Beana Hermawan adalah seorang gadis cantik berhijab berusia 16 tahun. Dia lahir dari keluarga yang cukup sederhana.Berkat kecerdasannya dia mendapatkan beasiswa dari sekolah SMA terbaik di Jakarta.
Di sinilah masalah di mulai.Diam-diam Sehan Adifta Setiawan sang ketos sekaligus anak pemilik yayasan di sekolah itu mulai menyukai nya dan melakukan pelecehan yang membuat nya hamil dan terpaksa menjadi orang tua tunggal karena sang pelaku tidak mau bertanggung jawab.
Bisakah dia menjadi ibu yang baik untuk anaknya nanti ataukah dia akan menggugurkan bayinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Airina Nu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Terdengar suara kereta memasuki stasiun di sana sudah banyak penumpang kereta yang sedang menunggu jurusan Jabotabek.
Hingga terdengar suara pemberitahuan kalau kereta kini akan memasuki stasiun.
Di antara banyaknya penumpang ada sosok seorang gadis berhijab sedang berdiri dengan hati berdebar-debar ,bagaimana tidak ini adalah pertemuan terakhirnya dengan kedua orang tuanya.Dirinya sudah memutuskan untuk pergi menjauh agar kedua orang tuanya tidak mendapatkan malu karena mengetahui anak perempuan yang sangat di sayanginya dengan segudang prestasi hamil di luar nikah.
Memalukan mungkin kata-kata itu yang pantas sekali di ucapkan.Jika sampai aib ini sampai di dengar oleh semua orang di kampungnya maka seluruh keluarganya akan menanggung rasa malu.
Dirinya sudah berhari-hari memikirkan semua masalah ini, hingga di sinilah kini dirinya berada di titik terendahnya.
Diam-diam diapun menangis lalu dengan cepat dia pun menghapusnya agar kedua orang tuanya tidak mengetahuinya.
Rasanya hatinya begitu berat untuk mengucapkan salam perpisahan kepada kedua orang tuanya.
Terdengar suara pemberitahuan kepada semua penumpang kereta jurusan Jabotabek agar segera naik karena kereta jurusan Jabotabek akan segera berangkat.
Beana melihat kedua orang tuanya, terlihat wajah keduanya kali ini yang terlihat begitu sedih.
"Ana berangkat dulu Bu."pamitnya sambil memeluk tubuh Ibunya itu dengan erat.
" Iya. Hati-hati ".ucapnya dengan suara sedikit terisak di pelukan sang anak.
Keduanya pun menangis.Setelah sedikit tenang gadis itupun berpamitan dengan sang Ayah.
" Ana pamit Yah".
Laki-laki langsung memeluk tubuh putrinya. Dalam hati kecilnya laki-laki itupun seperti sedikit memiliki sebuah firasat tentang putrinya.Tapi laki-laki itu hanya bisa berdoa mudah-mudahan putrinya akan baik-baik saja.
"Jaga diri kamu baik-baik ya, kami berdua selalu berdoa untuk mu."
Putri cantiknya hanya mengangguk iya.
"Assalamu'alaikum".salamnya sambil gadis itupun berjalan memasuki gerbong kereta karena keretanya sudah mau berangkat.
" Waalaikumsalam ".jawab keduanya dengan hati yang sedih melihat putrinya pergi menuju ke dalam kereta.
Setelah mendapatkan tempat duduk.Diam-diam gadis itupun menangis tanpa suara.
" Selamat tinggal Ayah,Ibu mungkin inilah pertemuan terakhir kita. Semoga kalian berdua sehat-sehat selalu hingga saatnya tiba kita di pertemukan dalam keadaan baik-baik saja ".
Lihatnya lagi kedua orang tuanya dengan perasaan yang tidak bisa di ucapkan.
Inilah adaah sebuah keputusan sangat terbaik yang akan di ambilnya. Keputusannya adalah cara untuk terus mempertahankan kandungannya dan pergi jauh dari orang yang di sayanginya agar mereka semua tidak akan mendapatkan malu.".pikirnya.
Di usap wajahnya dengan kedua tangan nya.
"Maafkan putrimu ini Ayah,Ibu".
Hingga kereta itupun bergerak dan dia pun merasakan betapa jantung kini sedang berdebar-debar meninggalkan kota kelahiran nya.
Kota di mana dulu dirinya tinggal.Tapi kini dirinya hanya bisa terdiam sambil memegangi dadanya yang sedikit sesak.
" Maafkan Beana Ayah Ibu".
Di tempat berbeda.
"Bu".panggilnya kepada wanita di sebelahnya dan wanita itupun menoleh.
"Iya yah".jawabnya.
"Ibu merasakan ada yang lain ngga dengan Ana?
" Sejujurnya iya".
"Apa yang beda dari Ana Bu?
" Ana putri kita bersikap sedikit dingin dan sedikit irit bicara".
Laki-laki menarik napasnya.
"Apa Ayah merasakannya?tanyanya ingin tau.
" Iya.Ayah merasakan bahwa putri kita sepertinya ini adalah pertemuan terakhir kita dengannya Bu".
Wanita itupun terdiam lalu terlihat butir-butir air mata memenuhi kedua matanya.Laki-laki itupun memeluk tubuh istrinya yang kini sedang menangis.
"Sabar ya Bu, kita berdoa saja semoga apa yang Ayah ucapkan tadi tidak benar".ucapnya sambil menghapus air matanya yang basah karena menangis.
bersambung