Seorang penulis Novel terkenal asal prancis bernama Rempis Pieter Mark, terpaksa harus mendekam di salah satu rumah sakit gangguan jiwa yang terletak di sudut kota Le Mans. Rumah sakit jiwa yang jaraknya cukup jauh dan sangat terpencil itu bernama The Crazy Hospital. Insiden tahun 2004 silam, mengharuskan Niki sebagai seorang istri lebih memilih untuk mengirimkan sang suami ke rumah sakit gila di banding harus kehilangannya. Sebelumnya Rempis telah di tuntut hukuman mati, namun karena perjuangan Niki yang luar biasa, Rempis dikirim ke RSJ dengan masa tahanan yang tak tau sampai kapan. Bagi Rempis sendiri, memilih mati atau RSJ itu sama saja, tak berbeda. Meski mendekam, ambisi gila Rempis dalam menciptakan sebuah karya demi melawan ketidak adilan bagi hidupnya tak pernah pupus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R_picisan03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PB#33
Sementara berlalu ke Adams yang masih menemani Lexa.
Adams terus berada di sisi ibunya, menjaga sang ibunda tanpa tertidur sedetikpun. Menatap dengan linangan air mata, sembari mengelus lembut lengan Lexa.
Prioritasnya saat ini ialah berfokus mengembalikan kesadaran Lexa, walau mengabaikan kesehatan tubuhnya sendiri.
"Ini makanan untukmu, makanlah terlebih dahulu agar kondisi dan staminamu tetap terjaga," ujar Wury memasuki ruangan.
Adams masih menatap Lexa yang belum sadarkan diri, "Aku tidak lapar, lebih baik kamu fokus merawat ibuku," balasnya mencium tangan Lexa.
Wury meletakkan sepiring nasi, lauk dan sayur diatas meja, "Kalau nantinya kamu sakit, bukan cuma kamu sendiri yang merasakannya. Apa kamu pikir ibumu senang melihatmu bertingkah seperti itu?" lanjutnya menyiapkan botol infus lengkap dengan obat-obatan.
"Tolong, selamatkan nyawa ibuku apapun cara yang ada, lakukanlah," lirih Adams mengelus pipi Lexa.
"Segala upaya telah kami lakukan untuk beliau dan kami akan terus memberikan yang terbaik untuknya. Tapi, selama paru-parunya masih bermasalah, hal ini akan terus berulang meskipun akhirnya beliau terbangun dari tidur panjangnya," jelas Wury menyuntikkan cairan ke botol infus.
Adams menoleh menatap Wury, "Lantas, masih adakah cara yang bisa dilakukan untuk mengembalikkan kesehatan ibuku?"
Menghela nafas, membalas tatapan Adams, "Transplantasi paru."
Mendengar kalimat tersebut, Adams mencekram erat serta memukul-mukul bagian kepala belakang, menundukkan pandangan.
Ekspresi yang ia tunjukkan itu, bukan karena ia tak mengetahui apa itu transplantasi paru, melainkan karena ia cukup paham betapa sulitnya mencari seorang yang bersedia menyumbangkan organ penting tersebut.
"Ambil saja satu paruku," jelas Adams kembali memandang Wury.
"Mengambil satu paru dari orang hidup, terlalu beresiko tinggi jika di banding dengan organ dari seseorang yang sudah meninggal. Belum lagi kecocokan di antara penyesuaian organ keduanya. Aku sendiri tidak menyetujui jika kamu berniat melakukan itu."
"Terus, apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus diam saja dan menunggu kematian datang menjemput ibuku?" pekik Adams bangkit dengan emosi mulai tak terkendali.
"Kamu hanya perlu mencari organ paru dari orang yang telah meninggal. Selain memikirkan resiko yang ada, itu pilihan terbaik untuk keselamatanmu maupun keselamatan ibumu."
"Kamu lupa atau pura-pura bodoh? Di era sekarang ini, mencari organ tersebut itu bagaikan mencari jarum kecil dalam luasnya lautan. Terlalu mustahil bagiku untuk mencarinya. Kalaupun akhirnya aku berhasil menemukan satu mayat dan mayat tersebut memiliki riwayat hidup yang bagus, belum tentu pihak keluarganya mau memberikan organ paru itu padaku," balas Adams mengusap kasar wajahnya.
"Jika masih ada harapan walau kemungkinannya cukup kecil, apa salahnya mencoba terlebih dahulu? Jika kamu sendiri menyerah pada takdir hidupmu, lantas bagaimana dengan ibumu yang menggantungkan takdirnya padamu? Jangan biarkan emosi menguasai akal sehatmu, ingatlah kembali tujuan utama dalam hidupmu."
"Tapi aku...."
Wury kembali melangkah menuju meja, mengambil makanan tersebut dan langsung memberikannya pada Adams, "Lebih baik kamu pikirkan kesehatanmu terlebih dahulu. Setelah itu, kamu boleh putuskan pilihan mana yang terbaik yang harus kamu lakukan."
Adams menghela nafas kasar, mendongakkan pandangan sembari mengusap linangan air mata, "Terimakasih telah menyelamatkanku dari gelapnya keputusasaan. Maaf juga untuk sebelumnya, telah menjadikanmu tempat pelampiasan atas luapan emosi dalam diriku," lanjutnya mengambil uluran tangan Wury.
"Jangan berterimakasih padaku, tapi..." Wury menoleh kearah Lexa, "Berterima kasihlah pada beliau. Jika bukan karenanya, aku takkan mungkin memperdulikan hidupmu lagi," sambungnya kembali menatap Adams.
Berlalu ke sisi Larsen dan Jean setelah berhasil melewati malam penuh kegelisahan, tertidur dengan rasa penasaran dan terbangun karena teriknya sinar matahari perlahan menghangatkan dinding ruangan.
Pukul 10:30 UTC.
"Maaf, sepertinya perjalanan kita terlambat," ucap Larsen mengemas perlengkapan.
Ditengah kesibukan Larsen berkemas, Jean justru masih berbaring di atas kasur dengan santainya.
"Memangnya, apa yang ingin kamu kejar? Bukankah kemarin aku sudah mengatakan padamu tentang tujuan kita ini?" balas Jean memiringkan tubuh memandangi Larsen.
"Tidak ada salahnya juga untuk segera berkemas. Anggap saja ini bagian dari menghemat waktu."
"Sebagai seorang perjaka, bagaimana perasaanmu ketika tidur dalam satu ruangan bersama istri orang lain?" lanjut Jean sedikit menggoda.
"Entah itu terdengar aneh atau wajar, tapi aku tidak merasakan apapun mengenai pertanyaan yang kamu sebutkan itu," singkatnya memakai jaket.
"Kamu yakin? Apa bagimu aku terlihat kurang menarik? Atau tubuhku ini kurang menggoda hasrat dirimu ya?"
"Sudahlah, hentikan candaan konyolmu itu. Tidak bosan apa terus menjahiliku? Lagian menurutku nih ya, ketika di hadapanku, kamu tak perlu terus mengumbar daging-daging lunakmu itu. Kenapa demikian? Karena sejatinya, seekor predator ganas lebih tau kapan waktu yang tepat untuk menyantap mangsanya."
Jean tersenyum sedikit tertawa perlahan duduk di atas kasurnya, "Dari ucapanmu itu, aku bisa menyimpulkan bahwa, kamu berniat memangsaku di kemudian hari. Benar begitu bukan?"
"Ya Tuhan...! Kenapa kamu pertemukan hamba dengan wanita gila sepertinya? Bagaimana jika hamba lepas kendali tak mampu mempertahankan kehormatan ini? Sebagai pria sejati sekaligus perjaka muda, tentunya hal tersebut sangatlah memalukan bila benar-benar terjadi," gerutu Larsen dalam hati mencela Jean.
Larsen mengusap-usap bagian wajah, "Itu hanya kalimat contoh, bukan berarti aku harus melakukan hal yang sama."
Jean turun dari kasurnya, berjalan menuju kamar mandi, "Oke baiklah, mungkin akan lebih baik jika tetap seperti itu. Kamu tetap memegang teguh prinsip seorang pria sejati dalam memperlakukan wanita, menghargai maupun menghormatinya. Terlebih menjaga keselamatan wanita tersebut ketika bersama denganmu," lanjut Jean menutup pintu.
"Dasar wanita, bisanya cuma merusak pikiran lelaki!" pekik Larsen mencibir Jean yang berada di bilik kamar mandi.
Jean kembali membuka pintu, hanya memperlihatkan bagian kepala, "Oh iya satu lagi..."
"Astaga.....! Apalagi sih!"
"Tolong ambilkan handuk itu, lupa. Aku sudah terlanjur melepas seluruh pakaianku," lanjut Jean menunjuk satu arah.
Larsen mengambil handuk di atas meja, kemudian menutup pandangannya kala memberikan handuk ke Jean.
"Heran bener dari tadi gak kelar-kelar! Kok ada ya wanita sepertinya? Tidak ada takut-takutnya di hadapan kelaki. Bagaimana coba kalau akhirnya aku bertindak melakukan pelecehan? Biar begini juga, aku itu lelaki, sama dengan lelaki lainnya yang juga mempunyai nafsu!"
"Terimakasih," ucap Jean kembali bergegas menutup pintu.
"Aku tunggu di parkiran," pungkas Larsen berjalan menuju pintu luar.
"Ok." Teriak Jean menghidupkan keran air.
Sesampainya di halaman parkir, Larsen bersandar di kap mobil sembari memandangi area sekitar penginapan. Mengambil rokok di saku celana, memantik api mulai menghisap rokok di tangan dan dengan santai menghembuskan kepulan asap.
"Dunia terlihat sedikit indah ketika sedang menjalankan sebuah misi. Oh iya, pasti saat ini, mereka sedang kesepian karena aku lagi berada di luar. Hem...sabar ya kawan-kawan, setelah ini selesai, kita lanjutkan keseruan itu, menghabiskan waktu seharian penuh," ujar Larsen memikirkan Max dan lainnya.
Sementara Larsen menunggu Jean, di lain sisi Max, Avin dan Sofi ketika dalam perjalanan pulang, singgah sejenak di sebuah mini bar, merayakan pesta kecil atas lancarnya rencana mereka.
"Tos dulu dong....kapan lagi bisa seru-seruan begini, aha..haha," ucap Max mengangkat gelas dalam genggaman.
Avin dan Sofi menyambut uluran Max, bersulang memeriahkan suasana pesta, di iringi dentuman electro musik cukup keras.
"Yoi brother...seru bener musiknya!" sambung Avin meneguk sebotol minuman segar anggur sembari mengangguk-anggukkan kepala.
Sofi berasungsur duduk kembali meminum segelas anggur, masih memandangi Max dan Avin yang sedang menikmati suasana pesta dengan meriah.
"Sesekali, tidak ada salahnya menikmati hal seperti ini bersama mereka," batin Sofi tersenyum mulai mengikuti alunan musik.
Cieee Vio mulai akting genit🤭
itulah takdir.😕