NovelToon NovelToon
Terjerat Hati Adik Ipar

Terjerat Hati Adik Ipar

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.

Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.

Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.

Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31•Mulai Dari Awal

 “Selamat untuk pasangan bertunangan” kata MC di balas dengan tepuk tangan riuh para tamu undangan.

Bara mundur setengah langkah. Senyumnya kaku. Matanya mencari di antara kerumunan tamu.

Ia tidak lihat Naya dengan jelas. Tapi ia merasakan kehadirannya. Merasakan seseorang yang terpaku lama melihatnya di antara banyaknya tamu.

Jantungnya jatuh. Ia ingat gaun hitam di pintu masuk tadi. Lipstik merah. Tatapan Naya yang sempat bertemu matanya sedetik, sebelum Naya balik badan.

“Bar, foto dulu,” panggil Jeslyn sambil tarik tangannya.

“Ntar,” jawab Bara singkat. Lalu ia turun dari panggung tanpa permisi.

Di luar gedung ia lihat ke kiri, ke kanan. Dan di ujung trotoar, di bawah lampu jalan yang redup, ia lihat Naya.

Naya duduk di tepi. Gaun hitamnya kusut. Bahunya naik turun. Ia tidak menangis keras. Tapi tubuhnya gemetar. Bara berlari mendekati Naya, teriakan didepan gedung ia abaikan. Hanya satu yang ada dipikirannya kali ini, Naya.

“Nay,” panggil Bara pelan.

Naya mendongak. Matanya merah. Tapi ia cepat hapus air matanya. “Selamat, Bar.” suaranya datar.

Bara duduk di sampingnya, jaga jarak. “Aku tidak mau ini.”

“Lalu kenapa kamu di atas sana?” Naya menatap lurus ke depan. “Kenapa kamu pasang cincin itu?”

“Karena Ibu. Karena pekerjaanku yang hampir hilang. Karena aku tidak punya pilihan.”

“Selalu ada pilihan, Bar.” Naya akhirnya menoleh. “Kamu pilih tunangan. Arkan pilih Dewi. Aku yang selalu ditinggal.”

Bara mengepalkan tangan. “Aku bukan Arkan.”

“Memangnya beda?” Naya tertawa pendek, getir. “Kalian sama. Datang kalau aku butuh, pergi kalau keadaan susah. Bedanya, Arkan jujur kalau dia pilih orang lain. Kamu? Kamu sembunyi di balik alasan.”

Bara terdiam. Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada bentakan Ibu Desy.

“Aku tau aku salah, Nay. Aku tau aku ninggalin kamu waktu kamu paling butuh. Tapi kalau kamu kasih aku waktu—”

“Waktuku habis, Bar,” potong Naya. Ia berdiri. Gaun hitamnya terayun. “Senin depan sidang kedua. Setelah itu aku pergi keluar kota.”

“Nay—”

“Selamat atas pertunanganmu, Bara.” Naya jalan melewatinya. Tidak menoleh lagi.

Bara duduk di trotoar itu lama. Di dalam gedung, musik masih main. Di luar, Naya menjauh, langkahnya tidak goyah.

Dan Bara tau, kali ini ia benar-benar kehilangan dia.

......................

Satu minggu kemudian, ruang sidang Pengadilan Agama penuh. Sidang kedua. Sidang terakhir.

Naya duduk di kursi penggugat, rapi, wajahnya tenang. Di seberang, Arkan duduk kaku. Ibu Desy di sebelahnya, bibirnya mengerucut.

Hakim buka berkas. “Majelis sudah mempertimbangkan keterangan kedua belah pihak. Apakah masih ada upaya perdamaian?”

Arkan menoleh ke Naya. “Nay, kita—”

“Tidak ada, Yang Mulia,” potong Naya cepat. Suaranya jernih. “Saya sudah tidak bisa melanjutkan.”

Hakim mengangguk. Palu diketuk.

“Dengan ini, majelis memutuskan mengabulkan gugatan cerai penggugat. Perkawinan antara Thanaya Radiva dan Arkan Pratama dinyatakan putus.”

Ketukan palu itu pelan, tapi telinganya Naya berdengung. Sah. Sudah selesai.

Arkan menunduk. Ibu Desy menarik napas panjang. Naya berdiri, ambil tas, keluar tanpa lihat ke belakang.

Siang harinya, lapangan terbuka di depan Balai Kota penuh orang. Acara pernikahan Bara dan Jeslyn. Ayah Jeslyn pejabat, jadi pesta ini jadi tontonan warga. Acara pernikahan sangat meriah, Ayah Jeslyn yang mengusulkan pernikahannya dipercepat. Dan lagi-lagi Bara dilarang bersuara.

Bara berdiri di atas panggung. Jasnya rapi. Mikrofon di tangan. Jeslyn di sampingnya, senyumnya lebar. Beberapa menit lagi akan dilaksanakan ijab kabul.

Tapi wajah Bara pucat.

“Ayah, Ibu, tamu undangan semua,” suara Bara bergetar lewat speaker. “Saya minta maaf.”

Suasana hening.

“Saya tidak bisa melanjutkan pertunangan ini,” lanjut Bara. “Karena hati saya tidak di sini.”

Jeslyn menoleh, matanya melebar. Ayahnya berdiri dari kursi kehormatan. Ibu Desy terlihat menutup mulutnya, terkejut dengan apa yang diucapkan anaknya.

“Saya mencintai orang lain,” kata Bara. “Dan saya tidak mau menikah demi paksaan.”

Cincin tunangan ia lepas dari jari Jeslyn, taruh di atas meja. Lalu ia turun dari panggung, jalan melewati kerumunan yang mulai ribut, menuju pintu keluar.

Ibu Desy langsung langsung sesak nafas, pandangannya menjadi kabur. Dan tak sadarkan diri. Namun Bara sudah lari jauh dari kerumunan tamu. Hanya Arkan yang menggendong tubuh ibunya masuk kedalam mobil. Semua panik, termasuk Jeslyn yang gagal mengejar Bara.

......................

Semua barang yang Arkan antarkan kemarin sudah Naya masukkan ke dalam koper besar. Ia menarik napas pelan, merapikan resleting sampai tertutup rapat.

Hari itu Bara menikah dengan Jeslyn. Naya tahu. Dan ia tidak sanggup datang.

Langkahnya berat menuju halte bus. Kota ini menyimpan terlalu banyak lelah, masa kuliah yang ia jalani sambil menahan lapar, tahun-tahun yang ia serahkan pada seorang laki-laki yang tidak pernah benar-benar memegangnya.

Bus datang. Naya mengangkat kopernya, naik, dan duduk di kursi paling belakang. Enam jam perjalanan membentang di depannya. Ia menatap jalan yang mundur, satu per satu meninggalkan kota yang pernah ia sebut rumah.

Disisi lain, Bara baru sampai ke kontrakan Naya, kontrakan nomor 3 yang sudah digembok rapi. Bersih, tanpa menghuni. Bara mengusap kasar rambutnya, ia masih memakai jas rapi usai kabur dari gedung pernikahan tadi.

Semua melihatnya dengan tatapan aneh, saat itu juga ia bisa merasakan kesedihan Naya, kesedihan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, serta penyesalan yang sudah terlambat.

Keesokan harinya, Naya sudah berada di kontrakan baru diluar kota. Kamar kecil, dinding tipis, tapi cukup untuk tidur. Dengan uang yang tersisa di dompet, Naya membuka lembaran yang tidak melibatkan siapa pun lagi.

Pagi itu ia selesai mandi. Kemeja putih, rok hitam selut. Tas di tangan berisi map berisi surat lamaran.

“Aku pasti bisa,” gumamnya.

Perjalanan Naya menuju kantor kurang sepuluh menit berjalan kaki, kantor itu tidak besar. Cat dindingnya pudar, kipas angin di langit-langit berputar pelan, tapi AC-nya dingin. Naya duduk di kursi plastik, map berisi lamaran digenggam sampai ujung jarinya putih.

“Thanaya Radiva?”

Ia berdiri. Masuk ke ruangan kecil dengan meja kayu dan satu perempuan berkacamata di depannya.

“Silakan duduk.”

Wawancara berlangsung singkat. Pertanyaan standar, pengalaman kerja, bisa komputer, sanggup lembur. Naya menjawab seadanya. Jujur. Tidak ada yang dilebihkan.

Perempuan itu menatap map lamaran Naya, lalu menatap wajahnya.

“Kita butuh admin gudang. Gaji UMR, Bisa?”

Naya terdiam setengah detik. Ia mengira akan disuruh pulang dulu, menunggu panggilan.

“Bisa, Bu,” jawabnya cepat.

“Bagus. Mulai hari ini juga kamu bisa langsung kerja. Ada kiriman masuk jam dua. Kamu bantu cek barang.”

Naya mengangguk. Tangannya gemetar saat menerima map karyawan sementara.

Jam satu siang, ia sudah memakai seragam abu-abu kebesaran. Rambut diikat rapi. Di tangannya ada papan klip dan pulpen.

Kiriman pertama datang pukul dua lewat sepuluh menit. Kardus bertumpuk, daftar barang panjang. Naya mengecek satu per satu, mencocokkan kode, mencatat yang rusak.

Punggungnya pegal menjelang sore. Kakinya sakit karena berdiri terlalu lama. Tapi saat kepala gudang menepuk bahunya dan bilang, “Kerja kamu rapi, Mbak,” Naya menghela napas yang sudah ia tahan sejak pagi.

Malamnya, di kontrakan kecil itu, ia membuka dompet. Gaji pertama masih jauh. Tapi hari ini ia sudah punya pekerjaan. Hari ini ia tidak bergantung pada siapa pun.

1
azzura faradiva
terlalu berbelit²,tinggal bilang aku ga jadi nikah aja kok susah....🙄
azzura faradiva
dasar si Arkan bunglon semoga saja pasangan gila itu mendapatkan karma,mereka tertawa bahagia diatas penderitaan dan luka hati si naya
azzura faradiva
seharusnya Naya menghilang dan pergi yg jauh,biar ga pernah bertemu lagi dgn kluarga gila itu lagi
azzura faradiva
pergi aja, ngapain juga masih bertahan di rumah syetan itu.udah di tindas harga diri di injak² masih aja mau di jadikan budak🙄
azzura faradiva
lagian jadi perempuan ga ada harga dirinya sama sekali,udah tau di budakin dan di khianati masih saja bertahan tinggal disitu
Raden Saleh
💪 semangat terus berupaya, karena cinta tak selalu mulus, dan perlu di perjuangkan. 👍
senjani jingga: benar sekali😁💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!