NovelToon NovelToon
Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Dijual Anak, Dinikahi CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Lari Saat Hamil / One Night Stand / Anak Genius / Cinta Lansia / Mandul
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lumisse

Di usia lima puluh, Maya diceraikan karena dianggap mandul dan dijual oleh anaknya sendiri demi ambisi. Saat hidupnya hancur, ia justru mengetahui dirinya hamil dan dinikahi Raka Wijaya, CEO dingin dari keluarga terpandang. Namun pernikahan itu menyeret Maya ke pusaran warisan, rahasia kelahiran, mantan suami yang kembali, anak yang penuh penyesalan, dan wanita licik yang ingin merebut segalanya. Ketika ingatan, cinta, dan nyawanya dipertaruhkan, Maya harus memilih: tetap menjadi korban, atau merebut kembali hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Bab 27

Raka menerima kabar itu pukul lima pagi.

Maya masih tidur. Wajahnya lebih tenang daripada malam sebelumnya, satu tangan memegang ujung lengan Raka seolah takut ia hilang kalau dilepas. Raka menatap tangan itu beberapa detik sebelum mengambil ponsel dengan sangat pelan.

Pesan Bima singkat.

`Pak, pelaku mengaku uang masuk lewat rekening vendor milik Dimas. Belum tentu Dimas tahu tujuan akhirnya, tapi aliran dana ada.`

Raka turun dari ranjang tanpa membangunkan Maya.

Di ruang kerja, ia menelepon Bima.

"Jelaskan."

Bima terdengar sudah siap. "Dua pelaku mengaku disuruh membawa Bu Maya ke ruang VIP. Mereka diberi foto, jadwal acara, dan instruksi agar tidak melukai kandungan. Katanya hanya menakut-nakuti dan mengambil video seolah Bu Maya bersama pria lain."

Raka menutup mata.

Murka naik begitu cepat sampai tangannya memutih memegang meja.

"Siapa pemberi instruksi?"

"Perantara bernama Hadi. Dia biasa mengurus pekerjaan kotor untuk beberapa event organizer. Uang muka masuk dari vendor kecil yang terdaftar atas nama Dimas."

"Dimas di mana?"

"Masih di rumah sakit menemani Vina. Orang kita mengawasi."

"Bawa dia ke kantor hukum. Sekarang."

Bima ragu. "Pak, Bu Maya..."

"Jangan beri tahu dia dulu."

"Baik."

Raka menutup telepon.

Ia berdiri lama di depan jendela. Jakarta mulai terang. Kota itu bergerak seperti biasa, seolah tidak ada seorang ibu hamil yang hampir dijebak lagi karena dendam orang-orang di sekitarnya.

Di kamar, Maya terbangun dan menemukan sisi ranjang kosong.

Untuk sesaat, rasa panik naik.

Lalu ia mendengar suara Raka dari ruang kerja.

Ia bernapas lega, lalu merasa malu karena lega.

Ketika Raka kembali, Maya sudah duduk di ranjang.

"Ada masalah?" tanyanya.

Raka berhenti.

"Pekerjaan."

Maya menatapnya. "Mas Raka bohong."

"Aku tidak bohong."

"Wajah Mas seperti mau membakar gedung."

"Itu masih pekerjaan."

Maya tidak tersenyum.

"Tentang semalam?"

Raka berjalan mendekat. "Kamu baru bangun. Jangan mulai berpikir berat."

"Kalau menyangkut saya, saya berhak tahu."

Raka diam.

Maya memegang selimut. "Mas pernah bilang saya bukan tahanan."

Kalimat itu membuat Raka tidak bisa menghindar.

Ia duduk di sisi ranjang.

"Ada aliran dana dari vendor milik Dimas ke perantara yang membayar orang semalam."

Wajah Maya memucat.

Raka langsung berkata, "Belum tentu dia tahu tujuan akhirnya."

Maya tertawa kecil tanpa suara.

"Mas Raka berusaha menghibur saya?"

"Aku menyampaikan fakta."

"Faktanya uang anak saya dipakai untuk menjebak saya."

Raka tidak menjawab.

Maya menatap tangannya sendiri.

"Saya ingin bertemu dia."

"Tidak."

"Mas Raka."

"Kamu belum stabil."

"Saya harus mendengar dari mulutnya."

"Dan kalau jawabannya melukaimu?"

Maya mengangkat wajah. Matanya basah, tapi suaranya jelas.

"Saya sudah terlalu lama menunda mendengar jawaban yang menyakitkan."

Raka menatapnya lama.

Pada akhirnya ia kalah.

Tapi dengan syarat: Dimas dibawa ke kantor hukum Wijaya, Maya didampingi dokter, Bima, dan Raka. Tidak ada Bu Ratna, tidak ada Vina, tidak ada Sabrina.

Dimas datang pukul sepuluh.

Wajahnya pucat ketika masuk ke ruang pertemuan. Ia melihat Maya duduk di sofa dengan Raka di sampingnya. Di meja ada dokumen, rekaman transfer, dan foto pelaku yang ditangkap.

"Bu..."

Maya tidak menjawab salam itu.

Bima menjelaskan singkat aliran dana.

Dimas melihat dokumen satu per satu, lalu wajahnya berubah panik.

"Aku memang mentransfer uang ke Hadi, tapi bukan untuk itu!"

Raka menatapnya dingin. "Untuk apa?"

"Mbak Sabrina bilang dia bisa bantu aku masuk ke proyek event dan vendor. Hadi katanya orang lapangan. Aku diminta setor uang muka agar namaku masuk daftar rekanan. Aku tidak tahu mereka akan menyentuh Ibu!"

Maya menutup mata.

Sabrina.

Nama itu lagi.

Raka bertanya, "Kamu tidak curiga ketika Sabrina tiba-tiba menawarkan bantuan?"

Dimas menunduk.

"Aku butuh kesempatan."

Maya membuka mata.

"Kesempatan yang selalu datang dengan harga Ibu."

Dimas menatapnya, matanya merah.

"Aku tidak tahu, Bu."

"Tapi kamu tahu Sabrina membenci Ibu."

Dimas diam.

"Kamu tahu dia memakai kamu untuk mendekati Ibu."

"Aku pikir..." Dimas menelan ludah. "Aku pikir paling dia ingin membuat Ibu malu. Bukan diculik."

Ruangan hening.

Maya merasa sesuatu di dalam dirinya jatuh, lalu pecah tanpa suara.

Raka berdiri begitu cepat sampai kursi bergeser keras.

"Kamu pikir mempermalukan ibumu masih bisa diterima?"

Dimas mundur.

"Tuan Raka, saya tidak—"

"Jawab."

Dimas gemetar.

Maya mengangkat tangan. "Mas."

Raka berhenti, tapi matanya masih tertuju pada Dimas seperti pisau.

Maya berdiri pelan. Raka langsung memegang lengannya, tapi ia tetap berjalan mendekati Dimas.

"Dimas."

Anaknya menatapnya dengan wajah kacau.

"Apa Ibu pernah membuatmu malu sebesar itu?"

"Bu..."

"Jawab."

Dimas menangis. Untuk pertama kalinya sejak dewasa, ia menangis di depan Maya seperti anak kecil yang ketahuan melakukan kesalahan besar.

"Aku malu karena... karena semua orang selalu melihat aku sebagai anak cleaning service. Di keluarga Vina, mereka bertanya ibuku kerja apa. Aku bohong. Aku bilang Ibu punya usaha kecil. Aku tidak mau mereka tahu aku dulu hidup susah."

Maya mendengarkan tanpa berkedip.

"Aku tahu Ibu berkorban. Tapi setiap melihat Ibu, aku ingat masa miskin itu. Aku benci merasa kecil, Bu. Aku benci."

Maya merasa napasnya tertarik sakit.

Jadi selama ini bukan hanya uang.

Dimas malu pada hidup yang Maya perjuangkan agar ia bisa keluar dari kemiskinan.

"Ibu adalah bagian dari masa miskin yang ingin kamu buang," kata Maya pelan.

Dimas menggeleng panik. "Bukan begitu."

"Begitu."

Maya mundur satu langkah.

"Terima kasih sudah jujur."

"Bu, jangan bilang begitu. Aku salah. Aku benar-benar salah."

"Iya."

Maya mengusap air matanya sendiri.

"Tapi hari ini Ibu akhirnya berhenti bertanya apa kesalahan Ibu dalam membesarkanmu. Kesalahan Ibu bukan karena Ibu miskin. Bukan karena Ibu bekerja sebagai cleaning service. Bukan karena Ibu tidak bisa memberimu ayah. Kesalahan Ibu hanya satu: Ibu terlalu lama mengira rasa malu kamu adalah tanggung jawab Ibu untuk sembuhkan."

Dimas terisak.

Raka berdiri di belakang Maya, wajahnya gelap, tapi tidak memotong.

Maya berkata, "Mulai hari ini, urus rasa malumu sendiri."

Dimas jatuh duduk di kursi.

Pertemuan itu berakhir tanpa pelukan.

Dimas tidak ditahan hari itu karena bukti menunjukkan ia mungkin tidak mengetahui penculikan, tetapi Raka tetap menyerahkan seluruh aliran dana kepada polisi. Jika ada kebohongan, Dimas akan ikut terseret.

Di mobil pulang, Maya diam.

Raka tidak memaksanya bicara.

Sesampainya di apartemen, Maya berjalan ke kamar. Raka mengikutinya sampai pintu.

"Maya."

Ia berhenti.

"Aku ingin sendiri sebentar."

Raka menatap punggungnya.

"Baik."

Pintu tertutup.

Maya duduk di lantai kamar, memeluk lutut, dan akhirnya menangis tanpa menahan suara.

Di luar pintu, Raka berdiri diam.

Tangannya mengepal.

Ia tidak masuk.

Tapi ia juga tidak pergi.

1
naira
lanjutkan thor
jangan lama² UP nya,penasaran dengan cerita nya👍👍👍
naira
cerita nya bagus,tapi kenapa bisa sepi pembaca yaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!