Semuanya telah selesai, selamat melewati kehidupan baru
WANT YOU
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SILAN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bonus part 6
"Mah. Kak justin kok gak ikut sarapan?" Tanya Fera sembari meletakan tas dikursi kosong disampingnya dan bergabung untuk sarapan bersama.
"Kakakmu udah berangkat duluan abis subuh tadi katanya ada pasien darurat" Jawab Derulo papa Fera.
Fera hanya mangguk mangguk tidak bertanya lebih jauh lagi karena pekerjaan Justin memang seperti itu. Selesai sarapan Derulo mengantarkan Fera kesekolahnya sebelum kekantor.
Gadis yang akan menyelesaikan studi sma nya tahun itu pun memberi salam lalu masuk kesekolahnya tapi sebelum itu Fera mengulurkan tangan.
Derulo terkekeh pelan mengeluarkan dompetnya mengeluarkan dua lembar uang seratusan.
"Belajar yang pinter ya putri papa yang paling cantik" Katanya.
"Siap pak bos. Fera masuk dulu ya pa" Fera berjalan menuju gerbang sekolahnya bersama beberapa teman sebayanya. Derulo tersenyum seakan dari matanya ia melihat satu anaknya lagi berjalan bersama Fera. Salah satu putri kembarnya yang sudah bahagia disurga.
______
"Mbak Dian, besok saya apa masih ada jadwal operasi lagi?" Tanya Justin saat dia baru selesai dengan salah satu tugasnya.
"Kamu mau pergi kesana ya?" Tanya Mbak Dian disela langkahnya. Justin mengangguk. "Dari daftar pasienmu besok memang tidak ada. Besok giliran dokter Gaha tapi gak tau juga kalau tiba-tiba pasiennya nambah?" Ucap perempuan tiga puluhan itu.
"Oh ya. Ini sudah delapan tahun ya dan kamu sering kesana sepertinya dia sangat berharga buatmu" lanjut Mbak Dian lagi.
Justin tersenyum "Dibilang spesial iya banget Mbak. Kalau gak ada dia palingan saya gak jadi dokter kayak gini" Kekeh justin "Mari Mbak" Justin mengangguk sekali lalu masuk keruangannya.
Kursi hitam berbahan kulit yang sering diduduki Justin bergerak begitu si pemilik duduk atasnya. Helaan nafas panjang keluar dari bibir justin.
"Sudah delapan tahun ya?" Gumamnya. Sudah delapan tahun dan itu tak mampu membuatnya lupa akan senyuman dan tawanya yang selalu Justin lihat saat mereka bersama. Tak pernah ada kesedihan semuanya yang terpancarkan hanya kebahagian dan keceriaan meskipun semua itu sangat singkat setidaknya Justin pernah menjadi salah satu bagian dari kehidupan nya. Luisa-nya.
Senyum tipis saat Justin menatap foto didalam dompetnya mengusapnya seakan mengatakan sesuatu lewat usapan jarinya. Ternyata melupakan cinta yang sesungguhnya itu tidak mudah buktinya sudah delapan tahun dan Justin belum mampu mencari pengganti Luisa untuk mengisi hari-hari kosongnya.
Memang setelah Luisa meninggal Justin dekat dengan beberapa wanita tapi selain teman tidak ada perasaan lain yang Justin pernah rasakan. Namun baru-baru ini ada seorang perempuan yang berhasil merebut perhatiannya.
Ting!
Justin menutup kembali dompetnya untuk melihat layar ponsel yang tergeletak didepannya menampilkan satu notif pengingat yang setiap satu kali setahun selama delapan tahun ini akan mengingatkannya tentang hari esok.
Foto Luisa dan dirinya jaman sma menjadi wallpaper utama tapi tiba-tiba foto mereka tergantikan dengan wajah menggemaskan Fera yang menelfon, Segera justin menggeser icon hijau.
"Adik kakak yang cantik ada apa?" sapa Justin bertepatan saat pintu ruang kerjanya terbuka, Fera berdiri dengan ponsel ditempelkan ditelinga.
"Aku mau tanya apa kakak tampanku sibuk hari ini?" Tanya Fera lewat telefon meskipun mereka saling berhadapan.
Justin melihat jam didinding yang menunjukkan pukul dua belas lalu pada adik perempuan nya.
"Kamu gak sekolah? Jangan bilang kamu bolos?"
Fera memasukan ponsel kesaku seragam nya "Kak Justin tau gak hari ini tuh sekolah ujian jadi pulangnya agak cepet terus dari pada Fera dirumah gak ada kerjaan mending Fera nemuin kak Justin disini sambil liat situasi rumah sakit"
Justin menggeleng pelan dengan adik satu-satunya yang ia punya ini. Jika kebanyakan orang membenci rumah sakit entah karena baunya aneh atau karena dirumah sakit ini banyak orang sakitnya tapi Fera sebagai anak Sma malah suka dengan rumah sakit dan mengatakan aroma rumah sakit itu unik.
"Nanti kalo kamu sering kesini dikira yang lain kakak mainnya sama anak sma loh" Justin berdiri dari duduknya.
"Biarin aja gak papa kok lagian aku ini kan adiknya kak Justin kalau mereka anggap aku ceweknya kak justin pasti lucu" Fera mengambil kursi Justin dan mendudukinya dengan nyaman. Justin menyilangkan tangan didepan perut sembari menggelengkan kepalanya pelan.
"Ini masih jam kerja Fera kamu gak bisa seenaknya gitu dong datang kerumah sakit kayak gini"
Fera melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Ini jam makan siang kok emang kakak gak makan? Kebetulan Fera bawain makanan rumahan" katanya sembari mengeluarkan kotak bekal dari dalam tasnya.
"Kamu mana sempet buat makanan? Kamu aja baru pulang sekolah mana baju gak ganti lagi"
Fera menggaruk kepalanya yang tidak gatal "Tau lah. Pokoknya kak Justin makan bekalnya nanti kasih komentar rasanya enak atau tidak kalau enak Fera bawain lagi besok"
Justin menghela nafas rendah mengulurkan tangan mengambil makanan dari tangan Fera lalu membawanya duduk dikursi lain yang ada disana. Justin membuka kotak bekal dan menatap Fera lagi dengan pandangan curiga sedangkan Fera menunggu kapan Justin akan memakannya.
"Gak jadi deh kakak udah kenyang" Justin menutup kembali kotaknya dan Fera melotot jengkel.
"Makan gak atau aku jejelin loh nanti" ancam Fera.
"Kakak khawatir kamu naburin racun diatasnya" ucap Justin dengan wajah dibuat buat serius.
"Ih kak justin tega ya nuduh adik sendiri kayak gitu. Kalau gak mau sini biar Fera habisin sendiri biar kakak sekalian aja mati kelaparan" Dengan kasar Fera merebut kotak bekalnya namun Justin menahan dengan kekehan gelinya.
"Emang kamu mau kehilangan kakak gantengmu. Sini biar kakak aja yang makan kebetulan belum makan" Justin mengambil sendok dan mulai menyantap makanan pemberian fera.
Fera tersenyum senang dengan dagu ditopang oleh kedua tangannya menyaksikan Justin memakan habis makanan yang Fera bawa.
"Enak kan?"
"Hem. Kamu yang masak? Sejak kapan kamu belajar masak?"
Fera menyodorkan botol akua untuk justin yang langsung diteguk setengah oleh kakak laki-lakinya.
"Bukan Fera kok yang masak tapi kalau kak justin suka aku bakal minta kak Naura bikinin makan siang lagi buat kak justin" jawab Fera dengan santainya merapikan kembali kotak bekal yang sudah kosong tapi setelah kalimatnya selesai Justin menyemburkan air yang sudah ada didalam mulutnya.
Fera bergidik geli.
"Jorok banget sih kak Justin. Kak Naura mana mau sama kakak kalau jorok kayak gitu" gerutunya.
Justin terbatuk-batuk sambil memukul dadanya sendiri setelah itu menatap Fera dengan tatapan tajam.
"Jadi ini yang masak memang bukan kamu! Tapi kenapa bisa–"
"Aku yang minta kak Naura kok. Soalnya kata Nadia kakaknya pintar masak jadi Fera kepengen aja punya kakak yang jago masak. Menurut Kak Justin gimana? Kak Naura cantik terus pinter masak terus pinter–"
"Fera sekarang kamu pulang dan belajar biar ujianmu besok dapat nilai bagus" Justin menarik paksa Fera untuk segera keluar dari ruangannya tak lupa juga meraih tas adiknya agar tidak ketinggalan.
"Besok kan hari libur. Kak Justin ngusir Fera?"
Fera memaksa ingin menetap tapi Justin ternyata lebih seram ketika marah hingga Fera menurut seperti kucing yang akan diberi makan.
Justin mengusap bajunya yang basah karena kesembur air. Tidak menyangka Fera sampai sebegitu ingin menjodohkannya dengan Naura.
_____
jangan lupa berikan Vote pada cerita ini ya.
salam sayang dari SILAN