Apakah waktu adalah dapat mengubah semuanya? Termasuk setiap kehidupan. Mungkin iya. Dan itulah yang dirasakan oleh gadis biasa yang terlempar ke dunia lain, dalam seketika dia mengubah semuanya dengan kedua tangannya sendiri.
Sebuah Negara yang amat besar harus terpecah belah menjadi dua sehingga memiliki latarbelakang yang sangat buruk.
Kehadiran gadis itu mungkin bukan main-main. Sehingga siapa saja dapat mengira bahwa gadis itu adalah 'Sebuah Ancaman'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mauraa_14, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan
"Hah? Bukankah itu dari Negaramu?" Ucap Hiragi dengan bingung, itu berlaku juga terhadap Erthan. Kedua orang itu bingung, mengapa kekuatan dari Negara Flores Utara bisa sampai di tangan Krista.
"Aku juga tidak menduganya, Paman Xion juga menyuruhku untuk memberitahukan hal ini lebih rinci, jadi aku akan pergi ke Negara Utara, kalian juga bisa ikut, itu adalah kemungkinan besar agar kita bisa menemukan cara agar Harui kembali seperti semula."
"Tidak! Aku tidak bisa meninggalkan Obelia saat ini! Harui sedang bersama Krista saat ini, bagaimana aku bisa ikut bersamamu!?"
Erthan sebenarnya juga setuju dengan apa yang diucapkan barusan oleh Hiragi. Menurut Erthan bukanlah hal bagus untuk meninggalkan Harui, sementara dirinya saat ini bukanlah dirinya yang asli.
"Apa kau akan tetap berdiam diri di sini tanpa ada celah?" Tanya Gorsa dengan nada yang sedikit tinggi, itu membuat Erthan dan Hiragi terdiam.
"Kalau begitu aku yang akan pergi." Hiragi tiba-tiba mengeluarkan suara.
"Tapi, Hiragi saat ini Harui pasti membutuhkan dirimu, walaupun dalam keadaan tidak sadar." Ucap Erthan pada Hiragi.
Hiragi juga tahu, mungkin ini adalah hal yang bodoh dilakukan, tapi ini juga adalah kesempatan emas baginya. Dia dapat mengunjungi Negara Utara yang memiliki kekuatan asli dari yang digunakan Krista. Ini merupakan informasi yang besar dan penting.
"Aku serahkan Harui padamu, Paman." Ucap tenang Hiragi sambil tersenyum.
Erthan tidak tahu harus mengucapkan apa sekarang ini. Erthan menghembuskan nafas panjang serta kesal, dan menyetujui perkataan Hiragi untuk tetap di Obelia menjaga Harui dan terus memantaunya.
"Kapan kita akan pergi?" Tanya Hiragi pada Gorsa.
"Hmm... Menurutku besok lusa pengawal akan berganti itu adalah kesempatan besar untuk kita." Ucap Gorsa dengan kedipan mata, Hiragi pun dengan bingung menatapnya.
"Hah? Kesempatan besar? Pengawal
berganti?"
...☄☄☄☄...
"Gorsa ayo!" Teriak Hiragi di depan kamarnya.
Pagi ini mereka akan menyiapkan beberapa peralatan yang akan dibawa besok. Jadi Gorsa dan Hiragi berencana akan menuju ke toko Paman Daisi, lagipula Hiragi tahu bahwa Bibi Mina pasti merindukannya.
"Kau ini pagi sekali bangun tidur, hoaaaam~" Gorsa yang terpaksa ikut karena permintaan Hiragi.
Biara harus membuka toko hari ini, jadi tidak bisa menemani, sedangkan Hiragi tidak dapat
membantu karena besok dalam beberapa hari Gorsa dan Hiragi akan menuju Negara Utara.
"Kau ini payah sekali." Ucap sinis Hiragi pada Gorsa yang masih setengah sadar.
"Hah?" Gorsa pun langsung menarik kepala Hiragi ke lekukkan tangannya, dan memberi kepalan kecil di kepala Hiragi.
Mereka berdua terus berdebat sambil tertawa keras membuat beberapa orang melirik ke arahnya.
Sedangkan Pria yang selalu dirindukan Hiragi tengah berada di Kota, untuk menemani Krista berbelanja.
"Sayang~ lihat ini, sangat cocok untukmu." Ucap Krista dengan senang, namun tidak dengan Harui. Krista dapat melihat dengan jelas bahwa pria itu termenung sedang melamun memikirkan sesuatu.
"Harui?"
"Ah-Iya, ada apa."
Krista pun memberikan semua yang dia lihat dan cocok untuk Harui. Pria itu hanya tetap terdiam dan duduk menunggu Krista selesai berbelanja, saat sedang memikirkan perempuan yang dia temui kemarin, san muncullah seseorang yang begitu mengganjal di hatinya.
"Hah? Kau ingin berkelahi? Kau kira aku takut!?" Ucap Hiragi samar-samar namun terdengar jelas di kedua telinga Harui.
"Dasar Nenek Sihir tidak tau diri!"
"Siapa yang kau bilang Nenek Sihir!?"
Hiragi mengejar Gorsa dengan kecepatan penuh namun tanpa disadari Gorsa ingin memasuki toko pakaian itu untuk bersembunyi dari amukkan Hiragi, tanpa sengaja bertemu dengan Harui. Gorsa pun terdiam sejenak melihat Harui yang begitu menatap dirinya asing.
"Ter... Tangkap... KAU!"
BRUAAAK!
Hiragi begitu kuat berlari dan langsung menabrak Gorsa tanpa berhenti alhasil membuat Gorsa terdorong terjatuh menindih badan Harui.
"Hahahaha! Gorsa apa ka-"
Deg!
Deg!
Sang malam begitu kejam pada matahari, selalu menghilang disaat dirinya hadir. Sang udara menghembuskan angin dengan kencang membuat rambut biru gelap panjang gadis itu yang sedang terikat rapi langsung terbuka bebas. Seperti layaknya bintang malam dipagi hari menjelang siang.
"Hiragi kau in-"
Gorsa memutuskan ucapannya karena sekarang dia melihat linangan air mata mengalir di kedua matanya yang besar serta iris yang unik. Karena merasa tidak enak dengan keadaan Hiragi mengusap kedua matanya dengan cepat.
"Angin tadi jahat sekali, begitu banyak pasir di kedua mataku." Hiragi berbuat alasan untuk menghilangkan kecanggungan. Hiragi menyadari telah membuat kerusuhan dan Harui menjadi sasarannya.
"Ah-maaf aku membuatmu jatuh, maafkan aku 'Tuan Muda'." Ucap Hiragi sambil. mengulurkan tangannya serta dengan lebih sopan dari yang sebelumnya. Jujur mendengar hal itu dari Hiragi hati Harui seperti teriris benda tajam, begitu pula dengan gadis itu, hatinya bagaikan badai saat mengucapkan kata itu.
Harui menerima uluran tangan itu dari Hiragi.
"Tidak masalah." Jawabnya.
"Gorsa a-"
"Kau Hiragi bukan?" Sela Harui.
Degh! Degh!
"Kau memanggilku apa? Sebut sekali lagi kumohon." Batin Hiragi dengan senang teriringi dengan kesedihan.
"Hiragi?" Panggil Harui sekali lagi. Dan sekali lagi Hiragi ingin menangis, menangis karena pria yang sangat dicintainya kini lepas sementara dari raihannya, menangis karena pria yang dicintainya kini tidak mengenalnya sementara.
Hiragi pun menghembuskan nafas berat dan
panjang, berusaha menahan semua air mata yang ingin membanjiri wajahnya.
"Benar! Aku Hiragi, Katsura Hiragi! Salam kenal!" Hiragi memperkenalkan namanya di depan orang yang sangat mengenalnya. Namun saat ini tidak, layaknya orang asing.
"Kau-"
"Keributan apa itu?~" Krista yang mulai penasaran apa yang terjadi di depan toko pun, langsung mendatanginya. Dengan terkejut Krista melihat Hiragi berhadapan dengan Harui, yang saat ini dianggap sebagai kekasihnya, yang lebih parah, Krista melihat mereka berdua saling salam tangan.
Tap!
Krista langsung meraih langsung tangan Harui agar menjauh dari Hiragi.
"Kau, kau lagi, apa kau bisa sehari tidak mengganggu kami." Ucap Krista dengan sangat benci sebenci-bencinya pada Hiragi. Karena kehadiran orang itu kini Harui berpindah hati. Padahal memang dari awal Harui tidak pernah merasakan 'cinta' pada Krista.
"Heh...~ Jangan kasar terhadap kekasihku~" Ucap Gorsa tiba-tiba dan merangkul Hiragi, menandakan bahwa gadis itu tidak sendiri.
Krista mengeritakan dahi atas perkataan Gorsa.
"Jadi Hiragi menyerah?!" Batin Krista.
"Syukurlah kau telah mendapatkan cintamu, Hiragi." Ucap Krista dengan senyuman serta tatapan remeh.
Hiragi juga wanita cerdik bukan main. Jika Krista dapat bermain mengapa dirinya tidak, jika Krista dapat merendahkannya mengapa dia tidak bisa. Hiragi langsung membalas rangkulan Gorsa, dan jujur saja mereka berdua seperti kekasih. Entah kenapa Harui merasakan panas melihatnya, padahal dia sudah ada Krista.
"benar~ saat ini Gorsa adalah kekasihku." Balas Hiragi dengan senyuman licik.
"Hahaha~ jadi Haru-"
"Tapi bukan berarti aku lupuh dari 'kekasih ku yang sebenarnya'." Sela Hiragi senang, yang mendapat kerutan di alis Krista.
"Apa ma-"
"Aku saat ini sedang menitipkan sebentar 'kekasihku' padamu." Lagi dan lagi disela oleh Hiragi. Gadis unik ini membuat Krista mati kutu dalam perkataannya tadi.
"Jaga mul-"
"Aku pasti akan menjemput kekasih ku pulang." Ucap Hiragi dan langsung mendekat ke arah Harui dengan cepat.
Pria dengan rambut hitam itu juga tidak tahu mau bicara apa, saat ini jarak Harui dan Hiragi sangat dekat, Harui juga bingung apa yang Krista dan Hiragi bicarakan, menurutnya itu adalah sesuatu yang penting, karena ingatannya saat ini, Harui tidak memahami apapun yang di katakan Krista maupun Hiragi.
Cup!
Hiragi memberi sedikit kecupan di dahi Harui dengan senyuman indah di sudut pipinya. Harui melebarkan matanya karena reaksi dari Hiragi tiba-tiba. Namun anehnya dirinya tak menolak atau menjauh, melainkan ingin selalu ada di samping gadis itu.
"Tunggu aku." Ucap Hiragi dengan tenang. Hiragi berhasil membuat pria itu terdiam kaku.
Krista yang barusan melihatnya berapi-api, bahkan sejauh ini yang Harui lakukan pada Krista hanyalah hal biasa, Harui juga selalu menyibukkan dirinya di kediaman Hans. Krista melangkahkan kakinya ke depan tepat arah Hiragi seperti ingin mengancamnya.
"Kau!"
Swuuuosh!
Harui terkekang saat melihat apa yang dilakukan gadis itu.
"Gadis ini!"
Hiragi mengeluarkan pedang besarnya dari Force Meginal serta mengarah terbalik ke arah Krista. Membuat orang-orang di sekitarnya melihat kejadian itu.
"Apa yang kau lakukan, mengarahkan pedang kepada Nona terhormat dari keluarga Hans itu adalah hukuman berat." Ucap salah satu pelayan Krista.
"Kau buta? Tidak melihat? Kemana matamu berada?" Hiragi mengeluarkan kata-kata tajam di hadapan Krista dan juga pelayannya, serta Harui dan Gorsa hanya dapat melihat.
"Pedang ini arahnya adalah ke arahku, bukan arahmu, yang mengarah padamu, adalah ganggang pedang bukan sebuah mata pedang. Peraturan kerajaan adalah! Jika mengarahkan anak pedang pada sekutu Kerajaan akan dihukum berat! Tapi lihatlah aku, aku hanya mengerahkan ganggangya, bukan mata pedangnya." Tambah Hiragi dengan tajam.
Krista saat ini seperti dijatuhkan sejatuh jatuhnya. Beberapa orang di sekitar ada yang tertawa dan bergosip tentang perlakuan Krista yang salah. Apapun yang menimpa Hiragi akan dia selesaikan, saat ini Harui tidak ada bersamanya jadi Hiragi harus bisa melakukan semua ini, kali ini.
"Gadis ini... Mempunyai Force Meginal yang sama denganku." Batin Harui dengan bingung.
Harui masih menatap dalam gadis berambut malam itu. Dia merasakan hawa-hawa tidak asing pada gadis itu, namun sangat mengenal, sangat dekat. Tangan Hiragi berdarah karena dia menahan pedang besarnya tadi di saat sedang mempermainkan Krista.
"Tanganmu bodoh!"
"Siapa yang kau sebut bodoh!?
"Nenek sihir!"
"Kaaaaaaaau.........!"
Perdebatan mereka usai, kata-kata pedas Hiragi masih mengganggu pikiran Krista. Sedangkan Harui, dia melihat beberapa tetesan darah yang dihasilkan oleh luka telapak tangan Hiragi.
"Melihat setiap gadis itu terluka, hatiku selalu gelisah serta khawatir."
Di sisi lain, Hiragi terus tersenyum. Hidup ini bagaikan pasang surut air, kadang masalah itu ada kadang permasalahan akan selesai, tetapi karang begitu tangguh tetap bertahan akan ombak besar. Begitu pula dengan Hiragi, gadis unik itu akan terus berjanji pada dirinya agar cepat mengambil Harui lagi.
"Tunggu aku, Harui."
Moga komen ma like nya tersampaikan okey, yaa walau cuma 'Abc' ma 'Xyz'😆😆
Knp sad ending????