Patah hati setelah memergoki kekasih yang begitu ia cintai berselingkuh di belakangnya, membuat Kanaya menyerah pada keadaan. Dengan hati yang masih terluka dan kecewa, ia akhirnya menerima perjodohan yang sejak lama telah direncanakan oleh kedua orang tuanya dengan seorang pria bernama Rafael. Seorang pria tampan namun dingin, tenang, dan sulit di tebak.
Bagi Kanaya, pernikahan itu hanyalah jalan pelarian untuk mengubur rasa sakit hatinya. Namun, siapa sangka dibalik sikap Rafael yang kaku dan tak perduli, tersimpan ketulusan yang perlahan mampu membuat hati Kanaya kembali percaya pada cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noor.H.y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Makan Malam Bersama
Keisya yang semula hanya ingin mengambil segelas air memperlambat langkahnya. Matanya menyapu meja dapur yang dipenuhi aneka bahan makanan, sementara aroma bumbu yang sedang ditumis memenuhi ruangan.
"Bunda lagi masak apa? Banyak banget," tanyanya heran.
Maureen yang tengah mengaduk panci besar menoleh sambil tersenyum. "Nanti malam kita makan bersama, Rafael dan Kanaya juga nanti akan kesini. Jadi semuanya harus dipersiapkan dari sekarang."
"Ya, walaupun Kanaya sudah sering datang kerumah. Tapi kali ini berbeda, statusnya saat ini adalah menantu keluarga Dirgantara."
Para asisten rumah tangga tampak sibuk dengan tugas masing-masing. Ada yang memotong sayuran, menata buah di atas nampan, memanggang kue, hingga menyusun peralatan makan yang akan digunakan.
Keisya mengambil segelas air putih, lalu bersandar di meja dapur sambil memperhatikan kesibukan mereka.
"Tau gitu tadi Keisya ajak Kanaya sekalian aja pulang ke rumah," gumam Keisya.
"Tanpa kamu ajak pun Kanaya juga pasti akan datang nanti."
Keisya mendekat ke arah Maureen setelah menggigit kue bolu di atas piring, "Emangnya Kak Rafael bakal datang Bun ? Biasanya kan dia kalau ada acara keluarga selalu tidak datang." tanyanya.
Maureen menghentikan aktifitasnya, lalu membiarkan seorang asisten rumah tangga mengambil alih pekerjaannya.
"Dia pasti datang. Karena kali ini dia tidak sendiri, ada Kanaya sekarang di sampingnya."
"Sudah, sekarang kita siap-siap. Mungkin mereka sebentar lagi juga sampai." kata Maureen dengan pasti.
* *
Rafael yang sudah siap dengan pakaian kasual memancarkan pesona yang berbeda malam itu. Kemeja hitam berlengan pendek yang dipadukan dengan celana chino krem membuat penampilannya terlihat santai, tetapi tetap berkelas. Jam tangan di pergelangan kirinya semakin menambah kesan elegan.
Ia membuka pintu kamar, lalu melangkah menuruni tangga dengan tenang. Sesampainya di ruang tengah, pandangannya beralih pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Baru saja ia hendak melangkah menuju pintu utama, suara langkah kaki tergesa dari lantai atas membuatnya mengangkat kepala.
Tap... tap... tap...
Kanaya berlari kecil menuruni tangga sambil sebelah tangan memegang tas dan tangan lainnya merapikan rambut yang sedikit berantakan. Napasnya terdengar sedikit memburu.
"Tunggu... tunggu!" serunya.
Rafael mengangkat sebelah alis, tetapi kakinya berhenti.
Kanaya akhirnya tiba di anak tangga terakhir, lalu mengembuskan napas panjang sambil menatap Rafael yang masih berdiri di tempat.
"Aku udah buru-buru banget tadi, takut ditinggal. Ternyata masih disini,"
Rafael melirik jam tangannya sekali lagi sebelum menatap Kanaya dengan datar.
"Kamu terlambat limat menit," katanya pelan. Lalu melangkah menuju pintu keluar.
"Hah ?"
"Kalau masih berdiri disitu, kali ini benar-benar saya tinggal." ujarnya lagi.
Kanaya mengerucutkan bibir.
"Eh... tunggu aku!"
Ia segera menyusul Rafael yang sudah masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.
* *
Pak Santo membukakan pintu mobil bagian belakang dengan sigap. Rafael turun lebih dulu, berdiri tegap sambil merapikan sedikit ujung kemeja hitam yang dikenakannya. Beberapa detik kemudian, Kanaya ikut melangkah turun, menyesuaikan tas yang menggantung di bahunya.
Belum sempat mereka melangkah jauh, pintu rumah terbuka dari dalam.
Keisya yang sejak tadi mengintip dari balik jendela akhirnya berlari kecil ke teras dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
"Kanaya!" serunya riang.
Tanpa ragu, ia langsung memeluk sahabatnya itu erat hingga membuat Kanaya sedikit terhuyung.
"Kamu akhirnya datang juga. Aku kira dia nggak akan ngajak kamu pulang kerumah ini," kata Keisya, menunjuk kearah Rafael dengan dagunya. Sedangkan yang disindir pura-pura tak mengerti.
Rafael justru tak menggubris ucapan Keisya, "Masuk.." lirihnya, ia langsung melangkah ke dalam rumah.
Keisya memutar bola matanya malas, sedangkan Kanaya malah terkekeh melihat itu. "Udah, ayo masuk." ucap Kanaya.
"Ya ampun, yang sabar ya bestie. Tiap hari harus berhadapan dengan manusia es kayak gitu." bisik Keisya sembari berjalan masuk ke dalam rumah.
Kanaya menoleh, "Hush.. Gitu-gitu juga kakak kamu kan."
"Mana iya lagi.. Huh," balasnya. "Kamu temui Opa dulu ya beb, aku ke dapur sebentar temuin Bunda."
Kanaya mengangguk, lalu berjalan mengikuti langkah Rafael yang sudah lebih dulu di depannya.
* *
Rafael melangkah memasuki ruang tengah dengan langkah tenang. Begitu melihat sosok pria sepuh yang duduk di sofa sambil membaca koran, ia langsung menghentikan langkahnya.
"Selamat malam, Opa," sapanya sopan sambil sedikit menundukkan kepala.
Opa Theo mengangkat pandangan dari korannya, lalu tersenyum hangat melihat cucunya datang.
"Rafael, akhirnya datang juga. Sini duduk."
Rafael mengangguk pelan sebelum melirik ke arah Kanaya yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Kanaya segera merapikan posisi bajunya dan berjalan mendekat. Dengan senyum manis, ia ikut memberi salam.
"Selamat malam, Opa."
Wajah Opa Theo langsung berbinar. "Selamat malam, Kanaya. Apa kabar? Semakin cantik saja."
Pipi Kanaya sedikit memerah mendengar pujian itu. "Baik, Opa. Terima kasih."
Opa Theo tertawa pelan, lalu mengisyaratkan keduanya untuk duduk.
"Opa senang akhirnya kalian datang kerumah bersama. Walaupun Kanaya memang sering datang kerumah ini bersama Keisya, tapi.. Kali ini berbeda. Karena sekarang kamu sudah resmi menjadi bagian dari keluarga ini. Opa sangat bahagia." kata Opa Theo, dengan senyum yang terpancar jelas di wajahnya.
Kanaya yang duduk di samping Rafael seketika menundukkan kepala. Ujung bibirnya tersenyum malu, sementara jemarinya saling bertaut di atas pangkuan.
"Opa..." gumamnya pelan.
Opa Theo terkekeh kecil, lalu mengulurkan tangan menepuk punggung tangan Kanaya dengan penuh kasih sayang.
"Dulu setiap datang ke sini, kamu masih jadi sahabat Keisya. Sekarang berbeda, kamu sudah menjadi kakak sepupunya. Rumah ini juga rumahmu. Tidak perlu sungkan, tidak perlu canggung. Anggap saja kamu sedang pulang."
Ucapan itu membuat hati Kanaya menghangat. Ada rasa haru yang perlahan memenuhi dadanya.
Rafael melirik ke arah Kanaya yang tampak tersenyum tulus. Sorot matanya yang lembut dan wajahnya yang tenang membuat suasana hangat di ruang tengah terasa semakin nyaman.
Tanpa sadar, senyum tipis ikut terukir di wajah Rafael. Sangat tipis, sampai tak ada orang yang menyadarinya. Ada perasaan menghangat di dadanya, saat melihat interaksi Kanaya dan kakeknya.
Kanaya yang merasakan tatapan itu perlahan menoleh. Sesaat, pandangan mereka bertemu. Tak ada kata yang terucap, tetapi keheningan singkat itu seolah sudah cukup menyampaikan banyak hal.
Melihat keduanya saling berpandangan, Opa Theo terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala.
"Kalau sudah begini, Opa jadi semakin yakin kalau Kanaya memang jodoh yang tepat buat kamu Rafa,"
Ucapan itu membuat Kanaya sedikit salah tingkah, sedangkan Rafael hanya berdehem pelan tanpa menanggapi ucapan kakeknya.
Dari samping, tampak Maureen melangkah anggun menghampiri mereka dengan senyum hangat menghiasi wajahnya.
"Untunglah kalian sudah datang, Opa dari tadi sedikit gelisah. Takut Rafael tidak jadi mengajak kamu kesini," sapanya lembut.
Rafael menghela napas pelan sebagai balasan, sudah tak heran dengan tingkah keluarganya yang sukanya menyindir dirinya. Sementara Kanaya tersenyum manis.
Tanpa ragu, Maureen merentangkan kedua tangannya lalu memeluk Kanaya sebentar. Pelukan singkat itu terasa penuh keakraban dan membuat Kanaya membalasnya dengan hangat.
"Tante kangen sama kamu, udah lama juga nggak ke rumah ini kan ?" ujar Maureen sambil melepaskan pelukannya.
Kanaya tersenyum kecil. "Kanaya juga kangen sama tante,"
Maureen mengusap pelan lengan Kanaya sebelum mengalihkan pandangannya kepada Rafael dan ayahnya.
"Ayo.. Kita keruang makan sekarang. Makan malam sudah siap."
Maureen kembali menatap Kanaya, "Ayo Nay, Tante masak banyak. Semoga kamu suka ya."
Kanaya mengangguk, "Makasih loh Tante."
* *
Kini mereka semua telah berkumpul di ruang makan yang terasa hangat dan nyaman. Meja makan panjang dari kayu jati itu dipenuhi berbagai hidangan yang baru saja selesai dimasak.
Opa Theo duduk di kursi paling ujung sebagai kepala keluarga. Di sisi kanannya, Arya duduk berdampingan dengan Maureen, sementara Keisya berada di sebelah sang ibu sambil sesekali mengamati semua orang dengan senyum tipis. Di sisi kiri Opa Theo, Rafael duduk tenang dengan sikap tegap, sedangkan Kanaya berada tepat di sampingnya, terlihat santai menikmati momen itu.
Di atas meja telah tersaji aneka menu yang menggugah selera. Semangkuk sup hangat masih mengeluarkan uap, ikan bakar dengan sambal khas keluarga, ayam kecap, tumis sayuran, udang saus mentega, serta lalapan segar tersusun rapi. Di tengah meja juga tersedia sepiring besar nasi hangat, lengkap dengan buah-buahan dan es teh manis yang sudah disiapkan oleh para asisten rumah tangga.
Opa Theo menatap satu per satu anggota keluarganya, lalu tersenyum puas.
"Sudah lama rasanya meja makan ini tidak seramai sekarang," ucapnya pelan namun penuh makna.
Keisya langsung mengangguk antusias. "Benar, Opa. Suasananya jadi lebih hidup."
Maureen ikut tersenyum, sementara Arya hanya mengangguk setuju.
Di sisi lain, Kanaya yang baru pertama kali merasakan makan malam bersama keluarga besar itu tampak sedikit gugup. Dia memang kadang ikut makan bersama keluarga Keisya, namun entah kenapa kali ini ada perasaan berbeda. Mungkin juga karena kini statusnya sudah berubah, yang tadinya hanya sahabat Keisya sekarang sudah menjadi cucu menantu keluarga ini.
Tangannya perlahan meraih gelas minum, namun tanpa sengaja jari-jarinya bersentuhan dengan tangan Rafael yang juga hendak mengambilnya.
Keduanya refleks menoleh bersamaan.
Rafael hanya menggeser gelas itu lebih dekat ke arah Kanaya tanpa berkata apa-apa.
"Minum dulu," ucapnya singkat.
Kanaya mengangguk pelan sambil menahan senyum malu, membuat Keisya yang melihat interaksi kecil itu langsung saling pandang dengan Maureen dan tersenyum jahil, sedangkan Opa Theo hanya terkekeh pelan menikmati kebersamaan yang mulai terasa seperti sebuah keluarga utuh.
Namun, suara bariton seseorang yang terdengar dari arah pintu utama membuat semua orang serempak menoleh.
Langkah kaki yang mantap semakin mendekat, diikuti sosok pria paruh baya berpostur tegap dengan senyum tipis yang menghiasi wajahnya. Kehadirannya seketika menarik perhatian seluruh penghuni ruangan, membuat percakapan yang semula ramai perlahan mereda.
Rafael yang duduk di kursinya mengangkat pandangan, sementara Kanaya ikut menoleh dengan rasa penasaran. Wajah Opa Theo sedikit menegang, seolah sudah mengenali pemilik suara itu bahkan sebelum sosoknya benar-benar terlihat.
"Sepertinya, kedatanganku malam ini cukup tepat waktu." ucap pria itu dengan suara tegas namun penuh penekanan.
* * * *
skrng psah kmar,tar lma2 jg dia dtng sndri.....🤭🤭🤭...
yg ngsih btas spa,yg lmpar bntal spa...
tp gengsi buat ngaku sih.....
Aku udh mmpir....slm knal....
btw,gmna nih mlm prtmanya???
bkln perang atw sling adu punggung???atw yg 1 tdr d rnjang,yg 1 d sofa....🤣🤣🤣