Demi sebuah kekayaan dan ketenaran, wanita yang sudah berusia 28 tahun itu dengan tega menjual jiwa-jiwa orang yang tidak berdosa.
Bukan tak berdosa, hanya saja Kinan ingin membalas dendam atas sakit hati nya kepada penduduk kampung yang selalu menghina keluarga nya. Bahkan, ayah Kinan meninggal secara tragis di tangan kepala desa hingga membuat Kinan semakin yakin untuk membalas dendam.
Sangat mulus, ketika Kinan menumbalkan satu nyawa, maka harta kekayaan nya akan semakin bertambah. Namun, seiring berjalan nya waktu sesuatu yang instan itu tidak akan bertahan lama.
Tanpa sengaja, seorang anak pemuka agama dari kota sebelah jatuh cinta pandangan pertama pada Kinan. Di mulai dari perkenalan itu lah yang membuat hidup Kinan perlahan menjadi hancur.
Jangan lupa baca karya aku ya😊😊
Jangan lupa juga Like Vote Rate and Coment terimakasih😊😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ni R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33.Ancaman Kinan
Entah terbuat dari apa hati Kinan, setelah acara pemakaman ibu nya selesai, wanita ini terlihat biasa nya saja berbeda dengan adik nya yang masih merasa sedih atas kehilangan apa lagi ibu nya meninggal dengan keadaan tidak wajar.
Lebih parah nya lagi setiap kali acara tahlilan yang di lakukan selama tujuh hari Kinan pasti saja tidak ada di rumah membuat para tetangga kampung nya merasa aneh dengan sikap wanita itu.
Hari ketujuh kepergian ibu nya, Kinan juga tidak menampakan diri. Hanya Arka yang di dampingi Arman paman nya lah yang menyambut para tamu pengajian.
"Kinan, dari mana saja kamu?" tanya Arman pada keponakan nya itu.
"Bukan urusan mu, pergi dari rumah ku!" usir Kinan yang sangat tidak menyukai Arman.
"Paman tahu kamu sangat membenci keluarga paman. Tapi kenapa kau selalu menghindari acara tahlilan ibu mu?" tanya Arma kembali, karena biar bagaimana pun Kinan masih keponakan nya.
"Sudah ku bilang, ini bukan urusan mu. Pergi dari rumah ku!" nada suara nya meninggi.
"Kak, kenapa kakak seperti ini?" tanya Arka, "Kakak seolah tidak merasa sedih atas meninggalnya ibu."
"Tahu apa kau tentang kesedihan?" tanya Kinan pada adik nya.
Dengan sangat kasar Kinan mendorong paman nya agar keluar dari rumah nya. Arka benar-benar merasa aneh dengan perubahan sikap kakak nya ini.
Arka ingin bicara pada kakak nya, namun Kinan malah menutup telinga nya tidak mau mendengar. Semakin sedih Arka, keluarga satu-satunya yang dia miliki sekarang bersikap seperti orang asing.
Dari pagi sampai malam, Kinan berada di dalam kamar nya. Entah apa yang di lakukan wanita ini, tidak ada habis nya mengganggu ketenangan warga kampung. Yang lebih membuat Kinan marah, diri nya tidak bisa mengirim santet pada Arman atau pun Hana karena sekarang mereka masih berada di lingkungan pesantren.
Kinan mengamuk, sejak kedatangan Pandu di kampung nya, Kinan merasa jika sedikit terancam. Panas hati Kinan, pukul sembilan malam wanita itu datang menemui Pandu.
"Berhenti ikut campur urusan ku. Ini kampung ku, sebaiknya kalian pergi dari sini." mata Kinan seolah kosong namun tatapan nya sangat tajam pada Pandu.
"Dasar anak durhaka, kau tega menumbalkan ibu mu sendiri demi kesenangan dunia." ucap Pandu semakin membuat hati Kinan panas.
"Bajingan, kau akan merasakan sendiri akibat dari kau ikut campur. Kau dan lelaki tua ini harus mati." ucap Kinan membuat Pandu dan bapak nya hanya bisa menyebut dan bergeleng kepala.
"Tobat lah Kinan, apa yang sudah kau lakukan ini sangat menyimpang dari ajaran agama. Perbuatan mu ini musyrik dan sangat di benci Allah." Rahmat mencoba menasehati Kinan. Namun yang mereka dapat hanyalah ludahan dari Kinan.
"Heh, ilmu agama tidak seberapa mau menandingi ku!" ucap Kinan begitu sombong nya.
Wanita itu kemudian pergi, belum lama Kinan pergi pak Darto menghampiri Pandu dan Rahmat yang membuat anak dan bapak itu terkejut.
"Jadi, selama ini Kinan lah yang sudah menteror warga kampung?" tanya pak Darto yang sejak tadi sudah menguping pembicaraan mereka.
Pandu dan Rahmat saling pandang terdiam.
"Pak, apa benar Kinan yang sudah tega menumbalkan ibu nya sendiri?" tanya Pak Darto yang sangat penasaran.
"Sebaiknya kita bicara di dalam pak, tidak enak jika ada yang dengar." ajak pak Rahmat.
Sedikit banyak, pak Rahmat dan Pandu mulai menceritakan apa yang sudah terjadi di kampung ini. Mereka juga berterus terang tentang Kinan namun tetap saja Pandu dan bapak nya tidak mau hal ini sampai menjadi heboh karena bisa saja Kinan semakin merajalela.
Tidak mau jadi korban Kinan, apa lagi pak Darto masih ingat tentang diri nya yang dulu pernah menghina keluarga Kinan. Malam itu juga, pak Darto mengajak anak dan istri nya pergi ke rumah orang tua istri nya untuk sementara waktu.
..aku sukaaa 🥰