NovelToon NovelToon
Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Penjelajah Ghaib (Perkumpulan Pawang Ghaib)

Status: tamat
Genre:Rumahhantu / Mata Batin / Kutukan / Kumpulan Cerita Horror / Horor / Tamat
Popularitas:327.9k
Nilai: 5
Nama Author: Stanalise

Hallo semua! Kalian sedang membaca kisahku. Rachel Gautama, cenayang muda yang siap mengeksplorasi seluruh pelosok bumi mencari setan, berkenalan lalu aku ajak ngopi.

Bergabunglah dalam ekspedisi Gautama, mari kita telusuri lekuk bumi dan sejarahnya. Sejarah kelam manusia masa lalu. Aku tidak sendirian, kami bersepuluh, lima di antara kami ghaib. Selebihnya, mampu bersentuhan fisik.

Ekspedisi Gautama dimulai! Dengan portal ghaib, akan kubawa kalian mengarungi dimensi jelajah waktu. Tarik selimut kalian, tutup mata kalian, sumpal kuping kalian jika perlu. Sebab di sana, para Arwah sedang menunggu kedatangan jiwa hidup. Untuk digoda sampai mati!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Dari dalam Kain Kafan 5 (Klampis Ireng)

Kota Reog atau Ponorogo, adalah tempat asal muasal kesenian Reog. Reog adalah tarian tradisional di arena terbuka yang berfungsi sebagai hiburan rakyat dan mengandung unsur magis.

Penari utamanya merupakan orang berkepala singa dengan hiasan bulu merak, ditambah beberapa penari bertopeng dan berkuda lumping.

Setelah berunding dengan seluruh saudaranya. Pada akhirnya Cak Dika dan Rachel memutuskan untuk pergi ke Ponorogo. Mereka berangkat naik kereta selama lima jam.

Setelah sekian lama duduk di dalam kereta. Perlahan kereta mulai berhenti. Suara ramainya manusia stasiun mulai terdengar. Cak Dika dan Rachel turun lebih dulu dari dalam kereta.

Kemudian disusul Marsya, Bella, Laras dan Aldo. Mata mereka disambut oleh lautan manusia di sana.

Beberapa penjual keliling mulai berlalu-lalang kesana kemari.

Dari kejauhan nampak seorang wanita paruh baya dengan keranjang dagangan yang dipikul di atas kepalanya datang menghampiri Cak Dika.

"Pendatang toh, Mas?" tanya ibu-ibu paru baya itu pada Cak Dika.

Cak Dika menoleh ke arah wanita paruh baya itu lalu tersenyum menyapanya. Cak Dika yang kebetulan tingginya melebihi ibu itu sedikit melihat-lihat beberapa makanan yang sedang dijual oleh ibu itu.

"Iya buk, kami pendatang! Ibuk jual apa kalau boleh tau?" jawab Cak Dika.

Wanita paru baya itu kemudian menurunkan dagangannya. Dia menjual minuman dan beberapa makanan ringan. Gorengan, kacang-kacangan dan kerupuk.

Cak Dika mengambil beberapa makanan dan minuman di sana. Dia haus juga sedikit lapar rasanya. Jajan dulu di sini tak apa bukan?

Wanita paruh baya itu nampak memperhatikan Cak Dika beserta rombongannya. Dari cara mereka berpakaian, wanita itu menyimpulkan bahwa Cak Dika pasti berasal dari kota.

"Memangnya kalian ini mau kemana? Sepertinya kalian bukan dari sini ya?" tanya wanita itu sambil menatap Rachel dan saudaranya.

Stasiun tempat mereka berpijak ada di area pedesaan. Menurut apa yang sudah mereka cari tau. Klampis Ireng terletak di dekat desa A.

Itulah mereka memilih pemberhentian kereta di area ini seba jaraknya dengan Klampis Ireng cukup dekat.

"Ada salah satu tempat yang mau kami kunjungi di sini, Buk!" jawab Rachel pada wanita itu sambil tersenyum.

Wanita itu mengangguk. Terlihat Cak Dika masih asik mengunyah tahu isi di mulutnya. Cak Dika tidak ikut menjawab pertanyaan itu. Dia lebih memilih untuk mendengarkan.

"Kalian mau ke mana?" tanya Wanita itu lagi pada Rachel. Sepertinya wanita ini benar-benar penasaran perihal kedatangan Rachel kemari.

"Kami butuh pergi ke Klampis Ireng, Buk!" jawab Bella spontan. Sejenak hal itu membuat Wanita itu terkejut. Tapi kemudian wanita itu tertawa.

Rasanya dia tidak percaya bahwa anak muda seusia Rachel dan rombongannya ini pergi ke sana.

"Hahahahaha..." wanita itu tertawa mendengar jawaban dari Bella.

Rachel dan Marsya sejenak saling tatap. Lalu tatapannya kembali pada wanita itu. Mereka bingung di sini. Untuk alasan apa mereka ditertawakan di sini.

"Buat apa di Klampis Ireng, nduk? Kalian ini anak muda. Klampis Ireng itu tempat sakral. Itu semacam petilasan!" jelas wanita paruh baya itu.

Mendengar penjelasan itu Cak Dika pun menelan makanan terakhir yang dia kunyah. Kemudian dia berdiri sambil tersenyum ke arah wanita itu.

Baginya mengumbar alasan mereka datang tidaklah benar. Sebab masalah ini menyangkut dua nyawa orang lain dan aib. Menyembunyikan lalu mengatakan pada orang yang bersangkutan adalah yang benar.

"Ada sesuatu yang harus kami kembalikan ke sana buk! Terima kasih jamuannya, ini lezat! Ini uangnya, kembaliannya buat ibuk saja. Kami permisi dulu, Assalamualaikum!" ucap Cak Dika berpamitan.

Wanita paruh baya itu hanya mampu mengangguk lalu membiarkan Cak Dika beserta rombongannya itu pergi.

"Jadi Cak, di mana si Klampis Ireng ini tempatnya?" tanya Rachel sambil menatap ke atas ke arah atap stasiun.

Terlihat ada banyak sekali mata manusia yang seolah ditempel di atap-atap itu. Bola mata itu seakan menyatu dengan atap stasiun. Seram! Itu pasti.

"Maps, kan ada toh dek!" jawab Cak Dika lalu mengambil permen tusuk dari dalam sakunya lalu memakannya.

Bella mengotak-atik ponsel miliknya. Di sana dia mulai mencari tahu keberadaan dari Klampis Ireng. Namun sial rasanya, di daerah ini sinyal ponselnya hilang.

"Cak, ini daerah perbukitan atau apa? Kenapa kok gak ada sinyal sama sekali?" ujar Bella kesal sambil masih menatap layar ponselnya.

Cak Dika yang japan tiba-tiba berhenti. Lalu dia mengeluarkan ponselnya juga. Ketika dia membuka ponselnya. Dia berseringai.

"Coba cek ponsel kalian semua!" ujar Cak Dika pada seluruh saudaranya.

Mendengar perintah itu. Mereka pun segera mengecek ponsel mereka masing-masing. Mereka membulatkan mata serentak melihat layar ponselnya.

Tidak ada sinyal sama sekali. Lima detik kemudian mereka kembali dibuat terkejut ketika ponsel mereka mati secara bersamaan.

"Ya, sialnya!" ujar Cak Dika.

"Oh, jadi gitu ya! Sambutan jamuan wanita itu tadi yang bawa kita kemari?" ujar Rachel sambil mengingat kembali wanita paruh baya yang tadi memberi makan pada Cak Dika.

"Sialan dia!" geram Bella lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.

"Sek, jelasin dong ke aku gimana ini bisa terjadi?" tanya Marsya yang masih belum sepenuhnya paham perihal Alam sebelah.

"Makanan itu sengaja diberikan pada Cak Dika. Sebab Cak Dika lah yang membawa jimat kain kafan itu. Untuk menjebak Cak Dika masuk ke dalam dimensi ini. Itu hal yang tidak mudah! Mereka harus membuat Cak Dika memakan sesuatu agar bisa dikecoh dan dibawa masuk kemari!" jelas Laras pada Marsya.

Setelah penjelasan itu dikatakan. Orang-orang yang berada dalam stasiun berhenti. Seakan ada jeda di sana. Tapi Cak Dika dan yang lain masih bisa bergerak. Hanya orang lain selain merekalah yang membeku di sini.

Dari atas sana, atap stasiun perlahan berubah menggelap. Suasana stasiun perlahan berubah menjadi pohon-pohon besar.

Dan para manusia yang mematung beku itu perlahan lenyap hilang dari pandangan mata mereka.

Hembusan angin yang menerpa tidak lagi mereka rasakan. Senyap, sunyi, tidak ada suara di sana.

"Kalau kalian dalam dua hari tidak bisa keluar dari dalam sini! Maka, kalian akan jadi makananku!" ujar satu suara besar yang menggema.

Baik Cak Dika, Rachel dan yang lainnya pun menoleh ke segala arah. Mereka mencoba mencari sumber suara itu dari mana asalnya.

Tapi, nyatanya tidak ada siapapun di sana. Cak Dika kemudian menatap ke atas tepat ke arah kegelapan yang mengukung mereka.

"Hei maung! Aku tidak akan takut padamu! Sebab ini adalah areaku! Aku berkuasa di sini, para pasukanku ada di sini. Jika Nyai Ratu itu ingin mendeklarasikan perang. Maka mari kita berperang di sini! Kau pikir akan mudah mengembalikan itu ke tempatku? Tidak! Mereka yang kau lindungi akan menjadi santapanku begitupun juga denganmu!" ujar gema suara besar itu.

Aldo merinding seketika mendengar itu. Laras yang merasakan genggaman kekasihnya mengerat pun tau itu, bahwa Aldo sedang takut saat ini.

"Kenapa Al harus takut? Dia derajatnya lebih rendah dari kita kok! Selama kita tidak membuat kesepakatan. Dia tidak bisa menyentuh jiwa hidup kita!" jelas Laras pada Aldo.

Aldo menoleh ke arah Laras. Laras membalas genggaman tangan Aldo lebih erat. Laras mencoba menguatkan nyalinya Aldo agar tidak goyah. Apalagi saat ini mereka sedang berada di Alam sebelah.

"Hei Dalbo!" panggil Cak Dika keras sambil menatap ke atas.

"Dengar ya! Jarimu tidak akan mampu menyentuh kami sedikitpun. Kau akan kalah, lalu aku akan membuangnya ke tempat yang bahkan tidak ingin kau datangi. Kalau kamu kenal buyut kami seharusnya kamu tau bahwa ucapan kami ini tidak pernah main-main!" ucap Cak Dika memperingati.

Nyalinya kuat sekali saat mengatakan itu. Kabut tebal perlahan datang. Membuat area kegelapan yang mereka pijaki itu berkabut sekarang.

1
Nurr Tika
ada ratunya ada pangeran wis komplit
Stanalise (Deep)🖌️: /Facepalm/ Tapi, beda kubu kakak
total 1 replies
Nurr Tika
clbk lg ya bel
Nurr Tika
💪 mas suhu
Nurr Tika
setuju ga cak dika
Stanalise (Deep)🖌️: /Facepalm/ Haish, cak Dika mah asal Bella bahagia 👍
total 1 replies
Nurr Tika
cak dika kapan nyusul laras
Stanalise (Deep)🖌️: 🤣 Ada di season 2 kak, otw katanya lagi cari duit
total 1 replies
Nurr Tika
opo ya cerita nyata di tegal
Stanalise (Deep)🖌️: Iya kak, rumah 1 keluarga dibunuh.
total 1 replies
Nurr Tika
selamat ya buat rachel
Nurr Tika
wah jantel tariq
studibivalvia
wih, mas’ud ini ada bakatnya juga ternyata multi talent lagi wkwk akhirnya kisah bareng dikuak juga
studibivalvia
semangat deh yaa kalian wkwk syukuran dah
studibivalvia
loh? kayaknya ini typo deh? kan laras ga bisa melihat 🙂
studibivalvia
owalah cak 🤣 gapapa aku wes dah ikhlas beneran
studibivalvia
aku merekomendasikan cerita ini! beneran bagus dan fresh, ga bosen bacanya malah nagih! sukses untuk author deep yg udah berhasil bikin cerita yg hidup dan nyata ini
studibivalvia
heh? itu beneran kaki dan jari tangannya gaada? wes beneran tah iki? dimakan setan? 😱
studibivalvia
itu beneran kakinya dimakan setan monyet? 😭 bukan pengaruh setan tah? beneran diterkam kakinya?
studibivalvia
makanya jan sesumbar kamu le 🙂 ini lama2 aku paham bahasa jowo loh 🤣
studibivalvia
makanya jan sesumbar kamu le 🙂 ini lama2 aku paham bahasa jowo loh 🤣
studibivalvia
hoh, serem juga yaa kalo ini beneran terjadi di zaman dulu
studibivalvia
manis banget wkwkw aku jadi iri deh 🙂 btw aku insom nih kebangun lagi trus gabut wkwk
studibivalvia
lah? jamnya ga ketemu tah? kirain yg bersinar tadi itu jam tangannya 🤣 mana rolex lagi wkwk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!