NovelToon NovelToon
Bayangan Pewaris Kadipaten

Bayangan Pewaris Kadipaten

Status: sedang berlangsung
Genre:Menyembunyikan Identitas / Era Kolonial / Pengganti / Komedi
Popularitas:105k
Nilai: 5
Nama Author: Hayisa Aaroon

Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?

Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.

Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.

Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.

Risikonya? Hampir mati setiap hari.

Akankah Arjo bertahan?

Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33. Membuktikan

"Ketika situasi genting," Arjo melanjutkan dengan suara asli, "aku tidak berbicara dengan gaya berat. Tidak ada gunanya. Tapi ketika menerima tamu, apalagi berurusan dengan kadipaten, aku harus berbicara penuh wibawa. Itu ada latihannya. Bertahun-tahun. Dan lagipula, untuk apa aku berbicara penuh wibawa pada begal?"

Agnes masih menatapnya dengan mata menyipit.

"Suaramu memang mirip sekarang. Tapi itu belum cukup."

‘Keras kepala,’ batin Arjo dengan masih memasang senyum menawan.

"Kau masih belum percaya? Apa lagi yang kau mau untuk membuktikan?"

"Sebutkan," Agnes condong ke depan, "senjata apa yang kubawa untuk menyerang."

"Belati."

"Belati jenis apa?"

Arjo terdiam.

‘Sial. Aku tidak ingat jenis belatinya. Aku terlalu terpaku pada mata kucingnya.’

Agnes tersenyum penuh kemenangan.

"Tidak ingat? Mungkin karena kau tidak benar-benar ada di sana. Mungkin orang yang di kereta menceritakan detail padamu; warna mata, belati, serangan, tapi tidak menceritakan semua detail."

Arjo menatap perempuan di hadapannya.

‘Dia tidak akan puas sampai aku membuktikan dengan cara yang tidak bisa disangkal. Baiklah.’

Arjo sedikit condong ke depan, membalik serangan, suaranya turun menjadi nyaris berbisik.

"Kalau kau terus memaksa seperti ini, Nona," matanya mengunci mata Agnes, "aku akan menyebutkan sesuatu yang … seharusnya tak pantas untuk diungkit, sesuatu yang terjadi di antara kita berdua di dalam kereta."

Hening sejenak, Arjo melirik ke pintu yang terbuka lebar, di mana Tikno dan Dirno bersama dua abdi dalem siap siaga di koridor.

Tatapannya kembali pada Agnes yang masih menunggu.

"Aku tahu ukuran dadamu, Nona."

Mata amber itu melebar.

"Pas," Arjo melanjutkan dengan tenang, menaikkan dua tangan, "memenuhi genggaman. Jari-jariku yang panjang pas melingkarinya. Kencang. Kau punya otot dada yang bagus, Nona."

Wajah Agnes mulai memerah.

"Aku yakin kau berlatih keras," mata Arjo turun sekilas ke bagian yang dimaksud, lalu kembali ke wajah Agnes, "sehingga punya dada sebagus itu."

Agnes membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.

Arjo menyandarkan punggung ke kursi, wajah santai.

"Jangan tersinggung, Nona. Apa yang kulakukan di kereta waktu itu … adalah prosedur untuk membedakan mana perempuan dan mana laki-laki. Aku tidak kurang ajar. Aku bupati yang selalu menjaga wibawa. Aku hanya mencoba mengenali siapa penyerangku. Dalam remang kabin kereta yang tertutup, dengan kain menutupi wajahmu, aku perlu cara lain untuk memastikan."

Agnes masih diam. Wajahnya merah padam sekarang, campuran malu dan marah yang menarik untuk dilihat.

"Jadi," Arjo memiringkan kepala, senyum tipis di bibir, "kau masih meragukanku?"

Hening.

Agnes menarik napas dalam-dalam, berusaha menguasai diri.

"Baik." Suaranya sedikit bergetar. "Kau membuktikan dirimu."

"Bagus." Arjo tersenyum penuh kemenangan.

"Tapi," mata amber itu berkilat lagi, kemarahan menggantikan malu, "itu tidak mengubah apapun."

"Tidak?" Satu alis Arjo terangkat naik. "Lagipula, apa untungnya bagimu kalau yang di kereta dan yang sekarang adalah orang yang sama? Atau berbeda?"

"Tentu saja ada untungnya." Agnes tersenyum licik. "Kalau kalian berbeda, aku bisa menjual informasi ini ke musuh-musuhmu."

"Oh?" Arjo menahan napas.

"Bahwa bupati menggunakan bayangan." Agnes menegakkan punggung, dagunya terangkat,  "Bahwa ada orang lain yang menyamar. Bahwa kalau mereka ingin membunuh bupati yang asli, mereka harus lebih cermat membedakan mana yang asli dan mana yang palsu."

Arjo tetap tenang.

‘Perempuan ini berbahaya. Karierku sebagai bayangan bisa hancur dalam waktu singkat. Sial.’

"Jadi," suaranya datar, "Nona tahu musuh-musuhku?"

Agnes mengangkat dagu dengan angkuh.

"Tentu saja. Aku bagian dari kelompok rahasia sebelum bergabung dengan yang menyerangmu."

"Sebelum?" Dahi Arjo berkerut.

"Kami berpisah." Agnes mengedikkan bahu. "Beda pendapat. Kelompok tua ingin bergerak lambat, menunggu, merencanakan. Kami … kelompok muda … ingin menyerang langsung. Tidak sabar dengan cara-cara kuno mereka yang lamban."

Arjo menghela napas.

"Mereka tidak lamban, Nona. Pengalaman membuat mereka tidak ceroboh."

"Ceroboh?" Agnes mendengkus.

"Seperti dirimu." Arjo menatapnya langsung. "Kuakui kemampuanmu bertarung memang mumpuni. Di kereta waktu itu, kau nyaris membunuhku. Gerakanmu cepat, tangkas, terlatih."

Agnes sedikit menegakkan tubuh, membuat dadanya secara alami semakin membusung, ada kebanggaan yang tidak bisa disembunyikan di matanya.

"Tapi otot saja tidak ada artinya tanpa otak yang penuh strategi." Arjo melanjutkan. "Itu yang diajarkan kepadaku. Bertarung dengan tangan itu mudah. Bertarung dengan pikiran itu yang sulit."

"Kau meremehkanku." Agnes mendelik. “Atau dengan kata lain menyebutku bodoh?”

"Aku menilaimu." Arjo membetulkan. "Ada bedanya, Nona Agnes."

Rahang Agnes mengeras. "Jangan panggil aku dengan nama itu."

Arjo mengangkat alis. "Agnes? Itu namamu, kan?"

"Itu nama Eropa." Agnes hampir meludah ke samping. "Aku benci darah itu. Darah penjajah. Panggil aku Kenes."

Arjo menatapnya lama.

‘Membenci setengah dari dirinya sendiri? Menarik.’

"Seharusnya kau bersyukur, Nona." Suaranya tenang. "Setengah Eropa dan diakui ayahmu. Kau masuk ke kelas satu. Mendapatkan fasilitas yang tidak akan pernah dinikmati rakyat jelata."

Agnes mendengkus keras.

"Masuk ke lingkungan mereka," suaranya penuh kegetiran, "tapi terus mendapatkan cibiran. 'Anak gundik', bisik mereka di belakangku. 'Darah campuran'. 'Tidak murni'. Apa artinya fasilitas kalau setiap hari kau diingatkan bahwa kau tidak akan pernah cukup baik untuk diterima?"

Arjo terdiam.

‘Dia sama terperangkapnya seperti aku.’

‘Berbeda dunia, berbeda masalah, tapi sama-sama terjebak dalam identitas yang tidak bisa dipilih.’

"Nona Agnes," Arjo memulai dengan suara lebih lembut, tapi terdengar sangat menjengkelkan di telinga Agnes.

"Sudah kukatakan," Agnes mengertak, mata berkilat berbahaya, "jangan panggil aku dengan nama itu!"

Arjo menatapnya lama, geli dengan tingkah gadis ini, ia justru tersenyum.

"Agnes."

Ia mengucapkan nama itu dengan lambat. Dengan pelafalan Belanda yang sempurna. Huruf 'g' yang keluar dari tenggorokan dengan suara gesekan yang khas.

Akh-nes.

Wajah Agnes semakin merah. Kemarahan yang naik level sekarang.

"Kau—"

"Agnes." Arjo mengulangi, kali ini lebih pelan. Lebih dalam. Hampir seperti bisikan yang sangat menjengkelkan.

Akh-nes.

Agnes bangkit dari kursinya dengan gerakan cepat.

Arjo tidak bergerak. Hanya memandangnya dengan senyum tipis yang menyebalkan.

Agnes mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang jamuan yang luas itu.

Para abdi yang tadi melayani makan malam sudah pergi, hanya tersisa dua orang yang menunggu di luar pintu. Di samping mereka, tampak siluet Tikno dan Dirno yang mulai tampak lelah karena tak kunjung pulang.

Mereka tidak bisa mendengar apa yang terjadi di dalam.

Agnes berjalan cepat ke pintu.

"Kalian semua," ia berbicara pada abdi di luar, suaranya dingin, "pergi. Aku dan Tuan Adipati perlu berbicara lebih pribadi."

Para abdi bertukar pandang bingung, lalu melirik ke arah Arjo untuk mencari konfirmasi.

Arjo menggeleng samar.

1
Y. Haryadi
lanjut
Ulfa Riady
wuiiih keren kangmas arjo argumennya,😍😍😍
Andina Jahanara
next kak 👍
Lannifa Dariyah
di sini udh mendem ndoro crita nya
Hayisa Aaroon: nanti ngepasin sama Keti dulu, yang sana ketinggalan jauh waktunya.
total 1 replies
lilyrose
terkesima to kmu agnes 😂 rugi kowe yen arjo mbo tolakk😂
Ario Umbaran
Ini kl arjo jd Bupati jaman skrng sdh tak dukung nyapress, cerdas, tas tes, sat set, kendel, dan bela rakyat..
Ricis
Nah lho, emng keren Bupati satu ini. lain dari yg lain, dia bkn bupati yg dpat jabatan dgn mudah, tapi dgn bentukan+gemblengan yg luar biasa. siap2 kagum kau Agnes 😃
lely niurlaely
cerita ka author ga pernah gagal..alur ga bosenin dan tdk bertele tele, kerreen pokoknya
yue yah
Ojo seuzon jo.kw lo Yo luweh cerdik
Kustri
☕sik Jo!
ora salah masmu ngangkat kowe💪💪💪
jodoh takkan kemana... sama" berjuang😍
Fetri Diani
Jos gandos ndoro bupati Aryo... 👍
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
arjo di didik keras mkne lebih oandai arjondr soedarsono yg memelih patuh sm kanjng ndoro gusti kusumawati

yaaaa dan skrg gmn ya arjo bisa mengatasi itu
Giyatmini
arjo, pemimpin yg sebenarnya...
pandai merangkai kata
Albina
👍👍👍👍 arjo
Teh Qurrotha
pesona Arjo keluar,Agnes terkesima
🏡s⃝ᴿ 𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
agnes menyuarakan pemberontak itu
Ricis
lanjut versi Agnes mode jujurnya
Muchamad Ikbal
ndoro Arjo cinta buta. Sll ja mau masuk permainan Agnes.😐🙆‍♀️
Ario Umbaran
Agnes mau dirudapaksa edward, tp melawan dan bunuh edward, gak semudah itu bunuh perwira kl dalam posisi siap
🏡s⃝ᴿ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
sebernarnya ada apa
bisa lasih flash back nya ndoro 🤭🤣🤣
aq kok penasaran deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!