Original Story by : Chiknuggies (Hak cipta dilindungi undang-undang)
Aku pernah menemukan cinta sejati, hanya saja . . . Arta, (pria yang aku kenal saat itu) memutuskan untuk menjalin kasih dengan wanita lain.
Beberapa hari yang lalu dia kembali kepadaku, datang bersama kenangan yang aku tahu bahwa, itu adalah kenangan pahit.
Sungguh lucu memang, mengetahui Arta dengan sadarnya, mempermainkan hatiku naik dan turun. Dia datang ketika aku berjuang keras untuk melupakannya.
Bak layangan yang asyik dikendalikan, membuat aku saat ini tenggelam dalam dilema.
Hati ini. . . sulit menterjemahkan Arta sebagai, kerinduan atau tanda bahaya.
°°°°°°
Airin, wanita dengan senyuman yang menyembunyikan luka. Setiap cinta yang ia beri, berakhir dengan pengkhianatan.
Dalam kesendirian, ia mencari kekuatan untuk bangkit, berharap suatu hari menemukan cinta yang setia. Namun, di setiap malam yang sunyi, kenangan pahit kembali menghantui. Hatinya yang rapuh terus berjuang melawan bayang masalalu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chiknuggies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Ibu terdengar bernafas, memberitahukan bahwa dia tetap setia mendengarkan tiap erangan dan tangisan kesedihan yang aku keluarkan. Tanpa bertanya, dia seolah tidak perduli dengan apa yang aku alami, seakan yang terpenting sekarang adalah mendengarkan setiap nafas yang tersengau keluar dari tenggorokanku.
Aku meredam tangisku, mencoba menyiapkan mental untuk melangkah sedikit dan mulai bercerita. "Airin capek bu. Capek sama masalah Airin, capek sama masalah temen-temen Airin, capek sama masalah Arta. . " Nadaku bergetar, terutama ketika menyebut nama Arta di ujung cerita.
Dengan mengusap air mata dan menyeruput kopi untuk menenangkan perasaan, aku melanjutkan. "Airin gak siap bu, dunia itu nggak sejalan sama apa yang Airin rencanain. Airin, bingung harus kemana."
"Ndo, Kalau tangan kamu penuh dan terpaksa untuk megang hal lain, selain yang ada di pelukan kamu. Kamu harus mau untuk menaruh sebagian barang tersebut sebelum mengambil yang baru." Jelasnya dengan suara statis akibat sinyal yang terganggu.
"Maksud ibu, Airin harus melepas sebagian masalah Airin gitu? Tapi gimana caranya? Terus, semua masalah Airin bukan hal receh yang bisa di lepas begitu aja bu~" Aku merengek, aku merasa bahwa solusi yang ibu berikan tidak tepat bagi kondisiku.
Namun ibu kembali menjawab keluhanku dengan elegan, sedikit kalimat yang bagaikan setetes air di gurun, menenangkan-menyegarkan.
"Masalah kamu yang penting, atau kamu yang berasumsi kalo masalah itu penting. Kamu tuh anak ibu Ndo, kamu nggak akan kalah sama hal yang kaya gitu."
Aku, masih saja terbang tinggi, menjaga khayal di batas awan, sekedar untuk mengusir Arta pergi dari kenangan. Mengingat bahwa aku pernah berada di posisi, menunggu ribuan missed call yang mungkin akan segera terjawab. Bukan hal yang rumit, bila dibandingkan dengan kepergian bapak yang membuat ibu terpaksa untuk menjadi single parent dengan impian besar.
Masalahku biasa saja bila dibandingkan dengan ibu, namun dia tetap terlihat tenang dan menerima segala masalah yang aku ceritakan. Seperti yang aku bilang sebelumnya, beliau memang sakti bukan?
"Ibu tau nggak yang paling berat itu apa? Airin suka lupa bu kalo Arta udah nggak sama Airin lagi."
Dan sakitnya selalu hadir ketika aku sadar bahwa kami tidak lagi bersama, Terkadang aku berfikir untuk tidak pernah mengingat saja, agar tetap berfikir bahwa Arta masih bersamaku. Bayang Arta, kini membuatku seakan bercumbu di dalam bara api, menjelaskan betapa aku ingin bersamanya meski perih.
aku tidak ingin mencintai Sandi karena dia sahabatku. Persetan dengan kata-kata itu yang memang pernah keluar dari mulutku, sejujurnya aku masih belum bisa melepaskan Arta, dan aku khawatir Sandi akan menjadi pelampiasanku saja, hingga hubungan kami kelak tidak akan berjalan dengan baik. Akhirnya? tidak sahabat, tidak juga kekasih, aku malah akan kehilangan salah seorang support system terbaikku. Tanggapan ku, mana mungkin aku mau!
Aku tidak ingin terjebak lagi dalam romansa buruk seperti masa lalu, aku tidak siap untuk itu. Kini, rasa cintaku kepada Arta, membuat aku menjadi khawatir untuk mendekati pria lain.
Aku pun, sampai saat ini masih belum mengetahui apa yang aku cari dalam hidup. Beberapa tahun lagi menginjak kepala tiga, tetapi, jangankan untuk menikah, pasangan bahkan perasaanku pun masih belum siap untuk ke arah sana. Di umur sekian ini, bahkan keuanganku belum stabil hingga hanya dapat memberi ibuku sedikit dari apa yang aku dapatkan.