Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pucuk 33
Sore hari, langit Yogyakarta kembali menggantung kelabu.
Sudah dua hari terakhir cuaca tak menentu. Matahari bersinar terik sejak siang, lalu tepat menjelang pukul empat, langit berubah muram dan hujan turun deras seperti menumpahkan seluruh isi awan. Titik-titik air mulai mengetuk kaca besar ruang kerja Dipta, menghadirkan suara gemerisik yang mengisi sunyi.
Di balik meja kerjanya, Dipta masih sibuk menandatangani beberapa dokumen. Dasi yang sejak siang melingkar rapi di lehernya kini sedikit longgar. Lengan kemejanya tergulung sampai siku, memperlihatkan urat-urat tegas di lengannya. Wajahnya tampak lelah, tapi tetap fokus.
Sampai pintu ruangannya terbuka, tanpa ketukan, bahkan tanpa izin darinya.
Laras masuk dengan langkah percaya diri, membawa nampan berisi secangkir teh hangat yang masih mengepul tipis uapnya.
Kemeja krem yang membalut tubuhnya itu membuat Laras terlihat sedikit seksi, di tambah lagi dengan dua kancing atasnya di biarkan terbuka, memperlihatkan belahan yang seharusnya terekspos. Rambut hitamnya jatuh bergelombang, sementara senyum tipis terlukis di bibirnya yang ranum.
Dipta mengangkat kepalanya, sedikit terkejut dengan kedatangan wanita itu.
"Laras?" alisnya berkerut, "kamu ngapain masuk tanpa bilang-bilang?"
Laras terkekeh pelan, melangkah mendekat lalu meletakkan secangkir teh hangat itu di atas meja.
"Cuma mau anterin ini, kayanya kerjaan kamu hari ini banyak banget." Ucapnya dengan nada manis.
Dipta menghela napas pendek, lalu menyandarkan tubuh ke kursi. Kedua netranya tak sengaja menatap sekilas belahan itu, membuat ia langsung memalingkan wajahnya ke tumpukan dokumen.
"Ada perlu apa?"
Alih-alih menjawab, Laras malah meraih cangkir teh itu dan dengan sengaja memercikan air teh hangat itu ke pahanya Dipta sehingga Dipta terkejut dan secara refleks bangkit dari duduknya membuat Laras hampir terjungkal.
Dengan gesit, Dipta menolong Laras sehingga Laras ada pada pelukan pria itu. Laras tersenyum dan buru-buru melepaskan dirinya dari Dipta.
"Ma-maaf, aku cuma...aku cuma mau ngasih teh ini aja. Aku...aku gak sengaja numpahin air teh nya." Ujar Laras pura-pura panik dan merasa bersalah.
Laras langsung meraih tissue, Dipta sudah duduk kembali sembari mengibaskan celananya yang lumayan basah. Wanita itu kembali mendekat.
"Sini, biar aku bantu." Ucapnya.
Perlahan wanita itu memegang lembut pangkal paha Dipta, membuat pria itu menegang sesaat, terlebih kedua netranya kembali melihat belahan itu. Laras dengan lembut mengelap celana Dipta yang basah karena air teh, namun sentuhan itu benar-benar membuat Dipta semakin tidak nyaman.
Lalu perlahan, namun tegas, Dipta menyingkirkan jemari dari pahanya.
"Jangan begini," ucapnya dengan nada suara rendah.
Laras gegas bangkit dari jongkoknya, lalu menatap Dipta dan menangkap air mukanya yang berubah tegang.
Dengan berani, wanita itu malah mendekat lalu dengan gerakan halus itu mulai menyentuh ke arah bahu Dipta, bergerak pelan.
"Ada benang," ucapnya lembut.
Dipta menutup dokumennya lalu berdiri dari duduknya.
"Laras, kalau kamu gak ada perlu apa-apa lagi, atau kamu mau ngobrol sama aku...kamu ketuk dulu pintu ruangan ku. Jangan sampai sekretarisku atau orang-orang salah paham dengan kedekatan kita. Kita gak kaya dulu, ada batasan yang harus kita jaga." Ucap Dipta menatap Laras.
Laras menunduk, "apa kamu bahagia dengan Rana?"
Pertanyaan itu membuat Dipta diam seketika. Rana memang istrinya, tapi ia menikahi wanita itu karena suatu hal, namun itu dulu.
"Maaf, aku harus segera pulang. Rana dan anak-anak menungguku di rumah." Ucap Dipta.
Dipta meraih jasnya. Namun Laras menghentikannya dan malah memeluk tubuh Dipta erat. Wanita itu tiba-tiba menangis.
"Dipta, kamu tahu kenapa dulu aku memutuskan menikah?" ucap Laras dengan parau.
Dipta hanya diam.
"Kedua orang tuamu, menyuruhku pergi dari sisimu. Padahal waktu itu aku sedang mengandung anakmu...orang tuamu yang menyuruhku menggugurkan kandungan dan memberiku uang dengan nilai yang cukup banyak. Karena aku putus asa, makanya aku pergi tanpa kabar, dan menikah dengan orang lain...sampai saat ini aku masih mencintaimu." Ucapnya lirih.
Dipta melepaskan dirinya dari Laras, memandangi wajah sendu itu dengan seksama.
"Menggugurkan kandungan? Maksudmu..."
Laras memotong pembicaraannya, "ya. Aku pernah hamil, anak kamu. Tapi karena keluargamu tidak pernah merestui hubungan kita, aku memilih pergi dan menggugurkan anak kita."
Dipta menelan ludahnya, rasa bersalahnya semakin membuncah. Di sisi lain, pikirannya masih terpatri pada Rana yang menunggu di rumah.
Laras kembali memeluk erat tubuh tegap Dipta. Otak laki-laki itu di peras dengan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Maaf," ujarnya seraya menjatuhkan Laras dari dirinya. "Kita bahas soal ini nanti, sekarang aku mau menjernihkan pikiranku dulu."
Dipta melangkah menjauh dari Laras, membawa segudang pertanyaan dalam dirinya. Kenapa orang tuanya begitu tega? Kenapa Laras baru mengatakannya? Kenapa dan kenapa?
Pintu tertutup, menyisakan Laras yang berdiri sembari menyeka air mata palsunya. Wajahnya terangkat penuh kemenangan, lalu merogoh ponselnya dan menghubungi nomor Pak Bram.
"Hallo,"
Laras tersenyum, wanita itu melangkahkan kakinya mendekati jendela kaca. Menatap luar dengan senyum lebar, senyum penuh tipu muslihat.
"Target berhasil aku guncang." Ujarnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa like, komen, subscribe, vote, dan follow ya🫶🫶
Bersambung...