Grace Eloise seorang wanita lulusan mahasiswi tingkat atas yang sekarang sudah menjadi seorang dosen jurusan kedokteran di suatu kampus terbilang cukup elit tidak kalah terkenal dari kampus lainnya.
Wanita satu ini tidak kenal lelah karena hidupnya sangat keras sehingga dia menjadi orang yang mampu berdiri di kakinya sendiri.
Dikatakan keluarganya juga tidak terlalu mewah karena ayahnya bekerja di suatu bar kecil ibunya telah tiada dan sekarang hidup mereka sudah terbilang cukup lumayan akan tetapi sang ayah hanya menghabiskan uangnya hanya untuk berjudi dan mabukan.
Grace pernah melarikan diri dari rumah karena begitu marahnya terhadap sang ayah sebab dia sangat tidak di hargai sebagai seorang anak.
Bukankah anak perempuan sangat bermanja dengan ayah mereka?
Namun tidak untuk Grace, dia hanya tahu mencari uang untuk melanjutkan kehidupan mereka.
Sampai suatu ketika dia bertemu lagi dengan mantannya di sebuah cafe brsma seorang wanita.
Yuk ikuti kisahnya... 😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dekapan Seorang Teman?
...『⇒Bab 33⇐』...
Pada malam setelah Grace pergi dari rumahnya ia terus berlari tanpa menggunakan kendaraan sementara ia tak tahu harus kemana sebab dirinya masih dalam keadaan sangat kacau bahkan sedari dulu ia sudah berfikir untuk mencari rumah kost tuk dirinya namun ia masih mengulurkan niatnya supaya ia bisa berada di dekat ayahnya tetapi semua yang di lakukan olehnya memang sama sekali tidak berguna ternyata ayahnya benar-benar tidak pernah menganggap dirinya walau sekelip matapun.
Saat ini Grace berada di pinggiran jembatan tempat ia biasanya membuang rasa sedihnya itu.
Grace terus menyeka air matanya dan menangis tersedu-sedu bukan karena tamparan dari Jihan namun perasaan sakit yang selama ini terpendam dalam hatinya sebab sudah terlalu lama ia merasakan perlakuan buruk di dalam rumahnya itu sehingga ia merasa seperti anak buangan yang tak pernah di harapkan kehadirannya, begitulah yang di rasakan oleh Grace sedari dulu hingga sampai sekarang ini.
"Apa benar aku anak buangan? sampai ayahku sendiri tak pernah membela ku untuk sekali pun, aku sudah tidak kuat lagi tuhan... Hikss," rintihan tangisan Grace yang pecah itu membuat orang-orang pejalan kaki yang berlalu lalang melihat ke arahnya.
Grace memukul dadanya yang terasa sangat sesak ketika ia sedang membayangkan kehidupannya tersebut tampak begitu amat terpukulnya ia selama ini karena tak pernah mendapatkan kasih sayang secara tulus dari keluarganya tetapi sempat ia berharap akan datang hari di mana ia di perlakukan baik oleh keluarganya sendiri bahkan harapan itu masih ia nantikan walaupun tak semudah itu ia dapatkan.
Air mata terus saja mengalir membasahi kedua pipinya serta suara rintihan tangis itu masih terdengar jelas.
"Grace?"
Terbukalah kedua mata Grace di saat ia mendengar seseorang menyebut namanya lalu ia menyeka air mata secara sigap kemudian langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Do -dokter?" kagetnya Grace ketika mengetahui yang menegurnya ialah Elya sehingga ia menautkan kedua alis matanya menatap ke arah Elya.
"Ternyata benar kamu! saya sampai menebak sendiri sebelum berhenti," turutnya pula namun ia sejenak melihat kedua mata Grace tampak bengkak. "Grace, apa kamu sedang menangis?" lanjut Elya lagi meyakinkan penglihatannya itu dengan memberanikan diri tuk bertanya.
"Ah, i- itu..." Grace terus menyeka sisa air mata yang masih menempel di area wajahnya supaya tak meninggalkan bekas. "Tidak kok dokter, hanya saja angin terlalu kencang dan debu jadinya masuk ke area mata saya! ah iya, dokter kenapa bisa ada di daerah ini?" lanjutnya pula terdengar mengalihkan topik sementara Elya sudah mengetahui hanya dari sikap Grace yang berusaha mengelak darinya.
"Oh, saya memang lewat dari jalan ini kalau mau pulang ke rumah dan kamu kenapa malam-malam begini berdiri seorang diri? apa kamu sedang menunggu seseorang?" tanya Elya seketika membuat Grace mengalihkan wajah darinya sejenak.
Grace berusaha tetap tenang dengan memberikan senyuman simpul di balik bibirnya. "Ti -tidak dokter, saya hanya ingin menikmati suasana malam di sini saja dan tidak menunggu siapapun." Grace terpaksa mencari alasan supaya Elya tak mengetahui apapun tentangnya.
"Oh begitu... Tapi mengapa baju mu masih terlihat sama? apa kamu tidak pulang ke rumah?" tanya Elya lagi sebab ia masih meragukan alasan yang di katakan oleh Grace barusan.
"Rumah?" beo Grace membuat Elya menatap serius ke arahnya.
"Iya, rumah kamu! tidak baik anak perempuan berdiri sendiri di sini jadi kalau tidak keberatan saya akan mengantar kamu pulang," usulnya dengan menawarkan diri serta sedikit melangkah mendekat ke arah Grace.
"Ru -rumah? pulang?" ia mengulang perkataanya kembali namun kakinya bergerak mundur di saat Elya mencoba mendekat ke arahnya.
"Ada apa Grace? tentu saja rumah mu, saya akan mengantarnya, ayuk..."
"Tidak! ti -tidak," teriakan Grace pecah di saat ia menatap ke arah Elya dengan penuh rasa takut di wajahnya.
"Grace, saya tidak berbuat jahat kenapa kamu berteriak? apa ada yang sakit di tubuhmu? saya akan memeriksanya," cakap Elya secara perlahan sehingga ia terus mencoba mendekat ke arah Grace selangkah demi selangkah.
"Jangan mendekat! saya tidak mau pulang, saya tidak mau..." jeritan serta rintihan tangis seketika keluar dari mulut Grace bahkan ia terduduk dan mengepit kepalanya dengan kedua tangannya sendiri.
Elya tampak kebingungan dengan situasi yang sedang terjadi saat ini karena ia jelas mengetahui kalau Grace merupakan orang yang bertutur kata baik, tidak kasar, bahkan mengeluarkan suara yang keras seperti itu walaupun Elya masih baru pertama kenal namun ia paling pintar menyikapi gelagat orang lain untuk itulah ia terus mencoba mendekatinya meskipun Grace sudah berbuat hal demikian tetapi ia yakin bahwa Grace sedang di hadapkan oleh masalah besar makanya bersikap tidak sopan terhadapnya.
Di saat dirinya sudah berada di dekat Grace, Elya pun menepuk kedua bahu Grace secara perlahan dengan berulang kali ia melakukan hal tersebut. "Grace, tenangkan dirimu! hei, tenanglah!" bujuk Elya tampak sudah menumpukan tubuhnya di kedua tumit kakinya itu sembari berusaha menenangkan Grace.
Grepp
Tubuh Grace di dekap hangat oleh Elya sebab ia merasa tidak tega harus membiarkan Grace menangis tersedu-sedu begitu makanya ia secara sigap memeluknya.
"Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi padamu tapi saya tidak bisa meninggalkan mu sendiri di tempat ini jadi kau menangis lah yang kuat karena dengan menangis semua perasaan sedih mu akan sedikit berkurang, menangis lah! tidak apa-apa," cakap Elya pula namun dirinya tetap menepuk punggung belakang Grace secara berulang kali hingga sebelah tangannya lagi mengelus lembut kepala Grace.
"Huuaaa, haaaaa.... Hiks hikss, huaaa!"
Begitu nyaringnya suara tangisan tersebut bahkan Grace tak pernah melakukan hal demikian pada siapapun namun untuk kali ini ia malah merasa berbeda setelah bertemu dengan Elya.
Elya tampak semakin mendekap erat tubuh Grace sementara Grace sudah berlinang air mata meskipun bagian bajunya sudah terlihat basah akibat air mata Grace namun dirinya enggan memikirkan hal tersebut karena ia tetap berusaha memberi kenyamanan pada Grace lewat pelukannya.
.
.
.
Brakkk
"Dasar wanita jahat, jelas dia bukan manusia melainkan nenek sihir!" amukan keluar dari mulut Elya setelah ia memukul setir mobilnya.
Yap, usai Grace berhenti menangis Elya pun membawanya masuk ke dalam mobil supaya bisa lebih menenangkan dirinya namun di saat Elya mulai bertanya kenapa Grace menjadi seperi itu tetapi Grace enggan menjawab apapun padanya untuk itu ia mengancam Grace ingin membawanya pulang dan lagi-lagi Grace menolaknya.
Pada akhirnya dari sedikit desakan ancaman tersebut Elya mendapat pengakuan sendiri dari Grace sebab Grace sudah tidak tahu lagi harus memberi alasan yang bagaimana pada Elya bahkan dirinya ingin pulang sendiri namun Elya tak mengizinkannya tuk itulah mau tidak mau Grace menceritakan yang telah terjadi pada dirinya.
Grace menceritakan yang terjadi pada hidupnya sehingga Elya sempat tak menduga bahwa Grace mampu melewati semuanya sendirian dan jelas saja Grace sampai menangis tersedu begitu ternyata begitu berat hidup yang telah di jalaninya, begitulah benak Elya sedari tadi menatap ke arah Grace serta mendengarkan semua cerita dari suara yang lirih itu makanya Elya menjadi sangat geram usai Grace bercerita.
"Pfftt!"
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Elya ketika dirinya menoleh ke arah Grace setelah mencibir Jihan dari mulutnya.
"Hehe, dokter kalau sedang marah terlihat sangat lucu!" celoteh Grace sembari tertawa kecil.
"Hmm sepertinya hati mu sudah jauh lebih baik sekarang, syukurlah."
Elya memberi senyuman tipis di wajahnya serta tampak membuang nafas lega pula.
"Terimakasih banyak sekali lagi dokter untuk kesekian kalinya membantu saya," cakap Grace tersenyum ramah.
"Apa kamu mau berteman?" tanya Elya sesaat ia berikan jemari kelingking tangannya tampak membalas senyuman dari Grace.
"Teman?" bergumam pula serta menatap jemari kelingking tersebut di hadapannya.
"Iya, sebagai seorang teman! bukan seorang dokter maupun pasien, kau dan aku tidak ada lagi berbicara formal jadi harus santai. Bagaimana?" monolog Elya terdengar memberi negosiasi pada Grace.
"Lalu sa,- maksudnya aku harus memanggil dengan sebutan apa?" tanya Grace sudah mulai tampak menerima keberadaan Elya.
"Tante!" jawab Elya secara santai pula.
"Bukankah itu terlalu..."
"Tidak, sudah sangat pas dengan sebutan itu! you understand?" celoteh Elya sehingga ia meraih jemari kelingking tangan Grace serta ia lekatkan pada jemarinya.
"Pfttt," lagi-lagi Elya membuat Grace menjadi tertawa kembali.
"Baiklah sekarang kita akan pergi dari sini," cakap Elya pula kemudian ia menghidupkan mesin mobilnya.
"Mau kemana tante?" tanya Grace seketika sebab ia belum ada meminta kemana tujuannya itu.
"Apartemen."
Elya mengedipkan sebelah matanya serta tersenyum tipis sehingga Grace mengalihkan wajah melepas tawa kecilnya itu serta bergeleng kepala.
^^^To be continued^^^
^^^🍁 aiiWa 🍁^^^
...Kutipan :...
Jadilah dirimu sendiri dan katakan apa yang kau rasakan karena mereka yang tidak perduli tak penting dan mereka yang perduli tidak keberatan. ~ Grace Eloise.
kisah perjuangan seorang Grace wanita hebat dan tangguh yang menjalani kehidupannya dg ayahnya dg kekuatannya sendiri...
sangat suka dg cerita seorang wanita tangguh yg sll di suguhkan author u para readers dg jalur cerita yg sangat menarik u di baca...
semangat ya thor u semua karya2 mu yg luar biasa. God bless always.
anak tiri di sayang sayang anak kandung di sia sia kan... sungguh ayah yg tidak bertanggung jawab terhadap anaknya
ngakak aq beb boy dpet baju ocha, warna apa sih.. jan bilang pink boy🤣🤣
untung aja OCHA msh selamat, bhya gk bisa renang