Percayakah kamu adanya kesempatan kedua?
Seolah semesta ingin menghukum sekaligus memberikan kesempatan kedua bagi Senja, gadis Arogan yang selalu bersikap sesuka hatinya, entah bagaimana saat membuka mata setelah dibunuh oleh kekasih dan asistennya, Senja berada dalam dunia novel yang dia tulis sendiri.
Lantas, bagaimana kisah Senja di dunia Novel?
Siapkan imajinasi liar Anda, berpetualang dengan Airin Senja!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.angela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pria Bunglon
Detak jantung Senja masih belum bisa stabil, dia sudah berbaring 10 menit di atas ranjangnya setelah insiden ciuman itu. Dia tidak menyangka bahwa Edward akan mencium bibirnya untuk pertama kalinya.
Dia pikir, pria itu pasti tidak akan mau bertemu dengannya setelah pertengkaran mereka tapi nyatanya ketika Senja memutar tubuhnya untuk masuk ke dalam ke mess, Edward menarik tubuh gadis itu, lalu menyatukan mereka. Awalnya hanya sebatas ciuman sekilas, tapi kini justru menuntut lebih.
Tidak ada adanya penolakan dari Senja, membuat Edward menangkup tengkuk gadis itu agar semakin dekat dengannya hingga pria itu leluasa mencium bibir gadis itu yang menawarkan rasa manis dan juga nikmat membuai.
Edward seperti musafir yang baru saja menemukan sumber mata air kehidupannya dari Senja. Ciuman itu berubah menjadi ciuman panas yang menuntut serta menimbulkan gairah di antara keduanya. Melihat Senja yang susah untuk meraup udara membuat Edward melepaskan ciumannya. Keduanya diam dengan keadaan yang begitu canggung kehilangan kata-kata untuk sekedar menjelaskan apa yang harus saja mereka lakukan, dengan napas yang memburu, dada naik turun seiring debar jantung yang berdetak.
"Masuklah, sudah malam. Aku harap kau segera mengembalikan hadiah dari pria itu. Aku tidak mengizinkanmu menerima pemberian dari orang lain," ucapnya dengan lembut membelai pipi Senja, caranya mengajak berdamai sekaligus mengucapkan selamat malam.
"Tidak ada kata yang terucap dari Senja. Memangnya apa yang harus dia lakukan? Ciuman itu memberinya soft therapy yang membuatnya shock dan sama sekali tidak menduga.
Tanpa mengatakan apapun, Senja masuk ke dalam mesnya tanpa menoleh ke belakang, sesaat sebelum menutup pintu.
Edward masih berdiri diam memandangi pintu Senja seolah tatapannya bisa menembus pintu itu dan melihat apa yang sedang dilakukan Senja di dalam sana.
Beruntungnya Edward tidak mempunyai kekuatan batin, hingga dia tidak bisa melihat kalau saat ini Senja duduk di sofa dengan jantung yang masih berdebar kencang, dia meremas bagian dadanya mencoba menenangkan jantungnya yang hampir copot.
Setelah mampu menguasai diri sebuah senyum malu-malu terbit di bibirnya. Bukankah seharusnya dia marah karena Edward sudah bersikap semena-mena padanya? Dia memarahi Senja tanpa mendengarkan penjelasan gadis itu terlebih dulu. Lantas kenapa Senja jadi senyum-senyum sendiri, bahkan menikmati ciuman itu?
***
"Kau mencariku?" tanya Senja yang sudah tiba di ruangan Alex. Wajah pria itu tampak cerah. Setelah membaca grafik kesehatannya, Alex sudah semakin membaik dan kemungkinan besok sudah bisa pulang.
"Aku ingin berterima kasih karena kau sudah menyelamatkan nyawaku," ucap Alex dengan senyum yang semakin menambah ketampanannya.
"Sudah jadi tugasku, lagi pula bukan hanya aku saja yang melakukannya, ada dokter Kusuma dan tim medis lainnya yang bekerjasama untuk melancarkan operasimu," jawab Senja tidak ingin menikmati rasa terima kasih seseorang terhadap hasil kerja tim.
"Aku tahu dokter Kusuma sudah menjelaskan padaku tapi kalau tidak ada kamu, nyawaku benar-benar dipertaruhkan," tukasnya bersikeras menganggap Senja adalah malaikat penolongnya.
Senja hanya bisa tersenyum dan mengangguk. Dia senang kalau ternyata bisa lebih berguna bagi orang lain, dan benar saja tanda yang ada di tangannya kembali berkurang.
Senja merasa sudah cukup menemani Alex mengobrol, lagi pula dia harus istirahat, tidak boleh kelelahan akibat bicara dengan orang lain. Mungkin operasinya sudah berhasil namun, dia tetap saja membutuhkan istirahat yang panjang untuk pemulihan kesehatannya. Senja pamit yang diangguk oleh Alex namun, sebelum pergi pria itu meminta agar Senja datang lagi menjenguknya besok.
"Tentu saja aku akan datang, sudah menjadi salah satu tugasku untuk mengontrol kesehatanmu," jawab Senja tegas sebelum berlalu. Saat tangannya meraih gagang pintu, Senja mengingat sesuatu yang belum dia lakukan, kembali dia memutar tubuhnya dan berjalan mendekati Alex.
"Ini aku kembalikan padamu," ucapnya menyodorkan kotak hadiah yang beberapa hari lalu diberikan pria itu pada Senja.
"Apa maksudnya ini? Kenapa kau mengembalikannya? Aku'kan sudah memberikannya kepadamu," tolak Alex dengan rona wajah yang sudah berubah. Dia tersinggung karena Senja sudah mengembalikan pemberiannya.
"Aku minta maaf, tapi aku benar-benar tidak bisa menerima pemberianmu ini. Hadiah ini terlalu mahal, aku minta maaf Alex tapi aku harus mengembalikannya," ucap Senja meletakkan kotak itu di pangkuan Alex lalu kembali mundur.
"Mengapa kau lakukan ini? Apakah kau tidak menyukai hadiahnya? Apa seburuk itu hingga kau tidak bisa menyimpan pemberianku?" tanya Alex yang merasakan kekecewaan terhadap sikap Senja.
"Bukan begitu. Aku mohon Alex, pahami posisiku. Aku seorang dokter dan kau adalah pasienku, ketika aku menerima hadiah pemberianmu secara pribadi dan hal itu diketahui oleh tim dokter yang lainnya yang turut merawat mu, apa pikiran mereka terhadapku? Aku tidak mau ada orang yang salah sangka atas niat baikmu kepadaku. Jadi sekali lagi aku minta maaf, aku harus mengembalikannya," ucap Senja memutus debat menuju pintu dan keluar dari ruangan itu.
Alex hanya diam terpaku menatapi daun pintu yang sudah kembali ditutup oleh Senja, dia mencengkeram erat kotak itu lalu membukanya. Sudut hatinya perih, baru kali ini pemberiannya ditolak oleh seorang gadis, padahal ketika bertemu dengan Senja, secara tulus dia pergi ke toko perhiasan demi membeli gelang itu untuk Senja. Dia berharap pemberiannya itu bisa menjadi jembatan untuk mereka menjalin persahabatan.
Sepertinya kesialan belum hilang dari langkah Senja. Dia baru saja menunaikan permintaan Edward untuk mengembalikan hadiah pemberian Alex, namun baru melangkah keluar dari ruangan Alex, pria itu sudah ada di sana entah sejak kapan.
"Kau di sini? Ada perlu apa?" tanya Senja. Dia tidak mungkin ingin bertemu dengan Alex.
"Aku ingin bicara dengan pria yang ada di dalam sana," jawabnya dengan ketegasan dan tatapan mata yang super tajam, ternyata dugaan Senja salah, pria itu memang benar ingin menemui Alex, tapi untuk apa?
"Untuk apa kau ingin menemuinya?"
"Apa aku sudah tidak boleh menemuinya? Apa kau sudah berubah menjadi dokter pribadinya hingga berhak melarang ku bertemu dengan alasan kesehatannya yang tidak bisa diganggu?" tanya Edward dengan raut wajah tidak senang.
Senja benar-benar bingung terhadap pria itu. Dia seperti bunglon yang bisa berubah seketika. Padahal tadi malam sebelum berpisah pria itu begitu lembut memintanya untuk beristirahat terlebih karena mereka sudah berciuman, lantas mengapa saat ini berubah menyebalkan lagi?
Apa bagi pria itu, ciuman mereka tidak ada artinya? Atau pagi ini kepalanya terbentur dinding hingga amnesia? Senja benar-benar kesel kepada pria itu.
"Terserah kalau kau mau menemuinya. Aku permisi, masih ada kerjaan yang harus aku lakukan," ucap Senja melewati Edward tanpa menoleh ke arah pria itu, terus berjalan dengan rasa gondok di dalam hati.
Senja berjanji, kalau pria itu masih tidak bisa bersikap lebih lembut padanya, maka Senja tidak akan mau lagi menemui pria itu mulai sekarang kalau sampai Edward berusaha untuk mencarinya lagi, maka Senja akan menghilang dari dunia novel ini!
"Kenapa kau masuk ke dalam ruanganku tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu? Aku bahkan belum mengizinkanmu masuk," hardik Alex yang masih kesal akibat hadiahnya yang dipulangkan oleh Senja.
Edward melirik ke arah kotak yang tengah digenggam pria itu, ada senyum samar terbit di bibirnya.
"Aku ingin melihatmu. Selaku pemilik Rumah sakit ini, aku turut senang karena operasinya berjalan dengan lancar. Dan satu hal lagi, aku minta jangan pernah mendekati dokter Senja lagi," ucapnya berbalik dan meninggalkan ruangan itu.