NovelToon NovelToon
KEPALSUAN

KEPALSUAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Misteri / Action / Persahabatan / Romansa
Popularitas:349
Nilai: 5
Nama Author: yersya

ini adalah cerita tentang seorang anak laki-laki yang mencari jawaban atas keberadaannya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

Beberapa hari telah berlalu sejak insiden Ari dan Julian.

Kasus pembunuhan di sekolah resmi ditutup. Tidak ada kelanjutan. Tidak ada pertanyaan tambahan. Seolah semua yang terjadi hanyalah kabut tipis yang lewat—lalu menghilang. Sekolah kembali berjalan seperti biasa.

Kelvin tetap dikelilingi para siswi, tawa mereka riuh seperti tidak pernah kekurangan alasan.

Luna masih menjadi pusat perhatian para siswa, meski sebagian besar dari mereka diabaikannya tanpa sedikitpun rasa bersalah.

Adelia kembali mengobrol dengan teman-temannya, sesekali menyindir orang lain dengan senyum santai seakan dunia ini terlalu sederhana untuk ditanggapi serius.

Dan aku—

Aku kembali sendirian.

Tubuhku terbaring di atas rerumputan taman lama di halaman belakang sekolah, tepat di bawah pohon besar yang rimbun. Daunnya bergesekan pelan, ditiup angin siang yang sejuk. Cahaya matahari menyaring di sela-sela ranting, jatuh di wajahku dalam pola-pola samar.

Aku menatap langit.

Kosong, biru, tenang.

Pikiranku tidak.

Aku memikirkan kejadian beberapa hari lalu. Tentang kutukan. Tentang penyihir. Tentang betapa rapuhnya rencanaku sendiri. Semua yang kulakukan—jujur saja—lebih dekat pada keberuntungan daripada perhitungan matang. Terlalu banyak celah. Terlalu banyak kemungkinan gagal.

Dan jika aku kembali terseret ke dunia itu…

Aku tidak bisa terus mengandalkan kebetulan.

Tap. Tap. Tap.

Suara langkah kaki mendekat.

Aku membuka mata, menoleh ke arah sumber suara.

Luna berdiri tak jauh dariku.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku saat ia semakin mendekat.

Ia mendengus kecil. “Para cowok terus menggangguku. Jadi aku kabur ke sini.”

Luna lalu duduk di sampingku, bersandar pada batang pohon. Roknya terlipat rapi, rambutnya sedikit tertiup angin.

“Tolak saja mereka dengan tegas,” kataku santai.

“Aku sudah,” jawabnya. “Tapi mereka tetap datang. Seolah kata ‘tidak’ itu tidak punya arti.”

“Kalau begitu bilang saja kau sudah punya pacar.”

Ia terdiam sesaat. “Aku tidak punya. Dan mereka tidak akan percaya kalau aku tidak bisa menunjukkannya.”

“Kalau begitu ajak saja seseorang untuk pura-pura jadi pacarmu.”

“Misalnya?” Luna menoleh padaku.

“Kelvin… mungkin?”

Ia langsung menggeleng. “Tidak. Kami sahabatan sejak kecil. Kalau sampai begitu, pasti ada orang yang tersakiti. Meski hanya pura-pura.”

“Adelia?”

Luna tersentak kecil.

“Kau… tahu?”

“Kelihatan,” jawabku singkat.

Hening sejenak. Luna menatap ke depan, lalu perlahan menoleh padaku.

“…Kenapa kau tidak mengajukan diri?” tanyanya.

“Apanya?”

“Menjadi pacar pura-puraku.”

Aku mengangkat alis. “Dan kau akan menerimanya?”

Luna tersenyum kecil. “Dengan satu syarat.”

“Syarat?” tanyaku, kini menatapnya penuh.

“Jika kau mau menjadi penyihir,” katanya pelan tapi tegas, “aku akan menjadi pacar sungguhanmu.”

Aku terdiam.

“Penyihir?” ulangku. “Kau tahu aku tidak punya energi kutukan.”

“Aku tahu.” Luna mengangguk. “Tapi tidak semua penyihir memiliki energi kutukan. Di setiap era, selalu ada segelintir orang yang bertarung hanya dengan tubuh mereka sendiri—dengan senjata terkutuk, insting, dan keberanian.”

Ia menatapku serius.

“Ketika kau menghindar dari tombak rantai Ari. Ketika kau menusuk Julian… aku melihatnya. Instingmu tajam. Fisikmu cukup baik. Dan yang terpenting—kau berani mengambil resiko. Perhitunganmu mungkin belum sempurna, tapi masuk akal.”

Aku menatapnya balik. “Lalu apa untungnya bagimu?”

Luna tersenyum tipis. “Aku berasal dari empat keluarga besar. Aku terus didesak untuk dijodohkan dengan pria yang bahkan tidak kukenal.”

Ia menghela napas. “Jika kau menjadi penyihir, aku ingin memperkenalkanmu sebagai pacarku. Agar mereka berhenti mencarikan jodoh untukku.”

“Dan kau pikir mereka akan menerima pria tanpa energi kutukan?”

“Satu tahun,” jawab Luna cepat. “Aku akan membuat perjanjian. Dalam satu tahun, pacarku harus mencapai tingkat enam. Jika gagal—aku akan menerima perjodohan yang mereka pilih.”

“Dan jika berhasil?”

“Aku bebas. Selamanya.”

Aku terdiam lama.

“Kalau begitu… kenapa bukan Kelvin?” tanyaku pelan.

“Dia penyihir tingkat tujuh. Jauh lebih aman—dan jauh lebih meyakinkan dibanding aku.”

“Aku sudah memikirkannya,” jawab Luna. “Tapi jika pacarku berasal dari empat keluarga besar, syaratnya akan dinaikkan menjadi tingkat empat. Itu mustahil dicapai dalam satu tahun.”

Hening kembali turun di antara kami.

Aku menatap langit di sela dedaunan. Seharusnya, setelah semua laporan itu, aku tidak perlu lagi terlibat dengan dunia penyihir dan kutukan. Seharusnya aku bisa kembali menjadi siswa biasa.

Namun—

Entah kenapa, tawaran ini terdengar… menarik.

“Baiklah,” ucapku akhirnya.

Aku menoleh dan tersenyum.

“Akan kuterima tawaran mu.”

Mata Luna sedikit membelalak—lalu ia tersenyum lebar, lebih tulus dari yang kuduga.

Angin kembali berhembus pelan.

Daun-daun berdesir.

Dan tanpa kusadari, sebuah langkah baru telah kuambil—menuju dunia yang seharusnya tidak pernah menjadi milikku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!