NovelToon NovelToon
TUKAR PASANGAN

TUKAR PASANGAN

Status: tamat
Genre:Tukar Pasangan / Selingkuh / Naik ranjang/turun ranjang / Menikah dengan Kerabat Mantan / Tamat
Popularitas:181.8k
Nilai: 5
Nama Author: Cha Aiyyu

"Karena sudah terlanjur. Bagaimana jika menambah bumbu di atas omong kosong itu?"

Asha menatap Abiyan, mencoba mengulik maksud dari lawan bicaranya. Kedua mata Asha bertemu dengan milik Abiyan, ada sirat semangat yang tergambar di sana.

"Menikahlah denganku, Ash!"

Asha seorang wanita yang hidup sebatang kara menginginkan pernikahan yang bahagia demi mewujudkan mimpinya membangun keluarganya sendiri. Namun, tiga hari sebelum pernikahannya Asha diberi pilihan untuk mengganti mempelai prianya.

Abiyan dengan sukarela menawarkan diri untuk menggantikan posisi Zaky. Akankah Asha menerima ide gila itu? Ataukah ia tetap memilih Zaky dan melajutkan pernikahannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cha Aiyyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 33

Ace menyambut Asha di depan pintu restorannya. Senyuman lebar di wajahnya yang berbinar tidak luput ia sunggingkan. Asha tiba-tiba memeluk pria blasteran itu.

Abiyan melihatnya dari dalam mobil, tangannya terkepal. ingin rasanya Abiyan turun dan meninju pria itu. Namun Abiyan tidak ingin memperkeruh situasi. Asha akan semakin kesal padanya jika ia melakukan itu.

"Hei! Ada apa?" Ace mendorong Asha sedikit demi memeriksa ekspresi wajah Asha.

Air mata menumpuk di pelupuk matanya, sebentar lagi pasti tumpah. Ace tidak ingin itu terlihat orang lain. Ia membawa Asha ke ruangannya. Mendudukkan Asha di sofa lalu beranjak ke lemari pendingin.

Ace menyodorkan minuman kaleng berenergi pada Asha. Asha menerimanya dengan memaksakan senyum diwajahnya yang tidak baik-baik saja.

"Katakan! Ada apa?"

Alih-alih menjawab Asha mengerucutkan bibir lalu menangis keras layaknya bayi. Ace mendekat menepuk-nepuk pelan punggung Asha yang bergetar, menunggu Asha lebih tenang untuk mendengar keluh kesahnya.

Ace sangat kesal jika melihat Asha menangis seperti ini. Ingin rasanya Ace menghancurkan wajah orang yang membuat Asha menangis. Tapi, siapa orang itu? Ace sendiri tidak tahu.

Sepuluh menit berlalu, Asha masih saja sesenggukan. Air matanya tidak kunjung berhenti meskipun Ace sudah memeluknya, menyalurkan energi menenangkan untuk wanita itu.

Entah berapa lama Ace mendekap Asha dalam pelukannya sampai tidak lagi terdengar isakan. Hanya napas halus dan teratur meniup dadanya. Asha tertidur.

"Bisa-bisanya kamu tertidur di saat seperti ini?" gumam Ace pelan. Ia membaringkan Asha dengan perlahan di atas sofa.

Ace merapikan rambut Asha yang menempel di pipinya. Menyeka sisa air mata di wajah wanita itu, lalu menghela napas dengan berat.

"Mengapa kamu jadi sangat cengeng, Ash?"

Ace menatap Asha yang masih tertidur pulas dari meja kerjanya. Pria itu menyibukkan diri dengan memeriksa kembali buku besar yang sebenarnya sudah ia periksa sebelum Asha datang.

Ace tidak ingin terbawa arus jika hanya berdiam dan menatap Asha tertidur di dekatnya. Ace tidak sengaja menjatuhkan buku yang di pegangnya ketika ia lagi-lagi tertarik untuk mengamati Asha.

Asha menggeliat, ia tampak terusik dengan suara buku yang terbentur lantai itu. Sedetik kemudian Asha mengerjapkan mata, membuka pelan matanya dan memindai sekeliling.

Ace menghampirinya. "Maaf, aku tidak sengaja menjatuhkan buku. Tidurlah lagi jika belum puas!"

Asha menunjukkan deretan giginya yang putih pada Ace, seolah-olah tangisannya yang pecah tadi tidak pernah terjadi.

"Maaf, Ace seharusnya aku tidak tertidur." Asha menggaruk kepalanya.

"Aku sedang sangat kesal pada Abiyan. Dia menyalah pahami aku dan tetap tidak mempercayaiku meski aku sudah berkata jujur," sungut Asha.

Berani sekali pria itu.

Ace ingin menghajar Abiyan saat ini juga jika pria itu ada di depannya. Sayangnya saat ini Ace hanya berdua dengan Asha. Marah saat ini pun tidak akan ada gunanya.

"Apa yang dia salah pahami?" Ace memilih untuk memahami situasi.

"Kemarin malam aku mual di meja makan lalu akhirnya muntah dan ibu mertuaku tiba-tiba mengatakan jika aku hamil." Asha mencoba mengingat-ingat. "Aku rasa dari situ mulainya. Abiyan mulai mengabaikan aku dan tetap tidak percaya meskipun aku menyangkal perihal kehamilan itu."

"Lalu?" Ace tampak penasaran.

"Lalu tadi pagi, Zaky melakukan hal buruk padaku."

"Apa maksudnya? Apa yang pria brengsek itu lakukan?" Tangan Ace terkepal. "Lalu, Abiyan tahu soal itu?"

Asha menggeleng, ekspresinya yang tadi tampak kesal berubah murung. "Abiyan tidak pulang sampai waktu sarapan, jadi dia tidak tahu jika Zaky hampir saja melecehkanku, atau sudah melecehkan?"

"Brengs*k. Apa yang dia lakukan padamu?" Ace berdiri dari duduknya.

"Tenang Ace!"

"Bagaimana bisa kamu memintaku tenang di saat seperti ini?" Ace menaikkan nada bicaranya.

Asha terperanjat.

"Oh, Asha maafkan aku! Aku tidak memarahimu aku hanya kesal pada pria brengs*k itu."

"Tidak apa-apa Ace. Zaky hanya memelukku dari belakang dan membisikkan kata-kata mesum setelah salah paham mengira aku having sex dengan Abiyan sebelum kami menikah. Tidak ada yang terjadi selain itu, aku berhasil menyikut ulu hatinya," jelas Asha panjang lebar.

Raut wajah Ace berubah, amarahnya perlahan luruh. "Kamu tidak apa-apa?"

Asha mengangguk lalu mengulas senyum.

"Kamu harus memberi tahu Abiyan soal ini!" titah Ace.

"Tapi aku masih kesal."

"Sudahlah, turunkan egomu dan bicarakan semuanya dengan Abiyan. Dia perlu tahu agar bisa mengambil sikap."

Asha menggerutu, menggumamkan kalimat yang sama berulang kali. "Sudah ku bilang aku sangat kesal, mengapa memintaku bicara dengan Abiyan terus, sih?"

"Kamu kesal karena Abiyan salah paham denganmu dan tidak memercayaimu? Atau sebenarnya kamu ingin Abiyan selalu memahamimu saja?"

Asha mendongak. Pandangannya bertemu dengan manik mata Ace. "Kamu mulai menyukainya?"

Asha diam, untuk mengucapkan kata tidak rasanya mengapa berat sekali. Padahal Asha yakin, jika dirinya tidak memiliki perasaan seperti itu pada Abiyan.

Sesampainya di kamar, Asha duduk di tepi ranjang. Saat ia datang Abiyan tengah mengobrol dengan Katerine dan Roy di ruang keluarga. Tidak ada yang menyadari kehadirannya, sebab Abiyan tengah serius membahas hasil pemeriksaan Asha hari ini.

Abiyan membuka pintu, tatapannya bertemu dengan Asha. Mendekat perlahan lalu mulai berbasa-basi. "Kamu sudah pulang?"

Asha mengangguk tanpa menjawab pertanyaan Abiyan. Pria itu menunduk dan menata kalimatnya beberapa kali Abiyan terlihat ingin mengatakan sesuatu namun akhirnya urung. Pria itu duduk bersimpuh di lantai, di depan kaki Asha.

Asha kembali teringat kata-kata Ace yang memintanya untuk menceritakan kejadian tadi pagi pada Abiyan.

"Maaf Asha. Aku membuatmu kesal. Aku sendiri bingung mengapa aku merasa sangat kesal ketika mendengar kabar kehamilanmu."

"Dugaan bukan kabar. Toh, sudah terbukti jika itu tidak benar."

"Iya. Apa pun itu. Intinya aku minta maaf padamu. Aku salah karena tidak berusaha memercayaimu."

Asha menatap Abiyan, ia tidak merespon apa pun.

"Aku bersalah padamu Ash. Maafkan aku!" Asha masih saja menatap Abiyan tanpa merespon permintaan maafnya.

Tatapan Abiyan terlihat benar-benar tulus. Dan ucapan Ace lagi-lagi menggedor hatinya. Asha menghela napas.

"Kamu sangat menyebalkan, Ian."

"Iya, aku tahu."

"Kamu tahu tidak? Betapa kamu sangat menyebalkan, sejak pagi kamu mengabaikan aku. Menghindari aku atas hal yang sama sekali tidak terjadi." Asha mulai mengeluarkan keluh kesahnya.

"Sudah ku katakan, bahwa aku tidak hamil," lanjutnya.

"Iya, maafkan aku karena tidak memercayai itu." Abiyan berucap lirih lalu menunduk.

"Kamu meninggalkan aku di rumah ini sendirian dan membiarkan aku menghadapi Zaky sendirian." Asha menjeda kalimatnya, memejamkan mata lalu melanjutkan. "Jika kamu ada di rumah setidaknya hal itu tidak akan terjadi."

Abiyan mendongak, merasa janggal dengan kalimat Asha yang terdengar menahan tangis.

"Aku harus bagaimana jika tadi pagi Zaky berhasil melakukannya?" tangis Asha pecah ketika tatapan keduanya bertemu.

"Melakukan apa maksudmu, Ash?"

"Dia melecehkanku di depan pintu kamar ini dan hampir menodaiku jika aku tidak segera meloloskan diri."

Abiyan membulatkan matanya. "BRENGS*K."

Abiyan berdiri lalu meninggalkan kamarnya dengan marah.

1
Juna Dong
luar biasa
D_wiwied
kirain Bella anaknya Asha, ternyata anak Rhea to.. kenapa ga nunggu Asha punya anak sendiri baru ditamatin thor 🤭😁
D_wiwied: akuuu ☝
total 2 replies
Dewiy Yanti
semakin menarik 👍👍
Ari Peny
kok end nya gk jelas gini c thor
Tini Tini
lha sdh ada KA asha dan ian?
Ari Peny
ayo lanjuuuut thor
iyz.e15
Betul... 👍
Siti M Akil
masalah nya selingkuh cuma ketahuan nya sampai tamat 🤣🤣
D_wiwied
up lg dong thor
Ari Peny
akhirnya muncul jg thor
Uswatun Hasanah
kayaknya iya
Ari Peny
kelihatannya roy mau minta zaky d bebaskan
Ari Peny
selesakan ini dulu thor baru mikir cerira baru jgn d gantung terus mkch 🙏🙏🙏
iyz.e15: Iya ya maaf maaf sebenernya ini udah tinggal dikit lagi tapi blm sempet up. Tenang selain siapin cerita baru aku juga lagi rapiin beberapa bab terakhir cerita ini biar nggak terlalu bertele-tele tapi tetep ngena. (Semoga) Dan semoga tetep sabar nunggu ya. Banyak yang perlu direvisi soalnya. Makasih udah sabar nungguin update bab baru. Big love buatmu /Heart/
total 1 replies
Nurianti Sampit
laaaammass nya author nih
Ari Peny
akhirnya muncul jg thor 🙏🙏🙏
iyz.e15: maaf yaa agak lama up bab barunya. selain ada kendala di kesehatan aku pun lagi persiapan karya baru nih. Makasih atas pengertiannya dan makasih juga karena gak bosen nungguin aku up. 🙏🙏🙏
total 1 replies
Uswatun Hasanah
lanjut
D_wiwied
next
Ari Peny
waaaah akhirnya t roy malu gk gmn msh bangga dgn zaky
Uswatun Hasanah
mantap
D_wiwied
benar2 orang yang gatau diri nih si rhea😠
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!