NovelToon NovelToon
A DEAL WITH COLD PROFESSOR

A DEAL WITH COLD PROFESSOR

Status: tamat
Genre:Dosen / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Nikah Kontrak / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mikaelach09

Namanya Sekar Senjani Paramitha-gadis berparas lembut yang tengah menapaki tahun terakhir kuliahnya di sebuah universitas ternama di ibu kota. Namun, menjelang akhir perjalanannya, hidup justru berbalik arah. Sang ayah terjerat mabuk dan judi, meninggalkan luka yang tak kasatmata, sementara sang ibu yang rapuh harus berbaring di rumah sakit akibat hipertensi yang kian memburuk.

Di tengah hari-hari yang penuh sesak dan nyaris tanpa cahaya, hadir seorang lelaki dengan tatapan teduh sekaligus menyimpan misteri-Althaf Arsakha Dirgantara. Ia menawarkan sebuah kesepakatan pernikahan: pernikahan tanpa cinta, hanya ikatan di atas kertas, namun dengan konsekuensi yang tidak bisa Senja bayangkan.

Kegundahan pun menyeruak di hati Senja. Sebab lelaki itu bukan hanya orang asing... melainkan dosennya sendiri.

Akankah Senja menerima tawaran pernikahan yang bisa menyelamatkan keluarganya, meski harus mempertaruhkan masa depannya sendiri? Atau menolak, dan menyaksikan hidupnya runtuh perlahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB TIGA PULUH DUA

Hatiku berkecamuk. Bagian diriku ingin percaya-ingin berpegang pada kalimat samar itu seolah ada makna dalam yang belum sempat ia jelaskan. Tapi bagian lain menolak, menuding bahwa semua itu hanya cara halusnya menutupi luka yang ia ciptakan sendiri.

Aku menunduk, menatap jemariku yang kini kosong setelah genggamannya dilepaskan. Rasa hangat yang sempat singgah masih tertinggal samar, seakan mengejekku.

Lalu, dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa, ia kembali menyandarkan kepalanya, memejamkan mata. "Tidurlah, Senjani," ucapnya datar tapi terdengar tegas. "Besok banyak kegiatan yang akan kita lakukan."

Aku menatapnya lama. Tidur? Bagaimana mungkin aku bisa tidur setelah mendengar kalimat seperti itu? Kalimat yang setengahnya membuatku ingin menangis, setengahnya lagi membuatku ingin menampar wajahnya agar berhenti bermain dengan hatiku.

Aku menghela napas panjang. Aku tidak tahu apa maksud sebenarnya dari Althaf. Yang kutahu, kini aku semakin terjebak dalam kebingungan-antara benci yang ingin kupertahankan, dan harapan bodoh yang diam-diam masih tumbuh dalam diriku.

Aku terdiam, mataku masih menatap kosong ke arah jendela. Kata-kata Althaf tadi terus bergaung di kepalaku.

Untuk kebaikan kita berdua...

Apa maksudnya?

Kalimat itu terdengar seperti sebuah janji, tapi juga seperti alasan yang sengaja dibuat-buat. Seolah ia ingin aku percaya bahwa semua luka yang ia torehkan ini sebenarnya bagian dari sesuatu yang "baik".

Tapi... baik untuk siapa? Untukku? Untuknya? Atau hanya untuk menenangkan egonya sendiri?

Aku benar-benar tidak mengerti.

Jika memang dia menyesal, mengapa tak pernah sedikit pun berusaha menjelaskan? Mengapa selalu dibiarkan aku menebak-nebak, mengais makna dari serpihan kata-kata yang tidak pernah utuh?

Jika memang semua demi kebaikan, mengapa caranya selalu membuatku terluka?

Hatiku memberontak. Ada bagian dalam diriku yang ingin menepis semua itu, ingin berteriak bahwa aku sudah cukup disakiti. Tapi... ada bagian lain yang tak kalah keras suaranya, yang justru ingin menggenggam kalimat itu erat-erat. Karena di balik semua luka, aku masih ingin percaya bahwa dia peduli. Bahwa aku bukan sekadar penghuni asing di rumah kami sendiri.

Aku menatapnya dari sudut mata. Althaf sudah kembali memejamkan mata, wajahnya tampak begitu tenang, seolah percakapan singkat barusan hanyalah angin lalu.

Sementara aku? Aku justru seperti diombang-ambingkan badai.

Kenapa selalu begini?

Kenapa dia begitu mudah mengacaukan pertahananku hanya dengan satu kalimat, satu tatapan, atau satu genggaman tangan?

Kenapa aku tidak bisa benar-benar membencinya, padahal aku punya seribu alasan untuk melakukannya?

Aku menghela napas berat, mencoba menenangkan diriku. Tapi hasilnya sia-sia. Kata-kata itu tetap berputar-putar di kepalaku, menempel di hatiku.

Untuk kebaikan kita berdua...

Jika benar itu maksudnya, semoga suatu hari dia berani menjelaskan. Karena aku sudah lelah menebak, lelah menanggung luka yang katanya demi "kebaikan".

***

Bus akhirnya melambat, lampu-lampu rest area tampak berkelip dari kejauhan. Suara Pak Aris terdengar dari bagian depan.

"Kita istirahat sebentar di sini ya. Silakan ke toilet, beli makanan, atau sekadar meluruskan kaki. Tapi jangan jauh-jauh, tiga puluh menit saja."

Serentak, para mahasiswa bersorak kecil. Beberapa langsung berdiri, sebagian lain menguap dan meregangkan badan. Suasana yang tadi hening seketika riuh kembali, penuh langkah-langkah tergesa dan obrolan ringan.

Aku ikut bangkit, menurunkan ransel kecilku. Nafasku masih terasa berat-kata-kata Althaf di bus tadi masih menggema, menyesakkan dada. Aku butuh udara. Aku butuh ruang untuk kabur sejenak dari lingkaran perasaan yang terus menghimpit.

Begitu kakiku menjejak aspal, angin malam langsung menyapu wajahku. Udara dingin bercampur aroma kopi dari warung dan mie instan dari kios membuatku sedikit lega. Namun rasa tenang itu tak bertahan lama, karena di sana-dekat pintu masuk mini market-aku melihat sosok yang familier.

"Senja!" Revan melambaikan tangan, senyumnya lebar, seakan memang menungguku.

Aku tersentak kecil, lalu melangkah ke arahnya. "Revan? Lo... kok di sini?" tanyaku pelan, sedikit canggung.

Dia terkekeh ringan. "Ya jelas, nungguin Lo lah. Dari tadi lihat lo nggak turun-turun. Gue pikir ketiduran. Eh, ternyata nggak."

Senyumnya hangat, membuat dadaku terasa aneh-antara nyaman dan salah tempat. Aku membalas dengan senyum tipis, sekadar basa-basi menutupi debar yang tiba-tiba datang.

"Mau beli sesuatu? Gue temenin, yuk. Atau... mau kopi biar nggak ngantuk? Gue traktir." Revan menawarkannya dengan nada santai.

Aku hendak menjawab, tapi tiba-tiba... aku merasakannya. Tatapan itu.

Menusuk, menekan, dan terlalu akrab untuk tidak kukenal.

Refleks aku menoleh ke arah bus. Samar, di balik kaca, aku bisa melihat sosok Althaf. Duduk tegak, wajahnya separuh terbayang oleh pantulan lampu rest area. Tapi matanya... jelas-jelas tertuju padaku. Tatapan dingin, berat, seolah ingin berkata banyak hal tanpa suara.

Jantungku mendadak kacau.

Kenapa harus begini?

Kenapa setiap langkahku terasa seperti ada bayangan yang terus membuntuti, mengekang meski tanpa kata?

Aku buru-buru mengalihkan pandangan, memaksa tersenyum pada Revan. "Kayaknya gue cuma mau beli air mineral aja, Van."

"Oke, ayo." Senyumnya tetap hangat, seakan tak menyadari badai yang mengintai.

Kami berjalan beriringan, langkahku terasa berat karena tatapan yang masih menempel di punggungku. Aku menggigil saat angin malam kembali menyapu, menusuk hingga ke tulang.

"Hachiii!" Aku bersin keras, bahuku ikut terhentak. Sial. Udara dingin selalu mempermainkanku-bersin, wajah memerah, hidung gatal.

Revan langsung menoleh cepat, wajahnya berubah cemas. "Senja... lo kenapa? Masuk angin ya?"

Aku menggeleng buru-buru, mengusap hidungku. "Nggak... gue memang begini kalau kena dingin. Alergi udara dingin, nanti juga reda."

Revan menghela napas, lalu tanpa ragu melepas jaket denimnya. "Udah, pakai ini dulu."

Aku terperangah saat jaket itu disampirkan ke bahuku. Hangatnya langsung menyusup ke kulit, kontras dengan udara malam yang menggigit.

"Revan, nggak usah... lo nanti malah kedinginan," protesku pelan, hendak melepasnya.

Tapi tangannya sigap menahan, memastikan jaket itu melekat rapi di bahuku. "Udah, jangan banyak alasan, pakai aja. yang penting jangan sakit. Gue nggak mau lo bersin-bersin sepanjang jalan nanti."

Aku terdiam. Wajahku terasa semakin panas-entah karena dingin, atau karena tatapan Revan yang begitu serius, begitu dekat. Ada hangat yang tiba-tiba merambat ke dadaku, rasa yang seharusnya tidak boleh ada.

Namun di saat yang sama... bulu kudukku berdiri. Perasaan diawasi kembali menyeruak.

Perlahan aku menoleh-dan benar saja. Dari kejauhan, tepat di depan bus, berdiri sosok Althaf. Tubuhnya tegap, tangan bersedekap, sorot matanya menusuk lurus ke arahku dan Revan. Dingin. Membeku. Tapi juga menyala-dengan sesuatu yang sulit kuterjemahkan: marah, cemburu, atau sekadar pengawasan yang terlalu ketat.

Aku menelan ludah, buru-buru menunduk. Tubuhku kaku, seolah tertangkap basah melakukan kesalahan. Padahal aku hanya menerima jaket dari seorang teman.

"Lebih hangat kan sekarang?" suara Revan memecah lamunanku. Ia tersenyum lebar, sama sekali tak menyadari badai yang bergolak hanya beberapa meter darinya.

Aku mengangguk cepat, memaksa senyum tipis. "Iya... lebih baik. Makasih ya, Van."

Tapi hatiku? Sama sekali tidak tenang. Karena tatapan Althaf tadi bukan tatapan biasa. Tatapan itu seperti belenggu, membuat langkahku tak bebas, membuat pikiranku semakin kacau-antara ingin lari sejauh mungkin... atau justru berbalik, menuntut penjelasan yang selama ini tidak pernah ia berikan.

1
+62
lovyu.. ❤️
+62
tidak ada pelakor disini.. 🌚
+62
lagi 🌚
+62
jangan ada konflik lagi 🥺
+62
jangan ada konflik lagi ya 🥺
+62
apdet banyak2 🦖
+62
semoga ga ada perselingkuhan
+62: kalo ada.. aku cabut 😑
total 1 replies
Mochimo
Lanjutttt kakkk, makin seruuu..
Ria Ismail
Nextttt kak
Ria Ismail
Wawww menikah juga akhirnya
Ria Ismail
Sepertinya seruu
Roxy-chan gacha club uwu
Thor, aku hampir kehabisan kesabaran nih, kapan update lagi?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!