Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.
Semua orang tahu Kirana sudah menikah.
Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.
Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.
Aiden Pradana.
CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.
Awalnya Aiden hanya penasaran.
Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.
Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.
Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.
Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gudang Meledak
Bunyi bip panjang itu berubah menjadi suara ledakan kecil yang menghantam sisi gudang, api tidak langsung menyambar besar tetapi asap tebal menyembur dari bawah peti kayu dan membuat seluruh ruangan kacau dalam hitungan detik. Kirana terjatuh bersama Aiden di lantai berdebu sementara teriakan Rani dan suara benda-benda roboh memenuhi ruangan yang tiba-tiba gelap.
"Kirana, kamu terluka?" Aiden menahan bahunya.
"Uhuk...uhuk... Tidak." Kirana terbatuk.
"Jangan berdiri dulu." Aiden menundukkan tubuh.
"Ayahku," Kirana mencoba bangkit.
"Biarkan aku." Rendra berlari ke arah kursi.
Asap semakin tebal dan membuat pandangan mereka terbatas, Rendra meraba kursi ayah Kirana dengan tangan gemetar lalu berusaha membuka tali yang mengikat pergelangan pria tua itu. Di sisi lain, Fajar mengejar Armand yang memanfaatkan kekacauan untuk bergerak menuju pintu samping.
"Armand kabur!" Gavin menunjuk bayangan di dekat pintu.
"Kejar dia!" Fajar berlari.
"Aku ikut?" Gavin menoleh panik.
"Jangan!" Aiden dan Kirana menjawab bersamaan.
"Baik." Gavin langsung mundur.
Gavin akhirnya memilih hal paling masuk akal, yaitu membantu Rani yang hampir jatuh karena panik. Ia menarik wanita itu menjauh dari peti yang mulai mengeluarkan percikan api kecil, untuk pertama kalinya malam itu wajahnya benar-benar serius tanpa candaan yang biasa ia pakai untuk menutupi rasa takut.
"Kak Rani, ikut aku." Gavin menarik lengannya.
"Ayah!" Rani menangis.
"Rendra sedang buka ikatannya." Gavin menunjuk ke tengah ruangan.
"Kirana..." Rani mencari adiknya.
"Dia bersama Bos." Gavin menuntunnya ke pintu.
Kirana masih berusaha menuju ayahnya, tetapi Aiden menahannya agar tidak masuk terlalu dalam ke area asap. Matanya perih dan napasnya mulai berat, tetapi rasa takutnya jauh lebih besar daripada rasa sakit di tubuhnya. Ia melihat Rendra akhirnya berhasil membuka salah satu tali, lalu pria itu mengangkat ayahnya dari kursi dengan susah payah.
"Ayah!" Panggil Kirana.
"Uhuk... Aku baik-baik saja." Ayahnya terbatuk lemah.
"Bawa dia keluar!" Aiden memberi isyarat.
"Aku tahu!" Rendra mengangkat tubuh pria tua itu.
"Jangan jatuhkan ayahku." Kirana menatap Rendra tajam.
"Masih sempat marah?" Rendra terbatuk.
"Selalu." Kirana menahan napas.
Aiden hampir tersenyum meski situasi sangat kacau, bahkan dalam keadaan seperti itu Kirana tetap bisa mengeluarkan kalimat tajam yang membuat orang lain tidak berkutik namun senyum itu hilang begitu terdengar suara retakan dari langit-langit gudang.
"Keluar sekarang!" Aiden menarik Kirana.
"Flashdisknya!" Kirana menoleh.
"Nyawa dulu." Aiden mendorongnya ke arah pintu.
Mereka keluar dari gudang beberapa detik sebelum sebagian atap tua runtuh di belakang mereka. Debu dan asap langsung menyembur keluar, membuat semua orang di halaman belakang terbatuk dan menjauh. Rendra menurunkan ayah Kirana di dekat pagar, sementara Rani langsung memeluk pria itu sambil menangis.
"Ayah, jawab aku." Rani mengguncang bahunya pelan.
"Ayah masih hidup." Ayahnya terbatuk.
"Jangan bercanda!" Rani menangis.
"Kalau Ayah diam, kalian tambah panik." Ayahnya tersenyum lemah.
Kirana berlutut di samping ayahnya dan memeriksa wajah pucat pria itu. Ia ingin menangis, tetapi tubuhnya terlalu lelah untuk mengeluarkan air mata. Tangannya hanya menggenggam tangan ayahnya kuat-kuat, seolah takut pria itu akan menghilang lagi jika ia melepaskannya.
"Ayah membuat kami hampir mati ketakutan." Kirana menunduk.
"Ayah juga tidak senang diculik." Ayahnya mengusap kepalanya lemah.
"Jangan bicara dulu." Kirana menggenggam tangannya.
"Kamu juga jangan menangis." Ayahnya tersenyum kecil.
"Saya tidak menangis." Kirana menggeleng.
"Matamu merah." Ayahnya menunjuk pelan.
"Asap." Kirana mengalihkan pandangan.
Gavin yang berdiri tidak jauh dari mereka menghela napas panjang. Dalam keadaan lain, ia pasti sudah menertawakan alasan itu. Namun malam ini ia memilih diam karena melihat Kirana hampir runtuh setelah terlalu lama menahan semuanya sendiri.
"Bos." Gavin mendekati Aiden.
"Apa?" Aiden menatap gudang.
"Armand kabur." Gavin menunjuk sisi pelabuhan.
"Fajar mengejarnya." Aiden mengepalkan tangan.
"Kita ikut?"
"Kirana dan ayahnya dulu." Aiden menoleh ke belakang.
Keputusan itu keluar tanpa ragu. Biasanya Aiden selalu memilih mengejar masalah sampai selesai, tetapi kali ini prioritasnya berubah karena Kirana dan keluarganya berada tepat di depannya. Gavin melihat perubahan itu dengan jelas dan semakin yakin bahwa sahabatnya sudah terlalu jauh masuk ke dalam perasaan yang seharusnya dihindari.
Tidak lama kemudian, mobil keamanan dan ambulans datang bersamaan. Petugas segera memeriksa kondisi ayah Kirana, sementara beberapa orang lain bergerak mengamankan area gudang. Aiden berbicara cepat dengan tim keamanan, lalu meminta mereka menutup semua jalur keluar pelabuhan.
"Dia tidak boleh lolos." Aiden menatap petugas.
"Baik, Tuan." Petugas mengangguk.
"Periksa dermaga, gudang sebelah, dan jalur belakang." Aiden menunjuk area sekitar.
"Siap." Petugas langsung bergerak.
Rendra berdiri beberapa langkah dari Kirana sambil menatap ayah mertuanya yang sedang diperiksa tim medis. Wajahnya masih penuh debu, kemejanya sobek di bagian lengan, dan napasnya belum stabil. Meski begitu, ia tidak mendekat karena tahu kehadirannya belum tentu diterima.
"Terima kasih." Kirana menoleh singkat.
"Aku hanya melakukan yang seharusnya." Rendra menunduk.
"Untuk kali ini, kamu benar." Kirana kembali menatap ayahnya.
Rendra tersenyum hambar. Satu kalimat singkat itu terasa seperti penghargaan kecil, tetapi juga mengingatkannya bahwa tidak ada yang benar-benar berubah di antara mereka. Ia mungkin menyelamatkan ayah Kirana malam ini, tetapi dosa masa lalunya tetap berdiri di antara mereka seperti tembok yang sulit diruntuhkan.
Teriakan tiba-tiba terdengar dari arah dermaga. Semua orang menoleh ke sumber suara, dan beberapa petugas berlari ke sana dengan cepat. Beberapa detik kemudian, Fajar muncul dari balik tumpukan kontainer sambil memegang lengannya yang berdarah.
"Fajar!" Aiden berlari mendekat.
"Armand naik kapal kecil." Fajar menunjuk dermaga.
"Kamu terluka." Gavin menatap lengannya.
"Cuma goresan." Fajar meringis.
"Kalau itu goresan, saya atlet nasional." Gavin menelan ludah.
"Diam dulu." Aiden menatap dermaga.
Di kejauhan, suara mesin kapal kecil mulai terdengar. Lampu merah redup bergerak menjauh dari dermaga, menembus gelapnya laut malam. Armand berhasil pergi, dan flashdisk itu kemungkinan besar masih berada di tangannya.
"Dia membawa flashdisk?" Aiden menatap Fajar.
"Iya." Fajar mengangguk kesal.
"Sial." Aiden mengepalkan tangan.
"Dia tidak hanya membawa flashdisk." Fajar menahan napas.
"Apa lagi?" Kirana mendekat pelan.
Fajar menatap Kirana, lalu menatap Aiden. Ada sesuatu di wajahnya yang membuat suasana kembali berat meski mereka baru saja selamat dari ledakan gudang. Ia mengeluarkan ponselnya dengan tangan gemetar, lalu menunjukkan satu pesan yang baru masuk beberapa detik lalu.
"Armand mengirim ini." Fajar menyerahkan ponsel.
Aiden membaca pesan itu, lalu ekspresinya berubah dingin.
"Apa isinya?" Kirana bertanya pelan.
Aiden tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap layar beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat ponsel itu agar Kirana bisa membaca sendiri. Di sana tertulis satu kalimat yang membuat napasnya tertahan.
Besok pagi, seluruh bukti tentang Rendra dan Kirana akan tersebar ke semua media.
Kirana menatap layar itu tanpa berkedip. Rendra langsung kehilangan warna di wajahnya, sedangkan Gavin mengusap wajah dengan putus asa. Namun sebelum siapa pun sempat bicara, ponsel Kirana kembali bergetar.
Nomor tidak dikenal mengirim sebuah video pendek.
Kirana membukanya dengan tangan gemetar.
Video itu memperlihatkan dirinya di gudang, saat Aiden menariknya ke dalam pelukan untuk melindunginya dari ledakan.
Dan di bawah video itu tertulis:
Istri orang dalam pelukan CEO. Judul yang bagus, bukan?