NovelToon NovelToon
Dipungut Dan Sembuh

Dipungut Dan Sembuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta setelah menikah / Penyesalan Keluarga / Pernikahan Kilat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Seumur hidup, “mengalah” adalah satu-satunya pilihan yang dimiliki Rana. Bagi sang ibu, kebahagiaan Rani, adik tirinya adalah prioritas, sementara Rana hanyalah penanggung jawab yang wajib memenuhi segala ambisi sang adik. Bahkan setelah bekerja, Rana tidak benar-benar merdeka; setengah gajinya dirampas untuk kebutuhan rumah dan biaya sekolah Rani. Tak jarang, ia harus memeras keringat lebih keras saat sang ibu menuntut tambahan dana secara mendadak.
Di tengah pengabaian dan rasa bakti yang mencekik, Rana terbiasa membungkam suaranya sendiri. Hingga suatu hari, sebuah tawaran tak terduga datang dari sosok yang tak pernah ia sangka,
"Apa kamu mau aku lamar?” - Pradika Setya
Pertanyaan itu bagaikan oase di tengah kecamuk yang sedang Rana hadapi. Sanggupkah Rana menyambut uluran tangan itu untuk lepas dari jerat keluarganya atau akankah pernikahan tersebut justru membawa masalah baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Istikharah Pertama

Rana menatap nanar ke arah layar ponsel pintar yang masih menyala, menampilkan deretan kalimat serius dari Pradika. Ia tidak berani membalas pesan Pradika siang itu. Ada rasa membuncah, antara bingung dan cemas yang menjadi satu di dalam dadanya, membuat pasokan oksigen di sekitarnya seolah mendadak menipis.

Malamnya, setelah menyelesaikan ibadah salat Maghrib, Rana tidak langsung beranjak dari atas sajadahnya. Rana kembali berdiri tegak, membaca niat, dan mengangkat kedua tangannya dengan khusyuk, untuk melaksanakan salat Istikharah dua rakaat demi memohon petunjuk kepada Allah SWT atas persimpangan jalan hidup yang kini membentang di depannya.

Sebagai seorang wanita yang hatinya baru saja hancur akibat dikecewakan oleh ibu kandung dan laki-laki yg ia anggap sebagai oase, Rana merasa apa yang ditawarkan oleh Pradika saat ini tak ubahnya sebuah pisau bermata dua. Penawaran itu terasa sangat menggiurkan, sekaligus teramat berbahaya dalam satu waktu.

Di satu sisi, lamaran halus dari Pradika terasa begitu menggiurkan karena dengan menerima pernyataan itu, Rana memiliki alasan legal dan benteng pertahanan yang kuat untuk lolos sepenuhnya dari rencana perjodohan konyol nan serakah yang dirancang oleh Bu Retno. Namun di sisi lain, kenyataan pahit membayangi logikanya. Rana belum mengenal Pradika dalam waktu yang lama. Meski Pradika sangat baik kepadanya dan pernah menolongnya, mereka hanya sebatas rekan kerja satu area yang sesekali bertegur sapa profesional mengenai urusan dokumen manifes gudang. Rana belum tahu bagaimana sifat asli, watak terdalam, dan tabiat laki-laki itu jika kelak berada di bawah satu atap pernikahan.

Ia dirundung ketakutan yang teramat besar. Rana takut, dirinya yang baru saja bersusah payah merangkak keluar dari mulut buaya, justru secara ceroboh melangkah masuk ke dalam mulut singa. Ia tidak ingin mengulang lingkaran setan penderitaan yang sama. Maka dari itu, Rana memutuskan untuk menyerahkan seluruh ego dan logikanya kepada Sang Khalik, karena hanya Allah yang tahu mana yang terbaik untuk dunia dan akhiratnya.

Setelah mengucapkan salam terakhir dan menyelesaikan doa istikharahnya dengan linangan air mata yang membasahi mukena, Rana melipat sajadahnya perlahan. Ia meraih ponselnya, lalu mencari kontak Pak Tarmuji. Di tengah kegundahan hati yang luar biasa ini, sosok bapak kandungnya adalah satu-satunya pelabuhan aman untuknya bersandar.

Tut... Tut... Tut...

Panggilan itu langsung tersambung pada nada ketiga.

"Assalamu'alaikum, Nduk Rana? Ada apa, Nak?" suara parau nan hangat dari Pak Tarmuji menyapa lembut indra pendengaran Rana yang seketika mengusir sebagian rasa dingin yang menyelimuti kamarnya.

Rana menarik napas dalam-dalam, mencoba mengatur suaranya agar tidak terdengar gemetar. Dengan jujur tanpa ada yang ditutup-tutupi, Rana menceritakan seluruh kronologi pernyataan rasa dari Pradika, pesan serius yang menggantung sejak siang, hingga perang batin yang tengah berkecamuk di dalam benaknya.

Mendengar seluruh keluh kesah putrinya, Pak Tarmuji di seberang telepon tidak langsung menjawab. Pria tua itu terdiam sejenak, memberikan ruang bagi kesunyian malam sebelum akhirnya melempar untaian kalimat yang teramat bijak, tanpa ada sedikit pun kesan menghakimi atau menyalahkan keraguan Rana.

"Kalau kamu sudah mengambil air wudu dan melaksanakan salat Istikharah, sekarang tugasmu hanya tinggal menunggu dengan sabar, Nduk. Biarkan hatimu tenang. Allah pasti akan menunjukkan tanda dan jalan yang terbaik untukmu melalui cara-cara-Nya yang tidak terduga," kata Pak Tarmuji dengan nada suara yang kebapakan dan meneduhkan.

Rana menggigit bibir bawahnya, merasa ada sesuatu yang mengganjal.

"Bapak... Bapak tidak marah atau kecewa karena Rana bimbang dan tidak langsung menerima laki-laki baik itu?" tanya Rana lirih.

Ia sejujurnya belum terbiasa dengan sikap demokratis dan penuh pengertian yang ditunjukkan oleh Pak Tarmuji, mengingat seumur hidupnya ia hanya terbiasa dihardik dan didikte oleh Bu Retno.

Mendengar pertanyaan polos anaknya, Pak Tarmuji terdengar mengeluarkan suara tawa kecil yang sarat akan kasih sayang sejati dari seberang saluran telepon.

"Untuk apa Bapak harus marah kepadamu, Nduk? Pernikahan itu adalah ibadah seumur hidup, dan keputusan itu mutlak merupakan pilihan serta hak penuh dari dirimu sendiri yang akan menjalaninya. Bapak di sini... sebagai orang tua, hanya bisa mendukung, mengarahkan, dan mendoakan segala bentuk kebahagiaan lahir batinmu. Jika kelak hatimu mantap memilih laki-laki itu setelah mendapat petunjuk Allah, maka Bapak dengan seluruh sisa kekuatan yang Bapak miliki akan datang ke depan penghulu untuk menjadi saksi dan wali nikah resmi atas penyatuan kalian. Tapi... jika hatimu berkata tidak dan kamu menolaknya, kamu tidak perlu takut sendirian atau terlantar di luar sana. Kamu masih punya Bapak, rumah ini akan selalu siap melindungimu dari badai apa pun."

Detik itu juga, Rana lagi-lagi merasakan hatinya berdesir hebat, diguyur oleh rasa haru yang teramat membuncah hingga membuat dadanya terasa sesak. Setiap kali berbicara dengan Pak Tarmuji, ia selalu menemukan sosok pelindung sejati yang bisa menyirami sanubarinya yang selama belasan tahun ini gersang akibat kekeringan kasih sayang.

"Seperti inikah rasanya disayangi secara tulus tanpa pamrih dan tanpa tuntutan materi?" tanya Rana dalam hati, air matanya menetes satu-persatu.

Rana merenung perlahan, menduga bahwa kehangatan tanpa syarat seperti inilah yang mungkin selama ini selalu dirasakan oleh Rani, yang selalu mendapatkan kasih sayang mutlak, pembelaan buta, dan limpahan kemudahan dari Bu Retno tanpa harus memeras keringat terlebih dahulu sebagai sapi perah. Bedanya, kini Rana mendapatkan hak kasih sayang itu dari sosok seorang ayah kandung yang bersahaja.

Setelah menyelesaikan perbincangan mendalam yang menenangkan jiwa dengan Pak Tarmuji, Rana meletakkan ponselnya di atas kasur. Jarum jam dinding mess perlahan-lahan merangkak naik, menunjukkan pukul sembilan malam. Rasa kantuk akibat kelelahan fisik mulai menyerang matanya, membuat Rana berniat untuk memejamkan mata dan mengistirahatkan tubuhnya.

Namun, tepat ketika ia baru saja menarik selimut tipisnya hingga sebatas dada, ponsel di samping bantalnya mendadak bergetar hebat diiringi nada dering yang nyaring. Layar ponsel itu menyala terang, menampilkan barisan nama 'Mas Pradika' yang tengah melakukan panggilan suara langsung.

Rana terkesiap, tubuhnya mendadak menegang di atas kasur. Ia menatap lekat-lekat tombol hijau yang berkedip-kedip menuntut jawaban. Ada keraguan besar yang sempat melintas di benaknya untuk mengabaikan panggilan itu malam ini. Namun, petuah dari Pak Tarmuji barusan kembali terngiang di kepalanya; ia sadar bahwa dirinya tidak bisa terus-menerus lari dan menghindar dari kenyataan selamanya. Masalah ini harus diselesaikan dengan kedewasaan.

Dengan sisa keberanian yang ia kumpulkan dari helaan napas panjangnya, Rana akhirnya menggeser ikon hijau, mendekatkan speaker ponsel itu ke daun telinganya.

"Assalamu'alaikum, Mas Pradika," buka Rana terlebih dahulu dengan nada suara yang diusahakan setenang mungkin.

"Wa'alaikumussalam warahmatullah... Rana," sahut suara di ujung telepon.

Suara Pradika terdengar agak berat, ada sedikit nada gugup dan cemas yang terkesan buru-buru yang jarang sekali ditunjukkan oleh sang mekanik senior, yang biasanya selalu tampil tenang berwibawa di depan antara rekannya.

"Maaf... maafkan aku jika panggilan malam-malam begini mengganggu waktu istirahatmu."

"Tidak apa-apa, Mas. Saya juga belum sepenuhnya tertidur. Ada apa ya, Mas?" tanya Rana, sengaja memancing Pradika untuk membuka intisari pembicaraan agar ketegangan di antara mereka tidak kian larut.

Seberang saluran telepon sempat hening selama beberapa detik, hanya menyisakan suara embusan napas Pradika yang terdengar berat dan teratur. Tampaknya laki-laki itu sedang menata detak jantung dan merangkai kata di kepalanya.

"Rana... tentang pesan yang aku kirimkan siang tadi," Pradika akhirnya membuka suara, memecah kecanggungan langsung ke inti masalah.

"Aku menelepon karena... karena sejujurnya aku merasa sangat cemas dan tidak tenang sejak siang melihat pesan itu hanya berstatus terbaca tanpa ada balasan darimu. Aku takut... aku sangat takut kalau kelancangan pertanyaanku siang tadi telah membuatmu merasa risih, tersinggung, atau tidak nyaman berhubungan denganku lagi."

Rana meremas ujung selimutnya perlahan, mendengarkan dengan saksama untaian kalimat jujur yang meluncur dari lisan Pradika. Sifat rendah diri dan penuh tanggung jawab dari pria itu perlahan mulai mengikis sedikit demi sedikit rasa curiga yang sempat bersarang di kepala Rana siang tadi.

"Saya tidak tersinggung sama sekali, Mas Pradika," jawab Rana dengan jujur, suaranya melembut.

"Hanya saja... pertanyaan dan pernyataan yang Mas kirimkan siang tadi rasanya terlalu besar dan berat untuk bisa saya jawab dengan ketikan ppesa di sela-sela jam kerja."

Mendengar bahwa Rana tidak marah, Pradika terdengar mengembuskan napas lega yang amat kentara di ujung telepon.

"Syukurlah... Alhamdulillah kalau begitu. Rana, dengarkan aku sejenak. Aku mengajukan pertanyaan itu bukan untuk mendesakmu atau menuntut jawaban instan malam ini juga. Lusa pagi, aku mengambil jatah cuti tahunanku yang sempat tertunda kemarin. Aku hanya ingin memastikan bahwa sebelum aku melangkahkan kaki naik ke atas pesawat, kamu tahu bahwa niat dan perasaanku kepadamu sejak kejadian yang menimpamu itu sama sekali tidak pernah berubah atau berkurang sedikit pun. Aku bersungguh-sungguh ingin menjadikanmu pendamping hidupku, Rana."

Rana terdiam, membiarkan kalimat Pradika meresap ke dalam relung logika dan hatinya. Wejangan Pak Tarmuji dan salat Istikharahnya seolah berkolaborasi memberikan secercah keberanian baru di dalam jiwanya. Rana tahu, jika ia ingin membangun sebuah hubungan yang sehat di masa depan, ia harus memulainya dengan fondasi kejujuran yang utuh; termasuk menceritakan status luka dan kondisi keluarganya yang sebenarnya agar Pradika tidak membeli kucing dalam karung.

"Mas Pradika..." panggil Rana dengan nada yang teramat serius, membuat suasana di seberang telepon mendadak ikut menegang penuh khidmat.

"Iya, Rana? Aku mendengarkan," sahut Pradika cepat.

"Apa yang membuat Mas yakin, saya adalah pilihan yang tepat?" tanya Rana dengan suara sedikit bergetar.

"Jujur... Aku juga tidak tahu alasannya. aku hanya merasa kamu adalah perempuan yang diciptakan untukku. Mungkin ini terdengar aneh, tapi sejak melihatmu, aku tahu kamu adalah bagian dari tulang rusukku. Aku jatuh hati dan mencintaimu secara bersamaan dan tidak ragu untuk mempersuntingmu, bahkan jika kamu memintanya sekarang juga, aku akan mengusahakannya." mendengarnya Rana menitikkan air matanya.

Ternyata ada seseorang yang mencintainya secara tulus dan dalam. Padahal mereka baru kenal dan hanya bertemu beberapa kali saja. Rana menghapus air matanya dan menegakkan tubuhnya.

"Sebelum saya memberikan jawaban apa pun atas pernyataan dari Mas Pradika... ada banyak hal tentang diri saya, tentang masa lalu saya, dan tentang kondisi saya yang harus Mas ketahui terlebih dahulu tanpa ada kebohongan. Saya tidak mau Mas Pradika hanya menilai saya dari luarnya saja." ujar Rana mantap.

"Saya bukan perempuan yang bersih dari masalah. Hidup saya penuh dengan konflik internal keluarga yang rumit. Jika Mas Pradika tidak keberatan... bisakah kita bertemu? Lebih baik kita berbicara secara langsung. Saya akan menceritakan semuanya dan setelah Mas mendengar seluruh cerita hidup saya yang kelam... barulah Mas bisa memutuskan apakah Mas masih ingin melanjutkan niat serius itu atau memilih mundur,."

Mendengar tantangan kejujuran dan kedewasaan sikap yang ditawarkan oleh Rana, Pradika tidak butuh waktu lama untuk berpikir. Sebuah senyuman mantap kini terkembang di wajah tegasnya.

"Baik, Rana. Aku terima ajakanmu. Aku akan datang untuk menemuimu. Ceritakan apa pun yang ingin kamu ceritakan, karena aku sudah siap menerima dan mendengarkan seluruh paket kehidupanmu tanpa terkecuali. Dan satu hal, tidak ada kata mundur." jawab Pradika dengan nada suara yang penuh dengan keyakinan kokoh seorang pria sejati.

Panggilan telepon malam itu akhirnya ditutup dengan ucapan salam yang tenang dari kedua belah pihak. Di dalam kamarnya, Rana meletakkan ponselnya kembali dengan perasaan yang jauh lebih ringan dan lega. Langkah pertamanya untuk bersikap jujur telah terbuka, dan kini ia siap menyerahkan hasil akhir dari pertemuan yang akan datang ke dalam garis takdir terbaik yang telah dipersiapkan oleh Sang Khalik di bawah naungan langit Kalimantan.

1
indy
Kasihan juga Veri dijebak bu retno. semoga kondisi rani terbuka sebelum ijab kabul.
indy
Walah jadi bukan Veri pelakunya
indy
Betul Rana, jangan pulang ke Bojonegoro
Wiwik Susilowati
lanjut kk
indy
Semangat Rana...
Meymei
sama kak 🥹
indy
jadi ikutan mbrebes mili
indy
wah nggantung nih...
Meymei: hihihi
total 1 replies
Meymei
siap😍
indy
kasihan rana, semoga berhasil kabur
indy
makin penasaran, lanjut kakak
indy
Semangat Rana, jangan lupa makan yang baik agar kuat dan sehat
Meymei
sabar kak, msh perlu proses 🤭
indy
owalah, ternyata Rana ikut memodali usaha Veri. Rana terima saja lamaran Pradika agar bisa segera keluar dari keluarga toksik
indy
semoga mereka benar berjodoh
indy
Alhamdulillah Rana selamat, tinggal tunggu action selanjutnya dari mas Pradika
indy
jangan sampai sapo yang datang dan mengajak rana duluan
Meymei: pantau terus kak 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!