IG & Tiktok : Tulisan_Nic
Naufal Adhitama (32), dokter anestesi yang hangat dan mudah bergaul, dikenal sebagai playboy karena sering dekat dengan banyak perempuan.
Meski begitu, ia percaya pernikahan harus berlandaskan cinta—bukan sekadar komitmen tanpa rasa.
Hingga ia bertemu Anin Ratri Maharani (27), perempuan dengan luka masa lalu dan trauma pada pria playboy akibat keluarga yang hancur.
Untuk pertama kalinya, Naufal ingin bertahan.
Namun saat cinta itu mulai tumbuh dan mereka ingin melangkah ke pernikahan, masa lalu dan rasa takut justru menjadi ujian terbesar.
Bisakah cinta mereka bertahan, atau justru hancur sebelum benar-benar dimulai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Di restoran hotel star,
"Loh, ini Naufal. Katanya nggak bisa datang?"
Fredrick langsung berdiri saat melihat Naufal sudah berjalan mendekati mereka.
"Halo Om!"
Naufal menyalami semua, lantas duduk di sebelah Anin yang masih terperangah menatap kedatangannya.
"Om Darmawan sama Tante Amara, kata Zifa baru pulang dari Balik Papan?" Naufal bertanya ketika tubuhnya sudah terhempas sempurna di sofa.
"Iya," Sahut Darmawan "Kamu bertemu Zifa di nikahannya Albie sama Qistina ya?"
Anin menautkan alis, mendengar nama Zifa "Loh, jadi Om Darmawan sama Tante Amara orang tuanya Zifa? Baru tahu aku."
"Ya ampun sayang, kamu nggak tahu dari tadi?" timpal Regina.
Anin menggeleng "Nggak tahu..."
"Astaga, dari tadi ngobrol, ternyata nggak tahu orang tua temen sendiri." seru Anin.
Naufal meraih tangan Anin, ia genggam tangan itu erat-erat. Anin tersenyum senang, setidaknya kalau ada Naufal dia tidak merasa terlalu bosan. Karna obrolan orang tua yang di dominasi nostalgia, membuat Anin kesulitan untuk ikut masuk ke obrolan.
Namun wajah Anin berubah, ketika ponselnya terbuka. Menampilkan notifikasi chat dari adiknya, Kenzo.
Singkat pesan itu, namun foto yang di kirimkan Kenzo membuat Anin lemas. Tubuhnya membeku di tempat, jemarinya perlahan mengendur hingga ponsel itu hampir terlepas dari genggamannya.
Matanya tidak berkaca-kaca, namun kosong. Ia menarik napas dalam, tapi berhenti di tengah, seolah paru-parunya lupa cara bekerja.
Naufal menoleh, padanya. "Sayang, kenapa?"
Anin merasakan dunia berhenti sejenak. Pertanyaan Naufal tank sepenuhnya ia dengar, juga tatapan-tatapan khawatir dari semua orang.
Anin terdiam, menatap kosong, mencoba memahami isi ponselnya barusan. Bibirnya terbuka, tapi tak ada suara yang keluar.
Naufal semakin panik, "Sayang kenapa?!"
Tidak juga menemukan jawaban, Naufal langsung meraih ponsel di tangan Anin segera.
Nanar tatapan Naufal pada layar tersebut, ia menatap Anin lebih dalam.
"Hey, kenapa? Ada apa?" Regina berseru, panik.
Disusul dengan tatapan-tatapan penuh tanya dari semuanya.
Frans mendekat, "Kalian kenapa?!?"
Naufal menelan ludah, sebelum menjawab. " Ayahnya, Anin... Dia... Luka Pa!"
"Luka gimana?!" Frans bertanya, dengan nada serius.
"Nggak tahu, aku... antar Anin dulu." Sahut Naufal, sambil berdiri. Tangannya masih terpaut dengan jemari Anin. " Sayang, ayo ... Aku antar kamu pulang!"
Anin hanya mengangguk, dan ikut berdiri bersama Naufal.
Mereka berjalan cepat, masing-masing dengan mulut terkatup rapat.
***
Di rumah Anin,
Garis polisi melingkar di sekeliling rumahnya. Sirine Ambulan bercampur dengan suara warga berlapis-lapis memberi komentar.
Warga-warga itu membuat kerumunan, membuat Anin dan Naufal kesusahan untuk sampai ke dalam.
Dalam setiap langkah Naufal, ia tetap menggenggam tangan Anin–bahkan sekarang genggaman itu lebih erat. Tak sedikitpun terbersit di hati Naufal, untuk pergi meninggalkan. Ia sudah sangat siap, menghadapi segala kemungkinan-kemungkinan. Sejak ia memutuskan dan menyadari betapa hatinya hanya untuk Anin.
Dua orang petugas memegang tandu, yang berisi jasad tertutup selembar kain putih.
"Tunggu Pak!" Naufal berteriak, menghentikan. Petugas itu menoleh, dan menatapnya heran.
"Maaf, Pak." ujar Naufal datar, "Kami berdua dari pihak keluarga, izinkan kami melihatnya sebentar Pak."
Petugas itu menoleh pada rekannya, lantas mengangguk memberikan izin.
Tangan Anin gemetar, ketika membuka kain putih di bagian wajah. Tampak olehnya wajah pucat Bondan. Bibirnya kebiruan. Ada garis luka mengerikan di lehernya—tertutup seadanya, tapi cukup untuk menghancurkan segalanya.
Anin menatap tanpa berkedip.
Warga terdiam.
Bahkan sirine ambulans terasa meredup di telinga.
Anin menangis tanpa suara berikutnya—hanya tubuhnya yang bergetar hebat, napasnya tersengal, tangannya masih mencengkeram kain putih penutup itu.
Naufal tak tahan melihat Anin yang begitu, Ia maju, menarik tubuh Anin ke dalam pelukannya.
"Udah… udah sayang…" suaranya ikut pecah, "aku di sini… kamu nggak sendiri…"
Naufal menatap kepada kedua polisi tadi, "Silahkan Pak, ke RSUD Forensik?"
Petugas itu hanya mengangguk, lalu melanjutkan langkah menuju Ambulan. Kerumunan membelah otomatis. Setiap sudut mata, menatap fokus pada jasad Bondan di atas tandu.
Anin dan Naufal masih berdiri di sana, kembali Anin tercekat, ketika polisi membawa Bayu dengan tangan terborgol kebelakang.
"Bay ... Bayu ..." lirih Anin membisikkan nama adiknya laki-lakinya itu.
Bayu sempat melirik Anin, namun kemudian ia menunduk lagi.
Naufal mengeratkan rengkuhannya di bahu Ani. Mengelus pelan punggungnya. "Sayang, kita ke dalam ..."
Langkah gontai Anin mengambang. Telapaknya tidak benar-benar menyentuh tanah. Nafasnya tertahan di paru-paru nya.
Dan pecah saat melihat keadaan Widya yang bersimbah darah, rambut acak-acakan, dengan baju robek besar di punggungnya.
"Ibuk..."
Anin menghambur, memeluk Ibunya erat-erat. Namun Widya hanya diam saja. Sorot matanya kosong, seolah ia sudah tidak ada lagi di sana.
Naufal menunduk, duduk dengan lutut bertumpu. Tatapannya jatuh pada pecahan gelas yang masih berserakan. Lantas beralih pada Kenzo yang duduk diam di sudut ruangan.
Naufal menghela nafas, melihat luka di punggung Widya.
Perlahan ia menyentuh bahu Anin. "Sayang, kita bawa Ibu ke Rumah Sakit yuk, Ibuk butuh perawatan di lukanya."
Anin perlahan melepas pelukannya pada Widya, lantas mengangguk pelan.
Anin bangkit, masuk ke dalam kamar. Mengambil sweater untuk menutupi punggung Widya.
Naufal mendekati Kenzo, menepuk pundaknya pelan, "Kenzo, ayo kita bawa Ibu ke rumah sakit." Ujarnya.
Kenzo menoleh, "Bang, keluarga gue hancur Bang. Bokap gue mati, Abang gue di penjara. Gimana Bang..."
Air mata tertahan jatuh di pipinya. Kedua tangannya mengusap bergantian.
Naufal tidak bisa bicara apa-apa, dia hanya menepuk-nepuk pelan pundak Kenzo yang terisak-isak.
"Kita bawa Ibuk dulu, ke rumah sakit ya..." ujarnya lembut. Lalu beralih menatap Anin.
"Sayang, sudah siap? Ayo...!"
Anin mengangguk dan membantu Widya bangkit. Perempuan yang biasanya menyambutnya ketika pulang kerja itu, sekarang hanya diam dengan wajah pucat pasi. Tidak ada pertanyaan-pertanyaan seperti kemarin-kemarin. Yang ada hanya diam membisu, menatap kosong, dan membeku.
Mereka sudah ingin melangkah, namun di tahan oleh seorang petugas "Tunggu Pak," ujarnya pada Naufal.
Naufal secepat kilat menunjukkan Lanyard Cardnya pada petugas itu. Tertulis di sana,–
dr. Naufal Adhitama, Sp.An
Anesthesiologist
"Ibu ini membutuhkan perawatan, dan harus di bawa ke rumah sakit. Terkait dengan prosedur kasus ini, silahkan nanti hubungi kami lagi di Rumah Sakit Pusat." Lanjut Naufal, tegas.
Petugas itu nampak bicara pada rekannya yang lain. Baru kemudian memberikan izin.
Naufal membantu Anin memapah Widya menuju mobil, membelah kerumunan orang-orang yang sibuk merekam. Entah apa yang di rekam orang-orang itu, apa mungkin semua yang berdiri di sana adalah wartawan?
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis🤍