Starla, putri kandung seorang pengusaha kaya yang tidak disayang memutuskan menerima tawaran seorang pria untuk dijadikan simpanan. Setelah empat tahun berlalu, Starla pun memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak diantara mereka lagi. Starla meninggalkan Nino begitu saja. Hingga pada akhirnya, Nino ternyata berhasil menemukannya dan mulai terus membayanginya dengan cara mendekati Kanaya, kakak tiri Starla. Nino, pria yang terbiasa dipuja-puja oleh banyak wanita, jelas tidak terima dengan perbuatan Starla. Seharusnya, dia yang meninggalkan wanita itu. Namun, justru malah Starla yang meninggalkannya.
Berbekal dendam itu, Nino awalnya berniat untuk mempersulit Starla. Siapa sangka, di tengah rencananya mendekati Kanaya, Nino menemukan sebuah fakta bahwa selama ini Starla tak pernah merasakan bahagia. Sedari kecil, hidupnya selalu dirundung kesusahan. Hak-haknya bahkan direbut.
Berawal dari rasa penasaran, Nino justru mendapati bahwa perasaannya terhadap Starla ternyata sudah berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mewujudkan tuduhan mereka
"Starla, aku..."
"Bibi Wirda... suruh orang ini pergi," potong Starla cepat.
Bibi Wirda tampak kebingungan. Jelas-jelas, orang ini mengaku sebagai teman Starla. Tapi, kenapa ekspresi Starla malah seperti itu?
Terlihat sangat marah sekaligus benci.
"Tapi, Non..."
"Apa Bibi tidak tahu dia siapa?" tanya Starla dengan suara yang mulai meninggi.
Dia berusaha untuk bangun. Dan, Nino dengan senang hati berinisiatif untuk membantunya.
"Jangan sentuh aku!" kata Starla saat berhasil duduk diatas brankarnya.
Tangan Nino yang memegang bahunya langsung dia hempas dengan kasar.
"Jangan sentuh!" desis Starla.
"Starla..." lirih Nino sesak.
"Mau apa kamu ke sini? Siapa yang menyuruhmu? Tunangan mu?" cecar Starla dengan mata memerah.
"Starla, aku kemari karena mencemaskan kamu. Aku dengar..."
"Apa Kanaya yang sengaja mengirimmu untuk memata-matai aku?" pangkas Starla. "Apa dia ingin memastikan apakah aku sudah mati atau tidak?"
"Nona Starla, Anda salah paham. Tuan Nino..."
"Jangan ikut campur, Dika!" tegas Starla.
Dika langsung terdiam dengan ucapan yang tersangkut di tenggorokannya. Baru kali ini dia melihat Starla dengan ekspresi semarah itu. Nada suaranya juga tidak terdengar seperti gadis manja yang selama empat tahun ini selalu dia dengar.
"Dan, kau!" Starla menunjuk wajah Nino. "Jangan pernah muncul dihadapan ku lagi! Dasar menjijikkan!"
Degh!
Dua kata terakhir Starla sukses membuat Nino merasa terpancing. Dia tak terima, gadis itu mengatainya menjijikkan.
"Apa kau bilang? Aku... Menjijikkan?"
"Ya, kau menjijikkan! Segala yang sudah disentuh oleh Kanaya, bagiku adalah sesuatu yang sangat menjijikkan."
"Apa kamu tidak bisa lebih ramah sedikit, Starla? Aku kemari karena mengkhawatirkan kamu. Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu baik-baik saja," ujar Nino membela diri.
"Itu betul, Nona Starla. Tuan Nino bahkan sengaja melewatkan sebuah rapat penting demi menjenguk Anda," imbuh Dika.
"Oh, ya?" balas Starla sambil tersenyum mengejek. "Jadi, apakah aku harus berterimakasih? Haruskah aku bersujud didepan Tuan Gionino Roberts sebagai ungkapan rasa syukur atas kebaikan hati Tuan Gionino?"
"Starla, bukan itu maksudku," kata Nino.
"Lalu, apa maksudmu?" tanya Starla. "Kau sudah memilih untuk berpihak pada Kanaya, si anak pelakor itu, kan? Jadi, pergi dari sini. Sampaikan padanya kalau aku masih hidup!"
"Starla..."
Prang!
Starla melemparkan gelas ke dekat kaki Nino. Dadanya tampak naik turun dengan kebencian yang semakin menyala-nyala di sepasang bola matanya.
"Pergi!!!" usirnya. "Aku bilang, pergi!!!!" teriaknya sekeras mungkin.
Nino tertegun sejenak. Dia tak menyangka, jika kemarahan Starla akan jadi sebesar ini.
"Jadi, di matamu, aku benar-benar sudah tidak ada artinya lagi?" tanya Nino dengan suara rendah.
Starla menyeringai sinis. "Memangnya, sejak kapan kamu punya arti di mataku?"
Kata-kata itu bagai sebilah pedang yang mencabik-cabik hati Nino. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum miris.
"Setidaknya, kau bisa sedikit berutang budi karena aku pernah membantumu."
"Utang budi?" Starla tertawa. "Hutang budi apa?" tanyanya. "Bukankah, setiap bantuan yang kamu berikan, aku selalu membayarnya tepat waktu? Jangan pura-pura amnesia begitu, Tuan Gionino!"
Sepertinya, Nino kalah berdebat. Starla benar. Setiap sen yang Nino keluarkan, selalu dibayar Starla dengan harga yang setimpal. Tubuhnya.
"Jika sudah tidak ada urusan lagi, maka lebih baik Tuan Nino segera pergi!" usir Starla kemudian. "Anda sudah mendapatkan semua informasi yang Anda butuhkan, kan? Sana, kembali ke tunanganmu dan sampaikan bahwa aku masih hidup!"
Mata Nino tampak berkaca-kaca. Dimata Starla, dia sekadar mata-mata. Padahal, tidak sama sekali.
"Tuan-tuan!" celetuk Bibi Wirda. "Mohon untuk segera pergi! Nona Starla belum pulih. Dia butuh istirahat."
Dika langsung berinisiatif untuk menarik Nino pergi. Namun, Nino malah menepis tangan Dika dengan kasar.
"Aku bisa pergi sendiri. Tidak usah ditarik," katanya seraya melangkah tergesa-gesa meninggalkan ruang rawat itu.
Setelah Nino pergi, Starla kembali berbaring. Kepalanya sejak tadi terasa sangat sakit. Namun, dihadapan Nino, Starla berusaha untuk terlihat kuat dan baik-baik saja.
"Nona, Anda tidak apa-apa?" tanya Bibi Wirda dengan cemas.
"Aku baik-baik saja, Bi," jawab Starla.
"Astaga!! Selang infus Nona Starla tercabut," pekik perempuan tua itu dengan cemas. Dia melihat punggung tangan Starla nampak terluka.
"Sebentar, saya akan panggil perawat untuk memasang kembali infus Nona Starla."
Bibi Wirda bergerak cepat memanggil perawat. Sementara, Starla diam sambil menatap punggung tangannya yang tampak terluka. Dia baru sadar jika tangan yang dia gunakan untuk melempar gelas ke arah Nino tadi adalah tangan kiri yang tertancap jarum infus.
"Kenapa Non Starla nekat minum obat tidur sebanyak itu?" tanya Bibi Wirda setelah situasi akhirnya tenang kembali.
Starla tertawa kecil. "Maaf, Bibi. Sebenarnya, aku tidak berniat bunuh diri sama sekali."
"Jangan bohong! Kalau tidak berniat bunuh diri, kenapa malah minum obat sebanyak itu? Apa Nona Starla tidak tahu bagaimana takutnya Bibi, hah? Kalau Non Starla sampai ada apa-apa, lalu Bibi harus bagaimana? Bibi harus hidup dengan siapa?"
Mendengar ucapan tulus perempuan tua itu, Starla merasa sangat terharu. Setidaknya, masih ada Bibi Wirda disampingnya. Dia masih punya alasan untuk bertahan karena ada Bibi Wirda yang harus dia bahagiakan.
"Maaf, Bi," ucap Starla. "Tapi, aku benar-benar tidak berniat untuk bunuh diri. Awalnya, aku hanya ingin minum obat itu agar bisa cepat tidur. Tapi, satu butir obat ternyata tidak mempan. Makanya, aku menambah satu lagi tapi tetap saja hasilnya sama. Itu sebabnya, aku memakan dua butir lagi. Dan, hasilnya... ya begini," lanjutnya menjelaskan panjang lebar.
"Nona... Anda benar-benar membuat Bibi hampir jantungan," kata Bibi Wirda seraya bernapas lega. Syukurlah, ternyata Starla tidak benar-benar berniat untuk bunuh diri.
"Maafkan aku, Bi. Aku janji, hal seperti ini tidak akan terjadi lagi."
"Nona Starla," panggil Bibi Wirda. "Bagaimana kalau kita pulang ke kampung halaman Bibi saja? Di sana suasananya sangat tenang. Kita berdua pasti bisa hidup dengan bahagia di sana."
"Tidak, Bibi,"geleng Starla. "Perang ku belum selesai. Aku masih belum kalah."
"Apa maksud Nona?"
"Aku masih akan melawan."
"Dengan cara apa lagi Nona akan melawan?" tanya Bibi Wirda khawatir. "Situasinya sudah separah ini. Bibi tidak mau jika Nona Starla malah semakin terluka."
"Mereka menuduh aku sebagai perempuan penggoda, kan?" tanya Starla. Tiba-tiba, sebuah ide brilian terlintas dibenaknya.
" Nona Starla mau apa?"
"Aku akan mewujudkan tuduhan mereka, Bi. Kalau menurut mereka aku adalah perempuan penggoda, maka aku akan benar-benar jadi perempuan penggoda."
Starla menyeringai licik. Tak akan ia biarkan musuhnya hidup bahagia dan tenang. Apa yang Kanaya miliki sekarang, akan dia rebut tanpa sisa. Dan, Starla tahu harus memulai darimana.
Buang laki² yang demi gengsi & ego tinggi hanya untuk merendahkan dirimu😠
Nino pikir di dunia hanya ada dia saja tanpa ada orang lain yang masih baik untuk menolongmu Starla 💪
Starla bangkit & cari kebahagianmu tanpa Arlo & Nino, masih banyak orang yang baik padamu Starla 💪