#Warning
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jadi jika kalian suka silakan ikuti dan komentar lah dengan sopan dan baik. Selain itu, cerita ini tidak ada sangkut pautnya dengan melecehkan perempuan bercadar. karena cerita ini. Alzena memiliki karakter tegas yang berbeda dari yang lain sehingga kalian mungkin akan bilang tidak sesuai dengan pakaiannya atau apa pun hal lainnya🙏🙏🙏🙏
Athar Azmi adalah seorang berandalan yang selalu menjadi ketakutan penduduk kampung di tempatnya berada.
Ia sangat suka menciptakan masalah besar yang mendatangkan keributan.
Hingga suatu hari Athar dan kelompoknya melakukan pengeroyokan pada seorang anak remaja.
Dimana saat itulah Ia di pertemukan dengan seorang gadis bercadar yang sudah di lecehkan nya.
~~~~
Jadi sebelum tahu bentuk pelecehan itu seperti apa? Alangkah baiknya di baca dahulu isi cerita di dalamnya😁😁😁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sobri Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Meminta Pekerjaan
Sekitar pukul empat lewat lima belas menit, tak terasa azan subuh telah berkumandang. Zena yang masih dalam dekapan Athar suaminya akhirnya terbangun. Meski ada rasa perih semalam tapi melihat Athar yang tidur dengan lelap dan damai membuat Zena benar-benar merasa bahagia.
Tak sadar tangannya terulur menyapu wajah pemuda itu hingga replek membangunkan Athar yang langsung mencekal lengannya dengan sangat erat.
"Mas, maaf!"
Zena merasa telah lancang mengganggu tidur suaminya, hingga Ia tidak sadar telah melakukan kesalahan.
Athar mengembangkan senyumnya, "Apa kamu merasa ketagihan?" Goda Athar kemudian sengaja mengedipkan sebelah matanya.
"Bukan begitu, aku hanya ingin mengajak Mas Athar untuk sholat subuh!"
"Sholat? Emang sudah azan ya?" Tanya Athar balik sambil mengucek-ngucek matanya.
"Udah Mas, barusan!"
"Terus kenapa masih duduk?" Athar memantik tubuh Zena yang masih terlilit oleh selimut semalam.
"Em... itu boleh selimutnya aku pakai Mas?" Tanya Zena ragu-ragu.
"Emang kenapa sih? toh yang lihat jika aku, kan kamar mandinya di dalam sini?" Ujar Athar sedikit nyelekit.
"Zena masih malu Mas, masak harus telanjanh ke sananya?" ujar Zena balik sambil menyunggingkan senyum dengan raut muka tersipu.
"Ya udah deh, ayo bareng aja!" Athar merangkul Alzena turun dari ranjang menuju ke kamar mandi lalu menghangatkan air itu sejenak.
"Mas, emang harus mandi bersama terus ya?" Seloroh Alzena sangat lirih.
Athar memantik wajah istrinya itu lalu meneguk salivanya, "Bukannya kamu tahu ya hukumnya apa? Kenapa masih bertanya? Karena malu?" Cecar Athar dengan sedikit memarahi Zena.
"Iya Mas, Maaf. Zena belum percaya diri saja untuk melakukannya!"
"Tidak usah berpikiran begitu, toh aku sudah melihat semuanya semalam. Mandi berdua dengan suami itu pahalanya sangat besar. Jadi kalau kamu mau berbakti pada suami maka nurut saja padaku!"
Karena tidak ada yang salah dengan ucapan Athar, Zena pun diam. Dia melihat Athar sudah mengukur suhu air untuk segera membersihkan diri.
Tidak perlu terlalu lama, keduanya sudah bersiap untuk melakukan Sholat.
"Zen, sendiri-sendiri dulu ya. Aku belum tahu cara mengimamimu!" Ujar Athar mengarahkan.
"Iya Mas."
Meski tidak menjadi iman dalam sholat untuk Zena tapi melihat Athar mau ikut sholat saja rasanya sudah cukup membahagiakan bagi Zena.
Ya sebab Zena tahu seorang pemuda berandalan tidak melulu soal kejahatan pasti ada sisi kebaikan yang mereka miliki untuk menjalankan kewajiban.
Usai sholat, Zena segera berpamitan membantu para Ibunya di dapur sedang Athar memilih bermain ponsel. Entah apa yang menggerakkan jari jemarinya Ia ingin tahu apa saja hukum sholat berjamaah, hukum menjadi suami yang baik dan kewajiban istri pada suaminya.
"Menafkahi?" Celoteh Athar tidak sadar. "Haruskah aku mulai bekerja sekarang? Tapi kerja apa ya?" Sambungnya yang terus berpikir dengan keras.
Jujur Ia juga tidak mau Zena merendahkannya lagi karena menafkahi dengan hasil uang dari pemberian Abah Dullah sedang kewajiban sesungguhnya bukanlah seperti itu.
Setelah sarapan siap, semua keluarga pun berkumpul menjadi satu, tapi sebelumnya ucapan Athar membuat semua orang menjadi sangat tercengang.
"Bah, aku mau kerja!"
"Kerja?" Sahut kedua saudaranya tak percaya.
"Iyalah, emang kenapa? Beri aku pekerjaan Bah, biar aku bisa menafkahi istriku dengan hasil jerih payahku?" Ujar Athar lagi berbicara dengan nada serius pada Abah Dullah.
Mendengar niat baik sang suami, Alzena menatap dengan penuh rasa takjub. Semoga semua itu akan menjadi awal yang baik untuk rumah tangga mereka kedepannya.
Duh kok feeling aku ga enak ya aku takut ny athar kena imbas dri kelakuan teman2 nya palagi waktu itu syfa ambil fhoto ny athar di markas
untung malik masih percya lg sama athar,padahal athar pernah membuat malik sengsara.....kok masih ada kepercayaan nya....
jgn kita terlalu menilai dari segi sifat,sikap seseorang.......
terimakasih thor ceritanya.....walaupun pendek....manfaat juga..