NovelToon NovelToon
What Is Love? "Silent Love"

What Is Love? "Silent Love"

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Keluarga / Romansa / Balas Dendam
Popularitas:451
Nilai: 5
Nama Author: SNFLWR17

Menurut Kalian apa itu Cinta? apakah kasih sayang antara manusia? atau suatu perasaan yang sangat besar sehingga tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata?.
Tapi menurut "Dia" Cinta itu suatu perasaan yang berjalan searah dengan Logika, karena tidak semua cinta harus di tunjukan dengan kata-kata, tetapi dengan Menatap teduh Matanya, Memegang tangannya dan bertindak sesuai dengan makna cinta sesungguh nya yang berjalan ke arah yang benar dan Realistis, karena menurutnya Jika kamu mencinta kekasih mu maka "jagalah dia seperti harta berharga, lindungi dia bukan merusaknya".
maka di Novel akan menceritakan bagaimana "Dia" akan membuktikan apa itu cinta versi dirinya, yang di kemas dalam diam penuh plot twist.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNFLWR17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

rahasia di balik rahasia

Di sisi lain, tepat di ruangan Tuan Hendrik—atau papa Jevan—sedang membaca dokumen-dokumen yang diberikan oleh orang suruhannya di perusahaan Victor. Dia sangat terkejut melihat angka-angka yang tercantum di dokumen tersebut.

​"Hei, bukankah mereka gila? Wah, saya sangat syok," Ujar Hendrik sambil memperbaiki letak kacamatanya yang sedikit melorot.

​"Saya juga merasa begitu, Tuan. Mereka memang sekumpulan orang gila."

​"Wow, mereka saling memanfaatkan, dan negara ini akan sangat hancur jika dipegang para orang gila ini," gumam Hendrik.

​Hendrik masih tidak menyangka permainan licik ini ternyata berskala besar.

​"Tapi tunggu, pengeluaran dana perusahaan pada nomor rekening seseorang yang tidak dikenal?" Ujar Hendrik bingung.

​"Kau hubungi orang kita di perusahaan si Victor untuk cari tahu siapa penerima uang dengan jumlah besar ini?"

​"Siap, Tuan."

​Hendrik mulai membaca satu per satu lembaran kertas dengan tatapan rumit.

​"Victor masih punya seorang putri lain? Tapi siapa dia?"

​Tiba-tiba Jevan datang, dengan langkah yang tenang.

​"Pa? Aku mau ngomong serius," Ujar Jevan yang sudah di depan Papanya.

​Hendrik yang melihat putra semata wayangnya di depannya langsung melepaskan kacamatanya, lalu berdiri dari kursi kerja dan berjalan menuju sofa.

​Jevan juga mengikuti langkah Papanya. Akhirnya, mereka berdua duduk berhadapan.

​"Kamu mau ngomong apa, hmm?" Tanya Papa Hendrik sambil menatap sayang ke arah Jevan.

​"Tapi jangan bilang ke Mama, ya? Jevan mohon."

​"Lihat dulu konteksnya. Kalau yang diharuskan Mama mu tahu, berarti Papa harus beritahu."

​Jevan yang mendengar perkataan Papanya, hanya mengembuskan napasnya pelan, sambil memilin ujung hoodie-nya.

​"Kalau begitu beri tempe saja, Pa," Canda Jevan, menatap Papanya.

​"Hahahaha, dikit lagi lucu."

​"Tapi Papa sudah ketawa."

​Akhirnya sepasang ayah dan anak ini tertawa lepas dengan lelucon yang dilontarkan oleh Jevan.

​"Sudah, emangnya apa sih yang bikin anak Papa yang ganteng ini jadi melow gini?"

​"Janji jangan bilang Mama. Nanti kalau sudah waktunya baru Papa bilangin ke Mama." Bujuk Jevan dengan mengeluarkan wajah memohonnya sehingga membuat Hendrik tidak tega, lalu menganggukkan kepalanya bertanda setuju.

​Jevan langsung tersenyum kecil, lalu dia mengeluarkan lipatan kertas dari saku hoodie-nya dan memberikannya ke Papanya.

​Hendrik langsung menerimanya, tapi sebelum membuka kertas itu dia menatap Jevan dengan heran.

​"Jangan bilang ini surat panggilan dari sekolah, boy?"

​"Ya ampun, Pa, bukan kok."

​Hendrik langsung mulai membuka lipatan kertas itu, lalu membaca pelan. Awalnya dia heran melihat logo dari Rumah Sakit milik istrinya.

​Dia semakin kaget saat ada tertulis nama pasien, yaitu Jevan. Hendrik melihat ke arah Jevan dan hanya disambut dengan senyuman hangat. Di sana dia juga baru melihat wajah putra semata wayangnya terlihat pucat.

​Lalu Hendrik melanjutkan melihat kertas itu yang ternyata adalah rekam medis milik Jevan.

​Dan saat melihat nama penyakit, dia syok berat. Tangannya bergetar dan kertas pun jatuh dari tangannya.

​Hendrik mengangkat kepalanya melihat Jevan. Dengan langkah pelan dia berjalan ke arah Jevan lalu memeluknya dengan erat. Jevan dapat merasakan bahu Papanya bergetar.

​Jevan menepuk pelan punggung Papa Hendrik. Air matanya jatuh. Dengan cepat dia mengelap air matanya.

​"Kenapa nggak bilang, Jevan? Kenapa?" Tanya Hendrik pelan.

​"Maaf, Pa. Jevan takut."

​"Nggak, hal ini Mama harus tahu," Ujar Hendrik yang melepaskan pelukannya, tapi sebelum melangkah, tangannya sudah ditahan.

​"Pa, jangan bilang ke Mama. Jevan nggak mau Mama tahu, yang berakibat Mama sedih."

​"Terus, dengan kamu diam seperti ini kami nggak sedih kalau suatu saat kami tahu? TIDAK JEVAN!"

​"Papa kecewa sama kamu. Hal sebesar ini kamu nggak kasih tahu Papa dan Mama, yang selalu menjadi orang tua kamu. Apalagi ini stadium akhir Jevan."

​Jujur, Hendrik sangat tidak tega membentak Jevan seperti tadi, tapi dia kecewa karena anak semata wayangnya sakit parah, dia sebagai orang tuanya tidak tahu apa-apa.

​"Jevan minta maaf, Pa. Jevan juga berat mau kasih tahu ke Papa apalagi Mama." Jevan sudah menangis tidak bersuara, dia berusaha menahan air matanya.

​"Terus, Alena sudah tahu?"

​Jevan yang mendengar nama Alena, sang pacar, rasanya ada ribuan jarum menusuk hatinya.

​"Belum, Jevan nggak mau Alena sedih, Pa. Apalagi dia baru aja kena musibah," Ujar Jevan sedih mengingat nasib sang pacar.

​Hendrik hanya menghembuskan napasnya secara kasar, lalu dia keluar dari ruangan meninggalkan Jevan sendiri.

​Jevan sadar diri, ini memang kesalahannya yang acuh tak acuh dengan kondisinya. Dia selalu tidak mendengarkan perkataan sahabatnya, Bagas, yang selalu menyuruhnya ke Rumah Sakit dan memberitahukan kepada kedua orang tuanya

​Dia terlalu fokus untuk menyelesaikan masalah Alena, sampai dia lupa dengan masalah kesehatannya.

​Saat penculikan Alena, Jevan sempat drop dan tidak sadar seharian tanpa pengetahuan orang-orang.

​Awalnya dia kira masih bisa diatasi, tapi ternyata dalam seminggu ini, dia merasakan bahwa tubuhnya sering lemas dan mimisan. Terkadang saat mandi rambutnya rontok. Untung saja Jevan memiliki rambut yang tebal sehingga tidak terlalu kentara rambutnya mengalami rontok parah.

​Dan saat Bunda Tiara tidak sadar seminggu, dia jadi jarang bertemu dengan Alena.

​Jevan hanya mengembuskan napas kasar sambil melihat kertas tadi sudah sangat kusut dan terlihat ada robekan kecil.

​Akhirnya dia berdiri lalu keluar dari ruangan milik Papanya.

​Di sisi Lain..

​Di salah satu gedung minimalis, Kenzo sedang duduk berhadapan dengan seorang perempuan muda yang sedang menyilangkan kakinya dengan angkuh.

​"Gimana? Apa rencana kita lanjut?" Tanya perempuan itu.

​"Lanjut, karena dia belum mati." Perempuan itu yang mendengar perkataan Kenzo hanya tersenyum sinis.

​"Wah benarkah? Kenapa nggak Lo bunuh sekalian saat itu?"

​"Akan sangat tidak menyenangkan jika dia mati terlalu cepat."

​Ujar Kenzo sambil menyalakan rokok yang sudah diapitnya di mulut.

​"Seharusnya gue yang nanya ke Lo Bukankah Rio sudah mati? Apa masih dendam?" Sambung Kenzo menatap ke arah perempuan di depannya ini.

​"Hmm, awalnya gue heran kenapa bisa secepat itu? Padahal gue belum ambil langkah sejauh itu. Btw, bagaimana dengan Alena? Lo masih ingin dendam melalui dia?"

​"Entahlah, kayaknya udah nggak. Karena gue bakal menghilangkan Bunda kesayangannya itu."

​Kenzo menatap perempuan itu dengan senyuman misterius.

​"Btw, gue dikasih tahu kalau Jevan sakit parah."

​Kenzo hanya menyeringai karena jujur dia juga kaget mendengar kabar tentang keadaan Jevan.

​"Bukankah dia terlihat baik-baik saja?" Tanya Kenzo, karena menurutnya Jevan di luar list balas dendamnya, karena memang kebetulan bahwa dia pacarnya Alena.

​"Dia tidak baik-baik saja. Apa Lo tahu saat Jevan ikut tanding Basket? Yang gue dengar saat pertandingan selesai dia pingsan dan dibawa ke Rumah Sakit, bukan ke UKS."

​Kenzo semakin heran, dia baru tahu jika saat itu Jevan sempat dibawa lari ke Rumah Sakit.

​"Oke, lupain aja. Dia mau hidup atau mati bukan urusan gue," Ujar Kenzo sambil menghembuskan asap rokok.

​Sedangkan si perempuan itu hanya menatap malas.

​"Oke, terus bagaimana dengan Bokap Lo itu?" tanya perempuan itu.

​"Tenang aja, gue punya rencana lain biar si tua bangka itu akan membusuk di penjara nantinya."

1
Michelle Flores
Menggugah hati
Tae Kook
Thor, kapan update lagi nih?
Tani
Thor, jangan diam aja, kasih kabar kalo ada kendala, kami akan terus menunggu!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!