Zuri Keilana Wesley adalah putri sulung dari keluarga Wesley.
Gadis naif yang selalu berharap ada yang mencintainya dan menerimanya.
Tepat beberapa hari setelah kekasihnya yang telah ia taksir selama 20 tahun melamarnya, pria itu justru melakukan perbuatan tercela yang tak bisa Zuri maafkan meski ia berlutut memohon ampun.
Ethan Aviel Leon, tunangan Zuri kedapatan telah berselingkuh dengan adik kandung Zuri yaitu Leona Agatha Wesley.
Marah dan sakit hati membawa Zuri pada situasi yang pelik serta rumit.
Dan disaat itulah ia memikirkan balas dendam pada kedua pengkhianat itu dengan membuat perjanjian nikah bersama pria yang paling ia benci yaitu Davian Maverick Junior yang juga sedang diincar oleh Leona adiknya.
Davian dan Zuri sama-sama memiliki kepentingan dalam pernikahan ini.
Akankah pernikahan kontrak itu berubah jadi pernikahan manis atau sebaliknya?
yuk simak...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
darah lebih kental daripada air
"Kau hamil Zuri?"
Sebuah kalimat yang cukup membuat Zuri kelagapan.
Zuri berusaha bersikap acuh dan kembali mendorong troli belanjaanya.
"Zuri... tunggu...!" cegat Leona menahan troli.
"Leona lepas...! Jangan buat keributan disini" ujar Zuri dengan nada rendah namun tegas agar pengunjung lain tidak terfokus pada mereka.
"Kita harus bicara dan jelaskan padaku semuanya...!"
Baru saja Zuri akan menolak tapi Leona tidak akan membiarkan perempuan itu pergi begitu saja tanpa menjelaskan apapun padanya.
Leona membawa Zuri masuk kemobilnya karena dirasa itu adalah tempat paling aman untuk mereka berbicara.
Dua kakak beradik yang tak pernah akur itu untuk pertama kalinya duduk bersama.
"Apa maumu?" tanya Zuri setelah beberapa menit mereka diam.
Mata Leona melirik perut Zuri yang cukup terlihat ketika dia duduk.
Menyadari hal itu, Zuri berusaha menutupinya dengan tangannya.
"Apa Davian tahu kondisimu?" hal yang pertama Leona tanyakan.
Zuri menggeleng.
"Dia tidak perlu tahu dan ini adalah bayiku"
Leona membuang nafas kasar.
"Bercerailah darinya. Aku tidak ingin kau dihina oleh pria itu terus-menerus!" ujar Leona.
"Atas dasar apa kau meminta itu? Kita tidak sedekat itu Leona... Dan mengenai hidupku, kau jangan ikut campur. Aku bisa mengurusnya sendiri!"
"Zuri...!" Leona berusaha meredam amarahnya.
"Ya... kau benar. Kita tidak sedekat itu untukku ikut campur urusan mu. Tapi walau bagaimanapun, kau tetaplah kakakku dan aku adikmu. Hubungan kita bukan saudara tiri tapi kandung... Ada darah yang sama mengalir di tubuh kita. Darah keturunan Wesley!"
Terdengar tawa sinis dari Zuri.
"Berhentilah berpura-pura Leona! Aku tidak akan tertipu lagi oleh mu. Cukup dulu aku begitu bodoh dan berhasil kau kerjai. Sekarang aku berbeda dengan Zuri yang dulu polos" ujarnya.
Leona menatap sayu pada Zuri.
Ia sadar diri karena telah banyak menyakiti hati kakaknya ini.
"Jika kau bertanya kenapa aku menggoda Ethan, itu karena aku tidak ingin pria itu memanfaatmu karena aku sempat mendengar jika Ethan akan menggunakanmu sebagai alat untuk bisnis keluarganya yang dalam masalah... Dia bukan seperti yang kau pikirkan! Lalu soal Davian...."
Leona memperhatikan reaksi Zuri saat ia menyebut nama Davian.
"Aku tidak menyukai Davian...! Dia bukan tipeku. Aku hanya ingin kakek tidak memaksamu dan kau tetap bebas menjalani hidupmu dan cita-cita mu di London..." jelas Leona panjang lebar.
Zuri memijit-mijit jari-jarinya.
Jauh dilubuk hatinya, ia begitu tersentuh oleh apa yang dilakukan Leona padanya demi hanya ia bebas dari perjodohan dan juga pria yang akan memanfaatkan cinta tulusnya.
"Terserah kau percaya atau tidak. Tapi itulah kebenarannya... Meski demikian, tidak bisa serta merta menghapus apa yang telah aku perbuat padamu dimasa lalu" lagi Leona berbicara.
Terlihat Leona menghapus setitik airmata yang jatuh dipipinya secara kasar.
Tapi Zuri masih menyimpan amarah pada Leona sehingga semua yang telah Leona ucapkan hanya sekedar bualan baginya.
Zuri keluar dari mobil Leona tanpa mengucap apapun.
Dan Leona hanya bisa menatap punggung Zuri yang semakin menjauh.
Bahunya bergetar.
Tangisnya semakin kuat.
Ia menyayangi Zuri lebih dari apapun walaupun tanpa disadari jika dia selalu membuat kakaknya itu menangis karena ulahnya.
Dulu orangtuanya sangat memanjakan Zuri dan selalu membanggakan kakaknya itu sehingga Leona kecil sempat merasa jika Zuri adalah saingannya. Namun semenjak Leona hampir m*ti tenggelam di kolam ikan kakeknya, seketika kedua orangtuanya berubah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Davian masih berada dikantornya.
Ia enggan sekali untuk pulang.
Ada kehampaan dirumah itu ia rasakan sejak Zuri pergi dan memutuskan tinggal di kediaman kakeknya.
"Pak bos... Apa anda akan tinggal di kantor lagi? Ini sudah hampir seminggu ada tidak pulang" ujar Gama yang menemaninya.
"Sebentar lagi... Aku sedang menyelesaikan sedikit pekerjaan ku yang tertunda..." sahut Davian tanpa menatap Gama yang berdiri di seberang meja kerjanya.
"Kau pulanglah.... Aku bisa menyetir sendiri!" ujar Davian lagi.
"Tidak pak bos.... Saya akan menemani anda disini"
"Tidak... Aku ingin sendiri" sahut Davian tidak ingin ditemani.
Dengan berat hati, Gama akhirnya pergi dan meninggalkan Davian.
Davian memutar kursinya menghadap jendela besar di belakangnya.
Matanya jauh memandang langit yang gelap dan hanya ada beberapa cahaya dari gedung-gedung sekitarnya.
Ia masih terngiang akan pertemuannya tadi siang dengan Zuri yang sialnya melihat ia dan Nia berciuman.
"Tidak mungkin Zuri cemburu! Dia bukan perempuan seperti itu... Dia hanya perempuan tamak yang menghalalkan segala cara untuk bebas dari keluarganya" Davian bermonolog pada dirinya.
Ting....
Pesan masuk ke ponsel Davian.
Ponsel yang khusus ia pakai untuk urusan pribadinya.
Ada banyak foto yang dikirim oleh orang suruhannya.
Davian tersenyum miring saat membuka satu-persatu foto itu.
Matanya memancarkan kilatan emosi.
"Tunggu saja... Aku akan mengakhirinya dengan sebuah kenangan yang tidak bisa kau lupakan bahkan kau akan berfikir untuk kembali menatap dunia!"
Davian kembali mematikan ponselnya dan memasukan ke dalam laci paling bawah meja kerjanya lalu mengunci rapat.
Entah apa yang sedang dia mainkan dan dia rencanakan saat ini tapi yang jelas, ini akan menyelamatkan beberapa pihak yang terlibat dalam kebohongan ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Davian mengarahkan mobilnya menuju rumah mendiang sang kakek.
Ia merindukan sosok pria itu selain itu, ada seseorang yang ingin ia temui disana.
Rodeo terkejut saat membuka pintu.
"Selamat malam Rodeo..." sapanya kepada orang kepercayaan Edgar.
"Selamat malam tuan Davian..." ingin sekali Rodeo bertanya kenapa Davian ada disini malam-malam tapi kalimat itu tertahan di tenggorokan.
Bagaimanapun juga, ini masih rumah Davian dan dia hanyalah kepala pelayan disana.
"Apa anda sudah makan malam tuan? Jika belum, biar saya siapkan"
"Tidak usah... aku hanya ingin keruang baca kakek... Buatkan saja teh hijau untukku" pinta Davian yang langsung berbelok menuju ruang baca yang selalu jadi tempat favorit Edgar selain di tepi kolam ikan koi miliknya.
Rodeo menatap iba cucu majikannya itu.
Ia yang merawat Davian sedari kecil tahu betul betapa pria itu menyayangi Edgar sang kakek walaupun selalu diiringi perdebatan-perdebatan kecil diantara mereka tentang banyak hal. Terlebih saat Davian menjalin hubungan dengan perempuan bernama Nia.
Rodeo tahu, bukan harta ataupun kedudukan yang Edgar permasalahkan dengan keluarga Nia melainkan sifat keluarga perempuan itu sendiri yang membuat Edgar tidak bisa memberikan restunya.
Rodeo mengantarkan teh buatannya ke ruang baca berikut beberapa cemilan yang biasa Edgar makan ketika sibuk di tempat itu.
"Terima kasih Rodeo... kau istirahatlah... Sudah terlalu larut..." ujar Davian yang masih terfokus pada tabletnya.
Rodeo pamit undur diri. Usia yang tidak lagi muda membua dirinya gampang mengantuk.
Sudah dini hari dan Davian baru menyelesaikan pekerjaannya.
Davian membuka dua kancing kemejanya dan menggulung asal lengan kemeja.
Dengan wajah kusut dan mata mengantuk, ia berjalan ke arah dapur.
Tenggorokannya kering.
Keningnya berkerut saat mendapati lampu dapur yang menyala.
Perlahan Davian berjalan agar tidak menimbulkan suara.
Matanya kembali segar saat mendapati Zuri lah yang berada disana.
Davian tertegun melihat penampilan Zuri.
Hanya dengan dress rumahan selutut dan rambut dicepol asal, Zuri tetap menarik walaupun hanya dari belakang.
Zuri sedang memasak nasi goreng karena ia merasa lapar ditengah malam.
Saat sedang sibuk memasak sambil bibirnya bersenandung kecil, Zuri dikejutkan dengan pria yang berdiri tak jauh darinya. Pria yang seharian ini membuat moodnya buruk.
Klungtang.....
Spatula yang Zuri pegang jatuh kelantai dan menimbulkan suara gaduh.
Davian bergegas membantunya namun matanya menangkap objek yang jauh lebih mengusik hatinya.
"Zuri....? Kau....?" mata Davian terus tertuju pada perut yang terlihat membuncit.
Zuri bergegas meninggalkan dapur dan berjalan secepat mungkin meninggalkan Davian.
"Zuri tunggu..." pria itu hendak menyusul tapi kembali berbalik karena kompor yang masih menyala.
Davian tidak salah lihat.
Berbulan-bulan tidak bertemu dengan Zuri atau lebih tepatnya sejak Edgar meninggal, ia terkejut akan perubahan perempuan yang masih sah istrinya.
"Zuri buka pintunya... Zuri jelaskan padaku jika yang aku lihat itu benar... Zuri...." Davian terus mengetuk pintu kamar.
Bersambung....