Di dunia baru yang terbentang begitu luas, banyak misteri tersembunyi dan perlu dijelajahi.
Makhluk-makhluk yang bersembunyi di balik kabut, dalam hutan luas, di pegunungan tak berujung, bahkan lautan tanpa batas.
Binatang sihir yang penuh pesona, atau makhluk mengerikan yang hanya dalam mimpi buruk. Bunga-bunga indah yang melambangkan duka, atau buah yang membawa keabadian bagi pemakannya.
Ini adalah cerita tentang sihir yang penuh misteri dan terus dijelajahi. Tentang cerita para Arcanist, orang-orang yang mempelajari sihir, mencoba melangkah ke tempat tinggi, dan mengungkapkan misteri dunia.
Ini adalah kisah Ethan, yang menjadi seorang bocah yang dijual oleh pedagang budak. Seorang yang melangkah ke jalur Arcanist, dan ...
Orang yang berkelana untuk menjelajahi misteri dunia dengan tangan dan kakinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kei L Wanderer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lantern Spider
Pada saat hendak menyerang, Ethan merasakan panas yang muncul tidak jauh darinya. Bocah itu melirik ke arah Valen. Saat itu juga, dia tertegun.
Valen mengulurkan tangan kanannya ke depan. Sebuah bola api seukuran bola voli muncul dan melayang di depannya. Melihat banyak Candle Spider dengan berbagai ukuran, dia langsung menembak.
“Fire ball!” gumamnya pelan.
BOOM!
Beberapa Candle Spider langsung dihantam bola api. Sebagian yang berukuran agak kecil langsung mati, sementara sisanya masih hidup tetapi mengalami beberapa luka.
Walau Candle Spider hidup di tempat bersuhu panas dan memiliki ketahanan api, alasan kenapa fire ball bisa melukainya bukanlah karena suhu tinggi api itu sendiri. Alasannya adalah efek ledakan dan ditimbulkan ketika bola api menghantam objek tertentu.
“Tunggu Senior! Bukankah ini berbeda dengan rencananya?” ucap Ethan dengan ekspresi panik.
“Apanya yang salah?” Valen menoleh, tetapi tangan kanannya masih terulur ke depan dan lingkaran sihir merah kembali muncul.
“Bukankah rencana kita adalah memburu Candle Spider di sini lalu memanfaatkannya. Maksudku, ini bernilai banyak poin kontribusi! Benar-benar berharga!” ucap Ethan tergesa-gesa.
“Jumlahnya terlalu banyak. Seharusnya juga masih ada lebih banyak di ruangan lebih dalam. Jadi rencananya dibatalkan. Sekian.” Valen menoleh, lalu kembali membidik. “Fire ball!”
BOOM!
Melihat api menyala dan meledakkan laba-laba tidak jauh di depannya, Ethan merasakan sakit di dalam hatinya. Di matanya, mereka adalah poin-poin berharga yang bisa ditukarkan banyak hal. Melihat mereka dihancurkan benar-benar membuatnya merasa iba.
“Ethan!” seru Valen.
“Aku tahu!” balas Ethan dengan ekspresi enggan.
Melihat beberapa laba-laba yang terluka bergegas ke depan, Ethan langsung menebasnya dengan tegas. Bocah itu menghindar ke kiri-kanan sambil menebas atau menusuk kepala makhluk itu. Karena pengalaman sebelumnya, dia berhasil menangani mereka dalam satu serangan.
Tentu saja itu terjadi bukan karena dia kuat, tetapi karena Candle Spider itu masih agak muda dan terluka. Jadi dibandingkan yang diburu sebelumnya, mereka cukup rentan.
Ethan berada di bagian depan dan Valen di bagian belakang. Valen bertugas menggunakan sihir untuk menghabisi lawan, sementara Ethan bertugas untuk melindungi Valen dan membunuh beberapa laba-laba yang lolos.
Sekitar satu jam kemudian, pertempuran benar-benar selesai.
Banyak tubuh Candle Spider yang menumpuk di depan mereka berdua. Sebagian dihancurkan oleh sihir, sebagian dipotong dengan pedang. Mungkin karena tahu mereka tidak bisa menang, Candle Spider lainnya memilih untuk mundur. Melarikan diri jauh ke sarang mereka.
Valen bersandar pada dinding gua dengan ekspresi lelah. Selain melepaskan beberapa sihir, dia juga telah bertarung menggunakan pedang bersama Ethan. Sudah wajar kalau dia kelelahan.
Sementara itu, Ethan jatuh berlutut dengan ekspresi lelah dan tidak berdaya. Dia menatap ke arah tumpukan tubuh Candle Spider sambil bergumam pelan.
“Setidaknya dua wadah penuh. Satu wadah digunakan untuk memurnikan 5 botol minyak. Selain misi, satu botol minyak dihargai 200 poin. Dua wadah berarti sepuluh botol, jika dibagi dua-“
“Masing-masing seharusnya mendapatkan 1000 poin! Itu 1000 poin!”
Ethan memukul tanah, merasa sangat enggan. Benar-benar membuat Valen bingung harus berkomentar bagaimana.
Dalam pikiran Valen, mereka seharusnya bersyukur karena bisa selamat dari malapetaka. Bersyukur karena bisa melewati ini dengan aman tanpa kehilangan salah satu anggota badan. Namun, junior kikir, bocah tengil di depannya benar-benar terus menangisi uang. Berteriak pemborosan atau semacamnya!
Setelah beristirahat beberapa saat, Valen akhirnya membuka mulutnya.
“Jalan ke depan semakin berbahaya. Terima kasih karena sudah membantuku membersihkan jalan. Kamu bisa kembali sekarang, Ethan,” ucapnya dengan ekspresi tulus.
“Apa maksud dari perkataanmu itu?” Ethan langsung melihat ke arah Valen dengan ekspresi tidak puas.
“Seperti yang aku katakan, jalan di depan berbahaya. Alasan kenapa aku ke sini bukanlah Candle Spider, tetapi pergi ke tempat yang lebih berbahaya dimana harus melewati tempat ini.” Valen menatap Ethan dengan ekspresi tegas.
“Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku akan menemanimu sampai akhir. Kita akan membagi hasil setelahnya!” balas Ethan.
“Kamu-“
Swoosh!
Pada saat itu, sebuah bayangan yang sebelumnya merangkak diam-diam di belakang tumpukan tubuh Candle Spider tiba-tiba melompat dan melesat ke arah Ethan.
Valen tidak mengatakan apa-apa. Dia langsung mencabut pedang dan menangkisnya.
Ethan sendiri juga tidak lambat. Ketika merasakan bahaya sebelumnya, dia langsung melompat ke depan dan berguling beberapa kali. Bocah itu kemudian berdiri dan kembali mencabut pedangnya.
Melihat ke depan, ekspresi Ethan tampak buruk.
“Jangan bilang, ini-“
“Lantern Spider, yang bisa dibilang sebagai evolusi atau mutasi langka dari Candle Spider,” sela Valen.
Apa yang berada di depan mereka adalah seekor laba-laba sepanjang 1,5 meter. Tubuhnya berwarna abu-abu gelap nyaris hitam, warna seperti magma tampak di setiap ruas tubuhnya. Selain nyala api di bagian perut yang khas, ada juga lapisan pelindung seperti sangkar dengan ornamen indah yang menutupi bagian perutnya.
“Dari yang aku baca, kekuatan Lantern Spider ada di puncak level apprentice, kan? Bahkan hampir mencapai level Black-Arcanist?” gumam Ethan.
“Bukan hanya itu. Kerapas luar sangatlah keras, dan pelindung perut juga kokoh. Mantra fire ball tidak akan melukainya,” tambah Valen. Ekspresinya menjadi lebih serius.
“Dari ekspresimu, seharusnya bukan makhluk ini yang kamu maksud. Jadi-“
Ethan langsung bergegas ke depan. Gerakannya yang begitu tiba-tiba mengejutkan Lantern Spider. Makhluk itu langsung melompat mundur, menghindari tebasan bocah di depannya.
Melihat seorang anak yang tidak lebih besar darinya, Lantern Spider yang merasa lebih unggul langsung bergegas ke depan. Dia melompat ke arah Ethan, menerkam dan berusaha menggigitnya.
Meski begitu, Ethan tidak tinggal diam. Bocah itu memanfaatkan tubuh kecilnya untuk meluncur ke sisi kanan dan menghindari serangan. Saat itu juga, tangan kirinya terbentang ke arah kepala Lantern Spider.
Sebuah lingkaran sihir merah muncul, lalu digantikan oleh bola api.
“Fire ball!” teriak Ethan.
BOOM!
Ledakan terjadi. Ethan yang meluncur segera berlari menjauh. Saat itu juga, suara mendesis terdengar. Pada saat berpikir serangannya berhasil, bocah itu tiba-tiba terdiam.
Lantern Spider yang dihantam bola api dalam jarak dekat menggelengkan tubuhnya ke kiri dan kanan sambil membuat suara aneh. Makhluk itu kemudian melompat mundur beberapa kali, jelas memilih menjaga jarak dengan kedua lawannya.
Sepertinya serangan Ethan masih membuatnya pusing, atau mungkin otaknya terguncang. Meski begitu, sama sekali tidak ada bekas luka di tubuhnya. Benar-benar masih tampak begitu bersih seperti sebelumnya.
Valen sedikit terkejut. Dia menatap ke arah Ethan dan berkata, “Ide yang bagus, Ethan.”
“Cukup bagus, tetapi tidak berguna.” Ethan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum masam.
Valen ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya memilih untuk menutup mulut. Sementara itu, Ethan menatap ke arah Lantern Spider dengan mata menyipit.
“Ini benar-benar merepotkan.”
>> Bersambung.