Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.
Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...
bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??
kisah CHICK-LIT ROMANCE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: KEBENARAN DI BALIK TEMBOK DINGIN
Di puncak Menara Dirgantara, di mana awan seolah bisa disentuh dengan tangan, suasana mendadak mencekam melebihi badai yang tengah mengintai Jakarta. Tuan Besar Dirgantara berdiri mematung, menatap panorama kota yang gemerlap dari balik jendela kaca raksasanya. Cahaya kota terpantul di matanya yang setajam elang, namun pikirannya tertuju pada selembar laporan di atas meja mahoni miliknya. Laporan itu menyebutkan bahwa putra mahkota tunggalnya—pewaris tunggal takhta Dirgantara—sedang mendekam di sel tahanan kumuh sebagai tersangka pembegalan.
"Anak itu... selalu saja keras kepala," gumam Tuan Dirga dengan suara berat yang menggetarkan ruangan. Ada nada bangga yang terselip di balik amarahnya. "Dia selalu ingin menyelesaikan segalanya sendiri. Menjadi supir, tinggal di gudang, dan sekarang masuk penjara demi sebuah komitmen yang ia sebut 'ujian hidup'."
Beliau berbalik, menatap asisten pribadinya dengan tatapan yang sanggup meruntuhkan nyali. "Cepat panggil tim pengacara terbaik di negeri ini. Aku ingin putraku keluar dari sana sebelum matahari terbenam besok. Dan ingat... jangan biarkan satu helai rambutnya pun terluka lagi. Jika ada yang menyentuhnya, pastikan orang itu tidak akan pernah melihat matahari lagi."
Sandiwara di Tengah Hiruk-Pikuk
Sementara itu, di sebuah pasar padat penduduk yang pengap, sebuah keributan hebat pecah secara tiba-tiba. Bruno, pria raksasa dengan bekas luka permanen di wajahnya, terlibat perkelahian brutal dengan Acil dan beberapa anak buahnya. Botol-botol kaca pecah berserakan, meja-meja kayu terbalik, dan teriakan warga histeris memenuhi udara. Tak butuh waktu lama bagi aparat untuk meringkus mereka.
Namun, semua itu hanyalah sandiwara yang dirancang dengan presisi militer. Bruno sengaja memancing keributan, dia berkelahi dengan anak buajnya sendiri agar bisa dijebloskan ke penjara yang sama dengan Reyhan. Namun, rencana itu sedikit meleset dari perkiraan; karena kapasitas yang penuh, Bruno dijebloskan ke blok yang berbeda dengan Reyhan. Meski begitu, bagi seorang predator seperti Bruno, berada di dalam gedung yang sama sudah lebih dari cukup untuk mulai menggerakkan bidak-bidak pelindung bagi tuannya.
Di blok lain yang lebih sunyi, Reyhan perlahan siuman di atas lantai semen yang dingin. Tubuhnya terasa remuk redam, setiap tarikan napas mendatangkan rasa nyeri di rusuknya yang memar. Dengan langkah tertatih, menyeret kakinya yang digips sambil berpegangan pada dinding sel yang lembap, ia mencoba berjalan menuju toilet.
Langkah Reyhan terhenti saat ia mendengar suara bisikan rendah dari balik sekat tembok yang berbatasan dengan koridor penjagaan. Itu adalah percakapan antara seorang oknum polisi berpangkat rendah dan salah satu tahanan yang tadi siang mengeroyoknya hingga pingsan.
"Bagaimana? Beres semuanya?" tanya oknum polisi itu sambil melirik ke kanan-kiri, memastikan tidak ada CCTV yang mengarah pada mereka.
"Beres, Pak! Dia tidak berdaya, cuma bisa meringkuk seperti cacing," jawab si tahanan dengan tawa kecil yang menjijikkan.
"Bagus. Ini sisa bayaran buat kalian dari Tuan Derian." Suara gemerisik amplop tebal terdengar jelas di telinga Reyhan. "Nanti kalau lukanya sudah agak mendingan, buat dia melakukan kesalahan lagi. Provokasi terus sampai dia mengamuk, supaya kita punya alasan kuat untuk menambah masa tahanannya atas tuduhan penyerangan petugas atau narapidana lain. Mengerti?"
"Siap, Pak! Beres! Kami bikin dia membusuk di sini!"
Reyhan yang bersandar di balik tembok hanya tersenyum tipis—sebuah senyum yang mengandung ancaman murni dan hawa dingin yang mematikan. "Hmm, rupanya ada tikus-tikus lapar sedang bermain api dengan naga," batinnya dingin. Ia tidak merasa takut; ia justru merasa kasihan pada mereka yang tidak tahu siapa yang tengah mereka usik.
Pertemuan Dua Dunia: CEO vs CEO
Pagi harinya, suasana penjara mendadak tegang saat sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang. Seorang petugas memanggil Reyhan dengan nada yang jauh lebih sopan dari biasanya. Ia dibawa ke sebuah ruang interogasi yang sempit namun sunyi, jauh dari kebisingan blok tahanan.
Di sana, duduk Bramantyo Hutama. Wajah pria tua itu tampak letih, gurat-gurat kecemasan terlukis jelas di dahi dan bawah matanya. Saat pintu terbuka, mata Bramantyo menatap Reyhan dengan penuh selidik, seolah sedang mencari kejujuran di antara memar dan luka di wajah pria itu.
"Ada apa, Tuan? Kenapa Anda ada di tempat kotor seperti ini?" tanya Reyhan sambil duduk perlahan, menahan ringisan saat kakinya yang nyeri dipaksa bergerak. "Apa Anda datang untuk menambah hukuman saya agar putri Anda puas?"
"Tidak, Reyhan. Bukan seperti itu maksud kedatanganku," jawab Bramantyo pelan, suaranya terdengar tulus namun penuh beban.
"Lalu?"
"Aku ingin tahu yang sebenarnya dari mulutmu sendiri. Sekali ini saja, tatap mataku dan katakan... apa kamu benar-benar pelakunya?"
Reyhan terkekeh hambar, suara tawanya terdengar melankolis di ruangan hampa itu. "Percuma, Tuan. Bicara jujur di tempat ini tidak ada artinya bagi orang yang Anda anggap gembel seperti saya. Di dunia ini, keadilan itu barang mewah, dan saya tidak punya uang untuk membelinya dari tangan orang-orang seperti Derian."
"Saya hanya butuh kepastian, Reyhan. Kepastian untuk hati saya sendiri, dan untuk putri saya yang kini hancur."
"Apa Tuan akan percaya pada saya? Sementara putri Tuan sendiri sudah meludahi harga diri saya dan menuduh saya sebagai pendusta paling busuk di dunia?" Reyhan menatap Bramantyo lurus ke mata, sorot matanya begitu dalam dan berwibawa hingga membuat Bramantyo tertegun. "Bukankah bukti polisi dan kesaksian saksi kunci yang sudah disiapkan itu sudah cukup bagi Anda?"
Bramantyo terdiam sejenak. "Kamu butuh keadilan, Reyhan. Aku tidak mau kamu dipenjara gara-gara salah tangkap atau permainan kotor seseorang. Jika kamu memang tidak bersalah, aku sendiri yang akan menyewa pengacara terbaik di negeri ini untuk membawamu pulang."
Reyhan menaikkan sebelah alisnya, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Bukankah orang kepercayaan Anda, calon menantu kesayangan Anda, yang menjebloskan saya ke sini? Derian?"
"Derian... dia sebenarnya hanya ingin melindungi Vanya. Dia sangat mencintai putriku, jadi mungkin tindakannya agak impulsif karena terlalu emosional. Dia tidak mungkin bermaksud sejahat itu padamu," bela Bramantyo, meski nada suaranya terdengar ragu, seolah-olah ia sedang mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Jadi, Tuan ingin melawan 'pahlawan' calon menantu Tuan sendiri demi seorang supir yang tinggal di gudang?" sindir Reyhan telak.
"Bukan seperti itu! Aku hanya ingin berbuat adil sebagai manusia!" tegas Bramantyo. "Katakan padaku, Reyhan... bagaimana jika kamu memang bukan pelakunya?"
"Dan bagaimana jika saya memang pelakunya, Tuan? Bagaimana jika semua tuduhan itu benar?" tantang Reyhan balik.
Bramantyo menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Sebagai seorang CEO yang telah puluhan tahun memimpin perusahaan besar dan menghadapi ribuan karakter manusia, instingnya sangat tajam. Ia menatap ketenangan Reyhan—ketenangan yang begitu elegan, tidak ada kegugupan, tidak ada nada memohon, tidak ada kilat ketakutan yang biasanya dimiliki oleh seorang penjahat yang tertangkap basah.
"Reyhan... duniaku adalah dunia penuh intrik. Aku tahu gaya bicara seorang pengecut, aku tahu caramu bersikap bukan cara seorang kriminal. Sorot matamu... itu bukan sorot mata seorang pembegal," ucap Bramantyo dengan nada serius yang mendalam. "Walau aku tahu kamu menyembunyikan sebuah rahasia besar di balik identitasmu sebagai supir... dan saat ini, aku memilih untuk tidak mau tahu apa itu. Aku hanya ingin kebenaran tentang malam itu agar hatiku tenang."
Reyhan tertegun sejenak. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi bijaksana dan nurani dari ayah Vanya yang selama ini tertutup oleh ego kekayaan. Namun, sebelum ia sempat membuka suara, pintu ruang interogasi terbuka secara kasar. Seorang sipir masuk dengan wajah tegang, nampak seperti baru saja melihat hantu.
"Maaf, Pak Bramantyo. Waktu kunjungan Anda habis. Dan Saudara Reyhan... pengacara Anda sudah datang dan sedang menunggu di depan."
Bramantyo mengernyitkan dahi, bingung. "Pengacara? Saya kan baru berniat memesannya, tapi belum melakukan panggilan telepon."
"Bukan dari Anda, Pak," sahut sipir itu sambil menoleh ke pintu yang terbuka lebar.
Seorang pria muda dengan kemeja putih bersih yang disetrika sempurna, lengkap dengan dasi sutra dan jam tangan yang harganya mungkin setara dengan satu unit mobil mewah, masuk ke dalam ruangan. Wajahnya dingin, kaku, dan profesional. Ia membawa koper kulit mahal yang tampak sangat kontras dengan tembok penjara yang kusam.
"Saya adalah pengacara yang ditunjuk untuk membela Saudara Reyhan," ucap pria itu dengan nada datar yang penuh otoritas.
"Dari firma mana Anda? Saya tidak pernah melihat pengacara semuda dan semewah Anda di pengadilan umum," tanya Bramantyo penuh rasa penasaran.
Pria itu melirik Reyhan sekilas, mengikuti instruksi ketat untuk tetap menjaga kerahasiaan identitas tuannya di depan orang luar. "Saya dikirim oleh pihak yang memiliki kepentingan sangat tinggi atas keadilan Saudara Reyhan. Pak Bramantyo, sebaiknya Anda serahkan urusan hukum ini pada kami. Kami akan membereskan semuanya dalam hitungan jam."
Bramantyo berdiri, menatap Reyhan dengan penuh tanda tanya yang semakin besar di kepalanya. Ia merasa ada sebuah kekuatan raksasa yang sedang bergerak di belakang supirnya ini. Sebuah kekuatan yang mungkin jauh lebih besar, lebih kaya, dan lebih mematikan dari seluruh kekayaan yang dimiliki keluarga Hutama.
"Siapa sebenarnya kamu, Reyhan? Dan siapa orang-orang di belakangmu?" bisik Bramantyo dalam hati saat ia berjalan keluar, meninggalkan ruangan itu dengan perasaan campur aduk.
Sementara itu, di dalam ruangan, Reyhan menatap tajam pengacaranya. "Ingat pesanku, jangan gunakan nama keluarga Dirgantara sedikit pun di sini. Selesaikan ini secara teknis hukum yang bersih. Aku ingin tikus-tikus yang bermain api itu terbakar oleh tangan mereka sendiri, perlahan dan menyakitkan. Aku ingin mereka tahu, bahwa menghina seorang Dirgantara adalah kesalahan terakhir yang pernah mereka buat."
"Siap, Tuan Muda," jawab pengacara itu sambil membungkuk hormat, sebuah pemandangan yang akan membuat siapa pun di rumah Hutama jatuh pingsan jika melihatnya.
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan