NovelToon NovelToon
Seseorang Yang Datang Saat Aku Rapuh

Seseorang Yang Datang Saat Aku Rapuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Cintamanis / Office Romance / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:25.2k
Nilai: 5
Nama Author: LyaAnila

"Tidak ada pengajaran yang bisa didapatkan dari ceritamu ini, Selena. Perbaiki semua atau akhiri kontrak kerjamu dengan perusahaan ku."

Kalimat tersebut membuat Selena merasa tidak berguna menjadi manusia. Semua jerih payahnya terasa sia-sia dan membuatnya hampir menyerah.

Di tengah rasa hampir menyerahnya itu, Selena bertemu dengan Bhima. Seorang trader muda yang sedang rugi karena pasar saham mendadak anjlok.

Apakah yang akan terjadi di dengan mereka? Bibit cinta mulai tumbuh atau justru kebencian yang semakin menjalar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LyaAnila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 33 : Garis Pantai yang Menenangkan

Setelah mengakhiri panggilan dari Bhima, Selena langsung menghubungi Rani untuk membicarakan tentang ajakan Bhima.

Tut.... Tut....

"Ran.... Besok sore diajak Bhima ke pantai. Lu mau nemenin gue nggak?"

"Ha.... Tumben diajak Bhima. Siapa yang hubungi Bhima duluan?" Tanya Rani penasaran.

"Gue yang hubungin. Kenapa emangnya?" Tanya Selena balik.

Tak ada jawaban dari Rani. Suasana menjadi hening sebentar. Lalu, beberapa detik kemudian Rani pun bersuara.

"Oke boleh. Besok juga gue free sampai malam. Owh ya, nanti gue main ke rumah lu lagi ya."

"Iya, bawa seblak ya. Nanti gue masakin tempe goreng," pinta Selena.

"Nghokey, kek biasanya kan. Aman itu," kata Rani.

Setelah deal-dealan itu selesai, akhirnya panggilan diakhiri. Selena pun langsung membereskan kamarnya dan mencuci peralatan makan yang belum selesai dia cuci kemarin.

Setelah semua selesai, ia langsung mandi. Disaat dia mandi, ternyata Rani sudah sampai di depan kamarnya. Ia mengetuk pintu perlahan, namun kembali tidak ada jawaban. Karena sudah diberikan kunci pintu duplikat, Rani pun langsung masuk saja.

"Astaga. Kapan lu datengnya," tanya Selena yang terkejut ketika melihat Rani sudah terduduk di sofanya.

"Barusan. Mana piring sama tempe gue," tagih Rani.

Selena tersenyum kecil. "Hehehehe. Tempe nya belum gue masak. Ntar habis ini gue masakin. Keburu gerah we," bela Selena karena ia takut terkena amukan dari Rani.

Seketika, Rani pun langsung memasang muka garang dan ia buru-buru ke dapur dan mengambil dua mangkuk untuk seblak yang sudah ia bawa. Selena pun dengan segera mengikuti Rani dan mengambil tempe, daun bawang dan bumbu-bumbu, Selena langsung meracik semuanya.

"Ah, syukurlah udah selesai. Maaf ya, lima belas menit nunggu tempenya mateng," ujar Selena dengan mata yang berusaha dibuat berbinar-binar untuk meminta belas kasih Rani.

Rani pun mengangguk dan meminta Selena untuk makan seblak mereka. Setelah menghabiskan seblak, mereka ngobrol sebentar dan memutuskan untuk tidur lebih cepat. Karena tanpa disangka Selena juga ingin sekali pergi ke pantai.

******

"Rani. Bangun yok. Kita ke supermarket dulu. Beli jajan buat nanti ke pantai," perlahan, Selena mengguncang-guncang tubuh Rani supaya segera bangun.

"Astaga. Masih jam berapa sih. Semangat banget mau ke pantai," ujar Rani sambil mengucek-ucek matanya.

"Jam 6 pagi," Respon Selena.

"Gila lu Len. Jam 8 apa jam 9 kan bisa tho, lagian juga jam segini nggak ada supermarket dekat sini yang buka. Nanti aja ah. Gue mau tidur lagi ah."

Melihat reaksi yang tidak diharapkan dari Rani, Selena pun akhirnya pasrah dan memasak nasi goreng sosis untuk mereka. Setelah nasi goreng sudah siap, Selena mandi dan Rani sudah bangun.

Tok.... Tok.... Tok....

"Len. Mandi lu?"

"Iya. Gue mandi. Tuh kalau mau makan. Udah di meja. Ambil aja. Sama itu porsi nya," teriak Selena dari dalam kamar mandi.

Rani melirik ke arah meja dan betul ada nasi goreng yang ditutup dengan tudung saji. Lima belas menit kemudian Selena sudah selesai mandi dan bergabung bersama Rani untuk menikmati nasi goreng buatannya.

Tring..... Tring....

"Iya. Halo Bhim. Kenapa?"

"Jam setengah empat sore aku jemput di depan kost ya," ujar Bhima.

"Okei. Kabarin aja kalau udah sampai."

"Oke."

Sambungan telepon pun terputus. Selena langsung meminta Rani untuk menemaninya ke supermarket untuk membeli cemilan. Karena sudah kenyang, Rani pun mengiyakan ajakan Selena.

Selesai berbelanja, sudah pukul setengah 3 siang. Keduanya pun dengan segera bersiap-siap sebelum Bhima datang.

Mobil SUV hitam berhenti tepat di depan kost Selena. Tanpa mereka sadari, waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat sore. Rani yang sudah siap dengan ransel besarnya langsung berdiri terlebih dahulu dan mengintip lewat jendela.

"Udah dateng," ucapnya singkat.

Selena menghela napas pelan. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Bukan gugup karena pantau, melainkan karena hari ini ia tau bahwa ia akan berada di ruang yang lebih tenang.

"Permisi, Selena," suara Bhima terdengar hangat.

"Ya Bhima, tunggu bentar. Kita turun." Jawab keduanya hampir bersamaan.

Setelah Selena dan Rani turun, mereka terkejut karena ada dua laki-laki yang menemani Bhima. Ada yang duduk di depan yang menyetir, berambut sedikit bergelombang dengan kacamata hitam di atas kepalanya.

"Hai cewek, gue Dion dan yang ini Bagas. Kita temennya Bhima, santai aja kalian," sapa Dion.

Bagas yang duduk di sebelah Dion mengangkat tangan menyapa kedua gadis tersebut. "Santai aja, kita ke pantai buat waras bareng, nggak diapa-apain."

"Salam kenal Dion, Bagas. Gue Rani, temennya Selena. Makasih udah ngajakin Selena ke pantai, dia udah kek zombie tuh lihat aja." Keluh Rani pada dua sahabat Bhima.

Setelah semuanya masuk mobil. Mobil pun melaju meninggalkan kawasan kost. Musik diputar pelan bukan lagu keras. Melainkan lagu lama yang nadanya menenangkan. Jalanan menuju pantai mulai lenggang. Udara di sekitar pantai sudah mulai berubah. Tidak lagi sesak, lebih asin dan lebih lapang.

Selena tanpa sengaja menyenderkan kepalanya di bahu Bhima dan memejamkan matanya.

"Sedikit tenang sepertinya dia. Tak apa Selena. Senderkan semua masalah yang sedang kamu hadapi padaku, istirahat dulu. Nanti aku bangunkan kamu," gerutu Bhima.

Dion yang melirik dari kaca mobil tengah ikut tersenyum. Untuk pertama kalinya ia melihat Bhima tenang.

******

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya sampai juga di pantai dengan langit sudah berwarna jingga. Ombak bergulung pelan, hamparan pasir putih yang hangat serta angin sepoi-sepoi mengibaskan rambut kedua gadis itu.

"Pantai disini adalah favorit gue sama Bagas. Nggak terlalu rame. Jadinya lebih tenang," kata Dion sambil menurunkan tikar.

"Bener. Makanya kita kesini aja, kalau hidup lagi ruwet mending ke laut aja. Nggak menghakimi, malah menenangkan." Tambah Bhima.

Selena tersenyum mendengar perkataan Dion dan Bhima. Ia kemudian ikut bergabung dengan Bhima, Dion, Bagas dan Rani untuk duduk dan menekuk lutut dengan pandangannya menatap laut.

"Len, lu mau main air nggak?" Tanya Rani.

"Nggak, gue mau duduk dulu."

Mendengar penolakan Selena, Rani pun bermain air sendirian. Lalu tak lama kemudian disusul oleh Dion dan Bagas. Sementara Bhima masih menemani Selena yang melamun.

"Ayah, Selena datang, Yah. Ayah pasti di ujung sana kan? Ayah ikut Selena ke pantai? Ayah, akhirnya Selena bisa merasakan sentuhan ayah. Meskipun hanya lewat angin aja." Gumam nya.

Bhima menoleh ketika mendengar gumaman kecil itu. Ia tidak langsung bertanya, melainkan ia membiarkan Selena mengeluarkan keluh kesahnya. Angin mengibaskan ujung rambut Selena. Matanya masih terpaku ke laut dengan tatapan kosong. Seolah ia sedang berbicara dengan seseorang yang hanya bisa dirasakan, bukan dilihat.

"Selena, kamu sering ke pantai dengan ayah kamu?" Tanya Bhima pada akhirnya. Suaranya dibuat selembut mungkin.

"Jarang. Ayah justru sibuk kerja. Libur pun beliau gunakan untuk istirahat aja." Ia tersenyum tipis. "Makanya, setiap kali ke pantai, gue selalu ngerasa ayah di ujung laut sana lagi merhatiin gue dan nguatin gue."

Mendengar itu, Bhima mengangguk pelan. Ia paham betul perasaan Selena. Apalagi Selena dekat dengan ayahnya.

"Kadang memang tempat tertentu menyimpan kenangan yang bahkan nggak terjadi di kehidupan kita," tutur Bhima.

Giliran Selena yang terkekeh kecil mendengar pernyataan Bhima. "Tapi lu tau, gue ngerasa capek sama diri gue sendiri."

"Capek kenapa?"

"Iya. Karena gue selalu pura-pura kuat. Selalu bilang kalau gue baik-baik aja. Padahal sebaliknya. Akhir-akhir ini gue ngerasa sedang dipermainkan seseorang dan nggak tau tujuannya apa." Selena menarik napas nya pelan.

Debur ombak datang silih berganti. Rani, Bagas dan Dion tertawa riang gembira dari kejauhan. Suara mereka samar namun terdengar hangat.

"Selena. Kamu nggak usah buru-buru menemukan jawabannya. Nggak masalah kalau kamu bingung, nggak papa kalau misalkan mau berhenti sebentar."

Untuk pertama kalinya, Selena merasakan dadanya sedikit lega. Ia kemudian menatap Bhima dan Bhima pun menatapnya balik.

"Iya ya," gumamnya. "Mungkin yang gue butuhin sekarang berhenti sejenak. Bukan terus lari." Ujarnya.

Bhima tersenyum tipis. "Betul dan kalau misalkan kamu butuh seseorang untuk duduk diam atau mendengarkan, aku ada. Maaf kemarin aku sempat menghilang."

Selena tidak merespon. Ia mengalihkan pandangannya ke arah laut dan kali ini dengan mata dan perasaan yang sedikit lebih tenang.

******

1
putri bungsu
perbanyak sabar nya ya sel
Vᴇᴇ
selena itu udaa pusing mikirin cobaan bertubi tubi malah denger tuduhan begini /Speechless/ siap" si bima hutang kata maaf sama selena
Risa Sangat Happy
Bhima kamu harus melindungi Selena dari kejahatan Gatra
@dadan_kusuma89
Selena, berpikirlah positif! Mungkin saja dengan hadirnya Bhima dalam hidupmu, akan bisa membantu dan meringankan problematika yang sedang kau alami. Kau tak perlu menutup diri untuk itu.
@Yayang Suaminya Risa
Tujuan Gatra meneror Selena kira kira apa ya
Risa and My Husband
Bhima kamu harus ada di dekat Selena terus
@dadan_kusuma89
Selena, kau butuh seseorang untuk berbagi keluh kesah, meski hanya sekedar untuk mendengarkan ceritamu. Kau harus menumpahkan itu semua, jangan kau pendam, karena lama-lama bisa konslet kalau di pendam diri sendiri terus.
Yayang Risa Always Together
Kasihan mental Selena pasti terganggu akibat teror terus menerus
Risa Nikah Dong
Bhimaa dan teman temannya cari bukti kejahatan Gatra biar cepat di tangkap polisi itu Gatra
Risa Yayang Married
Selena lain kali ke kamar mandi dulu sebelum tidur supaya ngga kebelet dong
Risa Selalu Teristimewa
Rani nyenyak tidurnya sampai Selena ke kamar mandi tetap masih tidur Rani
Risa Selalu Beautiful
Selena kamu tenangkan dirimu dulu soalnya sahabat kamu sedang menyelidiki pelaku yang teror kamu
Risa Happy With Yayang
Kasihan Selena sendirian karena sahabatnya sibuk bersama Bhima dan teman temannya
Yayang Guanteng Milik Risa
Rani kamu berbohong demi kebaikan jadi ngga usah merasa bersalah
Yayang Guanteng Milik Risa
Selena kamu pengertian banget ngga mau ganggu Rani yang sedang tidur
Risa Cuantik Yayang Tuampan
Rani, Bhima, dan teman temannya Bhima ngga tidur buat bahas rencana penyelidikan Gatra
Risa Yayang Couple Selamanya
Bhima dan teman temannya cepat tangkap orang yang meneror Selena
Risa And My Husband
Selena jangan banyak pikiran sahabat kamu sedang menyelidiki kasus kamu
Wida_Ast Jcy
tetap semangat ya bima
Wida_Ast Jcy
nggk... itu maksudnya apa Thor. nggak ya. usahakan jangan disingkat begitu ya thor🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!