Clara yang kini hidup seorang diri, menerima penawaran pekerjaan sebagai mata-mata dari seorang temannya yang merupakan anak dari pemilik organisasi mafia dengan upah yang lumayan tinggi. Ia harus bertahan hidup dengan kerasnya dunia di usia muda.
Ibunya yang meninggal karena kecelakaan dan ayahnya yang cacat akibat kecelakaan itu, membuatnya harus mencari uang, hingga ayahnya juga menyusul ibunya 3 bulan kemudian, saat ia ingin memasuki SMA. Saat itulah kemudian ia menerima sebuah misi baru. Apakah ia akan berhasil menjalani misi itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan maggie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Yan dan ray pulang ke apartemen, mereka masuk ke dalam apartemen ray, saat masuk, ayah ray sudah ada disana, duduk di sebuah sofa.
"dia di taman sora bersama ara" ucap yan kepada pak david setelah masuk, lalu mengunci pintu.
"gak sengaja ketemu" sahut ray yang masih berdiri diam di dekat pintu masuk.
"kamu nyari bahaya lagi keluar sendiri?" tanya ayah lembut.
ray hanya menunduk, melirik ayahnya sekilas, tanpa menjawab apapun.
"duduk" ucap ayahnya sambil menepuk bagian sofa panjang yang masih kosong, ray menurut, ia duduk di samping ayahnya itu.
Mereka sama-sama duduk di pinggir sofa, tersisa celah diantaranya.
Pak david duduk sedikit miring untuk menghadap ke arah ray "ray lihat ayah saat ayah sedang bicara".
Ray juga menjadi miring ke arah ayahnya, kemudian melihat nya "maaf yah, ray cuma lagi ingin sendiri tadi"
"kamu bersama teman mu?" tanya ayah kemudian.
"gak sengaja ketemu" jawab ray singkat.
"gak janjian?" tanya ayahnya lagi, ray menggeleng.
"hp mu?" tanya ayahnya, ray menunjuk ke sebuah meja di samping tempat tidur. Ia tidak membawa hpnya tadi.
Pak david menatap yan, kemudian melihat ke arah telponnya ray, yan mengerti, kemudian dia langsung mengambilnya, kemudian memberikannya pada pak david.
Pak david mengambil jari ray dan meletakkan di sisi hp untuk membukanya, kemudian mengeceknya beberapa saat.
Baru kali ini ayahnya mengecek hp nya, apa kali ini benar-benar tidak wajar? Pikir ray.
"ayah tau kamu anak yang jujur, tapi cobalah untuk mendengarkan yan, dia mencoba untuk melindungi mu" ucap ayah nya kemudian setelah meletakkan hp ray di meja depan sofa mereka duduk.
"baik yah, tapi bagaimana jika ku sedang ingin keluar sendiri?" balas ray.
Ayahnya membuka perban luka di pipi ray, ray menahan sakit. Ayahnya meletakkan perbannya di meja depan sofa lagi.
Pipi kanannya terlihat benar-benar merah, bahkan ada bagian membiru dan darah membeku di dalamnya, dan ada sedikit bagian yang benar-benar keliatan bekas luka.
"untuk kali ini ayah memaafkan mu, tapi jika kamu mengingkari janji mu sekali lagi, hanya ada dua pilihan, pindah sekolah atau mengambil paket c dan sekolah informal lainnya" ucap pak david kemudian.
"jangan yah" balas ray cepat.
"itu tergantung dirimu ray" jawab pak david cepat, kemudian berdiri mendekati yan untuk berkata "yan bantu obati lukanya sampai sembuh"
"baik bos" jawab yan, pak david keluar ruangan.
ray menyadarkan tubuhnya di sofa dan membentangkan kedua tangannya, ia merasa lega sesaat.
Yan mengambil sebuah kain dari sebuah laci, berjalan menuju kulkas, mengambil beberapa es batu dan duduk di samping ray.
"sakit" teriak ray, ketika yan baru saja menempelkan sedikit kain berisi es batu itu.
"jangan banyak bacot, sini gak" ucap yan sambil mendekatkan dirinya ke ray lagi.
"tega lo sama gua" balas ray yang sudah kembali duduk tegap, untuk menghindari yan.
"jangan banyak drama" balas yan, kemudian hendak menempelkan kain itu ke pipi ray lagi.
"yan sakit banget sumpah" keluh ray dengan tangan nya mencoba menjauhi kain berisi es batu itu dari pipinya.
"yaudah gua panggil dokter kesini" balas yan.
"udah kan kemarin" balas ray lagi.
"iya, terus katanya harus sering-sering di kompres dan minum obatnya ya" balas yan pelan tapi gemas ke ray.
ray terdiam melihat kearah yan.
Yan mencoba mengobati pipi ray lagi, ray kali ini membiarkan yan mendekati nya "aa. Aau sakit, pelan-pelan cok"
bahkan yan sendiri hampir menahan napas saat mengobati ray, takut ia terlalu kencang menekan lukanya.
"sakitt.. Udah.." ray terus mengeluh.
"jadi kena berapa tamparan lo malam itu?" tanya yan saat masih mengobati ray.
Malam setelah kejadian penculikan ara, ray pulang ke rumahnya, ayahnya langsung menyuruh ray masuk ke kamar ray dan disana sudah ada dua bodyguard ayahnya, mereka langsung memegangi ray dan ayahnya sendiri langsung menampar ray beberapa kali di bagian yang sama, pipi kanannya, hingga darah mengalir dari sisi bibir kanannya dan pipinya saat itu, bahkan hingga membengkak.
"gak tau, gua gak ngitung, aauu" balas ray masih sambil menahan sakit, kini air mata di mata kanannya keluar dengan sendirinya, karena rasa sakit.
"lagi lu dibilangin nurut aja sih, udah dikasih enak juga" balas yan.
"bacot" balas ray singkat, air mata di mata kanannya kini benar-benar mengalir.
"tahan, laki-laki kan lo" sahut yan, ray hanya mencoba menahan sakit.
Sekitar 5 menit yang panjang bagi ray.
Yan kembali mengoleskan obat dari dokter kemudian kembali membalut luka nya.
Setelah itu ray tidur dengan nyenyak di kamar apartemennya, seakan ia benar-benar kehabisan tenaga.