NovelToon NovelToon
Sang Pewaris Jatuh Cinta Dengan Dosen Cantik

Sang Pewaris Jatuh Cinta Dengan Dosen Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Dosen
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: pena pedang

Dunia ini kejam, tak ada kebahagiaan yang kekal, ujian selalu datang, maka jangan jadi orang yang lemah.
Di tengah hutan terpencil terdapat tempat pelatihan pembunuh bayaran, suatu organisasi dunia gelap yang dibentuk oleh bos mafia besar asia yaitu Bos Jamal.
disanalah tempat tinggal seorang pemuda bernama Bayu yang telah ditinggalkan orang tuanya sejak masih berumur sepuluh tahun. kini 12 belas tahun telah berlalu namun bayangan tragedi kematian kedua orang tuanya masih terngiang dikepalanya.
Ditempat pelatihan pembunuh bayaran ini lah ia dilatih oleh sang paman menjadi mesin pembunuh yang jenius untuk membalaskan dendam kematian kedua orang tuanya.

kehidupannya mulai berubah saat ia mengenal seorang gadis yang bernama Anita, sosok dosen cantik yang dapat menyentuh hatinya.
ideologinya sedikit demi sedikit mulai berbeda, tentang asmara, balas dendam, maupun apa yang telah diwariskan, semua memiliki batu sandungan yang harus diterjang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pena pedang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu orang seperti apa

Baju menggantung berjejer rapi di dalam tokoh, cahaya lampu memantul di pintu kaca, pelayan berdiri melayani di setiap model yang telah mereka beri tanda harga.

Aroma minyak wangi mengisi ruangan, dingin Ac menyentuh kulit memberi kenyamanan bagi setiap pembeli yang masuk.

Bayu menatap tajam kearah Arman yang masih berdiri santai, sesekali tatapan itu turun tertuju pada tato di jempol.

"Kita udah selesai memilih baju, ayo kita pergi", kata Anita bangkit dari tempat duduknya tangannya menarik tangan Bayu.

Genggaman tangan itu tertangkap oleh mata Arman, hatinya terasa panas, Ritme nafas yang semula teratur, kini berubah tertahan tak beraturan.

"Tunggu dulu," kata Arman menghalangi langkah Anita.

"Aku mau pulang" jawab Anita.

"Kita udah bertemu, bagaimana jika kita mencari tempat minum dulu," lanjut Arman mencoba menahan.

"Kita udah dari tadi keluar rumah, Tante tadi udah menyuruh agar pulang cepat", sahut Vivi memotong percakapan.

"Oh... Gitu, gak masalah... Aku bisa menghubungi Tante, jika kalian bersamaku pasti gak akan ada masalah", jawab Arman memandang Vivi lalu melirik Bayu sinis.

"Udahlah... Kami sudah capek mau pulang", kata Anita.

"Baik... Baik... Aku tahu sekarang kamu lagi mencoba mengembangkan program kecerdasan buatan, aku ingin membahas soal ini, aku bisa membantumu" bujuk Arman.

"Gak butuh" jawab Anita datar, pergi menarik tangan Bayu.

Bayu hanya terdiam mendengarkan dan sedikit demi sedikit memahami apa yang di inginkan kedua wanita disampingnya ini.

Keduanya segera pergi meninggalkan Arman, di ikuti Vivi... Namun saat hendak melewati Arman langkah Vivi berhenti sejenak di samping Arman, "Aku harap kamu sadar diri, Adikku sudah membencimu, gak usah sok baik didepannya, itu sangat menjijikkan", bisiknya pelan dan melanjutkan langkahnya mengikuti Anita dan Bayu.

"Hehe... Menarik, sungguh menarik, lihat saja bagiku kalian hanya seekor kucing kecil yang sangat menarik untuk aku mainkan" gumam Arman menatap kepergian mereka lalu duduk di sofa.

.......

Di tempat parkir mobil.

"Apa kamu pulang bersama kami?" Tanya Vivi

"Enggak... Tadi aku bawa motor," jawab Bayu tersenyum.

"Tumben, kok gak bawa mobil?" Sahut Anita bertanya.

"Tadi takut macet, jadi bawa motor." Jelas Bayu santai sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

"Oh... Gitu", gumam Anita pelan dan mengangguk mengerti.

"Sebenarnya Aku ingin mengundangmu mampir ke rumah, sekalian biar kamu tahu rumah kami", kata Vivi...

"Boleh... Kalau gak ganggu, lagian aku bosan dirumah", jawab Bayu.

Mendengar kata bosan, Anita melirik kearah kakaknya. "Bosan?" Ucapnya dalam hati.

"Baiklah... Gini aja.. kami tunggu di depan, sekarang kamu ambil motor, nanti tinggal ikuti mobil kami aja", kata Vivi tersenyum hangat.

"Baiklah... Aku ambil motor dulu", kata Bayu meninggalkan tempat parkir mobil.

........

Di depan jalan keluar mall.

Mobil Brio berhenti disana.

"Kok lama banget ya?" Tanya Vivi.

"Kakak ini gak sabaran ya... Baru dapet sepuluh menit," jawab Anita.

"Eh... Enggak juga, aku takut aja dia bohong", kata Vivi.

"Dia bukan orang kayak gitu" jawab Anita, "tunggu aja dulu."

Dua puluh menit.

Motor sport hitam berhenti disamping mobil Brio.

Pengendara itu membuka kaca helm teropongnya, "Uda nunggu lama ya?" Sapanya.

Vivi yang berada di kursi pengemudi sedikit terkejut, "lumayan. Ayo berangkat".

Mobil berjalan di ikuti motor sport dibelakang.

Di dalam mobil Vivi sesekali melirik ke sepion mobil, "Bukankah dia masih mahasiswa?" Tanya Vivi.

"Iya... Emangnya kenapa?" Jawab Anita.

"Apa dia putra orang kaya?" Tanya Vivi lagi.

"Aku juga sempat berpikiran gitu, namun disaat aku lihat data pribadinya, Kedua orang tuanya Uda meninggal", jelas Anita.

"Apa mungkin motor pinjaman?, tapi gak mungkin juga?", Gumam Vivi.

"Emangnya kenapa sih kak.. kok tanya gitu" kata Anita curiga.

"Kamu tahu gak, motor yang ia pake itu motor Honda RC213V-S, harganya tiga miliar, pengeluaran produksi dari seluruh dunia hanya mengeluarkan dua ratus limapuluh unit saja" jelas Vivi.

"Soal itu aku gak kaget, soalnya dia juga punya mobil Lamborghini, dan pernah juga mengeluarkan kartu hitam" jawab Anita santai.

"Serius... Gak punya orang tua, tapi bisa sekaya itu?" Teriak Vivi spontan.

"Oh... Iya aku lupa", lanjut Anita teringat, melewatkan sesuatu.

"Apa?" Tanya vivi.

"Dia Hobi bermain saham, dan tebakannya selalu benar, selalu untung banyak"

"Apa...!!!", teriak Vivi lagi, "jika gitu... Pasti bakal menggemparkan dunia bisnis", katanya .

"Mungkin aja... Tapi gak ada berita yang menggemparkan sampai sekarang", ucap Anita ragu.

"Atau jangan-jangan dia mampu membatasi" kata Vivi.

"Jika kayak gitu... Ah... Enggak mungkin keuntungan itu pasti hanya kebetulan, iya pasti kebetulan" jawab Anita.

"Iya juga sih... Main saham pasti ada untung rugi... Jika untung semua pasti beritanya bakal nyebar", jelas Vivi tersenyum menoleh ke Anita.

"Bener", ucap Anita melirik spion, "Bayu... Kamu orang seperti apa?" Katanya dalam hati.

............

Mobil berhenti di halaman rumah, Rumah itu tidak besar juga tidak kecil, namun terlihat bagus dari depan.

Cahaya lampu teras menerangi sekitar yang memang sudah malam, harum wangi bunga mawar dan melati menyengat di sekitar halaman.

Anita dan Vivi keluar dari mobil, Bayu turun dari motor melepas helm dan meletakkan di motor, berjalan mendekati Anita dan Vivi.

"Ini rumah kamu" kata Bayu.

"Anggap aja gitu... Tapi yang paling benar, ini rumah orang tuaku" jawab Anita tersenyum hangat.

Bayu terdiam tatapannya menyapu ke sekitar lalu berhenti tepat di depan pintu. "Orang tua ya.." pikirnya dalam hati.

Entah mengapa langkahnya mulai terasa berat saat ia mulai melangkah satu langkah kedepan lalu berhenti ragu-ragu mengikuti mereka berdua.

"Kenapa?" Tanya Anita berbalik ke belakang.

Bayu Terdiam, matanya menatap kearah pintu, tatapan itu tak ia temukan di lelaki manapun yang pernah Anita lihat.

"Jangan-jangan kamu nervous ya... Mau bertemu calon mertua?" Goda Vivi..

Anita memotong cepat, "apaan sih... Kakak ini", kata Anita sambil mencubit pinggang Vivi.

"Aduh... Sakit tahu", teriak Vivi.

Bayu masih terdiam memasang wajah datar walau tingkah laku kedua wanita didepannya terasa konyol namun pandangannya seolah mampu menembus ruang di depan tak perduli dengan hal yang ada disekitar, tanpa senyum dan tawa.

Vivi pun menarik lengan Bayu... "Santai aja... Jika kamu grogi cukup ikuti dibelakang kami aja." Katanya menyeret paksa.

Pintu di ketuk dan terbuka, seorang wanita paruh baya berdiri disana menyambut kedatangan mereka, "jam segini baru pulang, kamu....?", tanyanya langsung, namun pertanyaan itu berhenti seketika disaat melihat Bayu yang berada di belakang Anak dan keponakannya.

Mereka bertiga tak menjawab, hanya tersenyum... Namun senyum itu cukup membuat suasana yang semula tegang menjadi santai.

"Eh, ada tamu... Silahkan masuk nak" kata ibu paruh baya itu.

Ketiganya pun masuk duduk di kursi ruang tamu.

Tatapan Bayu mengikuti setiap gerakan yang dilakukan ibu paruh baya itu yang di ketahui bernama ibu Dewi yaitu ibu kandung dari Anita.

"Ibu, ini teman Aku Bayu" kata Anita memperkenalkan Bayu pada ibunya.

"Oh, iya dimana Om Tante?" Tanya Vivi.

"Tadi keluar, biasa mungkin pergi kewarung depan" jawab Bu Dewi.

Bayu masih menatap Bu Dewi dalam diam, "apakah seperti ini perhatian seorang ibu?" Pikirnya dalam hati.

"Nak... Udah makan?" Tanya Bu Dewi pada Bayu.

"Udah tadi siang Bu" jawab Bayu sambil mengangguk dan sedikit membungkukkan badan.

Bu Dewi tersenyum melihat kesopanan Bayu, dari setiap teman putrinya yang pernah datang kerumahnya, hanya pemuda di depannya ini yang begitu sopan dan dapat menarik simpatinya, dari cara dia menatap, dari cara dia mengambil gerakan membuat dia merasa sangat dihargai.

"Makan lagi nak, kan udah tadi siang, pasti udah lapar lagi", Sambung Bu Dewi tanpa basa-basi hendak masuk ruang tengah mempersiapkan makanan menuju dapur.

"Makasih, Gak usah repot-repot Bu" jawab Bayu sambil tersenyum.

"Gak papa" jawab Bu Dewi sambil berjalan menuju dapur.

Bayu menoleh pada Anita dan Vivi sambil mengangkat Alis.

"Sepertinya Tante menyukaimu" kata Vivi tersenyum sambil melirik Anita.

Anita terdiam, perasaannya kini bercampur aduk, antara senang, terkejut, dan deg degan.

Sebab baru kali ini sikap ibunya seperti ini pada teman yang pernah mampir kerumahnya. "Aku masuk dulu, bantu ibu", katanya.

Bayu diam sedang Vivi hanya tersenyum.

Anita pun masuk menuju dapur.

"Santai aja, rileks bos" kata Vivi pada Bayu.

"Kamu ini" kata Bayu yang kali ini setiap perkataan yang keluar dari mulutnya atau setiap gerakan yang ia lakukan semuanya seolah terasa salah dan ingin berusaha melakukan hal yang benar, namun ia merasa tak berdaya.

.........

Di ruang makan, Anita membantu menata makanan.

"Bu... Ibu kok jadi Aneh gini?" Tanya Anita.

"Aneh gimana?" Bu Dewi bertanya balik.

"Hari ini ibu seperti perhatian banget dengan temanku," jelas Anita.

"Gak papa... Hanya saja ibu kasihan saja" katanya.

"Kok bisa?" Kata Anita penasaran.

"Ibu melihat dari sorot matanya, menyimpan berbagai hal yang sulit dijelaskan, dan itu membuat ibu merasa kasihan".

Anita terdiam, hanya menyisakan suara piring dan sendok gemerincing yang Bu Dewi letakkan dan rapikan di atas meja.

"Sorotan mata" kata Bu Dewi sejenak terdiam untuk sesaat, "kesepian" lanjutnya.

"Pantes aja" jawab Anita mulai mengerti.

Bu Dewi dengan cepat menoleh pada putrinya, "kenapa?"

"Dia memang gak punya orang tua, dari kecil kedua orang tuanya meninggal dunia" lanjut Anita.

Bu Dewi terdiam lama... Ia kembali teringat cara Bayu memandang dirinya.

........

Bersambung.

1
Fatmawati Qomaria
novel baru ya kk
Muhammad Salim: iya kak
total 1 replies
Muhammad Salim
kalau ada yang kurang pas, komen saja ya... maklum masih baru dan masih belajar.
Muhammad Salim: iya kakak... terimakasih 🙏🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!