Aku menyelamatkannya dari kubangan lumpur, tapi dia justru menenggelamkanku ke dalam derita."
Anita hidup dalam kesempurnaan. Dia memiliki kehormatan, kekayaan, dan Randy suami tercinta yang telah ia temani berjuang dari nol hingga sukses menjadi pengusaha properti kaya raya.
Namun, menara kebahagiaan itu runtuh seketika saat takdir mempertemukannya kembali dengan Valeria, sahabat masa kecilnya yang telah terpisah selama 15 tahun.
Iba melihat nasib Valeria yang miskin dan terjerumus menjadi wanita malam, Anita dengan tulus mengulurkan tangan. Dia membawa Valeria masuk ke dalam kehidupannya dan memberikannya pekerjaan terhormat sebagai karyawan di kantor Randy.
Anita tidak pernah tahu bahwa malam pertama Valeria terjun ke dunia malam, pelanggan pertamanya adalah Randy. Dan sejak malam terkutuk itu, keduanya telah bermain api di belakangnya.
Valeria yang digerogoti rasa iri mendalam atas kemewahan Anita, mulai melancarkan aksi liciknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BI STORY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebangkitan Dari Kegelapan
Bau obat-obatan yang tajam dan bunyi ritmis dari monitor jantung menjadi penanda bahwa Anita masih berpijak di dunia. Seluruh wajah dan kepala bagian kanannya tertutup rapat oleh balutan perban putih, hanya menyisakan mata kiri dan mulutnya yang sedikit terbuka.
Di samping brankar, Trian menggenggam jemari Anita yang terasa dingin, sementara Bu Kiara tertidur lelah di sofa sudut ruangan ICU.
Kelopak mata kiri Anita perlahan bergerak, lalu terbuka sepenuhnya. Pandangannya yang buram berangsur-angsur fokus pada wajah Trian yang tampak sangat kuyu dengan lingkaran hitam di bawah matanya.
"Anita... kamu udah sadar?" bisik Trian tertahan, matanya seketika berkaca-kaca menahan haru. Dia menekan tombol darurat untuk memanggil dokter, namun tangan Anita yang lemah menahan lengan Trian.
"Tri... an..." suara Anita terdengar sangat parau, keluar dari celah bibirnya yang kering.
"Jangan panggil dokter dulu. Dengarkan aku."
"Anita, kondisi kamu belum stabil—"
"Dengarkan aku, Trian," potong Anita, sorot mata kirinya memancarkan dingin yang teramat pekat, tidak ada lagi kelembutan di sana.
"Rahasiakan dari semua orang kalau aku udah sadar. Katakan pada pihak rumah sakit untuk menutup rapat informasi medis ini. Jangan biarkan media, ataupun Randy, tahu kalau aku masih hidup."
Trian tertegun, namun dia segera menangkap maksud tersembunyi di balik rencana Anita.
"Kamu mau mereka mengira kamu udah mati di dasar jurang?"
Anita mengangguk perlahan, meski gerakan itu menimbulkan rasa nyeri yang luar biasa di kulit wajahnya yang melepuh.
"Biarkan mereka merayakan kemenangan palsu itu. Saat mereka lengah, aku yang akan menyeret mereka ke neraka. Trian, panggil Niko ke sini. Sekarang."
Dua jam kemudian, Niko sudah berada di dalam kamar rawat isolasi Anita dengan laptop khusus yang menyala di pangkuannya. Suasana ruangan itu berubah menjadi markas yang mencekam.
"Mbak, gue bersumpah bakal bikin perempuan psikopat itu mendekam selamanya di penjara," desis Niko dengan rahang mengeras setelah melihat kondisi sepupunya.
"Kita nggak cuma bakal jeblosin Valeria, Nik. Tapi juga Randy," sahut Anita dingin. Dia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong namun tajam.
"Valeria sempat menyinggung soal kematian Melati tiga bulan lalu sebelum dia menyiksaku. Mereka berdua terlibat."
Trian mengernyitkan dahi.
"Melati? Mantan sekretaris Randy yang tewas karena kecelakaan tabrak lari tiga bulan lalu? Bukankah waktu itu Randy bilang dia ke Bali karena ada proyek pembangunan resort?"
"Itu cuma alibi busuk mereka, Trian," ucap Anita, suaranya mendatar namun menusuk.
"Melati tahu perselingkuhan mereka dan korupsi dana proyek yang dilakukan Randy. Randy mengajak Valeria ke Bali dengan dalih perjalanan dinas, padahal di sana mereka merencanakan pembunuhan Melati. Nik, bongkar semua data perjalanan Randy di Bali tiga bulan lalu. Cari transaksi tunai atau komunikasi mencurigakan."
Niko dengan cepat menggerakkan jemarinya di atas papan ketik. Sebagai seorang ahli forensik digital, tidak sulit baginya untuk menembus server cadangan dari ponsel lama Randy yang pernah disinkronkan ke komputer rumah.
"Gue dapet sesuatu, Mbak," ujar Niko sepuluh menit kemudian, wajahnya mendadak serius.
"Dua hari sebelum Melati tewas ditabrak, ada transferan dana dari rekening gelap atas nama samaran ke sebuah rekening lokal di Jakarta. Dan tebak apa? Nomor ponsel yang berkomunikasi dengan rekening itu sempat aktif di sekitar lokasi kecelakaan Melati tepat di jam kejadian."
Niko mengklik sebuah file audio yang berhasil dia pulihkan dari tempat sampah penyimpanan awan milik Randy.
"Ini rekaman panggilan otomatis yang tersimpan di sistem telepon mobil sewaan Randy di Bali."
Sebuah suara rekaman yang jernih terdengar memenuhi ruangan ICU yang sunyi.
"...Semua udah beres, Pak Randy. Perempuan itu sudah ditabrak lari di persimpangan jalan sesuai perintah. Kendaraan butut yang saya pakai sudah saya bakar dan buang ke jurang."
Lalu terdengar suara Randy yang menjawab dengan nada dingin:
"Bagus. Sisa uangnya sudah ditransfer oleh Valeria. Pergi dari Jakarta sekarang juga dan jangan pernah hubungi nomor ini lagi."
Mendengar rekaman audio itu, Trian mengepalkan tangannya hingga kuku-kuku jarinya memutih, sementara Bu Kiara yang baru terbangun langsung menutup mulutnya karena syok.
Bukti itu terlampau absolut. Randy dan Valeria bukan sekadar berzina, mereka adalah sepasang pembunuh berdarah dingin yang menyewa eksekutor untuk melenyapkan Melati.
"Rencana mereka sangat rapi," bisik Trian dengan kemarahan yang tertahan.
"Mereka memanfaatkan momen liburan dan kedok proyek di Bali agar kelihatan seperti kecelakaan lalu lintas biasa bagi orang luar."
"Tapi dunia digital tidak pernah lupa, Trian," sahut Anita, sebuah senyuman misterius dan dingin tampak dari balik celah perban wajahnya.
"Randy mengira dia bisa menyingkirkan semua orang yang menghalangi jalannya. Melati, aku, dan bahkan mungkin Vano jika dia mau."
Anita mengalihkan tatapan mata kirinya yang tajam ke arah Trian dan Niko.
"Niko, simpan rekaman ini baik-baik. Trian, besok kamu temani ibuku untuk membuat laporan kehilangan aku ke kantor polisi. Biarkan Randy berakting menjadi suami yang berduka di depan publik. Aku ingin melihat seberapa jauh dia bisa menari di atas panggung sandiwara yang aku buat, sebelum aku menjatuhkan vonis mati untuk karir dan kebebasannya."
Sementara itu, di rumah mewah yang kini terasa kosong tanpa kehadiran istri sahnya, Randy justru menemukan ketenangan semu yang sudah cukup lama tidak dia rasakan.
Di atas ranjang besar yang dulunya milik dia dan Anita, Valeria sedang asyik bercumbu dengan Randy. Wanita itu mengalungkan lengannya di leher Randy, memberikan kecupan-kecupan manja yang penuh kemenangan, seolah rumah sewaannya yang nunggak dan semua utangnya telah sirna bersama hilangnya Anita.
Rasa frustrasi dan ketakutan Randy yang membuncah beberapa jam lalu perlahan menguap, digantikan oleh rasa lega yang egois. Dengan hilangnya Anita ke dasar jurang, dia tidak perlu lagi memikirkan ancaman perceraian, pembagian harta gono-gini, atau ketakutan bahwa hubungan gelapnya akan membongkar kasus Melati. Di dalam pelukan Valeria, Randy justru merasa posisinya kini jauh lebih aman.
"Setelah aku pikirkan, kamu sangat hebat, Sayang," bisik Randy mengecup kening Valeria, beralih dari kemarahan menjadi sekutu sejati dalam kejahatan.
Keesokan harinya, sandiwara yang sesungguhnya pun dimulai. Pukul sembilan pagi, pintu rumah mewah itu digedor dengan kasar. Begitu dibuka, Randy mendapati Bu Kiara yang menangis histeris didampingi oleh Niko yang menatapnya dengan pandangan dingin yang menusuk.
"Randy! Anita hilang! Dia nggak pulang dari kemarin sore dan mobilnya ditinggal di basemen kantor dalam keadaan berdarah!" jerit Bu Kiara histeris, nyaris pingsan di teras rumah.
Seketika itu juga, Randy langsung mengubah air mukanya. Dia memasang raut wajah yang luar biasa terkejut, matanya membelalak lebar, dan tubuhnya mendadak lemas yang dibuat-buat.
Dia menutup mulutnya dengan tangan, berpura-pura syok seolah dunianya baru saja runtuh.
"Apa?! Nggak mungkin, Bu! Anita... Anita nggak mungkin hilang!" seru Randy dengan suara yang bergetar hebat, bahkan matanya mulai berkaca-kaca demi membangun alibi yang sempurna di depan Niko dan mertuanya.
"Niko, tolong bilang ini cuma bercanda! Kita harus lapor polisi sekarang! Aku nggak bisa hidup tanpa Anita!"
Bersambung