semoga suka ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anak org, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bagian 24
Sudah berjam-jam mereka menunggu tapi seseorang yang sedang ditunggu dari balik pintu itu masih saja belum menunjukkan wujudnya.
Ceklek
Semua yang mendengar suara pintu dibuka akhirnya ikut berdiri dan menghampiri dokter itu dengan raut wajah bertanya-tanya.
"dokter kang, bagaimana dengan kondisi istri saya?" tanya Aryan
"begini tuan Aryan, setelah kami memeriksa keadaan nyonya Yeri tadi. Memang lukanya cukup dalam, mungkin karena terlalu lama di sayat sehingga membuat darahnya keluar sangat banyak"
"tapi tuan tidak perlu khawatir karena kami sudah berhasil menghentikan pendarahan itu. Dan kondisi nyonya Yeri saat ini sudah baik-baik saja"
"Dan sekarang nyonya sedang tertidur tuan, mungkin karena kelelahan dan akan bangun beberapa menit lagi tuan"
Mendengar penjelasan dokter kang tadi, helaan napas lega mulai terdengar.
"syukurlah dok akhirnya, mas. Yeri baik-baik saja" Aluna tersenyum manis ke arah Aryan.
Aryan menganggukkan kepalanya pelan.
"oh iya dok, apa kami bisa masuk untuk menemui pasien?" tanya Darman yang sedari tadi terus mengelus bahu Lea yang berada di pelukannya.
"bisa tuan, silahkan. Tapi saya harap kalian jangan terlalu berisik ya tuan. Karena pasien sedang beristirahat saat ini"
"iya dok. Sekali lagi terima kasih atas bantuan Anda"
"memang sudah menjadi kewajiban saya tuan untuk membantu seseorang dalam kesulitan" ujar dokter kang. Lalu berlalu dari sana, meninggalkan keluarga Wijaya yang mulai masuk satu persatu.
Setibanya mereka di dalam, Aryan menatap Yeri yang sedang berbaring di ranjang dengan tatapan sendu ke arah wajah pucat sang istri.
Dia menghampiri Yeri dan duduk di kursi samping ranjang Yeri yang sudah tersedia di sana.
Aryan mengelus pelan rambut Yeri yang sedang tertidur dan mencium telapak tangan Yeri dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.
"sayang aku mohon hiks. Jangan seperti ini lagi ya, aku takut sayang. Aku takut hiks tolong jangan lakukan hal ini lagi" lagi-lagi tangisan Aryan keluar saat melihat wajah pucat sang istri tercinta.
Lea yang berada di samping Aryan, hanya bisa mengelus rambut hitam legam Aryan. seolah ikut menenangkan kegelisahan Aryan Dengan elusan rambut itu.
Darman yang menyadari mereka saat ini sedang tidak sarapan pagi, melihat jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi Darman pun meminta tolong pada Aluna untuk membelikan makanan di kantin rumah sakit.
"Aluna, apa kau bisa membelikan sebungkus makanan dari kantin di sini nak? Kita semua belum sarapan tadi pagi"
"baik ayah, kalo begitu aku keluar dulu ya ayah, ibu, dan mas" melihat sang suami yang hanya fokus terhadap Yeri, Aluna menundukkan kepalanya sebentar lalu berlalu dari sana.
"enghh" lenguh Yeri mulai membuka kedua matanya.
"sayang! Kamu sudah bangun. Coba mana yang sakit sayang? katakan padaku, apa lengannya sakit atau apa sayang? Katakan saja padaku"
"Ah pergilah!" sentak Yeri menepis tangan Aryan yang bertengger di lengannya.
Aryan menatap Yeri dengan perasaan hancur. Bagaimana mungkin Yeri bisa bersikap seperti itu padanya.
Yeri tidak pernah seperti ini. Kalau dia sakit, pasti akan memintanya untuk memeluk dirinya sampai tertidur.
Tapi sekarang? Apa? Dirinya malah disuruh pergi, dengan suara keras itu. Membuat hati Aryan makin terluka dengan sikap Yeri saat ini.
"sayang aku-"
"enggak! hiks pergi aku bilang pergi!!"
"enggak sayang aku mohon jangan seperti ini" Aryan memeluk tubuh Yeri erat walau Yeri memberontak dalam pelukannya.
"lepasin aku hiks hiks lepasin aku!!" Yeri memukul-mukul dada bidang Aryan sembari menangis.
Aryan menahan rasa sakit di dadanya. Setiap pukulan yang Yeri hantamkan pada dadanya, tidak lebih sakit dari sakit hatinya.
Dia tetap bertahan dan mengeratkan pelukannya pada Yeri yang tetap memberontak dalam pelukannya.
•
Beberapa menit kemudian Aryan yang merasa Yeri tidak lagi bergerak resah dalam pelukannya. Menundukkan kepalanya, menatap wajah Yeri yang saat ini sedang terdiam dengan napas memburu bahkan sesekali sesenggukan karena terlalu lama menangis.
"sayang"
"mas aku mau nanya sama kamu" Yeri menatap wajah suaminya, matanya tajam tapi berkaca-kaca.
"iya sayang, tanyakan saja padaku"
"kamu pilih aku atau Aluna mas"
tanpa pikir panjang Aryan langsung menjawab dengan serius dan yakin "aku pilih kamu sayang. Aku cuma cinta sama kamu Yeri. Tidak mungkin aku mencintai orang lain selain dirimu" Aryan mengelus rambut Yeri lembut.
Yeri menarik napas dalam. Suaranya bergetar "kalo kamu memang mencintaiku... Maka ceraikan Aluna mas. Sekarang"
Seketika ruangan itu hening. Semua yang ada di sana langsung menoleh ke arah Yeri
"kenapa diem? kamu tidak mau?!" tanya Yeri saat melihat Aryan terdiam.
"oke. Kalo kamu tidak mau, lebih baik kita saja mas yang akhiri hubungan ini. Aku gak mau mas! Aku gak mau berbagi suami yang aku cintai sama wanita lain!"
"tidak ada seorang istri yang mau dimadu seperti ini mas! Tidak ada!! Dan salah satunya aku!! Aku enggak mau berbagi suami aku dengan orang lain mas!!" bentak Yeri dengan mata berkaca-kaca.
"nak-"
"enggak ibu, aku tidak mau seperti ini terus ibu hiks aku mohon"
Lea terdiam sesaat setelah melihat menantu tersayangnya menangis menatap ke arahnya. membuat ulu hatinya makin tertusuk.
"sayang, dengarkan aku dulu ya" Aryan memegang kedua pipi Yeri dan menatap lekat ke arah wajah Yeri yang sudah kembali berkaca-kaca.
"aku bakal turutin keinginan kamu itu sayang, tapi bukan sekarang. Apa kamu lupa alasan aku menikah lagi sayang? Kamu lupa akan hal itu?"
Yeri langsung terdiam dengan mata memerah.
"tidak kan, sayang? Kamu juga tahu aku sangat mencintaimu. Dan kamu juga tahu kan kalo aku tidak akan pernah berpaling darimu sayang"
"tapi kapan mas? Kapan kamu akan menceraikan Aluna, mas?" lirih Yeri.
"sampai Aluna bisa memberikan Aryan seorang anak laki-laki Yeri" ucap Darman yang sedari tadi terus terdiam.
Mereka semua pun menoleh ke arah Darman yang sedang terduduk di sofa sambil meminum kopinya.
"ayah tahu kau saat ini sedang diliputi oleh amarah, Yeri. tapi jangan lupa juga tujuan ayah menikahkan Aryan lagi. hanya untuk mendapatkan penerus, Yeri"
"ayah sangat menekankan hal itu. Dan sekarang adalah kesempatan kita untuk mendapatkan penerus itu" Darman mendekat ke arah Yeri.
"ayah janji, setelah kita mendapatkan penerus itu, ayah akan menyuruh Aryan untuk menceraikan Aluna segera mungkin Yeri"
Yeri menatap wajah serius mertuanya, lalu beralih ke arah sang suami yang juga menganggukkan kepalanya.
"yang dikatakan ayahmu benar nak. Setelah Aluna memberikan kita seorang penerus, maka Aryan akan segera menceraikan Aluna. Dan kalian bisa merawat bayi itu"
"bukankah kau sangat menginginkan seorang anak, sayang?" Lea tersenyum lebar ke arah Yeri.
Yeri menganggukkan kepalanya pelan "iya ibu... Aku sangat menginginkan seorang anak dengan mas Aryan. Dan aku akan menyayangi anak itu seperti anak kandungku sendiri ibu"
Mereka semua pun tersenyum mendengar jawaban Yeri.
"mas, kamu harus janji sama aku. Agar segera menghamili Aluna mas. Aku tidak mau loh kalo kita harus seperti ini terus"
"iya sayang aku janji"
"setelah Aluna memberi kita penerus, aku janji aku akan menceraikannya sayang. Dan kita bisa hidup bersama setelah ini dengan anak kita nanti"
"iya mas"
tanpa mereka ketahui, ada seorang wanita yang sudah mendengar semua obrolan mereka itu dari balik pintu.
Maaf kalo gak nyambung dan typo bertebaran 😁 jangan lupa di like sama komen ya❤️