
Ben tersenyum tipis.
“Perusahaan yang manusianya hancur, tidak akan bisa bertahan lama.
Saya sudah pernah menjadi robot. Itu sangat melelelahkan.”
Meeting selesai. Ben pun meninggalkan ruangan diikuti oleh mbak Rina.
Berita tentang perubahan sikap Ben pun tersebar di grup pesan karyawan. Semuanya pun bersuka cita menyambut aturan yang baru di rubah oleh atasan mereka.
“Mari kita bekerja dengan semangat untuk memajukan Ben Holding.”
“Aku ingin bekerja disini lebih lama.”
“Akhirnya bisa menikmati libur di akhir pekan. Terima kasih, pak Ben.”
“Ini pasti karena ada Bu Junee yang menunggu pak Ben di atas. Makanya dia juga ingin ada di rumah setiap akhir pekan.”
“Iya.. pernikahan mereka pasti sedang hangat - hangatnya.”
---
Ben pulang kerja pukul 6 sore. Dan mendapati Junee sedang memasak makan malam di dapur.
“Sudah pulang.” Ucap Junee ketika Ben menghampiri dan melabuhkan kecupan singkat di atas kepalanya.
“Hmm. Lebih baik di rumah daripada di kantor sedirian.” Ucap pria itu.
Junee mencebik pelan.
“Aku ke kamar dulu.” Ucap Ben kemudian pergi ke kamar utama.
Junee menyiapkan makanan di atas meja. Lima belas menit kemudian, sang suami pun kembali dengan penampilan yang lebih segar. Menggunakan baju kaos putih dan celana pendek yang senada.
Mereka kemudian makan malam dengan tenang.
Setelah selesai makan malam dan membersihkan peralatan makan mereka, Ben dan Junee tidak langsung kembali ke kamar.
Mereka duduk di atas kursi ruang tamu.
Dika menghubungi lewat panggilan video. Dan menanyakan PR matematika pada Junee.
“Kak, ini 7x8 berapa?” Tanya Dika di seberang.
“56.” Potong Ben dengan cepat.
Dika menyunggingkan sudut bibirnya. “Aku salah dong, om. Aku jawab 54.”
Junee terkekeh pelan.
“Jawaban Om Ben yang benar, Dika.”
“Iya, dong. Om ‘kan CEO.” Ucap Ben jumawa.
Mereka pun tertawa bersama.
Setelah panggilan video berakhir, Ben mengambilkan segelas susu hangat untuk Junee.
“Minum susu sebelum tidur.” Ucap pria itu.
Junee pun menerimanya.
“Kamu sekarang sering pulang lebih awa. Apa tidak takut perusahaan rugi?” Tanya wanita itu.
Ben duduk di samping sang istri.
“Perusahaan tidak akan rugi hanya karena aku pulang tepat waktu. Kalau kamu lelah dan aku tidak ada, itu yang akan aku sesali.”
Hati Junee menghangat mendengar ucapan sang suami.
“Aku ke ruang kerja sebentar.” Pamit pria itu.
“Mau apa lagi?” Tanya Junee yang ikut bangkit dari tempat duduknya.
“Tidak. Hanya ingin memastikan proposal yang kamu ajukan untuk Yayasan Bekasi. Kalian sedang butuh dana untuk renovasi dan penambahan alat belajar mengajar ‘kan?”
Junee menganggukkan kepalanya.
“Apa kamu setuju untuk mendanainya?”
“Tentu. Kenapa tidak? Kamu mengajukan proposal untuk anak - anak. Bukan untuk urusan pribadi.” Ucap Ben.
Junee memeluk sang suami.
“Terima kasih. Kamu banyak berubah akhir - akhir ini.”
Ben membalas pelukan itu.
“Aku tidak berubah. Aku hanya sedang belajar. Untuk dihormati, kita tidak harus menjadi kaku, dingin dan tidak punya hati. Tetapi bagaimana kita bisa menghargai dan memanusiakan orang yang bekerja dengan kita.”
Junee mengeratkan pelukannya. “Selamat datang, Ben Pratama yang baru.”
“Ben yang baru ini ada berkat kamu, Junee.” Ucap pria itu.
Karena memang Junee lah alasan pria itu untuk berubah.
---