Andi, seorang akuntan kuper yang hidupnya lurus seperti tabel Excel, panik ketika menerima undangan reuni SMA. Masalahnya: dulu dia selalu jadi bahan ejekan karena jomblo kronis. Tak mau terlihat memprihatinkan di depan teman-teman lamanya, Andi nekat menyewa seorang pacar profesional bernama Nayla—cantik, cerdas, dan terlalu mahal untuk dompetnya.
Namun Nayla punya syarat gila: “Kalau kamu jatuh cinta sama gue, dendanya satu milyar.”
Awalnya Andi yakin aman—dia terlalu canggung untuk jatuh cinta.
Tapi setelah pura-pura pacaran, makan bareng, dan menghadapi masa lalu yang muncul kembali di reuni… Andi mulai menyadari sesuatu: dia sedang terjebak.
Antara cinta pura-pura, kontrak tak wajar, dan perasaan yang benar-benar tumbuh.
Dan setiap degup jantungnya… makin mendekatkannya ke denda satu milyar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reuni II
Reuni itu datang bukan lewat undangan resmi tapi nama yang tiba-tiba muncul di layar ponsel Andi, siang hari, di sela rapat yang membosankan dan terlalu rapi. Nama yang tidak ia simpan dengan penuh niat—hanya tersisa karena tak pernah dihapus.
Raka Wiratama.
Andi menatap layar beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Tidak ada emoji, tidak ada basa-basi hanya satu kalimat pendek:
“Di, gue di Jakarta. Ngopi bentar? Ada yang perlu gue sampein.”
Tidak ada kata reuni nostalgia. Dan justru itu yang membuat Andi menjawab.
“Jam berapa?”
\=\=
Raka adalah tipe orang yang tidak banyak berubah oleh waktu. Rambutnya sedikit menipis, perutnya sedikit lebih maju, tapi caranya duduk—setengah santai, setengah menguasai ruangan—masih sama seperti dua puluh tahun lalu.
Mereka bertemu di kafe hotel lama, tempat terlalu mahal untuk disebut nongkrong, tapi terlalu biasa untuk disebut pertemuan penting.
“Lu kelihatan capek,” ucapnya tanpa pembuka.
Andi tersenyum tipis. “Lu juga.”
Raka tertawa kecil. “Gue nggak dateng buat nostalgia.”
“Syukurlah.”
Raka mencondongkan badan. Suaranya turun satu tingkat. “Nama lu mulai disebut-sebut lagi.”
Andi tidak langsung bereaksi. “Di mana?”
“Di grup alumni. Ada yang lagi nyiapin reuni besar—dua puluh lima tahun. Sponsor udah ada media lokal juga.”
“And then?” Andi tahu ini belum inti.
“Dan entah kenapa,” lanjut Raka pelan, “nama lu muncul dengan embel-embel yang… menarik.”
“Menarik gimana?”
Raka mengeluarkan ponselnya, memutar layar. Sebuah tangkapan layar grup chat kalimat ringan justru berbahaya:
‘Andi Pratama bakal datang nggak ya? Katanya lagi rame di luar.’
“Andi yang mana?” tanya seseorang. “Yang dulu paling lurus,” jawab yang lain.
Ia menghela napas pelan.
“Lu tahu kan,” kata Raka, “reuni itu bukan soal ketemu teman lama tapi siapa jadi apa sekarang.”
“And who’s watching,” tambahnya
Raka mengangguk. “Dan kali ini, yang nonton bukan cuma kita-kita.”
\=\=\=
Di tempat lain, Nayla menerima telepon yang membuatnya berhenti berjalan.
“Nama kamu muncul,” kata suara di seberang profesional tapi familiar.
“Di mana?”.
“Di arsip lama. Kamu ingat dengan saya, Bu. Ratna?”
Ia menelan ludah teringat guru BK SMA. Orang pertama yang pernah berkata padanya, ‘Kamu pintar, tapi terlalu sering mengecilkan diri.’
“Ada rencana reuni besar,” lanjut suara itu. “Dan entah kenapa, panitia lagi nyari kamu.”
“Kenapa?”
“Karena kamu salah satu cerita yang… tidak selesai.”
“Cerita itu milik masa lalu.”
“Justru itu,” jawabnya pelan. “Mereka ingin melihat siapa kamu sekarang.”
Telepon ditutup tanpa tekanan. Tanpa permintaan. Tapi kalimat itu tertinggal seperti beban ringan yang sulit diabaikan.
\=\=\=
Di sebuah kafe kecil yang bersembunyi di sudut kota, dua orang duduk saling berhadapan.
Cewek itu duduk menyamping, satu tangannya melingkari cangkir kopi yang mulai dingin. Rambutnya tergerai seadanya, seperti baru saja disisir oleh angin sore.
Tatapannya tidak selalu tertuju pada lawan bicaranya—kadang jatuh ke jendela, ke jalan yang basah oleh lampu kendaraan, seolah ada pikiran yang lebih ramai daripada meja di depannya. Senyumnya muncul pelan, bukan karena lelucon, tapi karena ia merasa cukup aman untuk diam.
Sementara laki laki itu duduk dengan bahu sedikit condong ke depan, seakan takut kehilangan satu kata pun. Jemarinya sesekali mengetuk piring kecil, ritme yang tidak ia sadari. Matanya lebih sering mencari wajah itu daripada kopinya sendiri.
Ia tidak banyak bicara, tapi setiap kali membuka mulut, nadanya hati-hati—seperti seseorang sedang belajar menyebutkan perasaan tanpa merusaknya.
“Ada yang hubungin gue,” kata Andi akhir
“Reuni?” tebak Nayla.
Andi mengangkat alis. “Lu juga?”
Nayla mengangguk pelan. “Lucu ya. Kita nggak nyari masa lalu, tapi dia nemuin kita.”
“Dan kali ini,” Andi menatap meja, “dia datang bareng penonton.”
Nayla menghela napas. “Reuni itu ruang publik, Kak. Nggak ada kontrak yang bisa nutupin itu.”
“Justru itu,” jawab Andi. “Makanya ini bahaya.”
“Atau jujur,” Nayla menimpali.
Mereka saling menatap. Tidak ada ketakutan berlebihan. Tapi juga tidak ada ilusi bahwa ini akan sederhana. Aroma kopi, bunyi sendok, dan musik terlalu pelan untuk dihafal, menciptakan jarak yang aneh: dekat tapi belum saling memiliki.
Kafe tidak tahu apa yang sedang tumbuh di meja mereka—hanya mencatat dua orang yang memilih duduk lebih lama dari yang mereka rencanakan.
“Kalau kita datang,” kata Nayla pelan, “kita datang sebagai apa?”
“Sebagai dua orang yang nggak lagi pura-pura,”
Nayla tersenyum tipis. “Itu posisi paling mahal.”
“Dan paling terbuka.”
Di luar, kota tetap bergerak. Tidak tahu—atau tidak peduli—bahwa dua orang sedang berdiri di ambang ruang yang tidak bisa lagi dikendalikan sistem mana pun.
Karena reuni bukan sekadar pertemuan. Ia adalah panggung.
Dan kali ini, Andi dan Nayla tahu: siapa pun yang naik ke panggung, tidak bisa lagi bersembunyi di balik kontrak.
\=\=\=
Malam sebelum reuni besar tidak membawa hujan, tapi udara Jakarta terasa lebih berat dari biasanya. Seolah kota tahu, besok akan ada sesuatu yang dibuka—bukan pintu, tapi ingatan.
Andi duduk di apartemennya, lampu tidak dinyalakan penuh. Jas tergantung rapi di kursi, masih berplastik. Ia belum memutuskan akan memakainya atau tidak.
Ponselnya bergetar.
Direktur.
Ia membiarkannya bergetar sampai berhenti. Lalu bergetar lagi. Kali ini Andi mengangkat.
“Besok kamu ke mana?” suara itu datar. Bukan bertanya—menguji.
“Ada undangan pribadi,” jawab Andi singkat.
“Acara alumni?”
Direktur tidak bodo hanya ingin memastikan Andi tahu, semua langkahnya terlihat.
“Ya.”
Hening beberapa detik.
“Kamu paham kan,” kata Direktur akhirnya, “posisi kamu sekarang itu bukan lagi milik kamu sepenuhnya.”
Andi menatap ke jendela. Lampu-lampu gedung lain menyala seperti mata yang tidak berkedip.“Saya paham,” jawabnya tenang. “Makanya saya datang sebagai diri saya sendiri.”
Kalimat itu terlalu jujur.
“Kamu tidak membawa siapa pun?” tanya Direktur.
Andi tahu pertanyaan itu bukan tentang fisik, Tapi tentang narasi.
“Saya datang sendiri,” jawabnya tidak lengkap.
Telpon di tutup tanpa pamit
\=\=\=
Di sisi lain kota, Nayla melipat kemeja sederhana tanpa gaun mencolok. Tidak ada usaha untuk “tampil kembali”hanya datang sebagai versi yang ingin diterima dan tidak lagi meminta izin.
Ponselnya menyala pesan masuk dari nomor lama—teman SMA yang dulu nyaris tak pernah ia ajak bicara.“Nay, lu beneran datang ? Lu kan udah mundur, banyak yang nanya lho.”
Ia membaca lalu membalas singkat " ya balasnya pendek duduk di tepi ranjang menatap lantai, ketakutan terbesarnya bukan dilihat orang—tapi dilihat tanpa bisa mengontrol cerita.
\=\=\=
Dua orang duduk di bangku taman kota yang nyaris dilupakan malam. Lampu-lampu jalan menyala malas, membentuk lingkar cahaya kecil yang tak cukup untuk mengusir gelap. Daun-daun bergoyang pelan, suaranya seperti bisikan yang sengaja dirahasiakan
Nayla duduk dengan tangan terlipat di pangkuan, bahunya sedikit terangkat menahan dingin. Rambutnya menyerap cahaya lampu, separuh wajahnya tenggelam dalam bayang menatap jalan setapak yang kosong, seolah di sana ada jawaban yang tak berani ia tanyakan.
Sementara Andi disamping memberi jarak sopan tapi penuh arti. Satu kakinya bergoyang pelan, gugup yang disamarkan. .
Mereka tidak saling menyentuh, namun kehadiran masing-masing terasa berat. Di taman yang sunyi itu, kata-kata menjadi terlalu besar untuk diucapkan, dan diam berubah menjadi satu-satunya cara bertahan.
“Kalau besok ada yang tanya,” kata Nayla pelan, “kita jawab apa?”
Andi berpikir sejenak. “Yang penting saja.”
“Dan kalau ada yang menekan?”
“Kita diam.”
Nayla tersenyum kecil. “Itu jawaban paling dewasa.”
laki laki itu menatapnya lekat, ada sesuatu yang berubah sejak Nayla mundur tidak menjauh—tapi menjadi utuh. “Lu sadar nggak, Nay ini pertama kalinya kita muncul tanpa peran?”
“Dan itu yang membuat sistem panik.”
\=\=
Malam semakin larut.
Di gedung-gedung tinggi, beberapa orang membuka arsip lama. Di ponsel-ponsel lain, nama Andi dan Nayla mulai disebut dengan nada yang berbeda. Bukan gosip. Bukan juga skandal.
Lebih berbahaya dari itu: rasa ingin tahu.
Dan besok, di sebuah ballroom yang dipenuhi tawa palsu dan nostalgia yang dipoles, dua orang akan melangkah masuk tidak untuk membuktikan apa pun, tapi untuk tidak lagi menyangkal siapa mereka.