NovelToon NovelToon
Terpikat Pesona Suami Cadangan

Terpikat Pesona Suami Cadangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Perjodohan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

David menatap Mili yang masih terpaku, lalu dengan suara rendah namun penuh wibawa, ia memberi perintah, "Duduklah di sampingku."

Mili baru saja hendak melangkah, namun langkahnya mendadak terhenti ketika Emilia langsung maju.

Wajah Emilia dipenuhi kilat keserakahan yang tidak lagi disembunyikan.

Dengan berani, ia merentangkan tangan menghadang Mili.

"Tunggu dulu! Tidak bisa semudah itu!" seru Emilia, menatap David dengan pandangan meremehkan.

"Kami bahkan belum mengenal siapa dirimu yang sebenarnya, Anak Muda. Kalau kamu mau menikahi putri kami sekarang juga, kamu harus memberikan mahar yang sangat banyak! Keluarga kami tidak akan melepas anak begitu saja tanpa jaminan yang jelas!"

Suasana di ruang tamu mendadak hening membeku.

Ben dan Hermawan terdiam, sementara Gea tersenyum sinis di belakang ibunya.

Mereka semua belum benar-benar tahu siapa sebenarnya David di balik pembawaannya yang misterius.

David tidak membalas ucapan Emilia dengan kata-kata.

Sebagai gantinya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang teramat dingin.

Dengan gerakan kilat yang tak terduga, tangan kanannya masuk ke balik jas hitamnya.

Klik!

Bunyi logam yang dingin menggema di ruangan itu.

Sebuah pistol hitam berkilau kini berada di tangan David, moncongnya terarah tepat di antara kedua mata Emilia.

"Mau mahar... atau nyawa?" tanya David datar.

Nada suaranya begitu tenang, seolah ia tidak sedang menodongkan senjata mematikan di ruang tamu seseorang.

Wajah Emilia langsung pucat pasi seperti mayat. Seluruh tubuhnya gemetar hebat, dan ia hampir saja jatuh terduduk jika Ben tidak segera menahan pinggangnya dari belakang.

Tidak ada yang berani bersuara; semua orang di ruangan itu mendadak kehilangan keberanian mereka melihat sisi gelap David yang mengerikan.

Tanpa memedulikan ketakutan keluarga Ben, tangan kiri David bergerak ke samping.

Dengan satu gerakan protektif yang tegas, ia menarik pinggang Mili, membawa tubuh ramping gadis itu merapat ke sisi tubuhnya yang kokoh.

Mili terkesiap, jantungnya berpacu liar. Namun, sebelum rasa takut sempat menguasai dirinya, David merunduk sedikit, berbisik tepat di dekat telinga Mili dengan nada yang mendadak melunak, "Tidak usah takut."

Sentuhan dan suara itu entah bagaimana memberikan rasa aman yang aneh bagi Mili.

Untuk pertama kalinya dalam hidup, ada seseorang yang berdiri di depannya dan melindunginya dari keluarganya sendiri.

David kemudian berbalik menatap sang penghulu yang sudah berkeringat dingin di kursinya.

Pria misterius itu meletakkan senjatanya di atas meja dengan ketukan pelan yang mengancam, lalu mengulurkan tangannya yang kokoh untuk menggenggam tangan penghulu yang gemetar.

Tanpa menunggu hitungan atau aba-aba panjang dari penghulu yang ketakutan, David langsung mengucapkan kalimat sakral itu dengan satu tarikan napas yang tegas dan lantang.

"Saya terima nikah dan kawinnya Mili Arisanti binti Benjamin dengan mas kawin 1.000 US Dollar dibayar tunai!"

Mendengar nominal yang diucapkan David, mata Gea langsung membelalak lebar.

1.000 US Dollar? Tunai?!

Jantung Gea mencelos. Nilai itu setara dengan belasan juta rupiah jika dirupiahkan untuk mahar instan, dan David mengucapkannya tanpa berkedip sedikit pun.

Gadis egois itu mulai menyadari bahwa pria dingin yang baru saja ia buang mungkin memiliki kekayaan yang jauh di luar bayangannya.

"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya penghulu dengan suara bergetar, terburu-buru karena ingin segera menyelesaikan urusan dengan pria bersenjata ini.

"Sah!" jawab Hermawan Kartajaya dengan helaan napas berat, diikuti anggukan pasrah dari Ben yang masih syok.

"Sah!"

Ketukan buku nikah berbunyi. Detik itu juga, Mili resmi menjadi istri seorang David.

Melihat kakaknya mendadak menjadi pusat perhatian dan mendapatkan mahar yang fantastis dari pria yang ternyata sangat berkuasa, ego Gea langsung berontak.

Ia tidak sudi kalah dari si "anak sial". Dengan tidak tahu malu, Gea maju selangkah dan menghentakkan kakinya ke lantai.

"Papa! Aku juga mau menikah sekarang!! Rencana awal harus tetap berjalan! Aku mau menikah dengan Andrew sekarang juga!" protes Gea dengan nada egois yang melengking, memecah ketegangan di ruangan itu.

Mendengar tuntutan Gea, Andrew langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.

Wajah tampannya mendadak pucat, memancarkan kepanikan yang tertahan.

"Jangan sekarang... A-aku..." Andrew terbata-bata, meremas kedua tangannya sendiri.

"Aku belum siap untuk menikah malam ini."

"Aku akan bunuh diri jika kamu tidak menikahi

aku sekarang juga, Andrew!!" ancam Gea histeris.

Gadis itu mulai menangis buaya, memanfaatkan drama agar semua keinginannya terpenuhi saat itu juga.

Ia tidak sudi malam ini Mili terlihat lebih unggul darinya.

Melihat kekacauan yang semakin menjadi-jadi, Hermawan Kartajaya menghela napas panjang.

Merasa nama baiknya dipertaruhkan, ia menoleh tajam ke arah putra sulungnya.

"Andrew, nikahi dia sekarang. Jangan mempermalukan Papa di sini."

Andrew mengepalkan tangannya kuat-kuat. Di bawah tekanan sang ayah dan ancaman gila dari Gea, Andrew mau tidak mau akhirnya pasrah.

Ia mengangguk lemah dan menjabat tangan penghulu yang masih gemetar.

"Saya terima nikah dan kawinnya Gea Ferista binti Benjamin dengan mas kawin sepuluh juta rupiah dibayar tunai," ucap Andrew dengan nada datar, nyaris tanpa nyawa.

Mendengar nominal "sepuluh juta rupiah" yang sangat jauh dibanding mahar ribuan dolar milik Mili, Gea langsung melotot.

Mulutnya sudah terbuka lebar, bersiap untuk melayangkan protes keras.

Namun, sang penghulu yang sudah lelah dengan drama keluarga ini langsung memotong dengan cepat.

"Bagaimana saksi? Sah?"

"Sah!"

"Sah!"

Ketukan palu penghulu berbunyi dua kali lebih cepat dari sebelumnya.

Detik itu juga, Gea resmi menjadi istri Andrew, meski dengan wajah yang ditekuk masam karena menahan dongkol.

Hermawan kemudian berdeham, mencoba mengembalikan wibawa pertemuan malam itu.

Ia menatap kedua pasang pengantin baru yang kini duduk di hadapannya.

"Karena kalian berdua sudah sah menjadi suami istri, ini hadiah rumah untuk kalian masing-masing," ucap Hermawan sambil meletakkan dua buah kunci rumah mewah di atas meja.

"T-terima kasih, Papa..." ucap Mili dengan suara teramat lirih. Ini adalah pertama kalinya ada seseorang yang memberinya sesuatu yang berharga tanpa menuntut imbalan yang menyakitkan.

Belum sempat Ben atau Emilia membuka suara untuk berbasa-basi, David sudah bangkit berdiri dari duduknya.

Pria itu merapikan jas hitamnya yang tak sedikit pun kusut, lalu menatap Mili.

"Ayo pergi," ajak David datar. Matanya melirik sinis ke arah keluarga Ben.

"Suasana di rumah ini sudah seperti drama kolosal."

Sindiran tajam David membuat wajah Ben dan Emilia merah padam menahan malu, namun mereka tidak berani mendebat pria yang tadi menodongkan senjata itu.

Sementara Mili hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan, menyetujui ucapan suaminya.

"S-sebentar... aku harus mengambil sesuatu di atas," bisik Mili ragu.

David hanya mengangguk pelan sebagai tanda izin.

Mili pun segera berbalik dan berlari kecil menaiki anak tangga, menuju satu-satunya tempat yang selama ini menampung air matanya.

Sesampainya di kamar loteng yang pengap itu, Mili bergerak cepat.

Ia memasukkan ponsel tua, dompet tipis, dan beberapa barang penting ke dalam tas kainnya.

Namun, fokus utamanya tertuju pada sudut tempat tidur yang reot.

Di sana, seekor kucing kampung berbulu abu-abu sedang meringkuk tidur dengan pulas.

"Dora... bangun, Sayang. Kita pergi dari sini," bisik Mili lembut sambil menggendong kucing kesayangannya itu ke dalam pelukannya.

Dora mengeong pelan, mengusapkan kepalanya ke dada Mili seolah tahu bahwa majikannya sedang dalam bahaya.

Sebelum melangkah keluar, Mili membalikkan badannya.

Ia menatap kamar gelap seperti gudang yang telah mengurungnya selama bertahun-tahun.

Sebuah senyum getir terukir di bibir cantiknya.

"Selamat tinggal, kamarku," gumam Mili lirih.

Dengan langkah yang terasa jauh lebih ringan

dan tanpa menoleh ke belakang lagi, Mili menuruni tangga, menghampiri David yang sudah menunggunya di dekat pintu.

Malam itu, bersama Dora di pelukannya dan pria misterius di sampingnya, Mili melangkah keluar dari rumah neraka itu, siap menyongsong takdir baru yang menantinya.

1
Yensi Juniarti
lanjuuut ya say 😘😘
Yensi Juniarti
ayo mili tunjukan ke gea kalau km lebih dari segala galanya .... 🥰🥰🥰
Yensi Juniarti
bahagia menyertai mu Mili...🥰🥰
Yensi Juniarti
🥰🥰🥰🥰 semuanya milik Mili
Yensi Juniarti
lanjutkan 🙏🙏
Rian Moontero
lanjooott👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!