Pertemuan tidak sengaja Arabella dengan seorang wanita di cafe tempatnya bekerja, membawanya menjadi pengantin pengganti untuk seorang putra Billionaire Rusia, kondisi Arabella yang sedang membutuhkan banyak uang sehingga ia menerima penawaran wanita itu. Bukan hanya menjadi pengantin pengganti, ia juga harus menjadi putri pengganti dari seorang Billionaire Rusia yang memiliki pengaruh sangat besar di negara itu, Anara itulah nama barunya.
Neal Radislav tidak punya pilihan lain, selain bersedia melangsungkan pernikahan itu demi nama baik dua keluarga, walaupun Arabella memiliki wajah yang persis sama dengan kekasihnya, tak ada sedikitpun sikap manis yang Neal tunjukkan, baginya Anara adalah wanita yang tidak akan tergantikan di dunia ini.
Kenapa Arabella harus berpura-pura menjadi Anara? mampukan sikap lembut dan penyabar Arabella menaklukkan hati Neal? Rahasia apa yang tersembunyi dibalik sikap tertutup Arabella?
Ikuti kisah cinta mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina Melya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali Hangat
Ara berbaring santai di sofa ruang kerja Neal, mempermainkan remot di tangannya untuk mengganti saluran televisi yang tak ada menarik minatnya, sudah dua jam lebih ia berdiam diri yang membuatnya mulai bosan, Ara menarik napas panjang dan beranjak bangun, kemudian mengitari ruang kerja Neal yang sangat luas, Mata Ara terfokus pada bufet kecil disudut ruangan itu, ia melihat ada beberapa foto disana, Ara mengajak kakinya untuk mendekat, matanya langsung tertujuh pada foto Anara, cukup lama Ara memandangi foto itu, perlahan mengalihkan pada foto disampingnya itu foto keluarga Neal, dan masih ada lagi beberapa foto Neal yang lainnya, tapi tak ada foto pernikahan mereka disana, Ara tertawa kecil mentertawakan kebodohannya untuk apa Neal memajang foto pernikahan sandiwara yang tak akan berarti apa pun bagi Neal. Perlahan Ara menggeser langkahnya pada lemari besar yang hampir penuh dengan buku yang tersusun sangat rapi, Ara mengambil beberapa buku disana, tak merasa tertarik untuk membacanya Ara menaruh buku itu kembali pada tempatnya.
Pandangannya teralih pada meja kerja Neal, perlahan ia melangkah mendekat, ia mengitari meja itu lalu mendudukan tubuhnya di kursi di balik meja itu, Ara menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dan memutar
kursi itu perlahan, kursi itu terasa sangat nyaman.
"Pantasan Neal betah duduk berlama-lama disini, kursinya empuk sekali..." guman Ara pelan kembali memutar kursi itu.
Tiba-tiba terlintas ide konyol dikepalanya, ia memperbaiki posisis duduknya dan berdeham beberapa kali, kemudian mulai mencobakan gaya Neal ketika sedang berbicara dan sedang memeriksa dokumen, tak ketinggalan ia juga menirukan gaya Neal yang sedang marah, setelahnya puas menirukan gaya Neal, Ara tertawa terpinggal-pingkal sambil memegang perutnya, sementara Neal yang sedang berada di ruang meeting tak melepaskan sedikit pun pandangannya dari laptopnya, ia menahan senyumnya sambil mendekatkan tangannya ke mulutnya saat melihat Ara sedang menirukan gayannya, sedangkan Ara tak sadar kalau cctv di ruangan Neal terhubung dengan laptopnya. Semua yang ada di ruangan itu mengalihkan pandangannya pada Neal tak biasanya melihat bos mereka tersenyum seperti itu, merasa diperhatikan Neal pun Kembali memperlihatkan wajahnya yang datar dengan sorot mata yang membuat nyali yang ada disana menciut.
*****
Neal kembali keruangannya dan melihat Ara yang sedang sibuk dengan ponselnya sambil berbaring di sofa, ketika mendengar langkah kaki ia mengalihkan pandangannya, dan seketika bangun dan menyimpan ponselnya dalamtasnya yang terletak di atas meja, Neal duduk di sofa tepat di depan Ara, tak ada suara yang keluar dari bibirnya iahanya menatap wajah Ara lekat, Ara mulai merasakan hawa yang tidak baik, ia pun tak berani menatap Neal.
“Dia kesambet dimana lagi ini, atau mau dapet kali..., lihat wajahnya sungguh mengesalkan," guman Ara dalam hati.
“Apa kau bosan karena aku terlalu lama..." tegur Neal tanpa mengalihkan tatapannya.
“E-eeng... sedikit!" jawab Ara kikuk karena takut salah jawab dan menambah masalah di saat mood Neal yang lagi kurang baik sperti ini ia harus hati-hati kalau bicara.
“Apa yang kau lakukan selama aku pergi, kau tidak mengacak-ngacak ruanganku kan...!" seru Neal sambil menatap sekeliling ruangannya, padahal ia sudah tau Ara tak melakukan hal-hal yang aneh di ruangannnya karena ia mengawasi tingkah Ara di cctv ruangannya melalui laptopnya.
“Tidak….Aku tidak melaukan apa pun, coba kau perhatikan tak ada satu pun barang-barangmu yang berubah posisi,' jelas Ara membela diri.
Neal bangun dan melangkah ke meja kerjanya, ia menahan senyumnya melihat wajah panik istrinya, kemudian ia mendudukan tubuhnya di kursi kerjanya, ia mendekap tangannya ke dadanya sambil menatap Ara tajam.
"Kemarilah…."
"Mati aku..."
Dengan takut Ara perlahan ia bangun dari duduknya lalu menyeret langkahnya mendekati Neal, ia berhenti tepat didepan meja kerja Neal, tapi Neal kembali manggilnya untuk lebih dekat lagi dengan menggerakan jari telunjuknya dan gerakan jari itu berhenti setelah ia berdiri tepat di depan Neal yang sudah sudah memutar kursinya agar bisa berhadap-hadapan dengannya, Ara menelan ludahnya dengan susah ketika melihat tatapan Neal seakan ingin menelannya hidup-hidup.
“Ayolah duduklah disini...!' perintah Neal sambil bangkit dari kursinya, tapi dengan cepat Ara menggelengkan kepalanya.
“Tidak….Aku tidak mau, mana berani aku duduk dikursimu..." tolak Ara dengan wajah memucat dan keringat mulai membasahi dahinya, tapi dengan cepat Neal mendorongnya sehingga ia tidak bisa menghindar, ia mencoba untuk bangun tapi Neal menahan kedua bahunya dengan tangannya, Neal tersenyum dengan mengangkat sedikit ujung bibirnya, sambil menatap lekat wajah Ara.
“Aku ingin kau mengulangi lagi...saat kau menirukan gayaku tadi...kau begitu hebat melakukannya, jadi selama ini diam-diam kau mengamati setiap tingkahku!”
Wajah Ara semakin pucat, keringat semakin deras mengalir di dahinya,”Tidak…! Mana berani aku menirukan gayamu," elak Ara. “Apakah Neal melihat apa yang telah aku lakukan, "guman Ara dalam hati matanya berputar mengamati sekelilingnya.
“Kau masih ingin mengelak...." Neal mengeluarkan ponselnya lalu memdekatkan ke wajah Ara, matanya membulat sempurna melihat video yang sedang diputar itu.
“Maafkan aku Neal…….! Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi…..! Ara langsung memeluk tubuh Neal erat hanya itu yang bisa dilakukannya sekarang untuk memintah pengampunan dari Neal.
“Lepaskan…!”
“Tidak…!" Neal aku tidak akan lepaskan sebelum engkau memaafkan aku. " Ara berkata sambil mempererat pelukannya, ia membenamkan wajahnya didada Neal, melihat tubuh Ara yang gemetar sambil menagis ketakutan, ketukan membuat Neal tersenyum ia semakin berniat untuk menggoda Ara lagi.
“Tidak! Aku tidak bisa memaafkanmu! "
Perlahan Ara mengangkat wajahnya yang basah dengan air mata, ”apakah kau akan mengusirku sekarang...dan aku akan berhenti jadi istrimu...?" Tanya Ara pelan sambil memandangi Neal.
"Baiklah...aku akan pergi, tugasku sudah selesai," ucap Ara pelan sambil melepaskan pelukannya, Neal yang berniat mengerjai Ara malah berbalik padanya. Ia sangat terkejut mendengar perkataan Ara, seketika Ia menarik tubuh Ara yang menjauh darinya, menanggup pipi Ara dengan kedua tanganya dan menatap mata sayu istrinya yang masih basah oleh air mata.
“Tidak….! Siapa yang menyuruhmu pergi, aku tak akan mengijinkanmu pergi kemana pun, " ucap Neal pelan lalu membenamkan bibirnya pada bibir Ara, mengecup bibir itu lembut, perlahan ia melepaskan ciumannya dan
menjauhkan tubuhnya, sungguh ia terbawah emosi saat mendengar ucapan Ara, sungguh ia sangat ketakutan saat mendengar kata-kata itu meluncur dari bibirnya, Ara yang kebingungan melihat sikap Neal hanya terdiam.
“Aku hanya ingin mengodamu, kau sangat lucu ketika seperti itu, dan kau hampir saja mengacaukan rapatku!" seru Neal mengusap pipi istrinya lembut. “Ara hanya terkekeh mendengar ucapan Neal, ia sangat senang melihat siikap Neal yang hangat lagi padanya.
“Kau pasti lapar, ayo kita makan siang..!"
Ara mengangukan kepalanya karena ia memang sudah lapar, Neal mengulurkan tangannya dengan cepat Ara menyautnya, Neal menggenggam erat tangan Ara, dan keluar dari ruangan itu.
“Neal...apakah setelah ini kau masih sibuk?" Tanya Ara ketika mereka sudah berada dalam lift.
“Kenapa?”
“Bagaimana kalau setelah makan siang kita mengunjungi Noumi sebentar ke rumah sakit."
“Baiklah... tapi kita tak bisa berlama-lama disana. "
Ara tersenyum senang mendengar jawaban Neal, terdengar dentingan lift bersamaan terbukanya pintu lift, mereka keluar beriringan tanpa melepaskan genggaman tangannya, setiap karyawan yang berpapasan dengan mereka menundukkan kepalanya, terlihat tatapan iri dari beberapa karyawan wanita pada Ara karena menjadi wanita yang paling beruntung dapat menjadi wanitanya Neal, pria yang begitu dipuja oleh wanita di negeri ini.
.
.
.
.
.
Bersambung
jangan lupa jempol ny 👍👍