Setelah semua yang mereka lewati, hidup Luna dan Isaac tidak sepenuhnya tenang.
Di balik hangatnya keluarga yang mereka bangun, muncul pertanyaan tentang masa depan—dan hal yang belum mereka miliki.
Perlahan, kecemasan tumbuh dalam diri Luna, membuatnya mulai meragukan hal yang dulu ia yakini.
Sementara Isaac tetap di tempat yang sama—setia dan bertahan, meski hubungannya terus diuji.
Di season kedua ini, mereka akan menghadapi konflik yang lebih dalam—tentang cinta, ketakutan, dan harapan yang tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Akankah mereka tetap bertahan, atau justru kehilangan satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Balik Prestasi dan Disiplin
Pukul 05.00 WIB, alarm di atas meja belajar Rian berbunyi dengan nada yang konsisten dan rendah, tidak mengejutkan namun cukup kuat untuk menariknya dari alam mimpi. Rian segera bangkit, melipat selimutnya dengan presisi yang hanya dimiliki oleh mereka yang terbiasa dengan disiplin ketat. Di sampingnya, Kevin masih mendengkur halus, sementara Daffa sudah mulai mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya lampu kamar yang baru saja dinyalakan Rian.
"Bangun, Daf. Kita ada kuis Fisika di jam pertama," ujar Rian sembari menepuk bahu teman sekamarnya itu.
"Lima menit lagi, Rian... kepalaku masih penuh dengan rumus cerdas cermat kemarin," gumam Daffa dengan suara parau.
Rian terkekeh pelan. "Tidak ada lima menit. Pelayan asrama akan mengantar sarapan sepuluh menit lagi. Lebih baik kau sudah segar saat makanan datang."
Setelah ritual mandi pagi dan berpakaian rapi dengan seragam SMA Nusantara Excellence yang disetrika licin, mereka duduk melingkar di meja kecil kamar asrama. Menu sarapan pagi ini adalah salmon grill dengan salad segar dan jus apel.
"Rian, kau benar-benar tidak lelah?" tanya Bastian sembari menyuap makanannya. "Maksudku, kemarin kau bertarung otak habis-habisan, sekarang kau sudah terlihat siap menelan buku paket lagi."
"Ini rutinitas, Bas. Kalau aku berhenti satu hari, rasanya seperti kehilangan momentum," jawab Rian tenang. Ia teringat foto USG yang dikirim Luna semalam. Motivasi itu seperti baterai cadangan yang tidak pernah habis.
Pukul 07.15 WIB, Rian dan teman-temannya melangkah menyusuri koridor sekolah yang mewah. Lantai granit yang mengkilap memantulkan bayangan para siswa yang sibuk menuju kelas masing-masing. Di kelas 10-A, suasana sudah cukup ramai. Rian duduk di bangkunya, mengeluarkan tablet dan buku catatan digitalnya.
Mata pelajaran pertama adalah Fisika Terapan. Pak Gunawan masuk dengan membawa sebuah alat peraga turbin kecil.
"Selamat pagi semuanya. Karena kemarin perwakilan kelas ini memenangkan cerdas cermat, saya tidak akan memberikan kuis," ujar Pak Gunawan yang disambut sorak sorai seisi kelas. "Tapi, kita akan melakukan simulasi perhitungan efisiensi energi kinetik. Rian, silakan maju dan bantu saya mengatur variabel di layar utama."
Rian berdiri dan melangkah ke depan. Di depan kelas, ia berinteraksi dengan Pak Gunawan layaknya rekan sejawat.
"Pak, jika kita menambahkan variabel gesekan udara di area perbukitan, apakah efisiensinya akan turun lebih dari 15%?" tanya Rian sembari menggeser diagram di layar proyeksi.
"Pertanyaan cerdas. Coba kau hitung di papan tulis digital agar teman-temanmu lihat," jawab Pak Gunawan.
Dua jam berlalu dengan diskusi teknis yang berat. Bagi siswa lain, ini melelahkan, namun bagi Rian, ini adalah makanan sehari-hari.
Pukul 09.15 WIB, bel istirahat pertama berbunyi. Rian tidak langsung ke kantin. Ia tetap di bangkunya, merapikan catatan. Clarissa mendekat, membawa dua kotak susu kotak rasa stroberi.
"Rian, selamat ya atas kemenangan kemarin. Ini... untuk merayakan kesuksesanmu," ujar Clarissa sembari meletakkan salah satu susu di meja Rian.
Rian mendongak, memberikan senyum tipis yang sopan. "Terima kasih, Clarissa. Tapi kau tidak perlu repot-repot."
"Tidak repot kok. Oh ya, aku dengar kau akan mencalonkan diri jadi ketua OSIS tahun depan? Banyak anak kelas sepuluh yang akan mendukungmu," lanjut Clarissa, mencoba memperpanjang obrolan.
"Aku masih mempertimbangkannya. Fokusku masih di akademik untuk saat ini," jawab Rian singkat namun tidak kasar. Clarissa mengangguk paham, meski ada gurat kecewa saat ia kembali ke bangkunya.
Kevin yang melihat itu dari kejauhan langsung menghampiri Rian. "Kau ini benar-benar 'es' ya, Rian. Susu stroberi dari primadona sekolah ditanggapi seperti menerima brosur supermarket."
"Aku hanya tidak ingin memberinya harapan palsu, Kev. Ayo, jam berikutnya adalah Ekonomi Makro," ajak Rian.
Pelajaran kedua dan ketiga berlangsung dengan ritme yang sama cepatnya. Ekonomi Makro membahas tentang inflasi global, disusul dengan Bahasa Inggris Sastra yang membedah karya-karya Shakespeare. Rian tetap menjadi partisipan paling aktif, memberikan opini yang selalu berlandaskan data.
Pukul 12.00 WIB, bel istirahat kedua berkumandang. Ini adalah waktu makan siang. Rian dan geng asramanya menuju kantin pusat. Di sana, mereka duduk di pojok ruangan yang lebih tenang.
"Rian, setelah ini pelajaran terakhir kita Seni Budaya, kan? Kau sudah buat sketsa arsitektur panti yang diminta Bu Endang?" tanya Daffa sembari memotong steak ayamnya.
"Sudah. Aku mengerjakannya semalam setelah membalas pesan dari Bapak," jawab Rian.
"Aku iri padamu. Kau punya motivasi yang kuat. Kalau aku, motivasiku hanya agar uang jajan dari Papa tidak dipotong," keluh Bastian yang disambut tawa oleh mereka semua.
"Setiap orang punya bahan bakarnya masing-masing, Bas," sahut Rian bijak.
Pelajaran terakhir, Seni Budaya, berjalan lebih santai. Rian menunjukkan sketsa digital sebuah bangunan panti modern dengan sentuhan kayu yang hangat—sebuah rancangan masa depan yang ingin ia berikan untuk Isaac dan Luna. Bu Endang memuji detail strukturnya yang dianggap sangat matang untuk ukuran siswa kelas sepuluh.
Pukul 15.00 WIB, bel pulang sekolah berbunyi. Namun, pekerjaan Rian belum selesai. Saat siswa lain bersiap pulang atau pergi ke mal, Rian melangkah menuju ruang OSIS. Sebagai pengurus inti, ia memiliki tanggung jawab untuk mengevaluasi program kerja mingguan.
Di dalam ruangan ber-AC itu, rapat berlangsung selama satu jam. Rian memimpin diskusi tentang penggalangan dana sosial.
"Kita tidak bisa hanya mengandalkan uang saku siswa," ujar Rian dengan tegas. "Kita harus membuat proposal ke perusahaan mitra sekolah. Ini melatih kita untuk profesional sejak dini."
"Tapi Rian, itu akan memakan waktu lama," sanggah salah satu kakak kelas.
"Hasil yang besar membutuhkan proses yang matang, Kak. Aku akan menyusun draf proposalnya malam ini," balas Rian mantap. Ketegasannya membuat rapat selesai tepat waktu dengan keputusan yang jelas.
Pukul 16.15 WIB, Rian bergegas menuju gedung bimbel khusus di area sekolah. Ini adalah bagian paling menguras energi dari harinya. Selama dua jam, ia berhadapan dengan soal-soal olimpiade yang jauh lebih sulit dari pelajaran di kelas.
"Rian, coba selesaikan persamaan diferensial ini dalam waktu lima menit," perintah tentor bimbelnya.
Rian memfokuskan seluruh pikirannya. Keringat dingin sedikit membasahi pelipisnya. Di saat-saat lelah seperti ini, ia membayangkan adik bayinya yang akan lahir. Ia ingin adiknya bangga memiliki kakak sepertinya. Tepat menit keempat, ia meletakkan pena. "Selesai, Pak."
Pukul 18.30 WIB, Rian akhirnya melangkah kembali menuju asrama. Langit kota sudah mulai gelap, digantikan oleh kerlip lampu neon. Tubuhnya terasa pegal, namun hatinya merasa puas.
Tiba di kamar, ia mendapati Kevin sedang asyik bermain game, sementara Daffa sudah tertelungkup di meja belajar karena kelelahan.
"Baru pulang, Iron Man?" sindir Kevin tanpa melepas pandangan dari layar.
"Begitulah," jawab Rian sembari melepas sepatu. Ia merebahkan diri sejenak di kasurnya, menatap langit-langit kamar.
Ponselnya bergetar. Sebuah video singkat dikirim oleh Luna. Di dalam video itu, anak-anak panti sedang berebut ingin memegang perut Luna yang masih rata, sementara Isaac tertawa di latar belakang. Rian tersenyum lebar. Rasa lelahnya dari bangun tidur hingga detik ini seolah terbayar lunas.
Ia bangkit, mengambil handuk, dan bersiap untuk mandi. Setelah ini, ia masih harus mengerjakan proposal OSIS dan meninjau materi untuk esok hari. Keseharian Rian mungkin tampak berat dan membosankan bagi orang lain, namun baginya, setiap detik adalah investasi untuk keluarga tercintanya di perbukitan. Di SMA bergengsi ini, Rian bukan sekadar belajar, ia sedang membentuk masa depan.