LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Genggaman Yang Tak Terlihat (Latihan & Kenyataan)
Pagi harinya, suasana di garasi bawah tanah vila Bogor terasa padat dan penuh tekanan. Udara dingin pagi bercampur dengan bau tajam oli mesin, logam, dan kopi kental. Cahaya lampu neon berkedip-kedip, menerangi dua motor trail modifikasi dan van hitam besar yang sedang dikerjakan oleh Kenzi.
"Lihat suspensi ini," kata Kenzi bangga, menepuk ban belakang motor trail dengan tangan berlumur oli. Matanya berbinar saat menjelaskan detail tekniknya pada Allbiru. "Gue pake shockbreaker balap custom dari Jepang. Dampingannya bisa diatur. Kalau kita perlu lolos dari kejaran mobil patroli di jalan sempit atau gang-gang kampung, motor ini bisa nyelip di mana aja tanpa kehilangan traksi. Biru, lu pasti suka. Ini beast mode."
Allbiru memeriksa motor itu dengan mata ahli. Dia memutar setir, mengecek respons rem cakram, lalu mengetuk-ngetuk bagian rangka dengan jari telunjuknya, mendengarkan dengungan logam untuk mendeteksi retakan mikroskopis. "Bagus, Zen. Tapi tambahin pelindung rangka baja tipis di bagian mesin dan tangki bensin. Kalau kena tembakan ringan, oli nggak boleh bocor. Kita butuh mobilitas maksimal, tapi juga durabilitas. Jangan sampai mesin mati di tengah pengejaran cuma karena satu peluru sialan."
Kenzi mengacungkan jempol, senyum lebar terlihat di balik kumisnya yang jarang dicukur. "Siap, Bos! Gue las sekarang juga. Van-nya juga udah gue pasang plat nomor palsu dan jammer sinyal GPS dasar. Kalau mereka pakai drone, kita masih punya waktu lima detik buat kabur sebelum lokasi kita terdeteksi ulang."
Sementara itu, di sudut lain garasi yang lebih tenang, Sabiru duduk di kursi khusus yang disiapkan Dinda. Kursi itu dilengkapi sandaran kepala empuk dan alat penyangga leher. Dinda, dengan wajah serius namun lembut, sedang memasang sensor EEG ringan berwarna perak di pelipis kanan dan kiri Sabiru. Kabel-kabel tipis terhubung ke tablet medis di pangkuannya.
"Sakit?" tanya Dinda lembut, matanya fokus pada layar tablet yang menampilkan gelombang otak Sabiru dalam real-time.
"Sedikit geli, seperti ada semut merambat," jawab Sabiru jujur. Tangannya digenggam erat oleh Allbiru yang duduk bersila di lantai, bersandar pada kaki kursi Sabiru. Posisi Allbiru rendah, membuat dia harus mendongak untuk menatap Sabiru, tapi tatapannya tidak pernah lepas. Allbiru tidak melakukan apa-apa selain memegang tangan Sabiru, ibu jarinya mengusap punggung tangan gadis itu secara ritmis. Tapi kehadirannya saja sudah cukup membuat Sabiru rileks. Gelombang stres di monitor Dinda mulai menurun.
"Dinda," tanya Sabiru tiba-tiba, suaranya bergetar sedikit. Pertanyaan yang selama ini ia pendam akhirnya terlontar. "Kalau Neural Link-ku overload lagi... seberapa parah risikonya? Jujur saja."
Dinda menghela napas panjang, meletakkan tabletnya sejenak. Dia menatap Sabiru dengan empati mendalam. "Jujur? Risikonya fatal, Ru. Bisa stroke hemoragik karena pembuluh darah di otak pecah akibat tekanan data digital. Atau koma permanen jika sirkuit saraf putus total. Otakmu bekerja seperti prosesor komputer super canggih, tapi tubuhmu tetap manusia. Kalau dipaksa proses data terlalu banyak tanpa pendinginan—maksudnya istirahat total—sirkuitnya bakal putus. Makanya, Allbiru benar. Kamu butuh istirahat total. Jangan paksa dirimu jadi pahlawan super. Tubuhmu bukan mesin."
Allbiru menatap Dinda tajam, lalu mengalihkan pandangannya pada Sabiru. Ekspresinya keras, tapi matanya menyala dengan kecemasan murni. "Dengar kata Dinda, Ru. Kalau ada bahaya, biarkan aku yang maju. Tugas kamu cuma di belakang, ngatur strategi sama Reza lewat komunikasi. Jangan pakai Link kecuali darurat mati. Aku nggak akan izinkan kamu menyakiti diri sendiri demi misi."
"Tapi kalau aku nggak pakai Link, gimana cara kita masuk ke server enkripsi Level 5 mereka?" protes Sabiru, frustrasi. Dia merasa tidak berguna jika hanya duduk diam. "Aku satu-satunya kunci, Biru."
"Kita cari cara lain!" potong Allbiru tegas. Suaranya meninggi sedikit, membuat Kenzi dan Reza yang sedang bekerja di seberang ruangan menoleh. Allbiru berdiri, membantu Sabiru bangkit dari kursi dengan hati-hati, seolah Sabiru terbuat dari kaca. "Aku nggak rela lihat kamu kesakitan, muntah darah, atau sekarat cuma demi data. Ada harga yang nggak boleh dibayar dengan kesehatanmu. Titik."
Sabiru menatap mata Allbiru. Di sana, dia tidak melihat kemarahan. Dia melihat ketakutan murni. Bukan takut kalah perang, tapi takut kehilangan Sabiru selamanya. Ketakutan seorang pria yang baru saja menemukan cinta sejatinya di tengah reruntuhan masa lalunya.
Lunaklah hati Sabiru. Dia tersenyum sedih, lalu berdiri di tiptoe, mencium pipi Allbiru cepat. Sentuhan itu singkat, tapi bermuatan listrik emosional yang kuat. "Oke, Pak Komandan. Aku janji nggak bakal nekat. Aku akan ikuti strategimu. Tapi kamu juga janji nggak bakal mati duluan ya? Karena kalau kamu pergi, aku nggak tahu harus hidup untuk siapa lagi."
Allbiru tertawa renyah, suara tawa yang jarang terdengar di tengah tekanan hidup-mati ini. Tawa itu melegakan, memecah ketegangan di garasi. Dia memeluk Sabiru sekilas, kuat dan singkat, mencium rambutnya. "Deal. Kita hidup bareng, tua bareng. Nggak ada yang mati duluan. Itu perintah mutlak."
Di pintu garasi, Reza dan Kenzi menyaksikan adegan itu sambil berpura-pura sibuk.
"Wih," bisik Kenzi, menggelengkan kepala dengan senyum geli. "Mereka udah kayak suami istri aja. Padahal belum resmi nikah."
Reza tersenyum tipis, matanya di balik kacamata terlihat bijak. "Mungkin emang gitu adanya, Zen. Setelah semua rahasia terbongkar, setelah dunia mereka hancur... mungkin mereka cuma butuh saling berpegangan supaya nggak tenggelam dalam kegelapan. Cinta mereka bukan sekadar romansa. Itu adalah strategi bertahan hidup."
Allbiru melepaskan pelukan, tapi tangannya tetap bertaut dengan Sabiru. Dia menatap timnya. "Siapkan semuanya. Malam ini, kita bergerak. Sabiru jadi umpan, tapi aku yang jadi perisainya. Jika ada yang mencoba menyentuh Sabiru, anggap mereka sudah mati."
Suasana garasi berubah dari persiapan teknis menjadi ketegangan tempur. Mereka tahu, langkah selanjutnya akan menentukan segalanya. Dan di tengah ancaman kematian, genggaman tangan Sabiru dan Allbiru adalah satu-satunya hal yang nyata.