Aluna Maharani adalah gadis sederhana dengan hati yang terlalu tulus untuk dunia yang kejam. Hidupnya berubah dalam satu keputusan yang bahkan bukan miliknya—saat ayahnya memintanya menikah dengan Zayn demi sebuah alasan yang tidak pernah benar-benar ia pahami.
Ia menurut.
Bukan karena cinta, tetapi karena kepercayaan.
Namun di balik pernikahan itu, Aluna tidak pernah tahu bahwa semuanya hanyalah kesepakatan—sebuah ikatan tanpa perasaan yang memiliki batas waktu.
Lebih menyakitkan lagi, ia juga tidak tahu bahwa pria yang kini menjadi suaminya… telah lebih dulu memiliki seseorang.
Di rumah keluarga Devandra, Aluna bukanlah istri.
Ia hanya tamu yang tidak diinginkan.
Dingin, tekanan, dan tatapan merendahkan menjadi bagian dari hari-harinya. Namun di balik semua itu, Aluna tetap bertahan—dengan luka yang ia sembunyikan, dan rasa penasaran yang perlahan membawanya pada rahasia besar yang seharusnya tidak pernah ia ketahui
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ultimatum Tuan Devandra
POV Zayn
Zayn tidak pernah menyukai suasana seperti ini.
Tegang. Penuh emosi. Dan terlalu banyak suara yang saling bertabrakan tanpa ada yang benar-benar mau mendengar.
Ia berdiri di tengah ruang keluarga, tubuhnya tegak namun rahangnya mengeras. Di hadapannya, Selena menatapnya dengan mata yang menyala—bukan sekadar marah, tapi murka.
“Jadi ini keputusan Ayahmu?” suara Selena bergetar, tapi bukan karena lemah. Itu getaran seseorang yang menahan ledakan. “Kamu akan datang ke gala dinner itu… bersama Aluna?”
Zayn tidak langsung menjawab. Ia tahu, apa pun yang ia katakan tidak akan meredakan keadaan.
“Zayn!” Selena membentak, langkahnya maju satu langkah. “Aku bertanya padamu!”
“Ini permintaan Ayah,” jawab Zayn akhirnya, suaranya rendah dan terkontrol. “Aku tidak bisa menolaknya.”
“Tidak bisa… atau tidak mau?” potong Selena cepat.
Zayn menatapnya tajam. Pertanyaan itu bukan sekadar menuntut jawaban—itu tuduhan.
Sebelum ia sempat membalas, suara lain menyela.
“Ini benar-benar konyol,dan sudah melenceng dari jalur yang seharusnya”
Alice, yang sejak tadi duduk dengan anggun di sofa, akhirnya berdiri. Tatapannya dingin, penuh penilaian. Ia melangkah mendekat, memandang Zayn seolah pria itu baru saja membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya.
“Apa yang sebenarnya direncanakan suamiku?” lanjut Alice, nada suaranya dipenuhi ketidakpercayaan. “Mengundang masalah ke acara sebesar itu?”
Zayn mengalihkan pandangannya sesaat. Bahkan ia sendiri tidak punya jawaban.
“Devandra akan dipermalukan,” kata Alice lagi, kali ini lebih tajam. “Bayangkan saja… gadis kampung itu hadir di tengah para petinggi perusahaan, apalagi,,,” ia berhenti sejenak, bibirnya melengkung tipis, “,,,mendampingi putra kesayanganku, kontrak nya dia hanya akan mengandung untuk pewaris Devandra dalam diam, bukan untuk pusat perhatian semua orang.”
Selena tersenyum miring, tapi itu bukan senyum bahagia. Itu sinis. Penuh penghinaan.
“Hanya aku yang pantas berada di sampingmu,” ucapnya tegas, menatap langsung ke mata Zayn. “Bukan dia.”
Zayn menarik napas dalam.
Ia sudah menduga ini akan terjadi.
Tapi tetap saja… menghadapi semuanya secara langsung terasa jauh lebih melelahkan.
“Ini bukan tentang pantas atau tidak,” kata Zayn akhirnya. “Ini perintah.”
“Perintah?” Selena tertawa kecil, tapi nadanya tajam seperti pecahan kaca. “Sejak kapan kamu jadi laki-laki yang hanya bisa mengikuti perintah tanpa berpikir?”
Zayn terdiam.
Dan itu cukup untuk memancing api yang lebih besar.
Selena menggeleng pelan, matanya mulai memerah—bukan karena sedih, tapi karena amarah yang terlalu penuh.
“Ini tidak adil,” bisiknya, namun cukup keras untuk terdengar. “Aku yang selama ini ada di sampingmu. Aku yang,,,,,”
Ia berhenti, menggertakkan gigi.
“Dan sekarang kamu akan datang ke acara penting itu… dengan dia?”
Zayn membuka mulut, tapi belum sempat mengatakan apa pun—
Selena berbalik tajam.
Langkahnya cepat. Terlalu cepat.
Zayn langsung menyadarinya.
“Selena,” panggilnya, suaranya berubah tegas. “Berhenti.”
Tapi Selena tidak berhenti.
Seolah semua kendali yang selama ini ia miliki runtuh dalam sekejap.
Zayn mengumpat pelan dan segera menyusul. Nalurinya mengatakan—ini tidak akan berakhir baik.
Lorong menuju kamar terasa lebih panjang dari biasanya. Suara langkah kaki Selena menggema, penuh amarah yang tak lagi disembunyikan.
Dan ketika pintu kamar itu terbuka—
Semuanya terjadi begitu cepat.
Aluna, yang berdiri di dekat ranjang, tampak terkejut. Matanya melebar saat melihat Selena masuk tanpa permisi.
“Apa,,,,”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tubuhnya terdorong keras.
Bruk.
Aluna jatuh setengah terduduk di sisi ranjang, napasnya tercekat. Rasa sakit menjalar di lengannya, tapi belum sempat ia bereaksi—
Selena sudah menarik rambutnya tanpa ampun.
“Akhirnya aku tahu juga,” desis Selena, suaranya penuh kebencian. “Kamu memang tidak tahu diri, ya?”
Aluna meringis, tangannya refleks mencoba melepaskan cengkeraman itu.
“Lepaskan,,,”
“Diam!” bentak Selena. “Pengacau sepertimu tidak pantas bicara!”
Zayn membeku di ambang pintu.
Untuk sesaat… ia benar-benar tidak bergerak.
Pemandangan di depannya seperti potongan adegan yang terlalu kacau untuk langsung dipahami. Selena—yang selama ini selalu menjaga citra—kini terlihat seperti orang yang sama sekali berbeda.
Dan Aluna…
Perempuan itu tidak melawan dengan keras. Ia hanya berusaha bertahan, menahan sakit, dengan tatapan yang tidak sepenuhnya takut—lebih seperti… kecewa.
Itu yang membuat dada Zayn terasa aneh.
“Selena, cukup!”
Akhirnya, ia bergerak.
Zayn melangkah cepat, menarik tangan Selena dengan tegas hingga cengkeramannya terlepas dari rambut Aluna.
“Lepaskan aku!” Selena meronta, matanya berkilat liar. “Dia pantas mendapatkannya!”
“Tidak seperti ini!” Zayn membalas, suaranya lebih keras dari biasanya.
Ruangan itu mendadak sunyi.
Napas Selena memburu. Dadanya naik turun, emosinya masih meluap-luap.
Sementara Aluna tetap diam di tempatnya, merapikan rambutnya yang berantakan dengan tangan gemetar. Namun ia tidak menangis.
Tidak ada air mata.
Dan entah kenapa… itu justru membuat Zayn merasa lebih tidak nyaman.
“Lihat dia!” Selena menunjuk Aluna dengan tajam. “Dia sumber semua masalah ini! Sejak dia datang, semuanya jadi kacau!”
Zayn menoleh ke arah Aluna.
Tatapan mereka bertemu sesaat.
Dan di sana—tidak ada pembelaan. Tidak ada permintaan maaf. Hanya diam… yang terasa lebih berat dari kata-kata apa pun.
Zayn mengalihkan pandangannya.
“Ini bukan cara menyelesaikan masalah,” ucapnya dingin.
Selena tertawa lagi, tapi kali ini terdengar rapuh.
“Masalah?” ulangnya. “Kamu bahkan tidak sadar masalahnya ada di mana, Zayn,ada di depan matamu.”
Ia menarik tangannya dari genggaman Zayn, mundur satu langkah.
“Kalau kamu tetap memilih datang dengan dia…” suaranya menurun, tapi justru lebih tajam, “jangan salahkan aku kalau semuanya hancur.”
Ancaman itu menggantung di udara.
Dan Zayn tahu… Selena tidak sedang main-main.
Langkah kaki berat terdengar mendekat.
Zayn belum sempat mengatakan apa pun setelah keheningan menggantung di kamar itu, ketika suara pintu dibuka dengan keras kembali memecah suasana.
“APA LAGI INI?!”
Suara Tuan Misra menggema, dalam dan penuh tekanan. Aura yang ia bawa seketika mengubah udara menjadi lebih dingin, lebih mencekam.
Zayn menoleh.
Ayahnya berdiri di ambang pintu, tatapan tajamnya langsung menyapu ruangan—dari Selena yang masih berdiri dengan napas memburu, ke Aluna yang rambutnya berantakan, hingga dirinya sendiri.juga Alice istrinya yang sejak tadi hanya terdiam,menonton menyaksikan menantu kesayangannya meradang
Tidak butuh waktu lama bagi Misra untuk memahami apa yang terjadi.
Dan itu justru membuat ekspresinya semakin gelap.
“Selalu saja ada keributan” ucapnya dingin. “apa lagi ini???.”
Selena mengangkat dagunya, meski napasnya belum sepenuhnya stabil.
“Kalau Ayah tidak membuat keputusan yang tidak masuk akal, semua ini tidak akan terjadi,” balasnya tanpa ragu, menatap langsung ke arah Misra mertuanya
Zayn mengernyit.
Berani.
Terlalu berani.
Namun Misra tidak langsung marah. Ia justru melangkah masuk perlahan, setiap langkahnya terasa berat, penuh kendali.
“Kamu menyebut ini tidak masuk akal?” tanyanya pelan, tapi nadanya justru lebih berbahaya.
“Ya,” jawab Selena tegas. “Saya istrinya, Istri sah Zayn. Wajar kalau saya tidak terima suami saya datang ke acara penting bersama perempuan lain.”
Ruangan itu seolah menahan napas.
Zayn menatap Selena sekilas. Ia tahu, di balik kemarahan itu… ada sesuatu yang lain. Kepemilikan. Ketakutan kehilangan. Tapi cara yang ia pilih… salah.
Sangat salah.
Tuan Misra berhenti tepat di tengah ruangan. Tatapannya kini beralih ke Selena sepenuhnya.
“Istri sah?” ulangnya pelan.
Selena tidak mundur. “Ya.”
Dan saat itulah—
“Aluna juga istri sahnya.”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Datar. Tegas. Tanpa ruang untuk ditawar.
Zayn merasakan sesuatu mengencang di dadanya.
Ia menoleh refleks ke arah Aluna.
Perempuan itu masih berdiri di tempat yang sama, diam, seolah tidak ingin terlibat. Tapi kalimat tadi… jelas ditujukan juga padanya.
Selena terkesiap, lalu tertawa kecil, tidak percaya.
“Istri sah?” ulangnya dengan nada meremehkan. “Dia itu hanya istri kontrak,yang ayah bawa untuk melahirkan saja.”
Seketika—
Tatapan Tuan Misra berubah.
Jika sebelumnya dingin, kini menjadi tajam. Sangat tajam sampai terasa menekan.
“Kamu yakin ingin membahas status di depanku?” tanyanya perlahan.
Selena terdiam sesaat. Namun egonya terlalu tinggi untuk mundur.
“Itu kenyataannya,” jawabnya lagi, meski kini sedikit lebih hati-hati.
Zayn bisa merasakan arah pembicaraan ini semakin berbahaya.
Dan benar saja—
Misra melangkah lebih dekat. Tidak ada lagi jarak yang aman.
“Dengarkan baik-baik selena” ucapnya, suaranya rendah namun penuh tekanan yang tak terbantahkan. “Saya tidak akan membawa Aluna jika kamu bisa melahirkan pewaris Devandra,ingatlah hanya karena Zayn dan ibu mertua kesayanganmu itu kamu masih berada dirumah ini"ucapnya tajam yang membuat Selena terdiam
"Selama Aluna berada di bawah atap ini, selama dia diakui oleh saya dan keluarga Devandra, siapa pun tidak akan bisa mengubahnya”
Ia berhenti sejenak, menatap Selena lurus.
“,,dia adalah istri sah Zayn, mengerti.”
Sunyi.
Tidak ada yang berani menyela.
Bahkan udara terasa berat untuk dihirup.
Selena mengepalkan tangannya. Wajahnya memucat, tapi matanya masih menyala.
“Kalau begitu… posisi saya apa?” tanyanya, kali ini dengan nada yang mulai retak.
Pertanyaan itu menggantung.
Zayn menahan napas.
Untuk pertama kalinya… ia merasa situasi ini benar-benar di luar kendalinya.
Namun jawaban Tuan Misra datang tanpa ragu.
“Itu tergantung bagaimana kamu bersikap.”
Selena menatapnya, tidak mengerti.
Dan kemudian—
Kalimat itu keluar.
“Kalau kamu tidak terima dengan keputusan saya,,,” suara Misra berubah lebih keras, lebih tegas, “…KELUAR dari rumah Devandra.”
Seolah waktu berhenti.
Selena membeku di tempatnya.
Tidak ada bantahan.
Tidak ada teriakan.
Hanya diam… yang terasa menghantam lebih keras dari kata-kata apa pun.
Zayn menatap ayahnya, rahangnya mengeras. Bahkan ia tidak menyangka Ayahnya akan sejauh ini.
Itu bukan ancaman kosong.
Itu perintah.
Dan semua orang di ruangan itu tahu… Misra tidak pernah mengatakan sesuatu tanpa maksud yang jelas.
Selena menelan ludah. Untuk pertama kalinya sejak tadi, kepercayaan dirinya goyah.
“Ayah” suaranya melemah, nyaris tak terdengar.
Namun tidak ada belas kasihan di wajah Misra.
Di sudut ruangan, Alice yang sejak tadi menjadi pendukung utama Selena pun terdiam. Bibirnya terbuka seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada suara yang keluar.
Ia tahu.
Tidak ada yang bisa ia lakukan saat Suaminya sudah mengambil sikap.
Zayn menghembuskan napas perlahan.
Pandangannya beralih dari Selena… ke Aluna… lalu kembali ke Ayahnya
Satu ruangan.
Tiga arah yang saling bertabrakan.
Dan ia berdiri di tengahnya.
Tanpa benar-benar berada di pihak mana pun.
Selena akhirnya menunduk sedikit. Bukan karena mengalah sepenuhnya… tapi karena ia tahu, untuk saat ini—ia tidak punya pilihan.
Namun Zayn mengenalnya.
Ini belum selesai.
Tidak akan pernah selesai semudah itu.
Tuan Misra berbalik tanpa mengatakan apa-apa lagi, seolah keputusan sudah final dan tidak perlu penjelasan tambahan.
Pintu kembali tertutup.
Dan keheningan yang tersisa… terasa lebih menyesakkan dari sebelumnya.
Zayn memejamkan mata sejenak.
Gala dinner itu bahkan belum dimulai.
Namun perang… sudah lebih dulu pecah.