Sinopsis:
Fani Arsenal Dionando, gadis 17 tahun yang baru memulai hidup di sekolah barunya, berusaha melupakan mimpi buruk yang terus menghantuinya. Namun tanpa ia sadari, kehadirannya justru menyeretnya ke dalam rahasia lama dan rencana balas dendam yang melibatkan namanya. Di tengah konflik dan bahaya yang perlahan mendekat, ada seseorang yang diam-diam selalu melindunginya dari balik bayangan—sosok misterius yang belum ia ketahui apakah akan menjadi penyelamatnya… atau justru alasan hidupnya semakin rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arsella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAGI YANG TERASA BERBEDA
Pagi datang terlalu cepat bagi Fani.
Setelah malam yang panjang dan mimpi buruk yang kembali menghantui tidurnya, rasanya ia baru saja memejamkan mata ketika suara alarm sudah kembali berbunyi.
Fani membuka mata perlahan.
Langit di balik jendela kamarnya masih terlihat pucat. Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai, tetapi sama sekali tidak membuat suasana hatinya menjadi lebih baik.
Kepalanya masih terasa berat.
Tubuhnya lemas.
Dan yang paling mengganggu adalah bayangan Arif kecil dalam ingatannya.
Darah.
Jeritan.
Pisau.
Serta suara abangnya yang terus terngiang.
"Abang gak apa-apa… kamu aman…"
Fani menggeleng pelan.
"Udah… jangan dipikirin lagi."
Ia memaksa bangkit dari tempat tidur.
Hari ini sekolah.
Ia tidak boleh terus-terusan memikirkan mimpi itu.
Setelah bersiap, Fani turun ke lantai bawah dengan seragam sekolah yang sudah rapi. Biasanya, hal pertama yang ia cari setiap pagi adalah Arif.
Entah sekadar melihat abangnya sedang sarapan, mendengar suara motornya, atau menunggu Arif mengantarnya ke sekolah.
Namun pagi ini berbeda.
Arif tidak terlihat.
Fani berdiri sebentar di ruang makan.
"Bang Arif mana?"
Salah satu pekerja rumah menjawab dari arah dapur.
"Mas Arif sudah berangkat pagi tadi, Non."
Fani hanya mengangguk.
"Oh…"
Entah kenapa, jawaban sederhana itu membuat hatinya sedikit kosong.
Tak lama kemudian, sopir keluarga mereka sudah menunggu di depan rumah.
"Non Fani, ayo."
"Iya, Pak."
Fani masuk ke mobil.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, ia lebih banyak diam. Biasanya ia akan memainkan ponsel, mendengarkan musik, atau sekadar memperhatikan jalanan dari balik jendela.
Kali ini tidak.
Ia hanya menyandarkan kepalanya ke kaca.
Pikirannya kembali kepada mimpi tadi malam.
Kenapa mimpi itu datang lagi?
Tangannya menggenggam ujung rok seragamnya.
Dan pertanyaan lain muncul.
Arif baik-baik saja, kan?
Fani menghela napas.
"Jangan aneh-aneh, Fan. Itu cuma mimpi."
Namun hatinya tetap tidak tenang.
Sesampainya di sekolah, mobil berhenti di area parkiran khusus siswa.
Fani turun perlahan.
Ia membenarkan tali tas di bahunya, kemudian berjalan masuk.
Baru beberapa langkah, seseorang melambaikan tangan dari kejauhan.
"FANIII!"
Fani menoleh.
Nayla berlari kecil menghampirinya.
"Eh, akhirnya datang juga!"
Fani tersenyum tipis.
"Pagi, Nay."
Nayla memperhatikan wajah sahabatnya beberapa detik.
"Lo kenapa?"
Fani mengerutkan kening.
"Kenapa apanya?"
"Lo kelihatan kayak habis begadang tiga hari."
Fani tertawa kecil.
"Lebay."
"Serius. Mata lo kayak orang gak tidur."
Fani mengalihkan pandangan.
"Semalam susah tidur aja."
Nayla mengangguk pelan.
"Oh."
Mereka kemudian berjalan berdampingan menuju gedung sekolah.
Sepanjang perjalanan, Nayla beberapa kali mengajak Fani mengobrol, tetapi respons Fani hari itu jauh lebih singkat dari biasanya.
Biasanya Fani adalah orang yang paling berisik.
Paling banyak cerita.
Paling gampang tertawa.
Bahkan kadang Nayla sendiri yang meminta Fani untuk berhenti bicara karena terlalu heboh.
Tapi pagi ini…
Fani seperti kehilangan energinya.
Sesampainya di kelas, mereka langsung menaruh tas masing-masing.
Beberapa teman sudah mulai berdatangan.
Suasana kelas perlahan menjadi ramai.
Namun Fani hanya duduk di tempatnya.
Ia membuka buku pelajaran.
Mencoba membaca.
Tetapi tidak ada satu pun kalimat yang benar-benar masuk ke kepalanya.
Pikirannya masih berada di malam tadi.
Waktu berlalu.
Pelajaran demi pelajaran selesai.
Sampai akhirnya—
TING!
Bel istirahat berbunyi.
Seketika kelas berubah menjadi ramai.
Beberapa siswa langsung berdiri.
"Nay, kantin yuk!"
Nayla yang sejak tadi sudah menahan lapar langsung menoleh kepada Fani.
"Fan, kantin yuk!"
Fani masih duduk.
Ia menutup bukunya perlahan.
"Gak deh."
Nayla mengernyit.
"Gak?"
"Iya."
"Lo gak lapar?"
Fani menggeleng.
"Nanti aja."
Nayla semakin bingung.
"Fani…"
"Hm?"
"Lo sakit?"
"Gak."
"Terus kenapa?"
Fani terdiam.
Ia sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskannya.
Perutnya memang tidak terlalu lapar.
Tapi sebenarnya bukan karena kenyang.
Sejak bangun tidur, rasanya tubuhnya tidak memiliki tenaga untuk melakukan apa pun.
Bahkan untuk tersenyum pun terasa berat.
"Aku cuma capek, Nay."
Nayla memandangnya lama.
Ada sesuatu yang berbeda dari Fani hari ini.
Biasanya kalau bel istirahat berbunyi, Fani justru menjadi orang pertama yang menarik tangan Nayla menuju kantin.
Kadang bahkan sebelum bel benar-benar selesai berbunyi.
Tapi sekarang?
Ia bahkan tidak berniat pergi.
Nayla akhirnya berdiri.
"Yaudah… gue ke kantin dulu."
Fani mengangguk.
"Iya."
Nayla berjalan beberapa langkah sebelum berhenti.
Ia menoleh lagi.
Tatapannya masih penuh tanda tanya.
Fani kenapa, sih?
Beberapa menit kemudian, Nayla kembali ke kelas.
Namun ia tidak datang sendirian.
Di tangannya ada sebotol minuman dan beberapa makanan.
Di sampingnya berjalan Andra.
Andra mendekati meja Fani lalu meletakkan sesuatu di atasnya.
"Fan."
Fani mengangkat kepala.
"Hm?"
Andra mendorong sebungkus roti ke arahnya.
"Nih."
Fani menatap roti itu.
"Apaan?"
"Roti."
Fani hampir tertawa.
"Gue tahu itu roti."
Andra menarik kursi di depannya.
"Ya terus kenapa ditanya?"
Fani tersenyum tipis.
Andra kemudian menunjuk roti tersebut.
"Lo belum sarapan, kan?"
Fani terdiam.
Andra langsung menghela napas.
"Ketahuan."
Fani memainkan ujung bungkus rotinya.
"Gak terlalu lapar."
"Fan."
"Hm?"
"Lo belum sarapan, terus dari tadi di kelas juga gak makan apa-apa."
Andra menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Mending isi dulu perut lo tuh."
Fani menatapnya beberapa saat.
"Lo beli ini buat gue?"
"Iya."
"Kenapa?"
Andra mengangkat bahu.
"Karena gue beli dua."
Fani menyipitkan mata.
"Boong."
Andra terkekeh.
"Yaudah, iya. Gue sengaja beliin buat lo."
Fani terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, ekspresinya sedikit melunak.
"Makasih, Ndra."
Andra mengangguk.
"Makan."
Fani membuka bungkus roti itu perlahan.
Namun sebelum menggigitnya, pandangannya kembali kosong.
Bayangan semalam muncul lagi.
Wajah Arif.
Darah di bajunya.
Dan suara abangnya.
"Kamu aman…"
Tangan Fani berhenti.
Andra yang melihat perubahan itu langsung mengernyit.
"Fan?"
Fani tersentak kecil.
"Hah?"
"Lo beneran gak apa-apa?"
Fani buru-buru tersenyum.
"Iya."
Andra masih menatapnya.
"Yakin?"
Fani mengangguk.
"Yakin."
Namun senyum itu tidak berhasil menutupi matanya.
Nayla yang berdiri tidak jauh dari mereka ikut memperhatikan.
Ia kembali merasakan hal yang sama.
Ada sesuatu yang terjadi pada Fani.
Sesuatu yang tidak diceritakannya.
Dan untuk pertama kalinya, Nayla melihat sahabatnya bukan sebagai Fani yang ceria dan selalu penuh energi…
melainkan seorang gadis yang sedang berusaha keras terlihat baik-baik saja.
Sementara di balik senyum kecilnya, Fani hanya memiliki satu pikiran yang terus berputar sejak pagi.
Bang Arif…
Semoga abang baik-baik saja.
smngat...
smngat ea k 😊