"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."
Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.
4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Sisi Dingin Sang Mentor
Hari-hari berikutnya di London tidak menjadi lebih hangat bagi Aruna. Langit kota itu sering kali mendung, semuram tatapan teman-teman sekelasnya. Namun, Aruna tetaplah Aruna. Ia selalu datang paling awal, duduk di bangku paling depan, dan mencatat setiap perkataan dosen dengan tekun, meskipun tak jarang ia harus mengerjakan tiga atau empat tugas tambahan milik orang lain.
"Aruna, ini kerjakan bagian analisis kasus punyaku, ya. Kamu kan pintar, pasti cepat selesai," ucap Michelle sambil meletakkan map tebal di atas meja Aruna.
Michelle adalah primadona kelas. Rambut pirangnya selalu tertata rapi, dan meskipun wajahnya terlihat biasa saja tanpa riasan tebal, aura keangkuhannya membuat siapa pun segan. Di belakangnya, Paula dan Gea berdiri seperti pengawal setia yang siap menimpali setiap ejekan.
"Eh, lihat deh sepatunya," celetuk Paula sambil menunjuk sepatu kets Aruna yang mulai mengelupas di bagian pinggir. "Apa di negaramu tidak ada toko sepatu yang layak? Atau kamu terlalu sibuk belajar sampai lupa caranya merawat diri?"
Gea tertawa sinis. "Mungkin dia mau membangun kesan 'mahasiswi miskin yang berjuang'. Sangat dramatis, bukan?"
Aruna tidak menjawab dengan amarah. Ia justru mendongak, menatap ketiga gadis itu, lalu tersenyum manis, jenis senyum yang selalu berhasil membuat orang lain bingung harus bereaksi apa.
"Sepatuku memang sudah tua, tapi dia saksi bisu perjalananku sampai ke London. Dan soal tugasmu, Michelle, akan aku bantu sebentar lagi setelah bagianku selesai," jawab Aruna tenang. Tangannya kembali menari di atas kertas, mengabaikan tatapan jijik dari mereka.
Suasana riuh rendah di kelas itu mendadak sunyi saat pintu terbuka. Baskara Dirgantara melangkah masuk. Hari ini ia mengenakan kemeja biru navy dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangannya yang kokoh.
"Dengar ya, Aruna," Michelle berbisik tajam, tidak peduli Baskara sudah berada di dalam ruangan. "Jangan merasa hebat hanya karena kamu bisa mengerjakan tugas kami. Kamu tetap saja 'si aneh' yang tidak punya teman di sini. Sadar posisi, ya?"
Baskara melewati barisan mereka. Ia jelas mendengar kalimat Michelle. Langkahnya sempat terhenti sejenak tepat di samping meja Aruna. Namun, alih-alih menegur Michelle atau membela Aruna yang jelas-jelas sedang dirundung, Baskara justru hanya memperbaiki posisi kacamata hitamnya dan meletakkan buku literatur di meja dosen dengan suara dentuman pelan.
Ia membiarkan hinaan itu menguap begitu saja di udara, seolah apa yang dialami Aruna bukanlah urusannya.
"Selamat pagi. Buka buku kalian halaman seratus dua puluh," ujar Baskara dingin.
Michelle, yang merasa mendapat "lampu hijau" karena dosennya tidak marah, langsung memberikan senyuman paling manis yang ia miliki ke arah depan. "Selamat pagi, Pak Baskara. Bapak kelihatan segar sekali hari ini."
Baskara hanya menoleh sekilas, memberikan anggukan singkat yang nyaris tak terlihat sebagai balasan. "Terima kasih, Michelle. Sekarang fokus ke materi."
Meski singkat, balasan itu sudah cukup membuat Michelle merasa menang. Ia melirik Aruna dengan tatapan mengejek, seolah ingin menunjukkan bahwa bahkan dosen yang paling ditakuti pun lebih menghargainya daripada Aruna.
Di bangku depan, Aruna hanya bisa menarik napas panjang. Ia membuka bukunya, mengabaikan rasa perih kecil di hatinya.
"Baik, hari ini kita bahas tentang wanprestasi dalam hukum perdata," suara Baskara menginstruksi. Matanya menyapu kelas, lalu berhenti lagi pada Aruna. "Aruna Prawijaya, coba jelaskan perbedaan mendasar antara batal demi hukum dan dapat dibatalkan. Dan tolong, gunakan bahasa yang profesional, jangan bahasa pasar."
Aruna berdiri. Ia menyadari sindiran Baskara tentang penampilannya yang sering dianggap 'pasar'.
"Baik, Pak. Secara teori, batal demi hukum berarti sejak semula dianggap tidak pernah ada perjanjian, sementara dapat dibatalkan berarti perjanjian itu sah sampai ada pihak yang memintanya untuk dibatalkan di pengadilan..."
Aruna menjelaskan dengan sangat detail dan lancar. Namun, di tengah penjelasannya, Gea sengaja menyenggol tas Aruna hingga isinya berantakan ke lantai, termasuk beberapa kotak bekal sederhana yang berisi nasi dan lauk seadanya. Bau bumbu masakan Indonesia yang khas langsung menyeruak di ruangan ber AC itu.
"Duh, bau apa ini? Bau bawang?" Paula menutup hidungnya dengan gaya berlebihan.
Baskara melihat kejadian itu. Ia melihat Aruna yang terdiam, melihat nasi yang tumpah di atas lantai kayu yang bersih, dan melihat tawa tertahan dari mahasiswa lainnya.
"Aruna," panggil Baskara, suaranya lebih tajam dari biasanya.
"I..iya, Pak?" Aruna mulai memunguti bekalnya dengan tangan gemetar.
"Kelas saya bukan tempat makan siang, apalagi tempat untuk mencemari udara dengan bau yang menyengat. Selesaikan urusan sampahmu itu, lalu keluar dari kelas saya. Kamu tidak boleh mengikuti materi saya hari ini."
Aruna tertegun. "Tapi Pak, ini bukan sengaja..."
"Saya tidak butuh alasan. Keluar," potong Baskara tanpa perasaan.
Michelle tersenyum penuh kemenangan dari barisan belakang. Aruna menunduk, mengemasi barang-barangnya dengan cepat. Sambil memegang tasnya yang berat, ia menatap Baskara sejenak. Aruna tetap memberikan anggukan hormat sebelum melangkah keluar dengan kepala tegak, meskipun matanya mulai berkaca-kaca.
Di depan pintu yang tertutup, Aruna bergumam pelan pada dirinya sendiri, "Sabar, Aruna. London memang dingin, tapi hatimu jangan sampai ikut membeku."
Sementara di dalam kelas, Baskara kembali mengajar dengan wajah tanpa ekspresi, meskipun sesekali matanya melirik ke arah bangku kosong di barisan paling depan yang biasanya diisi oleh gadis yang dianggap kumal olehnya.