Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 24
Bab 024: Live di Depan Pintu
Dimas benar-benar mengganti kunci pada hari Jumat.
Nadia mengetahuinya setelah pulang dari shift sore. Ia berdiri di depan rumah dengan tas kerja di bahu, mencoba memasukkan kunci seperti biasa. Kunci itu mentok. Ia mencoba sekali lagi, lebih pelan.
Tetap tidak bisa.
Dari dalam rumah terdengar suara televisi dan batuk Bu Marni. Jadi rumah tidak kosong. Mereka hanya memilih tidak membukakan pintu.
Nadia memotret kunci yang tidak masuk. Lalu ia mengetuk.
"Dimas."
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi. "Aku tahu ada orang di dalam."
Ponselnya berbunyi.
Dimas: Untuk sementara kamu tenang dulu di rumah ibumu. Jangan ambil barang tanpa bicara.
Nadia membaca pesan itu sambil berdiri di teras rumah yang sebagian isinya ia bayar. Dulu pesan seperti itu akan membuatnya menelepon sambil menangis. Hari ini ia mengambil screenshot.
Lalu ia menelepon Sari.
"Ma, kuncinya diganti."
Sari tidak bertanya kenapa. "Kamu masih di depan rumah?"
"Iya."
"Jangan pukul pintu. Jangan teriak. Ke warung depan kompleks. Ibu datang dengan Pak Surya."
"Aku mau masuk."
"Kamu akan masuk. Dengan saksi."
Nadia menatap pintu. Di balik pintu itu ada buku medisnya, laptop, dokumen, pakaian kerja, dan beberapa barang yang masih ia perlukan. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak ingin menerobos seperti orang yang bersalah.
Ia berjalan ke warung.
Pemilik warung, Bu Tatik, mengenalnya sebagai dokter yang sering pulang malam. Perempuan itu menaruh segelas teh hangat tanpa diminta.
"Dok, tidak masuk?"
"Nunggu orang."
Bu Tatik tidak bertanya lagi. Tapi matanya melihat pintu rumah Dimas di seberang jalan.
Satu jam kemudian, Sari datang bersama Pak Surya, Ayu, dan dua pekerja angkut. Ayu membawa tripod kecil dan ponsel cadangan.
Nadia menatap tripod itu. "Kita live?"
Pak Surya menjawab sebelum Sari. "Kita dokumentasi. Pilihannya rekam biasa atau live terbatas. Kalau live, tidak menyebut alamat lengkap, tidak menuduh tanpa bukti, tidak menyorot tetangga. Tujuannya melindungi Ibu dari tuduhan mencuri atau merusak."
Ayu menambahkan, "Judulnya bisa netral."
Sari menatap Nadia. "Keputusanmu."
Nadia melihat rumah itu. Rumah yang kemarin masih disebut "rumah kita" jika Dimas butuh uang, tetapi berubah menjadi "rumahku" saat ia menuntut hak.
"Live," katanya. "Tapi jangan provokatif."
Ayu mengetik judul: Mengambil dokumen pribadi dengan pendamping hukum.
Awalnya hanya belasan orang masuk. Lalu puluhan. Lalu ratusan. Grup warga bekerja lebih cepat daripada undangan arisan.
Pak Surya berdiri di depan pintu.
"Pak Dimas, kami datang mendampingi Ibu Nadia mengambil dokumen dan barang pribadi. Mohon buka pintu."
Tidak ada jawaban.
Sari mengetuk sekali. "Dimas, jangan buat tetangga belajar hukum gratis terlalu lama."
Pintu terbuka.
Dimas berdiri dengan wajah merah. Di belakangnya, Bu Marni sudah menangis sebelum ada yang menyentuh apa pun.
"Kalian mempermalukan keluarga!" teriak Bu Marni.
Nadia maju setengah langkah. "Saya mengambil barang saya."
Dimas melihat ponsel Ayu. "Matikan itu."
"Tidak," jawab Nadia.
"Kamu mau menghancurkan aku?"
"Aku mau masuk ke rumah tanpa dikunci."
Komentar live bergerak cepat. Ayu menjaga kamera di posisi dada, tidak menyorot alamat, tidak menyorot tetangga, hanya merekam pihak yang terlibat. Pak Surya membacakan daftar barang: dokumen pribadi, pakaian kerja, laptop, buku medis, alat pemeriksaan, beberapa barang seserahan, dan barang bergerak yang bukti belinya ada.
"Tidak ada barang Pak Dimas yang disentuh," kata Pak Surya. "Semua sesuai daftar."
Bu Marni duduk di sofa. "Menantu macam apa membawa orang luar?"
Nadia berhenti di tengah ruang tamu. "Menantu yang kuncinya diganti."
Komentar live meledak. Ayu menggigit bibir agar tidak bereaksi.
Pekerja angkut mulai memindahkan barang. Satu koper pakaian. Dua kardus buku. Laptop. Kotak dokumen. Nadia mengecek lemari sambil merekam dengan ponselnya sendiri. Ia tidak membuka laci Dimas. Ia tidak mengambil barang yang tidak ada di daftar.
Justru karena ia rapi, Dimas makin gelisah.
"Nad, jangan semua direkam."
"Kenapa?"
"Orang bisa salah paham."
"Orang salah paham kalau kamu tidak punya penjelasan."
Di rak lemari, beberapa barang tidak ada. Jam tangan kecil. Syal. Dan tas cokelat.
Nadia berhenti.
"Tas cokelatku mana?"
Dimas memalingkan wajah.
Bu Marni cepat menjawab, "Mungkin kamu taruh di tempat lain. Kamu kan pelupa kalau capek."
Nadia membuka galeri. Ia menunjukkan foto lemari sebelum ia pergi dari rumah. Tas cokelat itu jelas ada di rak kedua, dengan gantungan huruf N di talinya.
Pak Surya meminta foto dikirim. "Masukkan ke daftar barang hilang."
Dimas mendekat dan berbisik, "Nad, jangan bahas tas di depan live."
Nadia menatapnya. "Kenapa?"
"Nanti Livia ikut terseret."
Kalimat itu keluar terlalu cepat.
Ruang tamu diam.
Sari menatap Dimas.
Pak Surya mengangkat kepala dari catatannya.
Nadia merasakan darahnya seperti turun ke kaki.
"Aku belum menyebut Livia," katanya pelan.
Dimas sadar. Wajahnya pucat.
Bu Marni langsung bicara keras, "Livia siapa? Ini pasti gara-gara orang luar menghasut!"
Ponsel Nadia bergetar sebelum siapa pun menjawab.
Pesan dari nomor tidak dikenal.
Mbak Nadia, maaf. Saya tidak mau ikut campur, tapi tas cokelat itu ada di story Livia kemarin. Saya screenshot karena curiga.
Di bawahnya ada gambar.
Livia duduk di kafe hotel, tersenyum ke kamera. Tas cokelat Nadia tergantung di sandaran kursi. Gantungan huruf N masih terlihat.
Ayu tidak menyorot layar terlalu dekat, tetapi live sudah menangkap perubahan wajah Nadia dan Dimas.
Komentar bergerak liar.
Pak Surya segera berkata, "Bu Nadia, kirim screenshot itu ke saya. Jangan menyebut tuduhan baru di live."
Nadia mengirim gambar itu dengan tangan dingin.
Sari berdiri di sampingnya. Tidak menyentuh, tidak memeluk. Hanya ada, seperti dinding yang tidak mudah roboh.
"Dimas," kata Nadia, "kamu mengganti kunci bukan untuk menjaga rumah. Kamu takut aku menemukan ini."
Dimas membuka mulut. Tidak ada suara.
Bu Marni menangis lebih keras. "Foto bisa diedit!"
Pak Surya menutup map. "Untuk barang yang tidak ditemukan, kami tunggu penjelasan tertulis dua kali dua puluh empat jam. Kalau tidak, masuk somasi."
Pekerja membawa kotak terakhir keluar.
Sebelum meninggalkan ruang tamu, Nadia melihat dinding abu muda itu. Dinding yang ia pilih. Sofa yang ia bayar. Televisi yang pernah hampir ia bawa. Semua masih di sana, tetapi tidak lagi terasa seperti rumah.
Di luar pagar, Ayu menutup live. Penonton terakhir lebih dari dua puluh ribu.
Nadia berdiri di pinggir jalan, memegang ponsel.
Sari bertanya, "Kamu kuat?"
"Tidak."
"Bagus. Kalau kamu bilang kuat terus, Ibu curiga."
Nadia tertawa sekali, lalu air matanya jatuh.
"Ma, semua orang lihat."
"Yang harus malu orang yang mengunci istri dari rumah dan memberi tasnya ke perempuan lain."
Nadia menatap screenshot Livia. Anehnya, hatinya tidak pecah sekeras yang ia bayangkan. Mungkin karena retaknya sudah lama. Hari ini ia hanya melihat bentuknya dengan jelas.
Ia menulis pesan kepada Dimas sebelum masuk mobil.
Mulai sekarang semua lewat Pak Surya.
Lalu ia memblokir nada deringnya, bukan nomornya. Bukti masih mungkin datang dari sana.
Di layar, notifikasi live terus masuk. Nama Nadia sudah menyebar.
Tapi kali ini, cerita tidak hanya keluar dari mulut Bu Marni.
Pak Surya berdiri di sisi mobil, menunggu Nadia cukup tenang untuk mendengar.
"Bu Nadia, setelah ini jangan membalas komentar. Jangan membuat klarifikasi sendiri. Kalau ada yang memfitnah, screenshot. Kalau ada media atau akun gosip menghubungi, tidak perlu jawab."
Nadia mengangguk. "Kalau Livia menghubungi?"
"Screenshot dulu. Jawab hanya kalau perlu dan singkat. Jangan menuduh. Biarkan dia memberi keterangan sendiri."
Sari menambahkan, "Malam ini makan dulu. Besok baru marah lagi."
Nadia hampir tertawa. "Mama membagi jadwal marah?"
"Iya. Marah tanpa jadwal bikin badan rusak."
Ayu yang sedang melipat tripod berkata pelan, "Bu, live-nya sudah ada yang potong."
Nadia memejamkan mata.
Sari mengambil ponsel Ayu, melihat video singkat yang sudah beredar, lalu menyerahkannya kepada Pak Surya. "Simpan juga. Kalau dipotong merugikan Nadia, kita tahu dari mana awalnya."
Pak Surya mengangguk.
Nadia menatap mereka bertiga. Ibu, pengacara, pegawai kios yang kini seperti adik sendiri. Tidak ada yang bisa menghapus rasa malu. Tapi untuk pertama kalinya, rasa malu itu tidak sendirian.
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
kog bs beda2 yah ??