Di suatu malam yang kelam, pria bernama Fierce De Lance Tanson mendapati dosennya diperkosa. Wanita muda itu meringkuk sambil menangis, sementara pelaku telah kabur.
Karena perasaan cinta yang sudah cukup lama terpendam, Fierce membawa sang dosen ke rumah sakit dan berjanji akan bertanggung jawab.
Akan tetapi niat baik tak selalu membuahkan hasil. Tawaran Fierce ditolak mentah-mentah oleh wanita bernama Yuna, karena merasa tak pantas bersanding dengan muridnya itu. Terlebih Fierce masih sangat muda, masa depannya masih sangat panjang.
Namun, siapa sangka? Yuna harus menerima kenyataan pahit ketika dirinya dinyatakan hamil. Hingga akhirnya dia bersedia menerima lamaran Fierce.
Bagaimana kehidupan pernikahan mereka? Akankah berjalan mulus, sementara di hati Yuna hanya ada perasaan bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika identitas si bayi terkuak?
Jangan lupa follow Ig @nitamelia05
Salam anu👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Mengingat Tentang Kita
Fierce membersihkan tubuhnya sambil terus tersenyum. Dia merasa senang karena Yuna pun berusaha untuk menunaikan kewajibannya. Padahal dia tahu ini semua bukanlah hal mudah, menjadi korban pemerkosaan sudah tentu Yuna masih memiliki trauma.
Dan Fierce akan berusaha untuk menghilangkan ingatan menyeramkan itu dengan sesuatu yang indah. Hingga Yuna hanya dapat mengingat tentang percintaan mereka berdua, bukan yang lainnya.
Fierce menyugar rambutnya yang basah, dia sengaja mandi terlebih dahulu, karena dia ingin memberikan yang terbaik untuk istrinya.
"Dia membuatku tidak sabar," gumam Fierce dengan bayangan yang sudah tak terkendali, otaknya seakan terbang ke nirwana, bersama hasrat yang semakin menggunung hingga ke puncak ubun-ubun.
Fierce menyambar handuk, lalu mengeringkan tubuhnya yang basah. Hingga setelah dia merasa siap, dia langsung membuka pintu dan keluar dari sana.
Begitu dia mengangkat kepala, dia langsung disuguhi tubuh molek istrinya yang duduk di atas ranjang. Kaki Yuna terlipat hingga kain tipis berwarna merah itu naik ke atas paha.
Ternyata selama dia mandi Yuna pun mengganti pakaiannya. Pakaian yang selalu menjadi favorit pemuda tampan itu.
Yuna menggigit bibir bawahnya gugup, sementara Fierce tersenyum lebar. Dia melangkah dengan cepat dan menyusul Yuna naik ke atas peraduan.
Fierce merangkak bagai seekor singa jantan, hingga akhirnya mereka berhadapan, Fierce meletakkan kedua tangan di antara tubuh Yuna, mengunci wanita itu agar tetap berada di tempatnya.
Yuna tidak mundur sedikitpun, meski jantungnya terus meronta-ronta. Dia tidak boleh mengecewakan Fierce, karena dia yakin pemuda itu sudah menanti malam ini tiba.
"Tatap mataku, Yuna!" pinta Fierce, setiap kali dipanggil seperti itu, entah kenapa Yuna merasa jadi lebih istimewa. Hingga dengan cepat, dia patuh pada perintah suaminya.
Yuna bisa melihat senyum Fierce yang begitu menggoda. Andai Fierce menunjukkan senyum ini kepada setiap wanita, dia yakin, mereka akan mengejar-ngejar suaminya.
Pelan, Yuna memberanikan diri untuk mengangkat tangan dan menyentuh rahang Fierce. Dia mengusapnya pelan, hingga Fierce memejamkan mata, menikmati sentuhan lembut yang membuat pusat tubuhnya menegang.
"Aku akan melakukannya denganmu, Fierce. Aku tidak akan mundur meski bayangan itu terus menghantuiku, aku akan melawannya untukmu. Ah tidak, tapi untuk kita, karena aku juga menginginkanmu," ucap Yuna dengan jarak yang nyaris habis. Karena Fierce bisa merasakan deru nafas wanita cantik itu.
Kebahagiaan di dada Fierce semakin membuncah setelah mendengar kalimat yang keluar dari bibir Yuna.
"Kalau begitu jangan pernah memintaku untuk berhenti. Karena aku tidak akan mengabulkannya," balas Fierce dengan sorot mata yang menggebu, lalu dengan cepat dia meraup bibir Yuna dengan rakus.
Rasa tak sabar dalam diri Fierce semakin menjadi-jadi kala Yuna membalas ciumannya. Fierce meraih tangan wanita itu agar memeluk lehernya, sementara jari-jemarinya semakin menggeliat nakal, masuk ke dalam piyama yang Yuna kenakan.
Seolah hanya ada mereka berdua di ruangan ini, Fierce langsung melemparkan handuk ke sembarang arah, dia mendorong pelan tubuh Yuna hingga berbaring di atas ranjang.
Tanpa segan dia mengeluarkan benda yang kerap dihisap oleh Junior. Dua benda kenyal yang terlihat tumpah ruah dan begitu menggairahkan untuk dimainkan.
Yuna menggigit bibir kala Fierce menikmati dadanya secara bergantian. Dia mengeluarkan suara desaah yang begitu lirih, tetapi cukup membuat Fierce seperti orang kesetanan.
Karena dengan cepat dia merobek piyama itu dalam satu kali tarikan. Agar tidak ada lagi penghalang yang membuatnya kesulitan.
Yuna sedikit tersentak, karena Fierce benar-benar berbeda ketika sudah ada di atas ranjang.
"Tidak perlu terburu-buru, aku milikmu." Sebuah kalimat yang berhasil membuat Fierce menyeringai tipis.
Dia tidak meminta izin lagi saat hendak membuka benda segitiga milik Yuna. Ini untuk pertama kalinya dia akan merasakan sesuatu yang ada di balik benda itu.
Sesuatu yang akan menuntaskan gairahnya dan membuat dia semakin menggila.
"Indah," ungkap Fierce sambil menggerakkan jarinya ke bawah perut Yuna. Wanita itu hanya bisa memejamkan mata saat Fierce bermain-main di sana, bahkan tanpa dia sadari inti tubuhnya sudah basah.
Fierce memperhatikan wajah Yuna yang sudah terlihat gelisah. Bahkan pipi Yuna terus mengeluarkan semburat merah, karena darahnya terasa sangat panas.
"Ahhh," desaah Yuna terdengar cukup keras. Dan hal tersebut membuat Fierce tersenyum puas, dia menarik jarinya, lalu memposisikan diri di antara tubuh Yuna.
Pusat tubuh Fierce sudah menegang sempurna, bak tugu yang berdiri tegak di tengah-tengah kota.
Dia meraih satu tangan Yuna, hingga kini mereka saling menggenggam. Dia berusaha untuk membuat Yuna rileks, karena meski hal ini bukan yang pertama untuk wanita itu. Namun, Fierce akan memberikan kesan terbaik.
"Jangan bayangkan siapapun kecuali aku. Ingatlah ini adalah maalam pertaama kita, malam yang sangat istimewa dan tidak pernah terlupakan untuk seumur hidup," ucap Fierce sebelum menyatukan diri dengan Yuna.
Wanita itu mengangguk, meski batinnya terus berperang. Karena dia tak bisa bohong, semua yang telah terjadi pada dirinya, kembali memenuhi pelupuk mata.
Akan tetapi dia percaya bahwa Fierce bisa menghapus semua ingatan buruk itu. Hingga dia membuka kakinya lebar-lebar mempersilahkan Fierce untuk memasuki dirinya.
"Lakukanlah, aku hanya akan mengingat tentang kita, Fierce."
Dan kalimat itu menjadi akhir dari pertahanan diri Fierce, karena detik selanjutnya dia berusaha untuk menyatukan tubuh mereka berdua.
Yuna sedikit tersentak saat benda panjang itu memenuhi liangnya. Rasa aneh dan mengganjal yang membuatnya memegang kuat lengan Fierce.
Sebelum bergerak Fierce lebih dulu meraup bibir Yuna. Membuyarkan lamunan wanita itu, hingga yang bisa Yuna lakukan hanyalah mendesaah.
Fierce menghentak dengan gerakan yang cukup kuat, dan hal tersebut membuat Yuna menganga, karena kenikmatan itu langsung memenuhi dadanya.
Bahkan dia merasa bahwa milik Fierce menyentuh titik denyutnya yang terdalam. Hingga dia tak bisa memungkiri bahwa penyatuan ini benar-benar luar biasa.
"Ahh, kamu membuatku gila, Yuna," kata Fierce tepat di telinga istrinya, nafasnya yang memburu membuktikan bahwa kegiatan yang tengah mereka lakukan sangat menyenangkan.
Fierce semakin mempercepat gerakan, saat ledakan dahsyat itu hendak menghampirinya. Dia menekan inti tubuhnya dan memeluk Yuna erat, hingga dia merasakan sesuatu yang membuncah.
Dan entah kapan percintaan mereka akan usai, karena selagi Junior tidak bangun, mereka akan tetap melakukannya dan terus beradu desaahann panjang.
***
Udah lama gak nulis anu, gimana udah anu belum? 🤣🤣