NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN SANG MAFIA

PERNIKAHAN SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:524.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ani.hendra

Dante Valtieri, pemimpin organisasi mafia terkuat di Eropa, dikenal dengan julukan "Tangan Besi". Ia tidak pernah ragu menghancurkan siapa saja yang menghalangi jalannya, dan namanya saja sudah cukup membuat orang bergidik ngeri. Namun, di balik sifatnya yang kejam, Dante memiliki tujuan tersembunyi, menyatukan seluruh kelompok kekuasaan di bawah satu payung demi membalas dendam atas kematian keluarganya.

Rencana itu terancam ketika ia terpaksa menyetujui pernikahan perjanjian dengan Elara Sterling, putri tunggal pemimpin kelompok lawan yang dihormati namun terjepit kesulitan keuangan. Elara, seorang wanita cerdas, berpendidikan tinggi, dan memiliki prinsip yang teguh, sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini. Ia menganggap Dante hanyalah seorang penjahat yang tidak memiliki hati.

Ketika bahaya mengancam nyawa Elara akibat persaingan kekuasaan, Dante harus memilih antara ambisi balas dendamnya atau melindungi wanita yang mulai ia cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ani.hendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEBENARAN YANG TERKUAK

💌 PERNIKAHAN SANG MAFIA 💌

🍀 HAPPY READING 🍀

.

.

Di salah satu ruangan yang telah disulap menjadi tempat pemeriksaan darurat, beberapa orang yang ditangkap sebagai tersangka maupun tahanan sedang diamankan dan diawasi dengan ketat oleh petugas keamanan. Wajah-wajah mereka menunjukkan ekspresi yang beragam, ada yang tampak pasrah dan putus asa, ada yang berusaha menutupi rasa takut dengan wajah dingin, namun tidak sedikit pula yang terlihat masih menyisakan kebencian di dalam tatapan matanya. Di antara mereka, terdapat satu orang yang tampaknya memiliki jabatan lebih tinggi atau menjadi pemimpin kelompok tersebut, dilihat dari caranya berpakaian dan sikapnya yang terlihat lebih berwibawa meskipun saat ini kondisinya sangat menyedihkan. Orang itulah yang menjadi sasaran utama bagi Dante untuk mendapatkan informasi.

Dante berjalan memasuki ruangan itu dengan langkah yang mantap namun tetap menyisakan kewaspadaan. Diikuti oleh Pak Herman dan beberapa pengawal bersenjata lengkap, dia berhenti tepat di hadapan orang yang ditengarai sebagai pemimpin pasukan musuh tersebut. Dante menatap orang itu dengan pandangan yang tajam dan menyelidik, berusaha membaca apa yang ada di balik wajah dingin dan tertutup itu.

"Kau orang yang bertanggung jawab atas kekacauan dan kerusakan yang terjadi di sini, bukan?" tanya Dante dengan nada suara yang rendah namun terdengar sangat menekan dan berwibawa. "Siapa yang menyuruhmu? Dan apa tujuan sebenarnya dari semua tindakan kejam dan pengecut ini?"

Orang itu mengangkat wajahnya perlahan, menatap balik Dante dengan tatapan yang penuh kebencian namun juga sedikit menyiratkan rasa frustrasi. Dia tertawa kecil dengan nada yang sinis dan getir. "Untuk apa saya menjawab pertanyaan Anda? Anda sudah menang. Anda berhasil menggagalkan rencana kami hari ini. Tapi jangan merasa terlalu menang dulu. Permainan ini belum selesai, dan Anda belum tentu memenangkan pertarungan yang sebenarnya."

Dante mengerutkan keningnya, rasa penasaran dan kemarahan mulai bercampur menjadi satu. Dia tahu bahwa berhadapan dengan orang seperti ini membutuhkan kesabaran dan strategi khusus. Jika dipaksa dengan kasar, mungkin dia malah akan semakin bungkam atau memberikan informasi yang menyesatkan.

"Saya tidak butuh sindiran atau ancaman kosong darimu. Saya hanya ingin tahu siapa dalang di balik semua ini dan apa motifnya. Jika kau mau bicara dan bekerja sama, mungkin masih ada kesempatan bagimu untuk mendapatkan keringanan hukuman atau perlindungan. Tapi jika kau tetap diam dan keras kepala, maka kau harus siap menanggung segala akibatnya," ujar Dante dengan nada yang tegas namun tetap bernegosiasi.

Orang itu terdiam sejenak, seolah sedang berpikir dan mempertimbangkan tawaran yang diberikan oleh Dante. Dia menundukkan kepalanya, napasnya terdengar berat dan tidak teratur. Namun, sebelum dia sempat membuka mulutnya untuk menjawab, tiba-tiba salah satu petugas pengawal yang berjaga di dekat pintu masuk ruangan itu bergegas masuk dengan wajah yang sangat panik dan tergesa-gesa.

"Maaf mengganggu, Tuan! Ada laporan mendesak dari tim penyelamat yang kami kirim ke lokasi gudang tua di pinggiran kota!" seru petugas itu dengan napas terengah-engah, membuat semua orang di ruangan itu menolehkan pandangan kepadanya.

Dante langsung mengalihkan perhatiannya, rasa penasaran sekaligus kekhawatiran kembali muncul di benaknya. "Bagaimana hasilnya? Apakah kalian berhasil menemukan Pak Adam? Bagaimana kondisinya?" tanyanya dengan cepat, mendekati petugas itu.

Wajah petugas itu tampak sedih dan berat untuk menyampaikan kabar tersebut. Dia menundukkan pandangannya sejenak sebelum menjawab, "Kami menemukannya, Tuan. Tapi kondisinya sangat kritis. Beliau mengalami banyak luka fisik dan tampaknya telah mengalami penyiksaan yang cukup berat. Saat ini beliau sudah kami evakuasi dan bawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif. Dokter mengatakan kondisinya masih dalam bahaya dan belum bisa dipastikan keselamatannya."

Mendengar kabar itu, hati Dante seolah dicengkeram oleh rasa sakit yang mendalam. Dia merasa sangat bersalah dan menyesal. Selama ini dia sempat mencurigai Pak Adam sebagai pengkhianat, padahal kenyataannya dia adalah korban yang setia dan berjuang di balik layar demi keselamatan perusahaan. Rasa hormat dan simpati yang besar kini bercampur dengan rasa bersalah yang sulit dihapus.

"Apakah dia sadar?" tanya Dante lagi dengan suara yang sedikit bergetar.

"Beliau belum sadar sepenuhnya, Tuan. Namun, sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, beliau sempat menyebutkan satu nama. Nama itu adalah 'Pak George'," jawab petugas itu.

Nama itu membuat tubuh Dante kaku seketika. Pak George adalah salah satu pendiri perusahaan bersama ayahnya dulu, dan saat ini masih menjabat sebagai salah satu pemegang saham terbesar serta penasihat utama perusahaan. Selama ini dia dikenal sebagai sosok yang bijaksana, tenang, dan sangat dihormati oleh semua orang. Tidak pernah terbayangkan oleh pikiran Dante bahwa nama itu akan muncul dalam kasus yang sangat kotor dan berbahaya ini.

"Pak George..." gumam Dante pelan, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Apakah mungkin orang yang begitu kita hormati ternyata adalah otak di balik semua kekacauan ini?"

Pak Herman yang berdiri di samping Dante juga tampak sangat terkejut dan tidak percaya. "Tapi Tuan, itu tidak mungkin. Pak George sudah seperti keluarga sendiri bagi kita. Beliau juga pendiri perusahaan ini, untuk apa beliau merusak apa yang sudah beliau bangun susah payah bersama mendiang ayah Tuan?"

"Itulah yang menjadi pertanyaan besarnya, Pak. Namun, bukti dan nama yang disebutkan oleh Pak Adam saat dalam kondisi kritis tidak mungkin salah. Kita tidak boleh menutup mata atau mengabaikan petunjuk ini hanya karena rasa hormat atau kepercayaan semata," jawab Dante dengan nada yang mulai kembali tenang. "Mungkin ada alasan atau motif tersembunyi yang selama ini tidak kita ketahui."

Kembali kepada tahanan yang sedang diperiksa itu, Dante menatapnya dengan pandangan yang semakin dalam dan tajam. "Kau mendengar nama yang baru saja disebutkan tadi, bukan? Apakah Pak George adalah atasanmu atau orang yang memimpin operasi ini?"

Mendengar nama itu disebutkan secara gamblang, wajah tahanan itu seketika berubah menjadi pucat pasi. Dia menatap Dante dengan mata yang terbelalak kaget dan takut, seolah rahasia besarnya telah terbongkar begitu saja. Bibirnya bergetar hebat, dan keringat dingin mulai mengalir deras di pelipisnya. Dia tampak sangat ketakutan, bukan karena Dante atau petugas di depannya, melainkan seolah ketakutan akan konsekuensi yang akan dia terima jika pihak atasannya mengetahui bahwa namanya telah disebutkan.

"Saya... saya tidak tahu apa-apa... Saya hanya bekerja sesuai perintah atasan saya... Saya tidak tahu siapa yang memerintah di atasnya..." jawab orang itu terbata-bata, berusaha menyangkal namun nada suaranya terdengar sangat lemah dan tidak meyakinkan.

Dante menyadari bahwa ketakutan orang ini sangat besar. Mungkin dia takut jika dia bicara, maka nyawanya akan terancam oleh pihak di luar sana. Namun, Dante tidak bisa membiarkan kesempatan ini terbuang begitu saja. Dia harus mencari cara agar orang ini mau buka mulut.

"Kau lihat sendiri nasib teman-temanmu sekarang. Kau sudah tertangkap basah dan tidak punya jalan keluar lagi. Jika kau tetap diam dan melindungi mereka yang telah memanfaatkanmu, maka kau hanya akan menjadi korban atau kambing hitam yang harus menanggung semua dosa mereka sendirian. Tapi jika kau mau bekerja sama dengan kami dan memberikan kesaksian yang jujur, kami berjanji akan melindungimu sekuat tenaga. Kami akan memberimu tempat yang aman di mana tangan mereka tidak akan bisa menjangkaumu lagi," bujuk Dante dengan nada yang meyakinkan namun tetap tegas.

Orang itu terdiam lama, terlihat sedang bergumul dengan rasa takut dan pertimbangannya sendiri. Akhirnya, dengan napas berat dan tangan yang gemetar, dia mengangkat wajahnya menatap Dante. Air mata penyesalan dan ketakutan mulai menetes di pipinya.

"Saya... saya mau bicara, Tuan. Saya akan memberitahu apa yang saya tahu. Tapi tolong... tolong pastikan keselamatan saya dan keluarga saya." ujarnya dengan suara yang sangat pelan namun terdengar jelas di ruangan itu.

Dante mengangguk perlahan, rasa lega mulai menggantikan ketegangan di dadanya. "Tenang saja. Selama kau jujur dan bekerja sama, kami akan menjamin keselamatanmu."

Pemeriksaan pun berlanjut. Perlahan namun pasti, orang itu mulai membuka mulutnya dan menceritakan segala hal yang dia ketahui, mulai dari struktur organisasi, cara kerja, hingga peran yang dimainkan oleh Pak George di balik layar. Semakin banyak informasi yang keluar, semakin Dante dan yang lainnya menyadari betapa besar dan rumitnya jaringan ini, serta betapa dalamnya akar kejahatan yang telah menyusup ke dalam tubuh perusahaan mereka.

▪️▪️▪️▪️▪️

Namun, di saat yang bersamaan, di sebuah ruangan mewah yang jauh dari lokasi kejadian, George sedang duduk diam di kursi kebesarannya dengan wajah yang serius namun tidak panik. Di depannya terdapat layar komputer yang menampilkan berita-berita terkini mengenai kegagalan operasi dan penangkapan pasukan musuh. Dia menatap layar itu dengan tatapan yang sulit diartikan, entah itu rasa kecewa, marah, atau justru sedang menyusun strategi baru. Dia tahu bahwa identitasnya mungkin sudah mulai tercium oleh Dante, dan itu berarti pertarungan sesungguhnya antara dirinya dengan anak muda yang dulu dianggapnya seperti keponakan sendiri itu tidak bisa lagi dihindari.

"Permainan ini belum berakhir, Dante. Kau baru saja memenangkan satu babak kecil saja. Tunggu saja sampai kau menghadapi babak selanjutnya," gumamnya pelan dengan nada yang dingin dan penuh ancaman.

Sementara itu, Dante yang kini sudah memiliki gambaran yang lebih jelas tentang siapa musuh sebenarnya dan apa yang sedang terjadi. Dia harus tetap kuat dan fokus untuk mengungkap kebenaran sepenuhnya serta menuntut tanggung jawab semua pihak yang bersalah, tidak peduli seberapa tinggi jabatan atau seberapa dekat hubungan mereka dengannya.

Langkah selanjutnya yang harus diambil kini menjadi semakin jelas namun juga semakin berbahaya. Dante tahu bahwa dia sedang berhadapan dengan musuh yang sangat licik, kuat, dan memiliki banyak pendukung. Namun, dia tidak akan mundur selangkah pun. Demi keadilan, demi masa depan perusahaan, dan demi keselamatan orang-orang yang dia cintai, Dante bersumpah dalam hatinya untuk menyelesaikan masalah ini sampai tuntas, apapun risikonya.

BERSAMBUNG

^_^

Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini novel ke 14 aku 😍

Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.

^_^

1
Bunga Yona
up 👍
Bunga Yona
keren banget 😍
Cheryl Emery
lanjut dong 🤭
Cheryl Emery
penasaran woi 🤣
Briana Annette
👍👍👍 lanjut
Briana Annette
ada lagi Jameson, waduh nama penghianat semua keren keren ya Thor 😄
Angela Catrine 💢
semangat buat author dan dante😄
Angela Catrine 💢
segala tantangan masih di depan mata
Serena Aurora
lanjut dong thorrrrrrrrrrrrr 🤭
Serena Aurora
Selesaikan masalah nya cepat cepat ya Dante, biar bisa pulang 😍
Sofhia Magdalena
lanjut😘
Sofhia Magdalena
👍👍👍👍👍👍👍
Victoria Genevieve
lanjut 👍
Victoria Genevieve
Penyelesaian masalahnya mantap 👍aku suka thor
si paling cute
Semangat untuk menegakkan kebenaran 😍
si paling cute
Dante kamu keren sayang 😍
Gretchen Paula
semangat Thor 😍
Gretchen Paula
Sumpah keren banget sih Thor 😊 jatuh cinta dengan novel ini.
Bunga Yona
lanjut 👍
Bunga Yona
sempurna sekali cara musuh untuk menghancurkan Dante 😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!