Novel ke-enam
Kejadian satu malam dengan pria lain akhirnya merusak kepercayaan Louis terhadap Elena. Setelah bercerai dan terpaksa meninggalkan putranya yang masih berusia dua bulan, Elena memutuskan mendekati kembali putranya yang kini berusia delapan tahun.
Karena keadaan tersebut, Elena rela dipanggil bibi oleh putranya dan menjadi orang lain demi menghindari tatapan kebenciannya.
Dengan percaya diri ia membuat kesepakatan dengan mantan suami yang menyadari kehadirannya.
"Aku jal*ang yang mempesona, kan?" senyumnya tanpa beban. "Aku hanya minta waktu satu tahun dari seumur hidup yang kau punya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosee_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trouble Maker
Elena menatap sejenak bangunan besar di depannya sebelum akhirnya melangkah masuk. Pandangannya langsung bertemu pertama kali dengan seorang waitress yang melayani pelanggannya. Waitress itu tersenyum padanya dan dibalas olehnya.
"Edith dan Joella tidak mengganggumu lagi, kan?" Setelah beberapa saat setelah mereka duduk bersama di salah satu meja.
Wanita itu, Freya, menggeleng. "Mereka justru memperlakukanku dengan baik." Freya tersenyum lembut.
Kedua wanita itu tidak lagi menjadikannya pelampiasan saat kesal. Freya ingat betul bagaimana keduanya memohon padahal tidak ada Elena saat itu. Mereka bilang apa yang terjadi pada Elena sekarang adalah karma atas perbuatan mereka meski Freya belum mengerti apa yang terjadi.
Freya sendiri tidak menyangka jika keduanya begitu tulus pada Elena. Memang benar watak tidak bisa digunakan untuk menilai seseorang. Kadang yang terlihat buruk justru lebih baik daripada yang benar-benar terlihat baik.
"Syukurlah. Aku juga ingin minta maaf dengan benar padamu sekali lagi."
"Aku tidak tahu kenapa kau selalu minta maaf. Aku tidak punya masalah denganmu."
"Kenapa berpikir begitu?"
Freya meraih tangan Elena dan menggenggamnya. "Maaf jika aku lancang menilaimu, tapi apa kau selalu menilai buruk dirimu sendiri?"
Sejauh inilah yang Freya amati dari Elena. Wanita itu mungkin berpatok pada masa lalu buruknya sehingga merasa dirinya tak pernah benar.
"Apa kau sadar kau tidak pernah melakukan apapun?"
...****************...
Flashback:
New York University (NYU), Tahun Ketiga.
Elena Joyce telah memasuki semester keenam di tahun ketiga seperti pada umumnya.
Gosip mengenai keburukan Edith, Joella dan Elena bukan lagi sekedar rumor belaka. Siapa yang tidak mengenal ketiga gadis cantik itu pada saat ini. Mereka selalu bersama-sama dan jarang berpisah di setiap kesempatan. Meski memiliki paras cantik diantara yang lain, namun mereka adalah para gadis yang sebaiknya dihindari.
Hari ini Elena hanya berjalan sendirian menelusuri isi perpustakaan tanpa Joella maupun Edith. Sudah hampir tiga jam ia berada di ruangan penuh buku ini tanpa ada yang mengganggu. Tentu saja karena tidak ada yang berani bicara padanya. Kecuali, satu orang ....
"Kau disini? Aku mencarimu di mana-mana. Kau belum makan siang, kan? Aku hanya melihat teman-temanmu." Louis. Pria yang tidak kenal menyerah untuk mendapatkannya disaat semua orang menghindarinya.
Elena tidak menolak saat Louis membukakan bungkus makanan yang pria itu bawa. Ia tidak pernah menolak apapun yang diberikan pria itu.
"Pergilah setelah ini."
"Ya?"
"Aku menghargai setiap pemberianmu, bukan berarti aku menerimamu. Ku sarankan kau menyerah sekarang sebelum terluka. Mustahil kau belum mendengar tentangku." Elena menatapnya dengan ekspresi tenang. Dirinya nyaris bosan setelah mendengar banyak rumor mengenai betapa buruk dirinya dan jangan bilang jika pria ini akan menjadi salah satu dari mereka yang akan membuat rumor juga karena penolakannya.
"Hahh ... dimana para ja*lang itu!" maki Elena, kemudian memakan makanan pemberian Louis yang tidak mengatakan apapun sekarang.
Mereka mungkin membuat masalah lagi di suatu tempat.
"Kau sudah lihat kondisi Freya hari ini? Dia menjatuhkan makanan Edith dan membuat gadis itu marah."
Elena menghentikan makannya dan melirik kepada dua gadis yang baru memasuki area perpustakaan.
"Baunya seperti sampah."
"Kau tidak lihat Joella menyiramnya dengan air sampah." Gadis yang mengatakan itu bergidik, namun mereka tertawa mengingatnya. Keduanya tidak menyadari ada seseorang yang memantau mereka.
"Hei," panggil Elena. Sontak keduanya terkejut dan membeku.
"Elena—"
"Dimana?"
"Ya?"
"Kedua jal*ng itu."
"Edith— dan Joella?" tanya mereka gugup untuk memastikan.
"Memangnya ada yang lain?" Elena menampilkan senyum paksa.
"Disana! Kantin!" jawab mereka cepat.
Elena tidak mengatakan apapun lagi. Ia mengembalikan kotak makanan yang baru dimakannya sesuap itu pada Louis begitu saja dan berlalu dari sana tanpa permisi.
Elena tidak mendapatkan apapun setelah menyusul ke kantin, tapi ada satu tempat yang begitu berantakan di lantainya. Pasti disana kejadiannya, kan. Elena hanya punya satu tempat dipikirannya dimana keduanya membawa Freya.
Ada beberapa tempat terpencil di gedung besar ini. Salah satunya digunakan Edith dan Joella untuk menghukum pengganggu bagi mereka. Hingga sampailah ia di tempat itu, gedung bagian belakang yang sangat sepi dan hampir tidak pernah dilalui orang.
Suara isakan kecil terdengar, bersaut dengan suara tawa puas. Joella tampak santai dengan sebuah rokok yang menyala di tangannya serta Edith yang bermain menggunakan kakinya karena enggan menggunakan tangannya. Sesekali bergidik geli karena penampilan Freya yang sudah tidak layak dengan bau sampah menguar dari tubuhnya.
Pandangannya bertemu— dengan Freya yang berwajah pasrah. Elena memalingkan wajahnya pada Edith dan Joella yang tersenyum padanya.
"Hai, Dear. Apa yang kau lakukan disini?" tanya Joella tersenyum lembut, melihatnya seperti itu sebenarnya sangat tidak cocok dengan perbuatannya sekarang.
"Kalian tidak lapar?"
"Kami lapar." Joella meraih tangan Elena setelah mematikan rokoknya. "Tapi, nafsu makan kami hilang karenanya."
"Ayo pergi. Aku belum makan apapun." Menarik tangan Edith dan Joella agar beranjak.
"Bagaimana dengannya?" Edith seperti enggan untuk pergi.
"Biarkan saja." Langsung membawa keduanya pergi menjauh diiringi tatapan Freya yang masih terdiam.
Flashback Off
-
-
-
-
tapi jangan pernah menjadikan alesan untuk menyakiti orang lain apalagi terjadi yg namanya pembullyan
karena kita tidak tau seluka dan setrauma apa orang yg mengalami nya.
kau tau apa yg lebih kejam dr pembullyan itu sendiri
yaitu pengambian dan tidak melakukan apa apa .
korban satu akan membuat pelaku kejahatan yg lain.
nice ending
beautiful story
mulai saat ini pelajaran buat kita karena kesalahpahaman akan membuka kejahatan yg lain
lindungi dirimu sendiri dengan melindungi orang " sekitar mu
tapi yg utama.... lindungi dirimu sendiri
bullying bukan hanya sekedar kenakalan remaja saja
apalagi terlihat teman temannya tidak ada rasa menyesal.
karena perbuatannya memberikan trauma mendalam.
jangan menormalisasikan kenakalan remaja ini
ini adalah sebuah. kriminalitas.
karena kita ga akan pernah tau,sedalam apa efek nya pada tiap korban
dan ketika membalas apa yg dia rasakan ketika dulu,dia di cap sebagai penjahat.
double standar bukan?
segala sesuatu itu tergantung sudut pandang orang 🥹🥹
ga ada dan ga akan pernah ada yg bisa membandingkan seciah cinta seorang ibu buat anaknya.
apalagi melukiskan seberapa megah dan besarnya rasa cinta ibu.
akhhh
sakitnya Ampe kedalem Thor, karena aku juga seorang ibu 🥹