Stella yang anak konglomerat hanya berpura-pura miskin di hadapan mertuanya. Dia menikah dengan Soni,yang merupakan karyawan swasta di sebuah bank ternama yang ternyata punya Stella sendiri. Tetapi Soni tidak tahu kalau bank itu milik mertuanya.
Semenjak Stella menikah dengan Soni,mertuanya mengira dia anak orang biasa. Dan di rumah dia di suruh kerja layaknya pembantu.
Kalau ada kesalahan sedikit dia di marahin dan di maki sama ibu mertuanya sendiri. Stella dan Soni sudah empat tahun menikah dan mempunyai putri yang sangat cantik. Sebenarnya Stella sudah capek hidup di rumah mertuanya seperti di neraka. Tetapi demi anak dia bertahan sampai akhirnya dia jenuh.
Akankah rumah tangga Soni dan Stella akan bertahan. Atau Stella memutuskan untuk bercerai dari Soni?
Ini hanya ringkasan cerita saja ya. Untuk selengkapnya silahkan di baca per bab nya ya. Terima Kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Stella keluar dari kamarnya dan menuju ke teras belakang. Dia duduk berhadapan dengan Soni yang terhalang meja.
Stella memberi map kepada Soni. Dia membukanya dan ternyata isi map tersebut yaitu surat cerai.
Soni tidak terkejut. Karena dia sudah tahu dari Lucy jika sidang cerainya sudah selesai. Soni langsung menanda tangani surat cerai.
Map-nya kamu pegang saja. Aku juga sudah simpan satu,ucap Stella.
"Baiklah. Kalo begitu surat ini aku bawa pulang."
Stella mengangguk.
"Kalo begitu aku permisi mau pulang. Besok harus kerja",pamit Soni.
"Baiklah. Minta ijin dulu sama Celia."
Soni mengangguk dan masuk ke dalam rumah sambil membawa map.
Dia berpamitan kepada semua orang yang ada di dalam dan pulang menuju ke apartemennya.
Keesokan paginya seperti biasa mereka melakukan aktivitas masing-masing. Lucy pagi-pagi setelah sarapan pergi ke toko karena untuk mengawas sekaligus membantu para karyawan karena ada yang memesan kue ulang tahun. Leo bertemu dengan teman-temannya untuk bermain golf. Sedangkan anak-anak pergi ke sekolah. Dan untuk Stella,Johan dan Rico pergi bekerja. Stella ada meeting dengan Richard, asisten Richard dan sekretaris Stella untuk mempresentasikan proyek yang ada di Luar Negeri.
Untuk Dika dan Vanda masih berada di Jakarta karena Vanda masih harus berobat akibat sakit yang di deritanya.
Dika sempat bertanya kepada Soni di mana Stella. Dan Soni menceritakan semuanya kepada Dika dan Vanda jika Stella seorang anak konglomerat. Membuat Dika dan Vanda merasa terkejut dan hampir tak percaya. Biasanya selama di Palembang mereka melihat Stella dan anaknya sungguh sederhana. Bahkan pakaiannya pun sederhana.
Tetapi melihat bukti yang Soni berikan kepada Dika dan Vanda akhirnya mereka percaya. Dan Soni juga bilang kepada Dika untuk merahasiakan ini dari orang tuanya.
Saat siang hari di waktu jam istirahat,Soni ke kantor Stella untuk menemui Stella. Soni menemui resepsionis dan mengatakan untuk bertemu dengan Stella.
"Maaf mbak,apakah ibu Stella ada",tanya Soni.
"Maaf pak sebelumnya apakah sudah membuat janji",tanya sang resepsionis.
"Bilang saja Soni dari Bank Asia mau bertemu."
"Baik pak,kalo begitu saya telepon sekretarisnya dulu."
"Baiklah."
Soni duduk di lobby hotel. Kebetulan kantor Stella berada di lantai atas.
Setelah menelepon. Sekretaris Stella,salah satu resepsionis memanggil Soni dan menyuruhnya langsung ke lantai sepuluh.
Soni masuk ke dalam lift dan menuju ke lantai sepuluh. Saat keluar dari lift,dia melihat pintu bertuliskan CEO.
Sekretaris Stella menyuruh Soni masuk keruangan Stella dan membuka pintu untuk Soni.
Stella yang sedang bekerja dengan laptopnya tidak menyadari Soni datang.
Soni duduk di kursi berhadapan dengan Stella.
"Asik banget tidak melihat siapa yang datang",tegur Soni.
Stella yang mengenali suara Soni langsung mendongak ke atas dan ternyata Soni ada di hadapannya.
"Ada apa bapak Soni datang ke sini",tanya Stella sambil tersenyum.
"Mau mengajak makan siang. Ada yang bertemu denganmu."
"Siapa",tanya Stella kembali.
"Celia nggak kamu ajak juga?"
"Kejutan. Celia ada papi yang jemput. Tadi papi telepon aku jika dia mau menjemput Celia."
Stella mengangguk.
"Ayo,aku penasaran siapa yang mau bertemu denganku. Motormu kamu taruh di sini saja. Nanti pulang ambil ke sini. Pakai mobilku saja."
"Aku tidak membawa motor. Dari apartemen aku naik taxi. Jadi tidak repot bolak balik naik motor."
"Baiklah,nanti aku antar kamu ke kantor lagi."
"Aku sudah minta ijin sama Rico jika aku hanya kerja setengah hari. Setelah ini langsung pulang."
"Ya udah yuk",ajak Stella.
Stella dan Soni keluar dari hotel dan menuju ke tempat restoran yang sudah di booking Vanda.
Stella memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Hampir saja dia tidak dapat tempat parkir. Mengingat ini jam makan siang dan banyak juga orang-orang yang makan di restoran ini. Beruntung ada satu mobil yang keluar jadi Stella langsung memarkirkan mobilnya.
Stella dan Soni turun dari mobil dan masuk ke ruangan VIP. betapa kagetnya Stella jika Dika dan Vanda yang akan dia temui.
"Loch kalian berdua ada di sini juga",ucap Stella dengan kagetnya.
"Justru mereka berdua yang mau bertemu dengan kamu",jawab Soni.
"Duduk kak",pinta Vanda.
Stella duduk di sebelah Soni berhadapan dengan Dika dan Vanda.
"Kami ke sini mau ketemu kakak. Kak Soni sudah menceritakan semuanya tentang kakak. Kami minta maaf jika ada salah selama ini atau menyakiti hati kakak",ucap Dika dengan tulus.
"Kalian tidak salah. Tidak ada yang salah dan juga tidak ada yang jahat. Semua ini hanya salah paham saja. Dan dengan pemikiran yang berbeda. Mama kalian sebenarnya baik. Hanya saja hatinya tertutup. Dia hanya melihat dari sisi dia sendiri dan mudah terpengaruh dari orang lain. Jangan merasa bersalah ya",Stella memberikan penjelasan kepada Dika.
Pelayan masuk membawa makanan yang Dika dan Vanda pesan.
"Ada yang mau ditambahkan lagi tidak",tanya Vanda.
"Udah cukup. Ini saja sudah banyak",jawab Stella saat melihat makanan.
Stella mengambil makan buat Soni dan diri dia sendiri. Walaupun sudah bercerai tetapi hubungan Stella dan Soni tetap baik.
"Kalian tinggal di mana dan kapan pulang",tanya Stella sambil mengunyah makanan.
"Kami sewa apartemen kak. Liat di online. Dan mungkin seminggu atau dua Minggu lagi kami pulang. Tergantung dari dokternya",jawab Vanda.
"Kalian pindah saja tinggal di hotel ku. Nanti ku kasih tahu pihak resepsionisnya."
"Jangan kak. Nggak enak kalo tinggal di hotel kakak. Pasti kakak kasih gratis."
"Nggak apa-apa. Kalian sudah banyak pengeluaran buat pengobatan Vanda. Kalo tinggal di hotel ku lebih aman buat Vanda. Sesekali aku jenguk kalian. Oh ya,emangnya Vanda sakit apa harus berobat lama?"
"Kanker ovarium stadium dua. Waktu Minggu kemarin kami ke Jakarta,periksa ke dokter. Dan besoknya langsung operasi pengangkatan rahim. Biar virusnya tidak menyebar. Sekarang tinggal pemulihan saja dan dokter tidak mengijinkan kami pulang sampai operasinya kering",Vanda memberi penjelasan kepada Stella.
"Waduh,bahaya juga ya. Untung anak-anak kalian sudah besar. Jadi tidak masalah buat angkat rahim demi kesembuhan Vanda.
Ya sudah,mulai sore ini aku temanin kalian pindah ke hotelku. Nanti ada yang urus kalian. Daripada hanya kalian berdua di apartemen dan sepi."
"Gak apa-apa kak. Kadang kalo Kak Soni tidak sibuk biasanya dia yang mengantar makanan buat kami",Dika menolak secara halus.
"Tidak ada penolakan Dika. Walaupun kakak dan kakak kamu sudah bercerai tetapi kita tetap keluarga. Waktu selama aku di Palembang kalian juga sangat baik sama aku. Udah pindah",ucap Stella dengan tegas.
Dika melihat Soni dan Soni mengangguk.
"Baiklah kalo begitu",ucap Dika dengan pasrah.
"Bagus,kalo begitu setelah ini kita ke apartemen kalian kemasin barang kalian dan langsung pindah ke hotel."