(𝙎𝙚𝙢𝙪𝙖 𝙜𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙙𝙞𝙙𝙖𝙡𝙖𝙢 𝙖𝙙𝙖𝙡𝙖𝙝 𝙗𝙪𝙖𝙩𝙖𝙣 𝘼𝙄)
𝙂𝙖𝙢𝙗𝙖𝙧 𝙗𝙚𝙧𝙩𝙚𝙢𝙖 𝙥𝙚𝙧𝙢𝙖𝙞𝙣𝙖𝙣 𝙏𝘾𝙂 𝙪𝙣𝙞𝙠 𝙮𝙖𝙣𝙜 𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧-𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧 𝙗𝙞𝙨𝙖 𝙙𝙞𝙢𝙖𝙞𝙣𝙠𝙖𝙣. 𝙄𝙠𝙪𝙩𝙞 𝙩𝙚𝙧𝙪𝙨 𝙥𝙚𝙩𝙪𝙖𝙡𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙙𝙞 𝙙𝙪𝙣𝙞𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙩𝙝𝙚𝙧𝙞𝙖 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙚𝙣𝙙𝙖𝙥𝙖𝙩𝙠𝙖𝙣 𝙠𝙖𝙧𝙩𝙪-𝙣𝙮𝙖.
⚙⚙⚙
Mengisahkan tentang seorang mekanik muda bernama Arven yang ditakdirkan untuk menjadi Host Titan Gear bernama Astraeus. Kisah masa lalu dan masa kini akan terkompresi menjadi satu dalam mengungkap kehancuran peradaban Astreya. Unsur Action, Misteri, Politik, Perang Kerajaan akan menjadi fokus cerita ini.
Mari bergabung bersama Arven dalam petualangannya di dunia Valtheria.
—T28J
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T28J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BRAKENFORD ARC 25 - RUMAH
...Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman....
...Tapi malam ini... itu jadi tempat yang paling terlambat diselamatkan....
...⚙⚙⚙...
Di sisi lain desa, disaat yang hampir bersamaan...
Arven yang terpisah kini sudah jauh masuk terlalu dalam. Ia tersandung langkahnya sendiri saat akhirnya berhenti di tengah jalur sempit desa. Napasnya berat, dadanya naik turun tidak beraturan.
Di depannya, Brakenford sudah tidak lagi seperti desa. Api menjalar di atap-atap rumah. Kayu-kayu tua terbakar dan runtuh satu per satu. Percikan bara beterbangan tertiup angin malam. Jalan tanah yang biasanya sunyi kini dipenuhi teriakan, darah, dan bayangan yang bergerak terlalu cepat untuk diikuti mata.
Seekor Nightclaw menerobos keluar dari sebuah rumah. Pintu itu hancur, kayu pecah berkeping-keping. Seorang pria terlempar keluar, punggungnya menghantam tanah keras.
“Tol-“ kalimatnya terputus.
SHRAK...
Cakar itu menembus dadanya tanpa ragu. Darah menyembur ke tanah yang sudah basah.
Arven membeku.
Di sisi lain jalan, seorang ibu menarik tangan anaknya sekuat tenaga. “LARI!! JANGAN LIHAT KE BELAKANG!“
Anak itu tersandung batu, terjatuh dan menangis memanggil ibunya. “BU-!“
Satu bayangan hitam langsung turun dari atap.
“AAAAA-!“
Seorang penjaga menerjang dari samping, mencoba menahan dengan linggis ditangannya. “MENJAUH DARI MEREKA!“
CLANG...
Linggisnya menahan cakar itu sepersekian detik. Cukup untuk si ibu menarik anaknya lagi dan berlari menjauh. Namun penjaga itu tidak seberuntung itu. Cakar kedua datang menyambar dari arah bawah. Perutnya robek terbuka. Tubuhnya jatuh perlahan.
“Lari...!“ suaranya serak, nyaris tak terdengar.
Di ujung jalan, dua Stonefang Ravager berjalan masuk. Sebuah rumah di sisi kiri dihantam. Dinding kayu jebol seketika. Atapnya runtuh separuh.
BOOM...
“Tolong! Masih ada orang di dalam!“
Seorang pria tua mencoba mendekat.
“JANGAN! KEMBALI!“ teriak penjaga lain.
Terlambat. Salah satu Stonefang mengayunkan lengannya.
CRASH...
Tubuh pria tua itu lenyap dalam satu hantaman. Tidak ada sisa.
Di atas atap rumah yang terbakar, tiga Nightclaw bergerak cepat. Melompat dari satu titik ke titik lain. Mata mereka menyala merah di antara asap dan api.
Seorang pemuda berteriak sambil mengayunkan kapak seadanya. “DATANG SINI! KALAU BERANI!“
Ia bahkan tidak sempat melihat ancaman yang datang dari samping.
WHOOSH...
Cakar menyapu lehernya. Tubuhnya jatuh tanpa suara.
“DIMANA PENJAGA?! KEMANA MEREKA?!“
“KITA DITINGGAL!“
“JANGAN DORONG! ANAK SAYA-ANAK SAYA!!“
“SEMUA KE TENGAH DESA! CEPAT!“
“TIDAK ADA YANG AMAN!“
Suara-suara itu saling bertabrakan. Tidak ada arah. Tidak ada komando. Hanya kepanikan dan ketakutan.
Arven berdiri di tengah semuanya. Matanya bergerak cepat, mencoba memahami situasi, tapi semuanya terlalu banyak.
Seekor Nightclaw mendarat di depan seorang anak kecil yang terjebak di antara gerobak yang terbalik. Anak itu tidak bergerak. Matanya hanya membesar, penuh air mata. Monster itu merendahkan tubuhnya siap menerkam.
Tubuh Arven bergerak sebelum pikirannya sempat menyusul. Kakinya menghentak tanah.
Nightclaw itu sudah melompat. Mulutnya terbuka lebar. Taring hitam berkilat di antara pantulan api di matanya.
Anak kecil itu menutup mata.
“-!“
CRASH...
Titan Wrench menghantam tubuh monster itu dari samping. Benturan keras memutar tubuh Nightclaw di udara sebelum akhirnya menghantam dinding rumah. Tubuh monster itu tersangkut sesaat lalu jatuh ke tanah dengan suara berat.
Arven sudah berdiri kokoh di antara anak itu dan ancaman. Napasnya masih berat. Tangannya menggenggam erat Titan Wrench.
Dari belakang, satu ekor Nightclaw itu bergerak dengan lincah. Cakarnya mencoba menyapu dari samping.
Arven menahan dengan gagang Titan Wrench. Benturan itu mendorong lengannya turun beberapa inci. Ototnya menegang keras menahan tekanan.
“Grr-!“
Ia mendorong balik sekuat tenaga. Kakinya menggeser tanah. Ia memutar tubuhnya setengah langkah dan membalas. Hantaman dari bawah menghajar rahang monster itu. Kepalanya terangkat paksa ke atas. Arven melangkah masuk satu langkah “Pergi!“ Ia mengayunkan senjatanya lagi.
CRASH...
Kepala Nightclaw dihantam keras ke tanah. Tubuh monster itu kejang beberapa saat, lalu diam total.
Arven tidak langsung bergerak. Matanya masih tertuju pada tubuh itu, memastikan dia tidak bangkit lagi.
Di belakangnya, suara anak kecil itu gemetar terdengar. “...k-kak...“
Arven menoleh cepat. Anak itu masih di sana. Tubuhnya gemetar hebat. Tangannya mencengkeram sisi gerobak dengan kuat.
Arven berlutut cepat. “Bisa berdiri?“
Anak itu mengangguk cepat. Arven meraih tangannya, menariknya bangkit berdiri. “Lari ke tengah desa,“ katanya pendek dan tegas. “Jangan berhenti. Jangan lihat belakang.“
Anak itu menatapnya dan mengangguk lagi. “Terima kasih...!“
Ia berlari menjauh.
Arven berdiri kembali.
Dari ujung jalan utama, gelombang monster baru mulai bermunculan. Insting mekanik Arven yang terlatih langsung memindai lingkungan sekitarnya. Matanya terkunci pada sebuah kereta ore tambang bermuatan penuh yang terparkir di rel miring di samping deretan rumah. Ia melesat ke arah tuas rel.
“Semua menjauh dari rel!“ teriaknya memberi peringatan pada penduduk yang berlarian panik.
Dengan satu hentakan kaki yang kuat, Arven menendang pengait roda dan menarik tuas pengunci. Roda besi itu menjerit saat mulai meluncur di atas rel yang berkarat. Kereta logam seberat puluhan ton itu melesat semakin cepat, menuruni kemiringan jalan layaknya banteng baja yang tak terhentikan.
BOOM...
Benturan itu menghancurkan barisan monster yang sedang berlari. Beberapa makhluk langsung hancur tergilas, sementara yang lain terpental menghantam dinding-dinding rumah hingga retak dan roboh. Batu-batu ore dari dalam kereta berhamburan layaknya hujan proyektil, menciptakan kekacauan di tengah kawanan monster.
Napas Arven terasa panas seperti api di dadanya, namun matanya tetap tajam menatap ke arah ujung desa. Di sana, di dekat tepi hutan, berdiri rumah kecil. Di dalamnya, ibunya, sedang terbaring sakit dan tak berdaya.
Jika monster sudah merambah sejauh ini, hanya masalah waktu sebelum mereka mencapai pintu rumahnya.
“Tidak...“ bisiknya pelan, sementara tangannya menggenggam Titan Wrench lebih kuat, “...aku harus sampai ke sana lebih dulu.“
Tanpa menunggu satu detik pun, Arven memacu kakinya, berlari menembus kobaran api dan bayangan monster demi mencapai rumahnya. Langkahnya menghantam tanah tanpa ragu. Napasnya berat, tapi ritmenya tetap terjaga. Matanya terus bergerak, membaca setiap jalur di depan. Api, reruntuhan, monster, semuanya menyatu menjadi satu pemandangan kacau.
Di sisi kanan, sebuah gerobak tambang terbalik, roda kayunya masih berputar pelan. Di depannya dua Nightclaw sedang mengejar sepasang warga yang terjebak di lorong sempit.
“CEPAT!! CEPAT!!“
“AKU TIDAK BISA-!“
Arven tidak melambat. Tangannya meraih roda gerobak saat ia lewat di sampingnya. Ia menariknya paksa hingga lepas dari porosnya, lalu melempar roda itu keras-keras ke depan. Roda kayu berputar cepat, menghantam kaki Nightclaw pertama.
CRACK...
Kakinya terpelintir aneh. Tubuhnya jatuh kehilangan keseimbangan.
Nightclaw kedua melompat menyerang, tapi Arven sudah masuk ke dalam jarak serangnya duluan.
DUAK...
Titan Wrench menghantam keras dari samping. Tubuh monster itu terpental menabrak dinding rumah.
“Lari!“ teriak Arven tanpa menoleh.
Dua warga itu langsung kabur menjauh.
Arven menarik napas pendek. Tangannya gemetar sesaat. Lalu ia paksa diam.
“Masih jauh...“
Arven lanjut berlari menembus asap. Di tikungan berikutnya, dari atas atap, seekor Nightclaw melompat turun. Arven tidak menghindar. Ia melihat rantai besi tebal tergeletak di tanah, setengah tertanam. Bekas alat angkut barang tambang. Ia menarik rantai itu sekuat tenaga. Rantai berat terangkat dari tanah. Ia memutar tubuhnya cepat. Rantai itu menyapu udara dengan dahsyat.
CLANG...
Tubuh Nightclaw tertangkap tepat di tengah lompatan. Terhantam keras lalu terlempar jauh. Ia menghantam tiang penyangga rumah hingga patah menjadi dua.
Arven melepas rantai itu. Ia terus maju tanpa melihat ke belakang.
Di depannya, teriakan minta tolong terdengar lagi.
“TOLONG!! DIA DI DALAM!!“
Sebuah rumah setengah runtuh. Bagian depannya tertutup balok kayu besar. Dari celah sempit, tangan seorang wanita terlihat terjepit. Di belakangnya, langkah berat mendekat perlahan.
Stonefang Ravager
Arven memindai sekeliling dengan cepat. Di sampingnya tergeletak alat pengungkit besi panjang, setengah tertimbun tanah. Ia langsung meraihnya. Menancapkan ujungnya ke bawah balok kayu penghalang. Kakinya menginjak ujung lainnya sekuat tenaga.
“Keluar!“ teriaknya.
Wanita itu segera menarik tubuhnya keluar saat celah terbuka sedikit dan ia pun berhasil lolos.
“Terima kasih-!“
“Pergi!“ potong Arven singkat. Ia melepas pengungkit itu dan langsung berbalik badan menghadap ancaman.
Stonefang sudah tepat di hadapannya. Tangannya menghantam dari atas ke bawah. Arven berguling cepat ke samping. Tanah di tempat ia berdiri tadi pecah berantakan.
Ia bangkit kembali. Matanya mengunci satu titik lemah. Leher, sendi batu yang rapuh. Ia berlari memutar menghindari tubuh besar itu. Menghindari ayunan kedua yang datang. Ia melompat ke atas tumpukan reruntuhan rendah. Menginjak tumpukan itu lalu melompat lagi lebih tinggi.
Titan Wrench ditarik jauh ke belakang mengumpulkan tenaga. “RAAAH-!“
Hantaman keras mendarat tepat di sisi leher Stonefang. Retakan halus mulai muncul. Tapi belum cukup. Monster itu menggeram marah. Tangannya menyapu luas ke depan.
Arven melompat mundur. Meluncur menjaga keseimbangan. Ia menarik napas panjang. Matanya bergerak lagi mencari celah. Ia melihat sebuah lampu minyak yang masih menyala di samping reruntuhan.
Tanpa berpikir panjang, Arven meraih lampu itu dan melemparkannya keras ke tanah di depan monster. Kaca pecah berantakan. Minyak tumpah membasahi tanah. Api langsung menyambar dengan cepat.
WHOOSH...
Dinding kayu dan tanah kering di jalan kecil itu langsung terbakar hebat, membentuk tembok api yang tinggi. Monster itu mundur sambil mengeluarkan jeritan liar saat api panas menghalangi jalannya dan membakar kulitnya.
Arven mundur satu langkah menjaga jarak. Api memantulkan cahaya merah menyala di wajahnya yang penuh keringat dan debu. Lalu ia berbalik badan dan berlari lagi secepat yang ia bisa. Dadanya naik turun tak beraturan. Napasnya semakin berat dan terbakar. Namun pikirannya sekarang hanya terfokus pada satu hal.
Rumahnya di ujung desa. Tempat ibunya tinggal. Ibunya yang sakit, yang bahkan tidak mungkin bisa berdiri dan lari jika monster datang.
Arven teringat sesuatu dengan jelas...
...---⚙---...
Setiap kali ia ingin berangkat ke tambang untuk bekerja, ibunya selalu duduk di kursi kayu kecil di depan rumah. Ia selalu mengatakan hal yang sama.
“Jangan pulang terlalu malam, Arven.“
...---⚙---...
“Tidak... tidak...“
Arven menggenggam gagang Titan Wrench semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih.
“Aku harus sampai duluan.“ Arven mengertakkan gigi menahan lelah dan panik. “Bertahanlah...“ Ia berbisik pelan di sela-sela napasnya yang memburu. “Ibu... tolong bertahan...“
Ia berbelok di tikungan terakhir.
Suasana langsung berubah drastis. Lebih sepi dan lebih gelap. Rumah-rumah berdiri rapat dan kecil, dengan dinding kayu yang sudah memudar warnanya. Beberapa pintu tertutup rapat. Tidak ada suara apa pun dari dalam. Hanya angin malam yang dingin menyusup lewat celah-celah papan.
Satu lampu minyak masih menyala samar di kejauhan. Berkelip pelan seolah memberi isyarat.
Arven mempercepat langkahnya.
Rumah kecil dengan atap sederhana. Cahaya redup di balik tirai tipis bergerak pelan tertiup angin. Di sampingnya, pintu bengkel terbuka setengah. Engselnya berderit pelan saat ditiup angin.
Di dalam, bayangan alat-alat terlihat samar. Meja kerja penuh potongan logam. Roda gigi berserakan di lantai. Bau besi dan oli masih terasa tajam bahkan dari luar.
Langkah Arven melambat sepersekian detik. Matanya menatap ke arah bengkel itu. Lalu kembali tertuju pada pintu rumah utama.
Tanpa ragu, ia berlari sekuat tenaga.
“Itu...“
Dadanya terasa lega sekaligus tegang. Ia berlari menuju pintu depan.
“IBU!“
...⚙⚙⚙...
A/N : jika kalian suka dengan cerita ini, like, vote, dan support author dengan mengirimi hadiah ya...
—T28J
tapi cerita dan dunianya bagus kok, terus semangat ya
Alice hanya menatap para pekerja itu dari kaca sihir yang mengambang di udara.
"Ah.. beberapa manusia yang bosan hidup ya? biar saja Xena, mereka memang suka cari mati. nanti pingsan sendiri." Alice kembali ke kuilnya meninggalkan Xena yang masih berlari memutar.
"Ini.... dunia ini terlihat lebih kejam dari dunia kita." potong Arthur yang baru saja selesai mandi. ( oh wow pakai baju thur)