NovelToon NovelToon
Hubungan Tanpa Status

Hubungan Tanpa Status

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Bad Boy
Popularitas:559
Nilai: 5
Nama Author: Kartini Quen

Senja Valencia adalah gadis introvert yang terlihat tenang, namun pikirannya tak pernah benar-benar sunyi. Overthinking menjadi bagian dari dirinya—ia banyak merasa, tapi jarang mengungkapkan.
Ia tidak menyukai keramaian dan hanya memiliki satu sahabat sejak kecil, Arelina, gadis ceria dan ekstrovert yang selalu berhasil menarik Senja keluar dari dunianya yang sepi. Bersama Arelina, sisi hangat dalam diri Senja perlahan muncul.
Hingga suatu hari, ia bertemu Keano Pradipta—pria ekstrovert yang hidupnya penuh tawa dan pertemanan. Pertemuan tak terduga itu justru membuat Keano penasaran pada Senja, gadis tenang yang menyimpan dunia luas di balik diamnya.
Dan sejak saat itu, hidup mereka mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kartini Quen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RENCANA NARA

Satu kelas langsung menoleh ke arah Senja.

Senja berdiri kaku.

"..."

Otaknya kosong.

Guru itu menunggu beberapa detik sebelum menghela napas pelan.

"Sudah. Duduk saja. Fokus lain kali."

"Baik, Bu..." jawab Senja cepat sambil duduk kembali.

Begitu guru kembali menjelaskan materi, Arelina langsung menahan tawa sampai bahunya bergetar.

Senja melotot.

"Jangan ketawa."

"Maaf," bisik Arelina. "Tapi muka lo tadi kayak orang mau sidang."

Senja memukul pelan lengan sahabatnya.

Namun sebelum mereka sempat melanjutkan bisik-bisik...

Tok.

Tok.

Suara ketukan pintu membuat seluruh kelas menoleh.

Guru mereka menghentikan penjelasan.

"Silakan masuk."

Pintu terbuka perlahan.

Seorang guru perempuan masuk ke dalam kelas.

Dan tepat di sampingnya...

Seorang gadis berambut hitam panjang dengan senyum lembut berdiri tenang.

Dia Nara.

Mata Senja langsung membesar.

Arelina bahkan refleks duduk tegak.

"Loh..."

Bisik kecil itu lolos begitu saja dari bibir mereka.

Guru yang mengantar tersenyum kepada wali kelas.

"Maaf mengganggu. ini ada murid baru."

Suasana kelas langsung ramai.

"Anjir, cantik banget."

"Itu yang tadi bareng Keano bukan sih?"

"Iya kayaknya."

"Serius?"

Bisikan-bisikan langsung memenuhi ruangan.

Nara tetap berdiri tenang di depan kelas.

Wali kelas tersenyum ramah.

"Silakan perkenalkan diri kamu."

Nara mengangguk pelan.

Lalu melangkah maju.

"Halo semuanya."

Suaranya lembut dan jelas.

"Nama aku Nara Adeline."

Beberapa siswa langsung berbisik kagum.

"Aku baru pindah dari Bandung dan mulai sekolah di sini hari ini."

Nara tersenyum tipis.

"Salam kenal. Semoga kita bisa berteman baik."

Tepuk tangan kecil terdengar di seluruh kelas.

Di bangku mereka, Arelina masih terlihat syok.

"Gilaaa... tuh cewek sekelas sama kita."

Senja masih menatap ke depan.

Jujur saja, ia juga tidak menyangka.

"Aku lebih kaget."

Arelina menoleh.

"Kenapa?"

"Aku kira dia bakal sekelas sama Keano."

Arelina mengangguk pelan.

"Iya sih."

Namun sedetik kemudian...

Arelina seperti menyadari sesuatu.

Matanya langsung membulat.

"Tunggu."

"Hm?"

"Kalau dia sekelas sama kita..."

Senja mulai merasa tidak enak.

Arelina menunjuk pelan ke arah Nara.

"Berarti dia bakal ketemu lo setiap hari."

Deg.

Senja langsung terdiam.

Dan entah kenapa...

Kalimat itu terdengar jauh lebih mengkhawatirkan daripada yang seharusnya.

Di depan kelas, wali kelas mulai melihat ke seluruh ruangan.

"Baik, Nara."

Beliau berpikir sebentar.

"Lihat dulu... bangku kosongnya di mana."

Seketika seluruh siswa menoleh ke berbagai arah.

Dan nasib yang tidak berpihak pada Senja pun mulai bekerja.

Karena satu-satunya bangku kosong yang tersisa...

Berada tepat di belakang bangku Senja dan Arelina.

Wali kelas tersenyum.

"Nara, kamu duduk di sana ya."

Hening.

Arelina perlahan menoleh ke belakang.

Senja ikut menoleh.

Nara juga melihat ke arah bangku itu.

Lalu...

Senyumnya semakin manis.

"Baik, Bu."

Dan saat berjalan menuju tempat duduk barunya, matanya sempat bertemu dengan mata Senja.

Satu detik.

Dua detik.

Nara tersenyum ramah.

"Sepertinya kita memang ditakdirkan sering bertemu ya, Senja."

Arelina langsung menelan ludah.

"..."

Senja hanya bisa membalas senyum tipis.

Sementara di dalam hatinya...

Satu pertanyaan mulai muncul.

Kenapa rasanya kedatangan Nara ke kelas ini bukan sekadar kebetulan?

Senja mengalihkan pandangan lebih dulu.

"Ah... mungkin aja," jawabnya pelan.

Nara hanya tersenyum lalu menarik kursi di bangku kosong belakang mereka.

Krekkk.

Suara kursi bergeser membuat beberapa siswa yang sejak tadi memperhatikan akhirnya kembali sibuk dengan urusan masing-masing.

Namun tidak dengan Arelina.

Gadis itu mencondongkan tubuh ke arah Senja.

"Hm?"

"Kenapa gue merasa dia sengaja duduk di sini?"

Senja langsung menyikut lengan sahabatnya pelan.

"Jangan ngarang."

"Serius."

Arelina melirik sekilas ke belakang.

Nara terlihat sedang mengeluarkan buku dan alat tulis dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.

"Tatapan dia tadi ke lo aneh, kayak saingan yang mengintimidasi"

"Rel..."

"Apaan?"

"Guru lagi jelasin."

Arelina mendecak pelan lalu kembali duduk tegak.

Beberapa menit berlalu.

Kelas kembali normal.

Suara guru memenuhi ruangan, diiringi bunyi pena yang bergerak di atas kertas.

Sampai tiba-tiba...

Sebuah pulpen menggelinding dari arah belakang.

Bruk.

Pulpen itu berhenti tepat di dekat kaki kursi Senja.

Senja menunduk.

Lalu memungutnya.

Saat berbalik, Nara sudah berdiri sedikit dari kursinya.

"Maaf," ucap Nara dengan senyum kecil. "Pulpenku jatuh."

"Oh."

Senja menyerahkannya.

Jari mereka nyaris bersentuhan sesaat.

"Terima kasih."

"Iya."

Nara menerima pulpennya lalu duduk kembali.

Namun sebelum benar-benar kembali fokus ke pelajaran, ia sempat berkata pelan, hanya cukup untuk didengar Senja.

"Ngomong-ngomong..."

Senja menoleh.

Nara tersenyum tipis.

"Aku senang ternyata satu kelas denganmu."

"..."

Kalimat itu membuat Senja terdiam sesaat.

Di sampingnya, Arelina yang mendengar samar-samar langsung membelalak.

Dan entah kenapa...

Perasaan bahwa hari-harinya akan menjadi jauh lebih rumit mulai muncul di benak Senja.

TRRRTTTT—!

Bel istirahat akhirnya berbunyi.

Suasana kelas yang tadinya tenang langsung berubah ramai. Kursi bergeser, siswa mulai berdiri, dan suara obrolan memenuhi ruangan.

Arelina meregangkan badan.

"Akhirnya istirahat juga."

Senja menutup bukunya pelan.

"Iya."

"Hari ini kita ke kantin bareng kan?"

"Iya, kita bareng."

Arelina mengangguk puas.

"Ya kali aja tuh pangeran basket sama asisten asbunnya itu tiba-tiba nongol."

Senja langsung melirik ke arah Nara.

Untungnya gadis itu sedang membereskan bukunya dan tampak tidak memperhatikan.

Arelina yang menyadari tatapan Senja langsung mengerti.

"biarin aja sih."

" Rel, udah."

Ia berdeham pelan lalu menurunkan volume suaranya.

" Iya Maksud gue... siapa tahu anak-anak basket lagi nongkrong di kantin."

Senja menggeleng kecil.

"kamu ini."

Arelina hanya nyengir.

Senja mengangguk.

Namun baru saja ia hendak berdiri, sebuah suara terdengar dari belakang.

"Senja."

Keduanya menoleh.

Nara berdiri di samping bangkunya sambil tersenyum ramah.

"Aku boleh ikut gak?

Arelina langsung melirik Senja.

Senja tampak sedikit terkejut, tetapi tetap menjawab sopan.

"Tentu."

"Wah, makasih."

Nara meraih tas kecilnya lalu berjalan bersama mereka keluar kelas.

Di sepanjang koridor, beberapa siswa sempat melirik ke arah mereka.

Maklum Nara adalah murid baru yang sejak pagi sudah menarik perhatian banyak orang.

"Jadi kalian memang selalu bersama?" tanya Nara santai.

Arelina tertawa kecil.

"Kurang lebih."

"Kelihatan akrab sekali."

Senja hanya tersenyum tipis.

Sementara itu...

Di balik senyum lembut yang terus terpasang di wajah Nara, pikirannya bekerja dengan tenang.

Langkah pertama berhasil.

Ia sudah berada di kelas yang sama.

Sudah mulai masuk ke lingkaran pertemanan Senja.

Dan yang paling penting...

Ia berhasil membuat Senja merasa bahwa semua ini hanyalah kebetulan padahal tidak ada yang kebetulan.

Tatapan Nara diam-diam mengarah ke Senja yang sedang berbicara dengan Arelina.

Pelan-pelan saja.

Kalau ingin menghancurkan sesuatu, jangan langsung didorong sampai jatuh.

Buat retaknya dulu.

Senyum di wajahnya semakin manis.

"Aku senang bisa berteman dengan kalian."

Arelina membalas cuek

"Ya kalau gue sih biasa aja."

Sedangkan Senja hanya tersenyum tanpa tahu...

bahwa gadis yang kini berjalan di sampingnya sedang menyusun sesuatu yang jauh lebih berbahaya daripada sekadar pertemanan.

1
Kartini Quen
yuk ikutin terus kisah keano dan Senja...di jamin bikin baperrrr..🥰🥰
Kartini Quen
yuk baca cerita senja dan keano....di jamin bikin baperrrr🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!