"Diterima ya, Mba. Dijalani saja dulu, banyak shalat dan baca Qur'an. Semoga tugas akhirmu, lekas selesai. Insya Allah, ini keputusan yang baik, Mba. Sepertinya Mas Akbar, anak yang shaleh."
"Iya, Pak, Bu. Saya jalani. Makasih restu dan doanya."
Aku berdiri, pamit. Masuk ke kamar. Kututup pintu, segera sujud syukur kepada Pemilik Semesta.
"Bismillah, semoga aku bisa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilinur m, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Azan dan Iqomah
Akbar dan Fatih masih duduk di atas sajadah mereka. Sambil mengelus kedua punggung tangan istrinya, Akbar mulai bercerita. Sekar masih mengenakan mukena putihnya.
"Ayo, Mas. Ceritanya ditunggu ini."
"Baik, Mas mulai ya."
Waktu masih menunjukan pukul setengah enam pagi. Mereka berdua sengaja keluar agak siangan. Masih banyak orang di luar yang membantu berberes di kediaman Sekar. Maklum, pengantin baru.
"Waktu Mas pulang dari riset di salah satu sekolah SMP, Mas langsung ke kosssanmu. Biasanya Mas langsung pulang. Tapi, gak tahu kenapa, Mas ingin langsung saja. Mumpung masih pakai almamater." Kata Akbar sambil mengedipkan sebelah mata.
"Jadi, Mas punya niat pamer begitu. Biar terlihat keren. Salah Mas, aku bukan yang tipe yang seperti itu." Sekar tertawa.
Akbar hanya tersenyum simpul. Ia mengetahui kalau Sekar sebenarnya ingin masuk ke perguruan tinggi yang sama. Hanya saja, waktu tes, tidak masuk. Tentu Akbar tahu, orang tua keduanya sangat dekat dan saling bercerita.
"Aku lanjutkan ya. Setelah dapat alamat kossanmu. Mas lalu bergegas menuju alamat tersebut. Sampai disana, Mas hubungi nomor teleponmu, lalu keluarlah bidadari bermukena putih tapi tak terlihat sayapnya."
"Bidadari dari mana, Mas? Itukan aku." Celetuk Sekar malu.
"Kamu tahu sayang, pada saat kamu keluar dari dalam rumah, kan mengenakan mukena, ya. Coba apa yang Mas pikirkan waktu itu?"
Sekar menggeleng.
"Mas, dalam hati, bilang begini, Subhanallah, seandainya mempunyai istri yang seperti itu, pasti rasanya tenang di hati."
Mendengar itu, Sekar menutup wajahnya. Malu dan terharu.
"Kalau Mas tidak salah dengar juga, Mas mengucapkan kalimat yang tadi di waktu selesai azan dan setelah menerima STNK darimu langsung iqamah."
"Iya, Sekar ingat. Mas langsung pulang dan Sekar langsung shalat Duhur.
"Mau Mas kasih kejutan lagi, sayang?"
"Apa Mas?"
"Ternyata dari SMA, kita sudah diikat oleh Semesta."
Akbar tersenyum bahagia mengingatnya.
"Lemari, pertemuan kita di Malioboro, bertemu di kossan, kemudian yang terakhir, kita bertemu secara tidak sengaja dengan kedua keluarga besar kita di tempat penghulu waktu lebaran, ingat kan sayangku?"
Sekali lagi Sekar hanya mengangguk. Wajah ayunya sudah dipenuhi cairan bening yang sudah turun sejak tadi.
"Doa Mas dikabulkan Semesta, sayang. Omongan Mas waktu dulu, Mas baru mengingatnya ketika lamaran kita dulu."
"Apakah Mas menyesal bertemu denganku?"
"Mas bersyukur besar sekali, karena istri Mas adalah kamu, Sekar. Sebelum melamarmu, Mas meminta izin dan restu kepada seluruh keluarga besar Sanjaya dan Suryo, meminta pendapat mengenai dirimu."
"Kalau Mas mendengarkan yang baik-baik tentangku, jangan dipercaya ya, Mas."
"Kenapa, sayang?"
"Nanti kalau Mas hanya mendengarkan yang baik-baik saja, terus kita sudah satu rumah dan apa yang dibicarakan mereka tidak sesuai dengan ekspetasi Mas. Tentu itu membuat Mas kecewa. Mas belum tahu yang kurang baik dan jahilnya Sekar." Jelas Sekar tertawa.
"Benarkah kamu jahil, Sekar?"
"Mas, tidak percaya?"
Akbar menggeleng. Mana mungkin sekalem dan sebaik Sekar jahil.
"Mas, harus tanya Alina. Yang pastinya, aku jahil juga pada tempatnya kok, Mas. Sekarang aku sudah bersuami, semoga aku pandai membawa diri. Membawa nama baik suamiku tersayang."
"Istriku sangat romantis, belajar dari mana bisa seperti itu?"
"Mas, lupa kalau istrimu ini lulusan jurusan bahasa dan sastra?"
"Tidak sayang, Mas tambah kagum denganmu. Selalu dampingi Mas ya, sayang, apapun itu masalahnya, mari kita terbuka. Sayang kamu, Istri sholehaku.".
"Sekar juga sayang dengan Mas, doakan aku jadi perempuan yang sholeha ya, Mas.
Keduanya berpelukan sebentar sebelum.memutuskan untuk keluar menemui para kerabat dan keluarga.
-tbc-
Terima kasih sudah membaca. Semoga sehat selalu, yaaaa...